
Rendra yang masuk ke dalam kamar segera membuka kotak obat dan membawanya pergi ke kamar Eva, wajahnya tampak Panik dan tegang, ada rasa khawatir juga cemas jika ternyata Eva sakit.
sementara Eva yang pura-pura pingsan ketika mendengar pintu kamarnya dibuka dengan cepat dia kembali pura-pura pingsan.
Rendra menaruh kotak obat diatas kasur di dekat Eva yang terbaring dengan penuh hati-hati Rendra mulai melakukan pemeriksaan.setelah semua dianggap beres Rendra mengeryitkan dahinya.
"semua baik-baik saja tapi mengapa Eva pingsan ada apa dengan nya apa jangan-jangan Eva... tidak-tidak itu tidak mungkin tapi bisa jadi juga dan kalau sampai Eva beneran seperti yang aku pikirkan bagaimana? gumam Rendra dalam hati yang mana dia mulai merasa gelisah beberapa kali Rendra mengusap kasar wajahnya.
Sementara Eva yang melihat Rendra terlihat kusut dan cemas tersenyum puas
"Rasain kau Mas ini belum seberapa tapi lihat saja Nanti, Aku akan buat dirimu semakin tidak bisa lepas dariku." gumam Eva dalam hati yang mana kedua bola matanya dia buka sedikit tapi pada saat Rendra mendekati dan menatap wajah Eva dengan Cepat Eva menutup rapat matanya.
"Va, bangun ," Rendra menepuk nepuk kecil pipi Putih Eva karena Eva belum juga tersadar dengan cepat Rendra mengambil minyak kayu putih dan membuka tutupnya kemudian mendekatkannya pada hidung Eva agar aroma dari minyak putih bisa membuat Eva tersadar dan benar saja tidak menunggu lama Eva mulai menggeliat Rendra tersenyum senang karena telah berhasil membuat Eva tersadar dari pingsan.
"Va kamu sudah sadar?"Rendra bertanya dengan mata berbinar senang.
"Mas, Aku kenapa?"
"Kamu pingsan apa mungkin kamu kecapekan, atau hari ini ada makanan yang membuat mu mual,"
"Mual,"
"Iya mual, ingin muntah begitu,"tanya Rendra dengan serius karena Rendra menatap dengan tatapan penuh tanda tanya.
Untuk sesaat Eva terdiam berfikir tentang apa maksud dari perkataan Rendra dan Eva pernah mendengar jika seorang mual dan malas makan itu adalah pertanda jika orang itu sedang hamil, itu artinya jika Rendra bertanya tentang makanan dan mual mungkin Rendra berpikir jika dirinya sedang hamil dan ini suatu hal yang sangat menguntungkan dan menyenangkan karena dengan begini Eva bisa selalu terikat dengan Rendra dalam hati Eva tersenyum senang, pucuk dicinta ulam pun tiba, tidak perlu membuat rencana Rendra sudah memberikan jalan nya, cicit Eva dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak tau Mas, Aku cuma merasa badanku terasa lemas dan makan Aku juga merasa malas," ucap Eva sambil memegangi kepalanya berpura-pura pusing.
Rendra meneguk ludahnya dengan kasar beberapa kali Rendra mengusap kasar Wajahnya, hatinya benar-benar hancur apa yang dia khawatir kan ternyata terjadi, Eva mengandung anak dari benihnya, Rendra berusaha tersenyum manis meskipun senyuman itu adalah senyum keterpaksaan.
Keresahan dan kebingungan hati Rendra yang gusar terbaca Eva yang kala itu menatapnya dengan tatapan mata penuh cinta.
"Mas..!lirih Eva manja dengan suara yang sangat pelan.
"Ya, ada apa Va, apa kamu merasa pusing atau kamu mengginginkan sesuatu."
Meskipun kecewa dan tidak begitu bahagia akan tetapi Rendra tidak bisa kalau harus lepas tangan dan lepas tanggungjawab Begitu saja sebisa mungkin Rendra bersikap layaknya manusia yang memiliki hati dan perasaan.
"Jika Aku hamil apa Mas Rendra masih mau meninggalkan Aku, lalu kehidupan Aku dan bayiku Bagaimana?ucap Eva lirih dengan menitikkan Air mata nada suaranya benar-benar memelas, membuat Rendra yang mendengar menjadi serba salah.
Rendra tidak bisa melanjutkan ucapannya dia begitu bingung harus menjawab apa.
"Apa Mas Rendra tetap akan meninggalkan Aku?" desak Eva meminta penjelasan pasti dari Rendra
"Tidak,"ucap Rendra kemudian sambil menutup wajahnya Rendra menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan." Aku tidak akan meninggalkan mu, kamu dan Anak mu itu tanggung jawabku.
