BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab.51.KECEWA


__ADS_3

Vanesa yang merasa kesal dan marah berusaha menolak apapun yang Rendra berikan padanya akan tetapi Vanesa yang berada dibawah Kungkungan Rendra tidak memiliki cukup tenaga untuk melawan.


Semakin lama tenaganya semakin lemah hingga akhirnya Rendra berhasil melakukan penyatuan dan ketika Rendra hendak mencapai puncaknya Vanesa berteriak dengan sangat keras dan histeris.


"Jangan dimasukkan Mas, Aku tidak mau...! teriak Vanesa sambil menangis.


Akan tetapi Rendra sepertinya tidak memperdulikan hal itu, dia tetap menyemburkan laharnya di dalam rahim istrinya, tidak mempedulikan permintaan sang istri bahkan berusaha buta dan tuli dengan rengekan dan Air mata sang istri, agar Rendra tidak menyemburkan lahar di dalam rahimnya, setelah lahar itu keluar, Rendra tersenyum dengan puaas hatinya merasa lega walaupun sesungguhnya hatinya tidak tega melihat sang istri menangis hatinya ikut sedih seolah olah ikut tercabik-cabik, tapi karena tidak ada cara lain yang bisa membuat nya tenang untuk bisa mempertahankan Rumah tangannya Rendra terpaksa memaksa Istri nya di kala Sang istri dalam masa masa subur rahimnya karena baru saja pergi tamu bulanan nya dan itu adalah waktu yang tepat untuk menanamkan benih.


"jika setelah ini aku ketahuan telah berselingkuh, Aku tidak akan takut lagi kehilangan Vanesa karena Aku sudah menanamkan benih di dalam rahimnya, maafkan Aku semua aku lakukan karena aku tidak mau kehilangan dirimu, Apapun alasannya dan semua yang terjadi itu juga bukan hanya kesalahanku tapi juga kesalahanmu tapi dengan adanya benih ini mengalir dalam rahimmu, kamu tidak akan pernah bisa lari dariku, kamu juga tidak akan pernah bisa meninggalkanku dan kau tidak akan pernah bisa jauh dariku."Gumam Rendra dalam hati sambil bangkit dari tubuh sang istri kemudian tidur di sampingnya tinggallah Vanesa terdiam tapi dengan derih air mata yang terus mengalir di pipi hatinya sangat sakit Dan benci sejujurnya Vanesa sudah mengetahui jika suaminya telah menjalin hubungan dengan wanita lain akan tetapi Vanesa tidak memiliki cukup bukti karena Vanesa mendapatkan cerita itu dan berita itu dari Baranyang selalu mengingatkan dirinya yang selalu mengatakan pada dirinya jika Rendra sudah berselingkuh meskipun di depan Bara Vanesa tidak mempercayai akan tetapi semua yang terjadi semua hal yang aneh dan seakan-akan tidak sewajarnya membuat Vanesa menjadi merasa yakin jika suaminya benar-benar telah berselingkuh dan selingkuhan suaminya bukan orang lain tapi Adiknya sendiri, hal itu di perjelas dengan terang-terangan Rendra memberikan ATM pada Eva.


"jangan menangis Bukankah aku ini suamimu dan hal itu Bukankah biasa kita lakukan Kenapa kali ini kamu menangis, bukankah seharusnya kamu juga senang jika kali ini aku bermainnya juga tidak kasar dan juga tidak terlalu banyak,"lirik Rendra di dekat telinga sang istri yang mana semakin membuat Vanessa merasa muak dan kesal sehingga menarik selimut sampai ke atas kepalanya, Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan melihat kelakuan dan tingkah dari sang istri, Rendra turun dari Ranjang kemudian mengambil satu gelas air mineral dan meneguknya.


Vanessa yang merasakan Ranjangnya bergoyang ketika Rendra turun, Vanesa berpikir jika Rendra sudah pergi mungkin masuk ke dalam kamar mandi Vanessa menurunkan selimut akan tetapi apa yang yang menjadi sungguh diluar dugaan Vanesa, ternyata Rendra masih berada di dalam kamar dan Vanesa semakin terkejut ketika Rendra mendekati Ranjangnya, Vanessa memalingkan muka Vanesa berpikir mungkin Rendra akan merayu dan meminta maaf padanya, akan tetapi Apa yang dipikirkan Vanesa ternyata salah karena dengan sangat perlahan tapi pasti Rendra justru menjatuhkan Vanesa kembali ke atas ranjang


"Mas apa yang akan kamu lakukan, lepaskan aku tadi kan sudah,"ucap Vanesa ketika Rendra sudah berada di atas tubuhnya.


"Satu tembakan tidak cukup untuk membuat seorang bayi, jadi aku mau dua kali tembakan lagi biar genap menjadi 3 tembakan, kita ulangi lagi," ucap Rendra dengan santai.


