
Malam telah berganti pagi dengan terdengar suara Kokok Ayam yang bersahut-sahutan dan dengan munculnya sinar cahaya mentari yang mulai bersinar dari ufuk timur.
Vanesa sudah terbangun terlebih dahulu meskipun sedikit kesulitan untuk bangkit dari Ranjang pasalnya Rendra sang Suami masih tidur dengan memeluk erat tubuhnya dari belakang.
"Ini sudah pagi Mas Rendra kok tidak bangun sih, mana meluknya erat lagi atau jangan-jangan hari ini Mas Rendra ambil libur, kalau begitu biarkan dia tidur saja." gumam Vanesa yang membiarkan suaminya tertidur pulas.
dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Vanessa merenggangkan pelukan dari suaminya.
Vanesa turun dari Ranjang dengan sangat perlahan Vanesa tidak ingin menggaggu tidur suaminya setelah melakukan ritual mandi kurang lebih dari duapuluh menit akhirnya Vanesa memutuskan untuk menyiapkan sarapan pagi di dapur.
ketika Vanessa asyik menyiapkan makanan pagi atau sarapan pagi untuk dirinya dan suaminya tiba-tiba dari belakang munculnya wajah Eva dengan senyum tersungging di bibir.
"Selamat pagi Mbak," seru Eva dengan wajah berbinar senang.
Vanessa langsung menoleh ke sumber suara kemudian menyungingkan sebuah senyuman.
"Selamat pagi, kamu sudah bangun Va,"
"Iya, Mba lapar, Mbak Nesa lagi bikin apa itu?"
"Oh ini mau buat sarapan Pagi buat Mas Rendra cuma mie rebus doang kok, sebentar ya ini sebentar lagi juga masak dan kamu bisa menggunakan dapur ini." ucap Vanesa memberikan penjelasan pada Eva.
hebat tersenyum manis kemudian mendekati kakaknya sambil berkayut manja di lengan sang kakak.
"Mbak, Aku juga lapar bikin mie rebus juga untukku dong, Mbak Nesa tidak keberatan kan."
Vanessa tersenyum sambil mengacak lembut rambut adiknya.
"Kenapa tidak, tentu saja mau kamu duduk saja dan tunggu di meja makan, sebentar Mbak akan buatkan mie rebus yang enak untuk kamu pasti kamu suka,"
"Wah trimakasih Mbak," seru Eva senang sambil memeluk kakaknya.
"Mulai hari ini Aku akan buat kamu menjadi pembantuku Mbak," gumam Eva dalam hati."Aku tunggu di meja makan ya Mbak."seru Eva kemudian.
"Ya, Va tunggu saja disana, Mbak ngak akan lama kok," seru Vanesa ketiika Eva sudah melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke ruang makan.
Vanesa kembali sibuk menyiapkan sarapan pagi sementara Eva duduk manis di ruang meja makan, mata indah Eva segera berbinar ketika melihat Rendra keluar dari dalam kamarnya tanpa canggung dan malu lagi dengan cepat Eva menghampiri Rendra yang mau keluar dari pintu.
Mas..!Eva berteriak sambil menghampiri Rendra dan tanpa basa-basi lagi Eva langsung memeluk tubuh Suaminya, hal itu langsung saja membuat Rendra gelagapan dan terkejut bukan kepalang pasalnya istri keduanya kini terlihat semakin berani dan tidak takut-takut lagi, Rendra berpikir apakah semua karena bawaan dari bayi yang sedang tumbuh di Rahim Eva.
Karena khawatir aksi Nekad EVa di ketahui Vanesa dengan cepat Rendra menarik tubuh Eva masuk kedalam kamar.
"Eva, jangan begini kalau kakakmu tau bisa gawat Nanti."
"Aku tidak perduli Mas Rendra itu suamiku, jadi suka-suka Aku, mau peluk kapan saja, lagipula anak yang ada di dalam Rahim ku seperti nya ingin selalu ketemu dengan Papanya, jadi wajar saja kalau Aku bawaan nya ingin Dekat selalu bukankah Mas Rendra itu seorang Dokter pasti sudah tau dong kalau istri hamil itu tidak boleh streees dan harus di berikan perhatian lebih, Mas ngak mau kan Aku strees,"ucap Eva sambil melingkarkan tangannya pada leher sang Suami dan dengan manja Eva membuka bibirnya agar Rendra bisa mengecaaap madu manis dari bibirnya, dengan tatapan mata sayu yang penuh dengan gelora mendamba.
Rendra bukannya tidak mengerti dia sangat mengerti akan tetapi Rendra masih sangat was-was dan takut jika tiba-tiba Vanesa masuk ke dalam kamar dan memergoki dirinnya sedang bersama dengan adik nya.
Karena Rendra diam saja Eva sedikit menekan leher Rendra agar sedikit menunduk padanya kemudian Eva memejamkan mata memberikan isyarat agar Rendra memberikan ciuuman bibir pada nya.
