
Dengan perasaan gusar karena hasratnya tidak bisa terlampiaskan Rendra memilih pergi dari Rumah untuk menghilangkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
Rendra melajukan mobilnya menembus gelapnya malam menuju Rumah teman lamanya, yang kebetulan tidak begitu jauh dengan Rumah nya.
Sementara Vanesa di dalam Rumah tersenyum bahagia.
"Akhirnya Aku bisa beristirahat juga, dia pikir hatiku tidak sakit, sudah pergi berlibur dengan berbohong, Aku telpon dia marah marah kini pulang tiba-tiba minta jatah, enak saja makan tuh angin." sungut Vanesa kesal.
Ketika Vanesa merebahkan tubuhnya di atas Ranjang tiba-tiba sebuah ponsel berdering di atas Narkas, dengan perasaan malas Vanesa turun dari Ranjang dan meraih benda pipih yang ada di atas Narkas.
"Ini bukan ponselku yang bunyi, ini ponsel mas Rendra ah biarin sajalah, itu kan bukan urusanku, mungkin teman mas Rendra yang lagi mencari nya lebih baik Aku tidur lagi, Aku benar-benar dibuat capek, pasien sialan itu, Aku heran kok ada pasien seperti itu, benar-benar membuat ku kesal saja." Sungut Vanesa dalam hati dan hendak kembali naik ke atas Ranjang nya, akan tetapi kedua bola matanya membulat seketika, ketika melihat satu Nama yang tidak asing tertera pada ponsel suaminya.
"Eva ..?"desis Vanesa tertahan kenapa Eva menelpon mas Rendra, ah itu tidak mungkin barangkali ini Eva teman mas Rendra yang Aku tidak tau, kalau begitu biarkan sajalah, lagipula bukan urusan ku, Nanti Aku bisa mendapatkan hukuman jika berani dan lancang membuka dan menjawab telpon pribadi Mas Rendra sebagai seorang istri yang baik, Aku harus percaya dan Patuh pada semua yang suamiku katakan, tapi untuk jatah malam ini Aku benar-benar tidak bisa, hatiku masih sakit dan kesal meskipun sesungguhnya Aku sangat merindukan belaiannya." Lirih Vanesa dalam hati yang mana kini mulai merebahkan tubuhnya di Ranjang.
Vanesa mulai memejamkan kedua bola matanya rasa kantuk yang dalam membuat kedua bola matanya lama-kelamaan mulai terpejam, tapi belum sampai terlelap lagi-lagi ponsel yang ada diatas Narkas berbunyi, merasa berisik dengan suara yang ditimbulkan dari ponsel suaminya, Vanessa turun dari Ranjang dan melangkah mendekati Narkas.
"Mungkin ini telpon penting dan Aku akan sangat bersalah jika tidak menjawabnya sementara Mas Rendra sedang tidak ada, kasian sekali jika ternyata itu telpon penting, Aku harus mengangkatnya." Dengan sedikit ragu dan mulai memberanikan diri Vanesa mengaggkat benda pipih yang ada di depannya
"Halo ,_
__ADS_1
"Braak..! sebuah pintu kamar di buka dengan kasar dari luar dengan disertai sebuah teriakan keras, hingga membuat hati dan jantung Vanesa seperti meloncat hingga tanpa sadar telpon yang ada dalam gengaman tangannya vanesa taruh Kembali ke atas meja Narkas.
"Vanesa, apa yang kau lakukan?" kamu sengaja membohongi ku ya? sinis Rendra yang langsung menghampiri sang istri menarik dan melemparkan tubuh Vanesa ke atas Ranjang.
"Mas, Aku tidak bermaksud,_....
Belum juga Vanesa menyelesaikan ucapannya Rendra sudah menyerangnya dengan buas bagaikan singa kelaparan yang sudah tujuh hari tidak makan.
Mendapatkan serangan dadakan yang begitu brutal dan terkesan tergesa-gesa menbuat Vanesa belingsatan, bagaimana pun juga Vanesa seorang wanita yang tidak akan kuat dan mampu menahan gelayar gelayar aneh yang sedang menyerang tubuh nya.