"jangan gila aku tidak mau, lepaskan Aku Mas."rengek Vanesa yang tidak didengar Rendra karena kali ini Rendra berusaha menulikan telinganya berpura-pura tidak mendengar.


"maaf sayang itu tidak mungkin jadi nikmati saja,"bisik Rendra dalam telinga Vanessa

__ADS_1


apa yang dikatakan Rendra ternyata memang benar Rendra tidak melakukan penyatuan dengan kasar dia melakukannya dengan sangat lembut dan halus bahkan bibir Vanesa yang menolak akan tetapi bertolak belakang dengan tubuhnya yang merespon karena permainan Rendra yang cukup membuat tubuhnya merasakan nikmat hingga tanpa sadar loloslah suara desaahaan yang sudah sekuat tenaga Vanesa tahan akhirnya keluar juga, hal itu membuat Rendra semakin bersemangat untuk memberikan lebih hingga mampu membuat Vanesa terbang ke langit biru hingga akhirnya sore itu Rendra melakukan penanaman benih sebanyak tiga kali hingga tubuh mereka terkulai lemas karena kecapean, sedangkan Rendra tersenyum puas karena sudah berhasil melakukan apa yang dia inginkan.


Di tatapnya wajah sang istri yang tidur membelakangi nya, perlahan lahan Rendra menciuum punggung sang istri sambil berbisik.


"Trimakasih sayang,"lirih Rendra


yang kemudian membiarkan istrinya untuk beristirahat sedangkan dirinya langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Kurang lebih dari 20 menit Rendra melakukan ritual mandi kemudian keluar dengan wajah yang sangat segar bibirnya masih mengulum senyum sangat terlihat jelas wajah kebahagiaan serta kepuasan terpancar dalam dirinya sementara Vanesa diam meskipun dirinya tidak tidur.


Rendra berjalan mendekati Ranjang Vanesa.


Dimana di dalam ruang makan ternyata sudah duduk Eva dengan tangan bersedekap di depan dada dengan pandangan mata menatap tajam pada Rendra terlebih kedua bola matanya melihat Rambut Rendra yang basah.


"Oh, ternyata mereka lama berada di dalam kamar karena sedang Asik bermain, enak ya bisa bermain disaat Aku menunggu untuk makan malam, awas saja kali ini Aku tidak akan mau toleransi lagi kepadamu Mas, bisa-bisa nya kau mencuumbu wanita lain ketika Aku juga ada disini," gumam Eva dalam hati.


Sementara Rendra yang ditatap Eva dengan tatapan yang sangat tajam dan penuh amarah Rendra membalas tatapan Eva, tidak seperti biasanya jika Eva menatapnya Rendra selalu diam dan menunduk tapi kali ini Rendra membalas tatapan Eva dengan mengulum senyum bahkan dengan berani Rendra mengedipkan sebelah matanya membuat hati Eva semakin kesal dan jengkel.


"Haiss, ada apa ini kenapa Mas Rendra begitu berani."tanya Eva dalam hati.


"Va, tolong ambilkan piring untuk kakakmu sekalian isi lauk-pauknya ya, biar Aku bawa makan malam nya kedalam kamar karena sepertinya kakakmu hari ini sangat lelah."

__ADS_1


Eva mendelik Mendengar perkataan dari Rendra, sungguh Eva tidak pernah menyangka jika Rendra sekarang juga berani bicara terus terang tentang permainan nya dengan mengatakan kalau kakaknya sedang kelelahan.


Eva yang kesal menghentakan kaki nya ke lantai.


"Aku tidak mau?' tolak Eva dengan sangat keras dan kasar.


Dengan tersenyum miring Rendra mendekati Eva dan dengan berani menangkup wajah Eva.


"Lakukan jika tidak kamu akan merasakan malam ini akan jadi malam terakhir mu di Rumah ini karena Aku akan mengusir mu,"


"Lepaskan,"teriak Eva sambil melepaskan cengkraman tangan Rendra pada dagunya.


"Kamu tidak bisa mengancamku Mas dan Aku tidak akan pernah pergi dari Rumah ini, Aku akan bilang jika kamu sudah meniduriku pada Mbak Nesa dan dia akan ....


"Aku tidak takut, katakan saja karena Vanesa tidak akan bisa pergi dariku dua Minggu lagi pasti benih yang kutanam padanya akan segera berkembang mana mungkin Vanesa akan memisahkan anak dan bapak sudahlah, kamu lakukan perintah ku atau kamu pilih besok angkat kaki dari Rumah ku."


"Mas kau...


Belum juga Eva menyelesaikan ucapannya Rendra sudah memotong pembicaraan.


"Pikirkan karena pilihan ada padamu," ucap Rendra seraya pergi dari ruang makan dan Eva terpaksa melakukan perintah Rendra meskipun dengan hati yang penuh dengan amarah dan rasa kecewa

__ADS_1


__ADS_2