Rendra meneguk ludahnya hatinya benar-benar bingung antara tidak ingin dan antara takut jika menolak akan membuat Eva streess karena saat ini Eva sedang hamil dan apapun yang dilakukan Eva harus dia Turuti dan dukung.
Dengan berat hati Rendra melakukan apa yang diminta Eva dan untuk beberapa saat bibir Rendra bermain dalam rongga bibir Eva mereka saling berpangutan untuk sesaat meskipun hanya beberapa detik Rendra melakukan nya tapi bagi Eva itu sudah menjadi pintu terbuka untuk setiap langkahnya.
"Ayo kita sarapan pagi, Aku khawatir Nanti Vanesa mencari kesini."
"Baiklah Mas, ayok,"
Eva dan Rendra segera pergi ke ruang makan untuk melakukan sarapan pagi dan tepat pada saat yang bersamaan Vanesa sedang membawa satu mangkuk mie rebus yang sudah selesai dia masak dan menaruhnya di atas meja Ruang makan.
__ADS_1
Vanesa mengeryitkan dahinya ketika melihat Rendra dan Eva berjalan bersama ke Ruang makan.
Rendra yang tidak menyangka jika Istrinya sudah ada di ruang makan menjadi gelagapan sangat terlihat jelas jika wajahnya sedang panik, berbeda dengan Eva yang tenang melihat tatapan Aneh dari sang kakak Eva justru tersenyum.
"Mbak Nesa sudah selesai ya bikin mie rebus nya, tadi Aku pergi ke kamarku sebentar Eh ketemu Mas Rendra di Ruang tamu jadi Aku ajak sekalian."ucap Eva memberikan penjelasan yang mana Eva sangat memahami arti dari tatapan Vanesa kakaknya yang seperti nya sedikit curiga.
Vanesa tersenyum kecut kemudian meminta Eva dan Rendra untuk duduk menikmati sarapan pagi mereka.
"Baiklah ayo kita makan sebentar lagi Mas Rendra kan harus kerja masuk Pagi, iya kan Mas?"
"Eng, Eh , iya," jawab Rendra yang masih serasa gugup.
Mereka bertiga akhinya menikmati sarapan rebus.
"Mbak lain kali kalau bikin sarapan yang kreatif dikit ya Mbak, masak Suami Mbak Nesa di kasih makan Mie Rebus terus."cletuk Eva memberi saran.
Sementara Vanesa yang sedikit tidak suka dengan perkataan sang Adik menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Mbak tidak pernah masak Vs kan ada Mbok Yem, ngak tau kenapa Mbok Yem belum balik lagi, apa Mas Rendra memecat Mbok Yem?'
"Memecat, tidak sayang Mbok Yem cuti tiga Minggu dua Minggu lagi pasti datang."
Ucapan Rendra yang memanggil istrinya dengan sebutan sayang mrmbuat Eva sedikit meradang hal itu menyebabkan Eva tersedak.
Melihat Eva tersedak dengan sangat cepat dan cekatan Rendra langsung mengambilkan Air putih dan langsung membantu Eva untuk meminumnya.
"Hati-hati," ucap Rendra tanpa sadar yang mana membuat Vanesa semakin heran, di tatapnya lekat lekat suaminya Rendra yang menyadari hal itu langsung gugup dan untuk menutupi kepanikan hatinya Rendra tersenyum.
"Aku cuma spontan saja, kamu kan tau Aku tidak bisa melihat orang lain menderita."ucap Rendra membela diri agar sang istri tidak curiga." Oh ya Aku masuk pagi Aku pergi dulu ," ucap Rendra buru-buru yang mana langsung menyambar kunci. mobil yang tergantung di dinding Rendra tidak bisa selalu berada di situasi yang sangat tidak mengenakkan.
Tidak lama Rendra pergi dan keluar dari Rumah tiba-tiba ponsel nya bergetar pertanda ada pesan yang masuk.
"Mas tunggu Aku dibawah Aku mau Mas Antar Aku beli sesuatu dulu."( EVa)
"Astaga Anak ini kalau sampai Vanesa tau bisa mampus Aku.' meskipun kesal Rendra tetap mau menunggu Eva ." Bawaan bayi itu macam-macam ya, jadi tidak sabar nunggu Vanesa hamil Anak ku, pasti dia akan manja seperti Eva yang sedikit sedikit minta selalu dekat, dan pastinya Aku akan bisa menang banyak tidak perlu minta dianya yang minta di dekati. diciiuumin, pasti seru jadi tidak sabar ingin lihat Vanesa hamil apa lebih baik Aku bikin lagi ya Aku kasih Vanesa tembakan lagi biar cepat jadi, rasanya tidak sabar menunggu dua Minggu ada perkembangan janin tidak, sama Eva Aku sama sekali tidak mencintainya apa yang Aku lakukan hanya sebatas bertanggungjawab atas semua perbuatan bodohku." Rendra mrndengus kesal kemudian menyandar tubuhnya dibelakang kemudi sambil menunggu Eva.
Di dalam rumah tepatnya di Ruang makan setelah Rendra pergi Eva buru-buru menyudahi makannya kemudian berlalu pergi.