Vanesa berpikir Suaminya sedang menghukum dirinya karena telah lancang memegang benda pipih milik suaminya yang mana sesungguhnya Vanesa tidak sengaja melakukan hal itu, dia hanya khawatir ada yang penting dari orang yang berkali-kali menelpon Suaminya karena telpon itu berkali-kali berdering.
"Mas jangan, Aku minta maaf Aku tidak sengaja Aku hanya khawatir jika orang yang menghubungi Mas ada sesuatu yang penting, Karena dan tadi kan sudah Aku bilang, jika Aku sedang kedatangan tamu bulanan."ucap Vanesa di sela-sela rasa geli yang sedang mengelayar dan menyerang di seluruh tubuhnya.
"Aku tidak perduli, Aku mau membuktikan sendiri."Dengan sedikit kasar dan terkesan tergesa-gesa Rendra segera melakukan apa yang di inginkan nya, sudah satu Minggu tidak menyentuh sang Istri rasanya tidak bisa di bendung lagi meskipun ketika di Bali, Rendra justru menikmati daun muda yang masih sangat segar dan fress di mana rasanya sudah pasti sangat nikmat, akan tetapi rasa Nikmat itu tidak bisa Rendra rasakan, Rendra hanya akan merasa puaas dan nikmat jika sudah menyatu dengan sang istri, entah mengapa meskipun bukan untuk yang pertama akan tetapi rasanya sungguh membuat dirinya selalu kurang dan kurang.
Vanesa yang awalnya menolak karena rasa sakit dihatinya tidak lagi mampu menahan karena tubuh dan bibir nya bertolak belakang, bibirnya menolak tapi tubunya merespon bagaimana pun juga dia juga merindukan belaian Suami setelah satu Minggu lamanya berpisah jauh.
Senyum kepuasan terpancar dari raut wajah Rendra ketika merobek kain tipis berbetuk segitiga milik sang istri ternyata istrinya tidak sedang kedatangan tamu bulanan, tanpa basa-basi lagi setelah satu Minggu berpuasa Rendra langsung tancap gas, sudah seperti biasa nya Rendra tidak pernah mau melepaskan sang istri sebelum dirinya benar benar di buat kenyang dengan kenikmatan yang dia dapat dari sang istri.
__ADS_1
Barulah setelah menjelang pagi Rendra menggakhiri permainan nya, Rendra dan Vanesa tertidur pulas setelah olahraga yang benar benar menguras tenaga.
sebelum tertidur di samping istri nya yat sudah lemas karena kecapekan Rendra mengecup tipis kemudian merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Baru juga Rendra hendak memejamkan mata tiba-tiba ponsel hpnya yang berada di atas narkas berdering.
Dengan perasaan malas Rendra turun dan melangkah mendekati meja untuk mengambil ponselnya, kedua bola mata Rendra membulat seketika pada saat kedua bola matanya melihat satu nama yang tertera disana.
"Eva,"lirih Rendra yang kemudian merejectnya dan Kembali meletakkan ponselnya setelah itu berjalan Naik ke atas Ranjang, untuk tidur di samping istrinya akan tetapi kembali ponselnya berdering merasa kesal dan khawatir Vanesa terbangun dengan cepat Rendra turun dari Ranjang dan dengan sedikit berlari Rendra melangkah ke dekat meja dan mengambil ponselnya dengan cepat, setelah itu Rendra buru-buru keluar dari kamar Rendra sangat khawatir Vanesa mengetahuinya meskipun hal itulah yang Rendra inginkan yaitu membuat sakit hati Vanessa akan tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalas dendam, untuk itu Rendra memilih menjauh dari kamar untuk menjawab panggilan telepon dari Eva.
"Halo..!"
"Halo, Mas lama sekali mengangkatnya, Aku sampai kesal, jangan-jangan Mas Rendra lama mengaggkat telpon dariku karena mas Rendra sedang bercinta deng Mbak Nesa, apa benar begitu mas?"
Terdengar tarikan napas panjang dari sebrang.
"Apa kepentingan mu telpon Aku malam malam begini."Tanya Rendra dingin.
"Mas Aku kan juga istri mu jadi Aku,_..
__ADS_1
"jika tidak ada yang penting besok saja kita bicara,"
"Tit....! tanpa menunggu jawaban dari Eva Rendra sudah mematikan ponsel hpnya.