BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab 65.KECEWA


__ADS_3

Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan hatinya begitu risau dan kesal meskipun apa yang diminta Eva bukanlah suatu hal yang sangat berat baginya, Karena bagaimanapun juga seorang wanita yang sedang hamil pasti menginginkan dimanja dan perhatian lebih dari suaminya.


Rendra yang memiliki profesi sebagai seorang dokter memahami akan hal itu akan tetapi mungkin ini adalah suatu hal yang sangat egois bagi dirinya Karena dirinya tidak ingin mendapatkan perlakuan yang dingin dan Acuh dari istri pertamanya untuk itu Rendra bersikeras untuk meminta Eva pergi dari Rumah nya tapi demi rasa kemanusiaan Rendra menerima permintaan Eva untuk bisa tinggal di Rumah itu satu Minggu lagi meskipun waktu satu Minggu itu Nanti pasti akan menyiksa hatinya.


Sikap Vanesa yang dingin dan Acuh sudah membuat Rendra kelimpungan bahkan terasa sesak di dada dengan langkah berat penuh dengan rasa kecewa Rendra meninggalkan kamar Eva kemudian berjalan dengan sedikit berlari ke dalam kamarnya untuk mengganti baju kemudian dengan cepat Rendra keluar Rumah berangkat ke tempat kerja.


Sementara di dalam kamar Eva merasa sangat kesal dan geram dengan sikap Rendra yang kini terang-terangan mengusir dirinya untuk pergi dari rumah itu, Karena Rendra mengatakan jika Vanesa sudah mencurigainya dan hal itu sangat merugikan bagimana Eva akan jauh dan kemungkinan Rendra tidak akan memberikan perhatian lagi kepadanya.


"Sial, kurang ajar sekali Mas Rendra berani-beraninya dia menyuruhku untuk pergi dari Rumah ini, tidak Aku tidak boleh tinggal diam Aku tidak trima di perlakukan seperti ini akan Aku balas kau, rupanya Mas Rendra ingin bermain-main dengan ku baiklah kita lihat apa yang akan terjadi di Rumah ini sebentar lagi."Gumam Eva dalam hati.


Disisi lain Rendra yang sudah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa sampai di Rumah sakit kini sudah berada di halaman parkir Rumah sakit.


Dengan sedikit terburu-buru Rendra melangkah masuk ke dalam rumah sakit, Rendra tidak langsung pergi ke tempat kerja ruangan kerja pribadinya akan tetapi Rendra pergi ke ruang perawat di mana biasanya Vanesa dan beberapa teman perawat yang lain berkumpul untuk beristirahat ataupun hanya sekedar untuk berbincang.


Sampai di depan pintu Rendra segera mencari keberadaan istrinya Rendra berharap hari ini bisa sarapan pagi dengan sang istri beberapa -perawat yang ada di situ sedikit terkejut mengetahui kedatangan dokter Rendra yang mana dia juga pemilik dari Rumah sakit ini membuat mereka Langsung berdiri dan memberi salam


"Selamat pagi Dok Ada yang bisa saya bantu," tanya suster perawat yang ada di tempat itu


"Bisa saya bertemu dengan suster Vanesa," tanya dokter Hendra langsung pada inti dari keinginannya


"Maaf Dok, suster Vanesa lagi ada tugas, tadi diminta oleh dokter Bambang untuk membantunya kurasa mereka berada di ruang operasi."


"Mengapa dokter Bambang meminta suster Vanesa Apakah tidak ada perawat yang lain." Tanya Dokter Rendra sedikit tidak suka dengan keputusan dokter Bambang yang meminta suster Vanesa untuk menemaninya


"Maaf Dok saya kurang tahu," jawab salah satu perawat yang ada di tempat itu membuat dokter Rendra sedikit kesal akan tetapi tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter Rendra yang kemudian pergi dari ruang perawat dokter kembali ke ruang kerjanya setelah menaruh semua tas dan barang bawaannya dokter Rendra berjalan menuju ke ruang operasi yang mana hari ini Dokter Bambang yang mendapat kan tugas untuk melakukan operasi kepada salah satu pasien.


Ketika dokter Rendra hendak masuk ke ruang operasi pintu sudah tertutup pertanda tidak diijinkan siapapun mengganggu ataupun mengusik kerja para Dokter yang sedang dilakukan di dalam.


Dokter Rendra mencebik kesal karena dia tidak bisa bertemu dengan istrinya hari ini, melalui kaca dari luar dokter Rendra mencoba mengintip kegiatan yang ada di dalam meskipun samar dan. tidak terlihat dengan jelas, Dokter Rendra bisa melihat suster Vanesa istrinya sedang membantu dokter Bambang menyiapkan semua peralatan serta yang dibutuhkan Dokter Bambang.


