BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.22.DIAM


__ADS_3

Vanesa tidak mengucapkan sepatah kata pun hatinya sibuk bicara sendiri, diam-diam ada rasa was-was dan takut bila Rendra sampai mengetahui hubungan nya dengan keluarga Sky.


Vanesa begitu heran dan binggung dengan sikap dari Mama nya Sky, seolah olah tidak ada Wanita lain yang dia sukai selain dirinya, hingga sakit menjadi alasan utama untuk mengancam putra tunggal nya, permintaan konyol dan sangat aneh di mana sang Mama meminta Sky untuk menjadikan Vanesa istrinya, demi keselamatan dan kesehatan sang Mama Sky terpaksa memenuhi permintaan Mamanya meskipun harus merayu dan membujuk Vanesa agar mau menjadi istri pura-pura nya.


"Rendra yang melihat istrinya seperti melamun melempar botol parfum yang jatuh di lantai ke tubuh Vanesa, sontak saja hal itu membuat Vanesa terkejut dan langsung sadar dari lamunannya.


"Bugh...! botol parfum kecil itu jatuh tepat mengenai lengan Vanesa, ralat bukan jatuh tapi sengaja di lemparkan ke arah Vsnesa.


"Mas...! kenapa kau melempar ku."


"Seharusnya aku yang bertanya, apakah setelah satu Minggu aku tinggalkan Istriku tiba-tiba berubah menjadi patung bergerak."


"Mas, apa maksud mu, kenapa kau mengatakan aku seperti patung."


"Habisnya, kenapa diam saja, Oh, aku tau jangan jangan kau sedang memikirkan pacar selingkuhan mu, yang ada di warung soto itu ya."


"Deg...!


Seakan terkena sengatan listrik Vanesa langsung diam mematung sambil menelan ludahnya dengan susah payah.


"Kenapa, diam! apakah ucapanku itu benar?"


Dengan cepat Vanesa berdiri, bibirnya di paksakan untuk Tersenyum.


"Mas, kamu itu kalau bicara jangan ngawur dah, sudah aku mau mandi cuma tinggal sedikit Mas lanjutin sendiri saja." tukas Vanesa yang kakinya langsung masuk ke dalam kamar dan berlari ke kamar mandi tidak lupa langsung menguncinya dari dalam.


"Hos...hos....hos .!


Bagaikan orang yang habis berlari Maraton napas Vanesa naik turun tak beraturan.


"Bagaimana Mas Rendra bisa tau jika aku memang bersama laki-laki lain di warung soto, jangan-jangan Mas Rendra memang Melihat ku , Astaga bagaimana ini? Sky, kau benar-benar membuat diriku dalam masalah...huuffp, sabar-sabar, kau pasti salah menilai, pasti Mas Rendra cuma asal tebak, aku harus cepat mandi kemudian langsung tidur, sebisa mungkin aku harus terlihat tenang di depannya."


Tiga puluh menit lamanya Vanesa menyelesai kan ritual mandinya, Vanesa keluar dengan wajah yang segar. Ketika pintu kamar mandi di buka.


"Deg...!


lagi-lagi Jantung Vanesa serasa mau lepas dari tempat nya di mana dengan tiba-tiba dia melihat Rendra sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"M-mas, Rendra..!"


"Apa..? kenapa kamu seperti Melihat hantu saja, cepat minggir aku juga gerah nih."


"Oh, iya!

__ADS_1


Buru-buru Vanesa memberikan jalan pada suaminya untuk masuk ke dalam kamar mandi.


"Duh, kenapa jantungku begitu kacau begini, rileks... rileks, aku tidak boleh terlihat gugup, begini amat sih nasib orang yang tidak mampu bicara jujur pada suami,"


Takut Rendra sudah selesai mandi Vanesa segera Naik ke atas Ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut tebal sampai atas kepala.


Rendra yang sudah selesai melakukan ritual mandi dan Melihat istri nya sudah tidur dengan menutup tubuhnya dengan selimut tebal sampai di ujung kepala mengelengkan kepalanya.


"Nes ..! kamu kenapa kok tidur begitu, bangun cepat ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Deg...!


"Aduuh gawat pasti aku mau di marahin lagi bagaimana ini, ah pura-pura sudah tidur ku rasa itulah salah satu cara yang aman untuk menghindari semua pertanyaan Mas Rendra, aku belum sanggup untuk bicara yang sebenarnya."gumam Vaneaa dalam hati yang mana dirinya memilih diam dan pura-pura tidur.


