BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab 44. CURIGA


__ADS_3

Diam-diam hati Vanesa merasa sangat senang ketika Rendra mau mengajaknya berjalan bersama memasuki Rumah sakit, meskipun sebenarnya hati Vanesa sangat malu, karena banyak pasang mata yang melihatnya Akan tetapi rasa malu itu dia tapsi dan berganti dengan rasa senang ketika Rendra kembali mau mengajaknya berjalan bersama setelah beberapa bulan yang lalu selalu sendiri bahkan seakan-akan tidak memiliki seorang suami.


Vanesa tersenyum kecut mengenang segala sesuatu di masa lalu, yang mana betapa baiknya dan betapa dinginnya perlakuan sang suami ketika dirinya berada di dalam Rumah sakit bagaikan orang asing.


"Aku antar kamu ke Ruangan mu"ajak Rendra pada Vanesa.


Vanessa sedikit terkejut ketika Rendra menawarkan diri untuk mengantarnya pergi ke ruang perawat tempatnya bekerja, pasalnya Rendra tidak pernah mengantar jangankan mengantar berjalan bersama pun Rendra tidak pernah mau, ini sungguh sesuatu yang sangat aneh akan tetapi jujur membuat hati Vanessa merasa senang seolah-olah kini dirinya sudah dihargai dan dianggap sebagai istri.


Akan tetapi karena tidak pernah terbiasa dan sudah terbiasa pergi sendiri Vanesa memilih untuk menolak tawaran dari Rendra.


"Tidak usah Mas terima kasih lebih baik Aku pergi sendiri tidak enak dilihat teman-teman yang lain," jawab Vanesa memberikan penjelasan.


Rendra meneguk ludahnya dia memahami jika Vanesa merasa canggung dan tidak terbiasa apabila dia mengantarnya, tidak mau berdebat dan tidak mau membuat keributan Rendra memilih diam dan pergi.


Vanesa menyungingkan sebuah senyuman, hatinya terasa senang dan bahagia meskipun dia tidak tahu mengapa Rendra kini berubah, bagi Vanesa perubahan Rendra itu karena dia masih memiliki rasa cinta pada dirinya.


Di tempat lain Rendra yang sudah duduk di ruangannya tampak murung seolah ada sesuatu yang membuat hatinya resah dan tertekan.


"Tok


"Tok


"Tok


"Masuk...!"seru dokter Rendra ketika pintu ruangannya diketuk dari luar.


"Dokter Rendra apakah kedatangan ku ini mengaggu?"


dokter Hendra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut.


"Duduklah dokter Bambang aku tidak sedang sibuk silakan," ucap Dokter Rendra kepada dokter Bambang.


Dengan senyum tersungging di bibir Dokter Bambang menarik kursi kemudian mendudukkan bokongnya di atas kursi, tatapan matanya lurus ke depan menatap Dokter Rendra yang menunduk seolah-olah Dia sedang sibuk.


Dokter Bambang meneguk ludahnya Dia sangat memahami apa yang terjadi pada Dokter Rendra meskipun Dokter Rendra tidak pernah mengatakannya, karena mereka berdua adalah sahabat dekat sekaligus partner kerja di dalam Rumah sakit itu.


"Bisakah kita bicara secara pribadi," Tanya Dokter Bambang pada dokter Rendra.


"Iya boleh silakan apa yang ingin dokter Bambang katakan,"


"Kenapa aku merasa dan berpikir jika kamu saat ini memiliki masalah, jika kamu mau kamu boleh berbagi cerita dengan Aku apakah dugaanku yang kemarin itu adalah benar, sehingga wajahmu begitu terlihat sangat murung dan sedih," Tanya Dokter Bambang pada dokter Rendra.

__ADS_1


"Dokter babang ada-ada saja itu hanya perasaan Dokter Bambang saja, Aku hanya banyak pekerjaan sehingga kepalaku pusing dan sedikit lelah."jawab Dokter Rendra menjelaskan.