"Trimakasih, Mas," seru Eva sambil memeluk suaminya.
Dengan sedikit keterpaksaan Rendra mengagguk dan membalas pelukan Eva tidak tega rasanya jika harus menyakiti Bumil, wanita yang sedang hamil.
"Mas dari tadi Aku tidak bisa tidur, Mas temani ya, biar Aku bisa tidur kayaknya ini bawaan bayi deh Mas, ingin tidur ditemani Papanya." rengek Eva manja.
__ADS_1
Rendra tidak bisa lagi menolak maupun mengabaikan permintaan Eva dengan alasan apapun, suka atau tidak suka Rendra harus menuruti keinginan istri keduanya.
"Tidurlah, akan Aku temani."
"Trimakasi Mas," kembali Eva memeluk suaminya, hati Eva benar-benar sedang bernyanyi kali ini bukan mimpi dirinya bisa tidur ditemani dengan Suami dengan manja Eva langsung merebahkan tubuhnya dengan memeluk tubuh suaminya.
Sedangkan Rendra hatinya semakin sesak dan kalut, di satu sisi Rendra harus bertanggungjawab atas perbuatannya dan disisi lain Rendra tidak ingin menduakan sang istri terlebih dengan Adiknya sendiri, Rendra tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Vanesa sampai tau jika Eva telah mengandung anak dari benihnya, akankah Vanesa menerima semua dan jika Vanesa tidak menerima Bagaimana sedangkan dirinya tidak ingin ditinggalkan istri pertamanya.
Resah dan kacau itulah yang kini terjadi dalam hati Rendra, Akhinya setelah menunggu dua jam Eva tertidur juga, Rendra menarik napas lega dengan perlahan lahan Rendra melonggarkan pelukan Eva dan dengan sangat hati-hati dan perlahan Rendra beringsut turun dari Ranjang.
Rendra tidak bisa tidur jika tidak berada di dekat Vanesa istrinya, entah mengapa Vanesa selalu membuat dirinya menjadi candu, meskipun tidur dengan dibelakangin dan cuma menatap punggung itu sudah cukup membuat Rendra bisa tertidur apalagi jika Vanesa berbaik hati mau memeluknya pasti dah bangunnya kesiangan.
Perlahan lahan Rendra keluar dari kamar Eva dan kembali kedalam kamarnya.
Di sisi lain tepatnya di kamar Vanesa yang sedang terbangun sedikit terkejut ketika tidak mendapati Suaminya di dalam kamar.
"Mas Rendra kemana, kenapa tidak ada di dalam kamar, mungkin dia lagi haus jadi pergi ke dapur." gumam Vanesa yang turun dari atas Ranjang untuk pergi sebentar ke dalam kamar mandi kemudian Vanesa kembali Naik keatas Ranjang untuk tidur.
Belum ada sepuluh menit Vanesa Mendengar suara pintu kamarnya dibuka Vanesa berusaha cuek dan tidak perduli, Vanesa tetap berusaha memejamkan kedua bola matanya, tak lama kemudian Ranjang sedikit bergoyang pertanda Rendra sedang Naik ke atas Ranjang untuk tidur, Vanesa sdikit terkejut ketika tiba-tiba Rendra memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat.
Vanesa yang berusaha Cuek membiarkan apa yang dilakukan suaminya. Tapi kali ini pelukan Rendra sedikit aneh Rendra memeluknya dengan sangat erat tidak sampai disitu Rendra juga menciumi punggungnya berkali kali dan satu hal yang tidak pernah Vanesa mengerti, bibir Rendra mengucapkan kalimat maaf yang sempat terdengar telinga Vanesa.
"Maafkan Aku,"lirih Rendra dengan suara yang sangat pelan akan tetapi masih bisa di dengar Vanesa.
"Kenapa Mas Rendra minta maaf padaku, tumben minta maaf pasti karena perbuatannya yang sore tadi itu, dia kan minta dilayani tapi aku menolak trus dia memaksa dan sekarang Mas Rendra minta maaf karena merasa bersalah dasar laki-laki, kalau mau enak memaksa habis itu minta maaf, sudahlah lebih baik Aku pura-pura tidur dan tidak mendengar modus nya laki-laki memang begitu, tapi seneng juga kalau Mas Rendra minta maaf itu artinya dia mengakui kalau dirinya sudah salah memaksa istri termasuk gak boleh kan," gumam Vanesa dalam hati yang mana memilih diam dan pura-pura tidur.
__ADS_1