
Bara masuk ke dalam ruangan di mana Vanessa sedang terbaring yang mana setelah pemeriksaan selama dua jam Bara diizinkan untuk menemui Vanessa yang dianggap suster Bara adalah suaminya.
Ketika Bara masuk ke dalam ruangan terlihat Vanessa sedang tertidur dengan pulas, Bara tersenyum melihat Vanessa kemudian perlahan menyibakkan anak rambut Vanessa yang menutupi wajah Vanessa.
"Kasian sekali kamu, mulai hari ini Aku tidak akan membiarkanmu hidup menderita lagi Aku tidak perduli kamu Mau ataupun tidak. "
"Dreeettt,.. Dreeetttt...! Sebuah pangilan masuk yang mana Bara sengaja mematikan nada deringnya.
Buru buru Bara bergegas keluar dari ruangan untuk menerima panggilan telepon karena Bara tidak ingin tidur Vanessa terganggu.
" Hallo...Daddy!
"Bara...!apa maumu kenapa kamu membatalkan tiket penerbangan hari ini, Daddy tidak mau tahu kamu harus cepat pergi ke London di sana para klien Daddy sudah menunggu dan kamu harus bisa menghandle mereka semua, Daddy tidak habis pikir kenapa kamu justru membatalkan penerbangan, Memangnya kamu sedang apa sekarang dan di mana kamu sekarang? "
"A-aku...
" iYa, kamu dimana, Daddy tidak mau tau besok kamu harus cepat terbang ke London. "
"Iya, Dad..!
Tanpa bicara apapun panggilan telepon langsung dimatikan dan terputus setelah Bara mengatakan setuju jika besok dia terbang ke London.
Bara menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan kasar pandangan matanya tertuju ke dalam ruangan yang mana Vanessa sedang tertidur dengan pulas dengan langkah cepat Bara pergi ke sebuah ruangan di mana Bara sengaja ingin menemui dokter yang menangani Vanessa kala itu.
"Apa saya boleh bertaya sesuatu Dok, "
" Tentu saja boleh Pak, silakan mau bertanya apa?
"Apakah berbahaya bagi janin yang di kandung istri saya seandainnya dia saya bawa untuk berpergian jauh dengan Naik pesawat? "
"Oh, itu, tidak Ada yang perlu di khawatirkan saya sudah memberikan obat penguat untuk janin dan istri anda terlihat sangat kuat dan sepertinya Aman. "
"Baik, Dok trimakasih. "
Bara segera keluar dari dalam ruangan dokter, berniat untuk pergi ke Ruangan Vanessa akan tetapi Niat iTu dia urungkan setelah mengetahui jika, Ada pesan masuk di dalam ponsel hpnya, dan tertulis sebuah pesan yang memberikan info dari nomor telpon Dokter Rendra.
Wajah yang tadinya senang dan berseri tiba tiba berubah menegang dengan wajah merah padam seolah sedang menahan amarah.
Bara berjalan kesudut lorong yang sedikit sunyi, hal itu Bara Lakukan agar percakapannya dengan Dokter Rendra tidak di dengar siapapun.
Dengan sabar Bara menunggu pangilan telponnya, tersambung.
Setelah menunggu dengan tidak sabar selama beberapa menit akhirnya Bara bisa mendengar Suara yang sangat di bencinya, ingin sekali rasanya Bara menghajar habis habisan Suami dari Vanessa yang tidak bisa menjaga keselamatan istrinya.
"Halo... siapa ini dan dari mana mengetahui nomor telponku, "
"Halo Dokter, tentu saja Aku mengetahui nomor telponmu, karena kamu kan seorang Dokter ternama di kota ini. "
" katakan Ada perlu apa kau menelponku? "
" Aneh sekali seorang dokter yang terkenal dan sangat ternama serta seorang suami yang katanya sangat mencintai istrinya akan tetapi tidak tahu keadaan istrinya saat ini, miris sekali kamu dokter Rendra Admaja.'