Dokter Bambang tersenyum miring kemudian dia bangkit dari duduknya berjalan mendekati Dokter Rendral yang duduk dengan menunduk di mana wajahnya menatap kertas-kertas yang ada di depannya dengan tatapan mata kosong.


dokter Bambang menekuk lukanya sebelum kemudian dia mulai berbicara.


"Dokter Rendra tidak perlu berbohong tidak perlu mencari alasan karena aku sudah sangat mengenal Dokter Rendra, Apakah Dokter Hendra sedang bingung kali ini dan apakah Dokter Rendra sedang ketakutan tentang perselingkuhan Dokter Rendra yang pernah Dokter Rendra lakukan di Bali?'


Mendengar perkataan dari Dokter Bambang Wajah Dokter Rendra yang tadinya menunduk langsung tengadah dengan wajah merah padam, sangat terlihat jelas jika dirinya sedang marah dan tidak suka, tapi apa boleh buat yang berbicara adalah teman dekatnya, Dokter Rendra hanya bisa menahan emosi meskipun apa yang dituduhkan dokter Bambang memanglah benar adanya.


"Maaf dokter itu adalah privasi dalam kehidupan rumah tangga saya Aku harap dokter Bambang tidak ikut campur di dalamnya, jika tidak ada keperluan lagi dan tidak ada yang ditanyakan atau yang akan dibicarakan lebih baik Dokter Bambang segera pergi," ucap Dokter Rendra menjelaskan.


"Aku mengerti Dokter Rendra tidak suka Aku bicarakan tentang ini, akan tetapi Aku sarankan agar Dokter Rendra bicara jujur karena jika sampai Vanesa yang mengetahui sebelum Dokter Rendra menjelaskan ataupun minta maaf nanti akan sangat buruk,"


"Sudahlah Dokter Bambang, Aku tau apa yang harus Aku lakukan,"seru Dokter Rendra yang nada suaranya mulai sedikit meninggi.


"Baiklah, semua terserah pada Dokter Rendra tapi Aku pastikan Dokter Rendra akan menyesal jika segala nya tidak segera Dokter selesaikan dengan cepat,"ucap dokter Bambang seraya bangkit dari duduknya kemudian pamit undur diri.


Setelah kepergian dokter Bambang dokter Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan Mendengus kesal sambil menggebrak meja meskipun tidak terlalu keras hati dan pikiran dokter Rendra terasa sangat pusing karena apa yang dikatakan dokter Bambang semuanya adalah benar, hari ini dirinya sudah sangat dibuat pusing oleh istri keduanya yang mana seringkali mengancam dirinya sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk bisa lepas dan lolos dari semuanya.


Dokter Rendra yang pikirannya lagi kacau duduk di kursi sambil menengadahkan kepalanya ke atas pada saat itu pula pintu kantor Ruangannya di ketuk.


"Apa yang kamu lakukan Mas, Kenapa kamu duduk Begitu seperti orang yang pusing saja seru seorang wanita yang baru datang ke ruangan dokter Rendra.


Sontak saja suara itu membuat Dokter Rendra langsung membenarkan posisi duduknya dan menatap kedepan dan alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui siapa yang datang dan menegurnya.


"Eva.. kau, ngapain kau ada di sini?"seru dokter Rendra panik sehingga dengan cepat dokter Rendra langsung berjalan menuju ke pintu ruangan dan menguncinya, dokter Rendra khawatir jika ada orang yang melihat ataupun datang ke ruangannya dan melihat dirinya sedang bersama dengan Eva terlebih apabila yang datang adalah Vanesa, Rendra tidak mau itu terjadi untuk itu, Dokter Rendra segera bangkit dan berjalan dengan cepat menutup dan mengunci pintu Ruangnya.


Melihat sikap Rendra Eva tertawa kecil sambil menyunggingkan sebuah senyuman penuh bahagia, tanpa ragu-ragu Evan langsung mendekati sang suami dan memeluknya.