Harapan tak seindah kenyataan itulah mungkin kata-kata yang tepat untuk Vsnesa, di mana dia berfikir akan aman dan baik-baik saja dengan berpura-pura sudah tidur.


Rendra yang kesal melihat istrinya masih tak bergeming dan tetap tertidur ditambah bayangan yang pernah dilihat nya kini di tambah lagi dengan melihat kelakuan sang istri di dalam warung soto, Kembali membuat darah Rendra mendidih, dengan sangat kasar Rendra menarik selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya.


"Banguun....!"


Sontak saja perbuatan Rendra yang kasar membuat Vanesa terkejut, menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan suaminya.


Belum juga hilang rasa terkejut nya lagi-lagi Vanesa di kejutkan dengan sikap kasar Rendra yang menarik paksa tubuhnya untuk segera bangun dari Ranjang.


"Aduh, mas sakit jangan di tarik tarik tangan ku, kenapa sih kamu itu seperti bunglon,"


"Apa maksud mu mengatakan aku bunglon hah."


"Habisnya baru beberapa menit baik eh kumat lagi galak nya, aku kan ngantuk." ucap Vanesa dengan pura-pura merajuk.


Rendra Tersenyum miring mendengar perkataan istri nya.


"Apa kau yakin aku akan percaya,"


Dengan cepat Vanesa mengelengkan.


"Sudah, tau kenapa pula pura-pura tidur."


"Aku tidak pura-pura aku memang tadi sudah tidur,"


"Jangan biasakan berbohong Nanti akan jadi kebiasaan."


"Deg....!

__ADS_1


Vanesa menelan ludahnya dengan kasar, apa yang di katakan Rendra, semua nya benar,kini dirinya jadi terbiasa sedikit sedikit berbohong.


"Kenapa jadi bengong, ayo cepat...!"


"Aduh, Mas kenapa kau tarik tarik terus tangan ku sakit tauk dan kau mau membawaku kemana?"


Rendra yang selalu saja bersikap dingin kasar dan suka marah marah tidak memperdulikan rengekan Istri nya, bagaikan seorang polisi Rendra menarik tubuh Vsnesa keluar dari dalam kamar dan dengan gerakan cepat di dorong nya tubuh Vanesa hingga jatuh di atas kursi sofa berbentuk panjang.


"Brugh..!"


"Sekarang jawab pertanyaan ku."


Jantung Vanesa Kembali berdetak dengan sangat cepat, pikiran Vanesa sudah mengembara kemana-mana jangan-jangan Rendra mau mempertanyakan Sky, keringat dingin mulai membasahi dahinya.


"Mas, mau tanya A-apa,?


"Kemana saja kamu selama aku tidak ada di rumah."


"Tidak kemana-mana aku cuma berada di rumah sakit trus pulang tidur."


Rendra Tersenyum miring mendengar jawaban dari istri nya.


"Apa kau berkata jujur."


"Temu saja."


"Lalu kenapa telpon dariku tidak kamu angkat hah dan kamu juga tidak menghubungi ku kemana kamu Nesa?"


Rendra mencengkram kuat rahang dagu Vanesa dengan sangat kasar membuat Vanesa kedua bola mata Vanesa membulat seketika.


"Mas, lepas kita bisa bicara baik-baik"


"Apa? bicara baik-baik, apakah dirimu selugu itu aku tidak yakin istri ku yang Cantik ini hatinya juga cantik, sekarang katakan kenapa kau tidak menelpon ku kembali, apa kau tau aku menunggu mu seperti orang gila."


"Weezz..! seperti hembusan angin yang tiba-tiba datang menerpa serasa dingin dan sejuk , ada rasa bahagia ternyata suaminya tidak membahas tentang warung soto yang mana dirinya bersama dengan Sky.


"Kenapa diam, ayo jawab..!"


"Untuk apa aku menelpon mu, Bukankah kamu yang melarang ku untuk menghubungimu."


Bibir Rendra seperti tercekat ketika Vanesa mengucapkan alasannya.


"jadi bukan salahku kalau begitu aku permisi mau tidur dulu."Vanesa bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke dalam kamar nya.

__ADS_1


__ADS_2