"Hei... jaga bicaramu jangan bicara sembarangan memangnya siapa kamu, bisa mengetahui tentang keluargaku dan kehidupanku, apanya yang miris, " sinis Rendra yang mulai tersulut emosi, rasanya Rendra ingin mencabik-cabki Orang yang membicarakan tentang istrinya apalagi mengatakan jika istrinya sangat miris Rendra tidak terima akan hal itu emosinya meluap dan meledak bahkan kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat.
Dari sebrang terdengar suara tawa yang semakin membuat darahnya Naik.
"Siapa kamu dan katakan apa maumu? "
"Santai Dokter, jangan terburu buru, tunggu Aku matikan dulu, Aku Mau memberikan kabar untuk mu."
__ADS_1
"Tit...! sambungan telponpun akhirnya dimatikan, Rendra semakin mendengus kesal.
" Dasar laki laki sialan seenaknya saja bicara, beruntung Aku tidak menggenalnya kalau Aku menggenalnya sudah ku robek mulutnya."sungut Rendra sambil melempar ponsel hpnya keatas Ranjang.
Tapi beberapa menit kemudian ponsel Rendra kembali berbunyi, tanda Ada sebuah pesan masuk.
"Apalagi sih Anak itu, " Rendra menggambil ponsel hapenya dan melihat pesan yang di kirim untuknya.
Ketika Rendra membuka pesan yang ada di ponsel hp-nya dan melihat sebuah foto yang ada di sana membuat Rendra terhuyung dan jatuh terduduk tubuhnya lemas dan serasa limbung, sebuah foto yang menampakan seorang wanita sedang terbaring di sebuah kamar Rumah Sakit dengan beberapa infus di tubuhnya.
"Ne-nesa... mengapa dia berada di dalam Rumah sakit, mengapa dia di infus apa yang terjadi padanya, Aku harus cepat kesana. " bergegas Rendra bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu hendak pergi akan tetapi ponselnya kembali berdering membuat langkah kaki Rendra terhenti.
Dengan tangan bergetar Rendra menerima panggilan telepon yang suaranya mulai terdengar dan bisa Rendra dengar dari seberang.
"Halo..!
" Bagaimana, Dokter apa kamu sudah melihat nya? "
"Siapa kau dan katakan dimana istriku sekarang, "
"Hahaha, kenapa.... khawatir... panik Hahaha, terlambat Dokter yang terhormat, kamu tau bagaimana Aku menemukan keadaanya saat itu, dia berlari ketakutan, dia di kejar beberapa laki laki yang hendak memperkosanya, beruntung Aku melewati jalan itu sehingga Aku bisa menyelamatkannya tepat pada waktunya, kamu itu bagaimana, kamu itu suami macam Apa? kenapa kamu biarkan istrimu keluar sendirian, apa kamu bisa bayangakan apa yang akan terjadi padanya seandainnya Aku tidak Ada disana, kamu benar benar Dokter brengsek, bisamu hanya berselingkuh saja,"
"Dimana kalian sekarang, Aku akan segera kesana? "
"Untuk apa, Mau menyakitinya lagi, begitukah, beruntung Vanessa Wanita yang kuat sehingga bayi yang Ada di dalam kandungannya bisa selamat. "
"A-apa, Nesa hamil dia hamil Anakku, Aku mohon katakan padaku di mana dia sekarang, Aku Akui Aku bersalah Aku berjanji tidak akan menyakiti nya lagi, Aku sangat senang dan Aku bertrimakasih padamu karena telah menyelamatkan istriku, Aku mohon berikan alamat nya Aku ingin bertrmu istriku. "
Bara tersenyum miring mendengar perkataan dari Rendra yang mengiba meminta agar dirinya memberikan alamat di mana Vanessa kini berada.
"Tidak perlu, semua sudah terlambat karena Aku tidak akan mengizikan kamu menyakiti hatinnya lagi, jika kamu masih perduli dengan istrimu, cari dan temukan siapa dalang dari orang yang ingin mencelakai istrimu karena Aku yakin pelakunya pasti orang terdekatmu, Oh, ya.kamu tidak perlu lagi repot repot bertanggung jawab atas kehidupan Vanessa, karena dia mulai hari akan menjadi tanggungjawabku Aku akan membawanya pergi dari sini, "
"Tenang saja, Aku akan urus perceraian kalian, tenanglah Aku beri kesempatan padamu untuk melihat Istri dan anakmu untuk yang terakhir Kali, mungkin kamu ingin mendengar suaranya tunggu sebentar. "
Bara mendekati salah satu Suster yang ada di dalam Ruangan Vanessa.