" Mbak nitip cuciin sekalian ya, Aku ada janji dengan teman mau ke mall Aku pergi dulu mbak Daaaa...!" seru Eva seraya . berlari keluar Rumah.
Vanesa sedikit bingung melihat sikap sang Adik yang buru-buru keluar dan kebetulan suaminya juga baru saja keluar Rumah, serasa Aneh mereka sama-sama terburu-buru seperti orang yang sedang janjian tapi rasa curiga itu kembali Vanesa tepis.
"Mas Rendra sama Eva terlihat aneh begitu tapi tidak mungkinlah Mas Rendra tega mungkin hanya perasaan ku saja."gumam Vanesa dalam hati sambil membersihkan bekas makan adik dan suaminya.
Suasana mulai terlihat panas sinar mentari mulai muncul.
EVa yang baru keluar dari Rumah berlari kecil menghampiri mobil yang ada didepannya.
"Ayo Mas, jalan," ucap Eva setelah mendudukkan bokongnya di samping Rendra.
"Memangnya kamu mau kemana sih, Aku sibuk Va jadi kamu pergi sendiri Naik taksi ya,"
"Ngak Mau , Aku maunya Mas temani Aku juga mau beli susuu untuk orang hamil.'
"Ya sudah tapi cepetan ya jangan lama-lama."
" Beres kan Aku istri yang baik nurut sama suami."
Rendra tersenyum kecut Mendengar perkataan Eva.
__ADS_1
"Mas, Aku tunggu di dalam sana ya,"
"Baiklah, Rendra mengangguk kemudian dia sibuk memarkirkan mobilnya.
Sedangkan Eva sudah melenggang masuk ke dalam mall dan berhenti di samping pintu masuk menunggu Rendra.
Tidak lama kemudian Rendra muncul berjalan dengan tergesa-gesa, Eva yang menunggu kedatangan dari Rendra sedikit kesal karena Rendra dinilai sangat lama kemudian Eva berniat untuk masuk lebih dulu dan ketika Eva hendak masuk tiba-tiba tubuhnya hampir bertabrakan dengan orang yang hendak keluar dari Mall.
"Maaf," ucap Eva spontan.
"Tidak apa-apa,"jawab pemuda itu yang ketika menatap orang yang telah menabraknya laki-laki itu langsung mengeryitkan dahinya.
"Kau..!
"Eh, kak Bara,"
"Sendirian,"
"Ngak kak, sama suami tuh dia."
Pemuda bernama Bara langsung menggikuti arah telunjuk dari gadis yang ada di depannya. kedua bola mata Bara langsung membulat seketika, ketika melihat dan mengetahui siapa laki-laki yang di tunjuk gadis yang ada di sampingnya.
"Dia suamimu?" tanya Bara untuk yang kedua kali.
"Benar, Kak!
Bara mengatur suasana hatinya yang mulai memanas.
"Benar-benar kamu laki-laki Brengsek Rendra" gumam Bara dalam hati.
"Maaf bukannya Aku tidak percaya tapi bisakah kau memberikan Aku bukti yang menyakinkan jika Pemuda Tampan itu adalah suamimu, dia seorang Dokter terkenal lho jadi aku takut kamu hanya mengaku saja.'
"Oh, intinya kak Bara tidak percaya baiklah tunggu sebentar,"
EVa segera membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu.
"Ini foto kami ketiika menggikat janji,"
"ini seperti di Bali,"
"Iya, benar ini di Bali karena kami menikah disana.
Bara manggut-manggut kemudian dengan sengaja mendorong Eva hingga jatuh.
"Bruugh,"
"Maaf tidak sengaja kamu bisa bangkit sendiri kan, aku lagi ada telpon Nih," ucap Bara pura-pura yang mana dengan cepat bara langsung memotret foto Eva ketika melakukan pernikahan di Bali.
"Kali ini kamu tidak akan lagi bisa mengelak dan bilang tidak percaya Nes, lihat kelakuan bejaad Suamimu, apa Suami model begini yang selalu kamu bangga kan itu."Gumam Bara dalam hati.
kemudian . menatap Eva yang baru bangkit dari terjatuhnya.
"Maaf ya, Aku buru-buru jadi tadi tidak sengaja Aku pergi dulu," seru Bara yang kemudian langsung pergi dengan sedikit berlari.
"Kali ini kebusukan mu akan diketahui istrimu Dokter Rendra yang bodoh dan kau Nesa kenapa keras kepala sekali sudah kubilang suamimu punya istri lagi tapi kamu tidak percaya mau sampai kapan kamu di bodohi dasar cinta buta" geram Bara yang terus mengrutu sendiri.
Bara meninggalkan Mall kemudian berhenti dipinggir jalan dan menggeluarkan ponsel hpnya dan segera melakukan panggilan telepon.
Cukup lama Bara menunggu suara dari sebrang semakin membuat kesal dan geram hati Bara.
__ADS_1
"Cepat angkat telpon nya Nesa, lama amat sih," geram Bara sambil memukul-mukul stir mobilnya.