Dengan perasaan kesal Dokter Rendra akhirnya kembali ke dalam Ruang kerjanya.


Tiga jam sudah berlalu akan tetapi Rendra belum melihat istrinya keluar dari Ruang Operasi membuat Rendra menjadi gundah ditambah hari ini Rendra melewatkan sarapan pagi karena malas jika harus makan sendiri entah mengapa tidak memiliki selera apapun untuk makan.


Rendra yang sering sekali mondar-mandir dari Ruangan pribadi nya ke Ruang tempat Operasi membuat beberapa Perawat yang kebetulan melintas dan melihat hal itu jadi bertanya tanya akan tetapi tidak ada satupun yang berani bertanya.

__ADS_1


Hingga Akhirnya Suster Yuni yang kebetulan baru keluar dari Ruang Operasi dimana dia juga membantu Dokter Bambang dalam melakukan operasi mengeryitkan dahinya.


"Dokter Rendra sedang apa disini?"


Merasa kepergok sedang ngintip Dokter Rendra tersenyum simpul.


"Aku sedang ingin memastikan Bagaimana Operasi hari ini apakah semua berjalan dengan lancar atau tidak."


"Oh, itu lancar Dok, sebentar lagi semua akan keluar karena di dalam sudah selesai."


"Oh baguslah kalau begitu," seru Dokter Rendra pada Suster Yuni.


"Dok, itu Suster Vanesa sudah keluar dari dalam ruangan Operasi."


Mendengar Nama Vanesa disebut dengan cepat Rendra segera menoleh dan bibirnya langsung menyungingkan sebuah senyuman.


"Trimakasih Sus, saya pergi dulu," Rendra segera berjalan menemui Vanesa istrinya.


"Sudah selesai Nes operasi nya, Bagaimana sukses tidak?"


"Haiss, perkataan apa ini pada suami sendiri memanggil Dokter,"Rendra bergumam dalam hati sambil meneguk ludahnya." Ya Habis ini datang ke ruangan ku ada yang ingin ku tanyakan."


"Baik, Dok,"


Mendengar ucapan Vanesa istrinya terpaksa Rendra meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa.


Di ruang kerja Rendra menunggu kedatangan istri nya dengan resah, entah mengapa akhir-akhir ini bertemu dengan istri sendiri bagaikan menunggu kekasih, ketika pintu di ketuk dari luar bergegas Rendra berseru.


Tok..


"Tok..


"Tok..


"Masuk..!"


"Dokter memanggil saya ada apa?"

__ADS_1


"Apaan sih Nes,"seru Rendra tidak suka sambil berjalan menuju ke pintu dan menguncinya.


"Aku itu Suamimu, kenapa begini?


Vanesa tersenyum kecut kemudian mendudukkan bokongnya di kursi.


"Bukankah Mas Rendra sendiri yang meminta agar Aku kalau di tempat kerja harus bisa bersikap profesional?"


Ucapan Vanesa benar-benar membuat dirinya mati kutu tidak bisa berbuat apa-apa.


" Iya itu dulu sekarang tidak, Aku lapar Nes, kita makan di luar yuk,"


"Maaf Mas, tadi Aku sudah makan di ajak Dokter Bambang sekarang Aku masih kenyang,"


"Kalau begitu temani Aku makan,"


"Tidak bisa Mas sebentar lagi Aku ada tugas untuk ngantiin Suster Heni jadi Aku tidak bisa Mas makan pesan online saja atau Mas pergi sendiri."


"issh, punya istri ngapain harus makan sendiri apalagi pesan online, Aku tidak mau Aku mau kau menemaniku, ayo Aku sudah sangat lapar," seru Rendra yang mana langsung memegang tangan Vanesa dan membawanya keluar Ruangan.


"Mas lepaskan tanganmu malu di lihat orang,"


"Perduli,"


"Tapi Mas Aku ada tugas ngantiin Bu Heni Nanti dia bingung mencari",


"Aku Nanti yang bilang" seru Rendra seraya keluar pintu sambil menggandeng tangan Vanesa.


"Mas lepas, malu dilihat orang,"


" Biarkan saja mereka kan tau kalau kamu itu istriku jadi abaikan saja,"


"Mas, ngak enak Aku, di lihat orang ngak mau Aku," seru Vanesa seraya melepaskan genggaman tangan Dokter Rendra yang mana mau tidak mau Dokter Rendra terpaksa membiarkan Vanesa berjalan sendiri,


"Meskipun kecewa


"Tidak apa apalah dari pada tidak di temani." Gumam Rendra bermonolog sendiri dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2