"Permisi Sus, tolong pegang hp saya dan tolong Video kan kami berdua Saudara jauh saya ingin melihat nya. "
"Oh, baik Pak. "
Bara segera memberikan ponsel hpnya pada Suster kemudian, dengan Santai Bara mendekati Ranjang Vanessa yang mana Vanessa sudah terbangun.
"" Bagaimana keadaanmu hari ini? " sapa Bara dengan lembut.
Sementara Suster yang di minta untuk memvidio mereka berdua berdiri di belakang samping Vanessa sehingga Vanessa tidak tau jika sedang di video live.
Rendra yang melihat hal itu darahnya bergolak mendidih rasa cemburu kembali menyeruak dan berkecamuk di dalam kalbunya.
"Dia menolong tapi Ada maunya dasar laki laki Brengsek. " geram Rendra dengan kesal.
"Sudah enakan, trimakasih ya, "
"Hemmm Nes...!
" Ada apa, kenapa sepertinya serius sekali, bicara saja, "
"Apa Aku boleh memegang bayimu Aku ingin merasakan kehadirannya, "
Vanessa mengagguk, sebagai tanda mengizikan, dengan lembut Bara menyentuh perut Vanessa kemudian dengan sangat perlahan sangat lemah seolah berbisik.
__ADS_1
"Boleh Aku menciuumnya? "ucapan Bara yang pelan akan tetapi cukup bisa di dengar Rendra semakin membuat Rendra Panas Wajah nya semakin menegang.
" Hei, jangan kurang ajar, Aku saja belum pernah menciiuum anakku, Nesa jangan ijinkan dia mententuh Anak kita jangan... teriak Rendra di dalam telpon yang mana tidak akan di dengar oleh Vanessa karena Bara sebelum menyerah kan ponsel hpnya dan. meminta untuk memvidiokan dirinya sudah membuat nada dering suara dalam posisi mati jadi hanya Rendra yang bisa mendengar percakapan mereka sedangkan Vanessa dan dirinya tidak bisa mendengar suara Rendra.
"Jangan, A-aku.. bilang jangan ijinkan Nesa? " Rendra terus berteriak.
"Jangan Aku malu kamu kan bukan papanya, "
Mendengar perkataan Vanessa yang menolak Bara mencium perutnya membuat hati Rendra bernafas dengan lega, akan tetapi beberapa detik kemudian kembali Rendra dibuat tegang dengan perkataan Bara yang lebih menyakitkan.
"Sekarang belum, tapi sebentar lagi iya, "
"Apa maksudmu? " tanya Vanessa merasa bingung.
"Menikahlah denganku?"
"Apa? " kamu mabok dan bercanda ya? "
"Aku Serius Menikahlah dengan ku, Aku mencintaimu Nes, "
Bukan hanya Vanessa yang terkejut Rendra yang Mendengar pun sangat terkejut bahkan suster yang berdiri di samping Vanessa pun ikut terkejut karena yang Suster tahu Bara adalah suami dari Vanessa pasien yang baru saja masuk dan mereka rawat akan tetapi kali ini Suster itu mendengar laki-laki yang mengaku sebagai suaminya Ternyata bukan suaminya, ikut dibuat syok dan bingung akan tetapi tidak memiliki keberanian untuk bertanya.
"Tapi, Aku...
" Kenapa? apa kamu masih mencintai Rendra Suamimu, apa kamu masih ingin hidup bersamanya. "
mendengar perkataan dari Bara Rendra yang menunggu jawaban dari Vanessa merasa sangat berdebar-debar dan gelisah di mana Rendra sangat berharap jika Vanessa masih mau dan masih mencintai nya.
Tidak jauh berbeda dengan Rendra hati Bara pun ikut berdebar-debar karena menunggu jawaban dari Vanessa, Bara sangat tahu dan mengerti jika Vanessa masih sangat mencintai Rendra dan kemungkinan pahit yang akan dia dengar adalah Vanessa masih menginginkan Rendra di dalam kehidupannya.