"Rupanya Mas Rendra ingin agar tidak ada orang yang tahu jika kita sedang bersama, baguslah Aku juga tidak suka jika ada yang mengganggu," ucap Eva sambil melingkarkan tangannya pada leher Dokter Rendra.


"Va lepaskan, Jangan seperti ini, ingat ini di kantor bukan di Rumah, tolong mengertilah" ucap Dokter Rendra ketika Eva mulai berani bergelayut manja adanya.


"Eva yang melihat wajah ketakutan dan Panik dari Dokter Rendra tersenyum gemas, Rendra dianggap semakin tampan apabila sedang panik, membuat Eva mencubit mesra pipi putih Dokter Rendra, kemudian dengan sengaja menjatuhkan kepalanya di atas dada bidang milik Dokter Rendra.


"Mas, Aku mencintaimu,"lirih Eva sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Dokter Rendra.


Rendra tidak menjawab apapun, Rendra berusaha menjauhkan kepala Eva agar tidak bersandar tidur di dada bidangnya, akan tetapi Eva semakin erat memeluknya membuat Rendra kesulitan melepaskan diri.


Sehingga Rendra akhinya memilih membiarkan saja apa yang dilakukan Eva padanya.

__ADS_1


"Tok


"Tok


"Tok


Rendra dan Eva tersentak kaget ketika tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


"Cepat kau bersembunyi Aku tidak mau ada yang tahu kau ada di sini cepat ,"seru dokter Rendra pada Eva dan untuk kali ini Eva menurut dengan apa yang diperintahkan suaminya dengan cepat Eva bersembunyi di ruang belakang di mana di tempat itu biasanya dipergunakan untuk membuat minuman atau makanan ringan seperti merebus mie atau sekedar membuat kopi.


Setelah Eka bersembunyi buru-buru dokter Rendra membukakan pintu dan alangkah terkejutnya dokter Rendra ketika mengetahui siapa yang datang menemuinya, bibir nya tercekat Wajahnya mendadak pucat dan pias bahkan Ruangan yang ber AC tak mampu mengusir rasa panas dan gerah tubunya yang mana membuat dirinya berkeringat.


"Ne-nesa, kau....!ucap Rendra terputus.


"Dokter, kamu kenapa, apa Dokter sedang sakit kok berkeringat begitu,"tanya Vanesa sambil menatap tajam pada Dokter Rendra.


"Ah, tidak kamu ada perlu apa kesini?"


"Oh,ya Aku mau izin keluar sebentar Dok, ada yang ingin Aku kerjakan." ucap Vanesa meminta izin pada suaminya.


"Oh itu, pergilah jika sudah selesai cepat pulang,"


"Iya, Dok!"


"Kenapa kamu masih memanggil ku Dok, Aku itu Suamimu,"


"Oh, iya Mas maaf, kalau begitu Aku pamit pergi dulu,"


Rendra mengagguk, Vanesa segera melangkah pergi, tapi sampai di depan pintu Vanesa berhenti dan menoleh ke arah Dokter Rendra suaminya, Vanesa memicingkan kedua bola matanya menatap sang suami menbuat Rendra bingung.


"Ada apa? apa kamu tidak ada yang tunggu Aku ambilkan,"ucap Rendra yang mana Langsung mengambil uang dari dompet nya dan menyerahkan pada Vsnesa.


"Aku tidak minta uang Aku cuma ingin tau baju Mas Rendra kok ada lipstik nya itu lipstik siapa?'


"Deg...! buru-buru Rendra menunduk melihat di kemeja bajunya dan benar saja ada lipstik disana.


"Sial, ini pasti ulah Eva dasar gadis ceroboh bikin Aku terkena masalah saja tuh Anak."gumam Rendra dalam hati dan dengan gugup Rendra memberikan penjelasan.


"Ini Aku tidak sengaja tadi itu Aku....


"Sudahlah tidak apa-apa Mas Aku pergi dulu," ucap Vanesa seraya pergi keluar pintu, sementara Rendra langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kursi.

__ADS_1


__ADS_2