BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 62.Emosi


__ADS_3

Malam itu juga Rendra keluar dari dalam rumah dokter Bambang, di sepanjang perjalanan dan diantara dinginya malam, Rendra mendengus kesal dan geram Rendra marah pada dirinya sendiri dan kecewa dengan sikap Vanesa yang dinilai seperti anak kecil yang mana memilih pergi tanpa bicara ataupun memberi kabar terlebih dahulu dan hati Rendra semakin dibuat kesal manakala berkali-kali ponselnya selalu berbunyi dimana Eva selalu saja menghubunginya di saat-saat dia sedang bingung dan kacau.


Rendra memilih Mengabaikan semua panggilan serta pesan yang ada di dalam ponselnya karena disaat tidak mau diganggu dan hal yang terbaik karena ponsel itu selalu berdering akhirnya Rendra yang geram mematikan ponsel hp-nya agar tidak mendapatkan gangguan lagi dari Eva.


Mobil melaju dengan kecepatan rata-rata karena Rendra tidak mau melewatkan sedikitpun setiap jalan yang dia lewati berharap menemukan sosok Vanesa di antara keramaian kota, meskipun Rendra harus menelan kekecewaan hingga sampai di Rumah Rendra tidak menemukan dan tidak bisa mengetahui Dimana keberadaan istrinya, dengan langkah lemah Rendra memberikan mobilnya kepada Pak Mamat untuk dimasukkan kedalam garasi sebelum Rendra masuk ke dalam rumah.


Ketika pintu rumah dibuka lampu di dalam ruang tamu sudah dimatikan itu pertanda Eva sudah tertidur di dalam kamarnya, Rendra mendudukkan bokongnya di atas sofa tanpa menyalakan lampu pikirannya sangat kacau dan kalut hatinya begitu resah, apa yang dilakukan Vanesa benar-benar membuat nya frustasi.


Tanpa melepas jaket yang dikenakan Rendra duduk dan merebahkan tubuh nya di atas sofa tanpa menyalahkan lampu yang ada di ruang tamu


Rendra berusaha memejamkan kedua bola matanya meskipun terasa susah dan berat karena rasa kantuk dan lapar tidak lagi Rendra rasakan, pikirannya melayang.


"Kamu dimana Nes, kenapa tidak pulang, " lirih Rendra dalam hati sambil mengusap kasar wajahnya.


"Mas, kenapa lampunya tidak kau nyalakan? " ucap Eva yang tiba-tiba datang dan muncul kemudian menyalakan lampu?"membuat Rendra sedikit terkejut.


"Kamu belum tidur Va? "tanya Rendra yang kemudian membetulkan letak posisi nya dengan duduk.

__ADS_1


"Aku kan nungguin kamu Mas, Ayo kita tidur di kamar aku sudah ngantuk sekali, Kenapa Mas Rendra justru tidur diluar, "seru Eva pada Rendra agar Suaminya mau berpindah tidur di dalam kamar.


"Issh, ini Anak bener bener ya. " gumam Rendra dalam hati.


sedikit kesal karena Eva tidak mau mengerti tentang perasaannya Bagaimana mungkin dia bisa tidur dia kala istrinya belum pulang sementara Eva tidak memikirkan hal itu, karena dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri.


"Kamu saja yang tidur di dalam Aku masih mau menunggu Nesa pulang, "


"Duh, mas Rendra ini bagaimana sih mana mungkin Mbak Nesa pulang ini sudah sangat malam lihat tuh sudah hampir pukul 12 malam, ayolah Mas Rendra tidak perlu membuang-buang waktu hanya untuk menunggu Mbak Nesa yang tidak tau diri itu. "


"Eva..! "Apa yang kamu katakan hah? "


"Jaga bicara mu Va, dia itu kakakmu, " teriak Rendra kesal, hatinya sudah kalut semakin bertambah kalut dengan sikap Eva yang sangat menjengkel kan.


"Cihh, kakak apaan bukan Mas, Mbak Nesa itu cuma anak pungut di keluarga ku, kami tidak ada yang tau siapa ibu dan siapa bapaknya bisa jadi Mbak Nesa itu anak haram yang dibuang di jalan dan kebetulan ditemukan Ayahkku. "


"Evaaa....! jaga bicara mu, jangan sembarangan Menuduh istriku, "

__ADS_1


"Mas, Aku tidak suka Mas Rendra memikirkan nya pokoknya Aku mau hubungan kita cepat diresmikan secara hukum. Aku tidak mau hanya menjadi istri siri kamu dan Aku mau Mas Rendra buang saja itu Mbak Nesa, lagipula dia bukan istri yang subur buktinya dia tidak bisa memberimu anak dan hanya akulah yang bisa, mungkin sekarang Mbak Nesa juga sedang bersenang-senang dengan pria lain. "


"Evaaaa....., Plaaaak...!"teriak Rendra yang kini mulai tersulut emosi sebuah tamparan keras mendarat di pipi Eva yang mana langsung membuat Eva semakin marah disertai dengan isak tangis.


" Kamu jahat Mas, kenapa kamu tega menampar ku, Aku ini sedang mengadung Anakmu kamu tega, hizk... hizk. "


"Rendra mengusap kasar wajahnya kemudian menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


Rendra perlahan-lahan berjalan mendekati istri kedua nya kemudian memeluknya.


" Maafkan Mas, Mas telah khilaf, pergilah tidur Aku masih mau disini, "perintah Rendra yang mana kemudian melepaskan pelukan nya.


"Tapi Mas, "


"Jangan membuat Aku emosi lagi mengerti lah, "


"Mas, Aku tidak bisa tidur kalau Mas Rendra disini kalau begitu Aku tidur disini juga, ini bukan mauku ini kemauan bayi kita. "

__ADS_1


"Sshiit...! " Rendra benar-benar kesal tapi mencoba untuk tidak marah.


"Baiklah, Ayo Aku temanin tidur. " ucap Rendra akhirnya memilih menggalah.


__ADS_2