Anisa tersenyum kecut kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
"Tidak, Aku tidak ingin lagi bersamanya dan Aku juga sudah tidak mencintai nya. "
"Wuuuuzzz....! Bara menarik napas lega dan senang sementara Rendra merasakan bagaikan ada sengatan petir yang menyambar wajahnya di mana tubuhnya seolah tidak memiliki tenaga dan terasa lemas mendengar perkataan dari Vanessa, Rendra jatuh terduduk sambil tergugu.
Dokter pun juga manusia yang mana ada kalanya dia akan merasakan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam yang mana seperti pada laki-laki umumnya seorang dokter pun bisa menitikkan air mata.
"Nesa... Nes Apakah memang sudah tertutup hatimu untukku, apakah tidak Ada kesempatan kedua lagi untukku, Aku ingin kita bisa bersama jangan tinggalkan Aku, berikan Aku satu kesempatan. " lirih Dokter Rendra dengan suara sendu, dimana buliran bening kini lolos dari kelopak matanya.
Bara yang terharu dan senang mendengar ucapan dari Vanesa Tanpa sadar meraih tangan Vanessa Dan menciuummnya dengan lembut.
"Beri Aku kesempatan untuk membuktikan cintaku padamu Nes, "
Vanessa mengagguk lemah dengan tersenyum hambar.
"Trimakasih, Baiklah sekarang kamu istirahat ya, Suster biarkan Nesa beristirahat mari kita keluar."
Di luar Ruangan Bara meminta kembali ponsel hp-nya kemudian meminta suster untuk pergi meninggalkannya.
"Bagaimana Doctor Rendra bukankah kamu sudah mendengar semuanya? " tanya Bara dengan penuh senyum kebahagiaan yang mana Dia benar-benar sangat merasakan bahagia karena Vanessa dengan sangat jelas dan terang mengatakan sudah tidak mencintai Rendra dan tidak ingin kembali kepada Rendra sementara Rendra yang ditanya hanya dia membisu wajahnya semakin kusut dan lesu.
"Sudah kamu tidak Peru bersedih, Aku Akan merawat anakmu dengan baik Aku Akan mencintai anakmu seperti Aku mencintai Nesa, jika kamu perduli Dan benar benar mencintai nya, carilah orang yang sudah berani membuat Nesa menderita Dan hampir keguguran. "
Rendra tak menjawab apapun perkataan dari bara hatinya begitu sedih dan sakit bahkan tatapan matanya terasa sangat kosong, hingga akhirnya panggilan telpon pun di matikan Bara.
lain Bara lain pula dengan Vanessa yang berada di dalam kamar ruangan rumah sakit, meskipun bibirnya tersenyum akan tetapi Vanessa tidak bisa membohongi hati dan perasaannya, hatinya terasa sakit dan sesak terlebih mengatakan jika dia sama sekali tidak mencintai Rendra, karena sesungguhnya di dasar hatinya yang paling dalam Vanessa masih sangat mencintai Rendra meskipun berkali-kali Rendra menyakitinya Akan tetapi rasa cinta yang dia miliki sangatlah dalam yang mana tidak ada seorangpun yang akan tahu jika sesungguhnya hatinya merasa sangat sakit untuk melepaskan nya dan untuk mengatakan jika dirinya sudah tidak mencintai Rendra lagi, dan untuk menerima suatu kenyataan Jika dia harus membesarkan anaknya tanpa Rendra itu adalah suatu hal yang menyiksa batinnya, jujur di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dirinya ingin mendapatkan kasih sayang Dan dimanja Rendra Akan ttetapi semua itu hanya tinggal mimpi.
Karena bagaimana pun juga Dia harus menjaga dua hati agar tidak terluka, dia tidak ingin adiknya tidak bahagia Dan dia juga tidak ingin membuat Bara kecewa karena bagaimana pun juga Bara sudah banyak berkorban untuknya Dan jika harus Ada hati yang terluka, Cukuplah dirinya saja yang merasakan Dan memendam semua demi kebahagiaan semuannya.
__ADS_1