
Dengan kecepatan sedang Rendra bersama dengan Robi menyusuri di kota kala itu di mana sesekali Rendra melihat ke arah ponsel hp yang mana Rendra sedang melacak keberadaan dari telepon misterius yang menghubunginya kalau sore itu.
"Bagaimana? " tanya Robi yang kala itu sambil mengemudikan mobil.
"Aku rasa kita tidak akan berhasil aku sudah berkali-kali mencobanya akan tetapi aku tidak menemukan dan melihat posisi mereka Entah harus bagaimana kelihatannya baru telepon itu sedang dimatikan sehingga kita kesulitan untuk melacaknya.
" Ciiiiiiiiiittt....!
Robi menghentikan mobil secara mendadak membuat Rendra yang kala itu menatap ke layar benda pipi yang ada di depannya menjadi tersentak kaget dan menatap ke arah roti dengan catatan kesal.
"Kamu apa again Rob, Kenapa menghentikan mobil secara mendadak bikin orang jantungan saja untuk aku seorang dokter kalau tidak jantungku lepas Bagaimana dasar kurang ajaar. " sinis Rendra yang mana dengan gemas mengarahkan jari telunjuknya ke dahi Robi yang mana Robi hanya terkekeh mendengar dan merasakan perlakuan Rendra yang sedang kesal kepadanya.
"Kenapa justru tertawa apa Ada yang lucu? " sinis Rendra yang merasa di permainkan Robi.
"Ternyata seperti ini model sikap orang yang sedang Panik? "cibir Robi pada Rendra yang mana mendengar hal itu Rendra semakin mendelik menatap Robi yang tersenyum seolah-olah dirinya tidak merasa bersalah.
" Slow., sini Ponsel hpmu biar Aku yang pegang dan sekarang kamu yang ganti menjadi supirnya hihihii, "
"Kamu jangan bercanda Rob Bukankah kamu bilang Kita harus mencari dan melacak keberadaan Vanessa Mengapa kamu justru mengajak seperti bercanda seperti ini nggak lucu sama sekali tahu. "
"Ciiih, sapa yang mau ngajak bercanda sudah geser kita Tuker tempat. "
Meskipun dengan perasaan kesal Akhirnya Rendra menuruti apa yang diminta oleh Robi dengan perlahan-lahan kemudian Rendra kembali melajukan mobilnya sementara Robi menatap dan mengutak-atik layar dari benda pipih milik Rendra.
"Cerdas sekali dia, setelah menghubungi langsung mematikan ponsel hp sehingga keberadaannya sulit untuk dilacak Aku harus bisa membuat ponsel hp milik orang itu kembali dibuka tapi caranya bagaimana tapi terus bergumam dan bermonolog sendiri dalam hati sambil sesekali memijat-pijit kepalanya yang tidak sakit. " Ah ya kenapa Aku bodoh aku kan bisa mengirimkan pesan suara Rendra si dokter kolot mana pernah dia bisa merayu Pasti orang itu akan panas jika aku berpura-pura menjadi Rendra dan merayu Vanessa pasti secara tidak langsung dia akan membuka pesan kemudian dengan cara itu aku dan Rendra bisa mengetahui jejak keberadaannya ide aku memang Cemerlang, " puji Robi pada dirinya sendiri.
Apa yang di lakukan Robby tak lepas dari pantauan dan pengawasan Rendra yang kala itu melirik ke arahnya.
"Dasar konyol tidak punya perasaan temannya Lagi bersedih dia malah senang-senang tersenyum-senyum sambil tertawa-tawa seperti itu bodoh sekali aku mengikutinya karena semuanya juga sia-sia bagaimanapun juga yang namanya pencuri itu adalah orang yang pandai dan pintar mana mungkin dia akan membuka pada hp-nya, sudah pasti dia matikan agar Aku tidak bisa melacaknya, dasar Robi bodoh buang-buang waktu saja apa lebih baik aku putar balik saja ya, tapi di Rumah pun pikiranku tidak tenang, Nesa Aku ingin sekali menciium dan memeluk anak kita, "Gumam Rendra dalam hati.
Di sebelah Rendra, Robi yang yang sudah menemukan sebuah ide perlahan-lahan menggeser duduknya sedikit menjauh dari Rendra kemudian menekan satu nomor telepon asing yang menghubungi Rendra, di mana dia telah memberikan kabar kepada Rendra jika istrinya berada di Rumah sakit karena ponsel hp dari sang penelpon dimatikan Robi memilih jalan untuk menelpon dan Meninggalkan pesan suara satu pesan suara Yang mana Pasti akan sangat menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya terlebih orang itu memiliki rasa suka kepada istri Rendra.
Dengan nada suara yang sangat pelan Robi mulai meninggalkan pesannya.
"Sayang, Aku tau kamu masih sangat mencintaiku dan Aku tau sampai kapanpun kamu tidak akan melupakanku, begitupun dengan diriku Aku tidak akan pernah melupakanmu karena Aku sangat mencintaimu, " sampai pada kalimat Aku sangat mencintaimu Robi tertawa geli pada dirinya sendiri bahkan dalam hati Robi mengatakan gombal, ah ini sih bukan Rendra gombal tuh cinta Rendra tapi demi terlihat sangat romantis dan sangat cinta gas saja pura pura Dan bersandiwara sedikit bolehlah, siapa tau Nasib Rendra beruntung saat orang itu membuka pesan suara dan Nesa mendengarnya, terus hati Nesa luluh, Nah man mereka bisa hidup bahagia lagi kayak dulu terlebih Pelakor uler keket itu sudah menerima karmannya, Aku jadi kepo kayak apa cewek galak itu di dalam penjara sana pasti berteriak teriak begitu. "Robi kembali tertawa geli membayangkan semuanya.
Rendra yang melihat Robi berkali-kali senyum-senyum sendiri bahkan terkadang melihat bibir Robi berkomat-kamit seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra Rendra menggelengkan kepalanya.
" Kamu itu sedang kesambet setan apa sih Rob dari taxi senyum senyum sendiri sambil komat kamit begitu,"
"Sudah Ren, kamu diam saja tidak perlu memikirkan dan memperhatikan Aku tunggu saja hasilnya beres. "
"Here's, apanya."
"Sudah sudah jangan pedulikan Aku sana lurus kedepan Pandangan kamu hati hati kalau tiba tiba Ada kucing lewat jangan sampai kamu tabrak. "
Rendra tak lagi memperdulikan perkataan dari Robi pandangannya terus lurus ke depan sambil mengemudikan mobil yang mana Rendra sendiri tidak tahu harus pergi ke mana seolah-olah tidak memiliki tujuan hanya terus lurus berjalan dan berjalan.
Sementara Robi menunggu dengan resah hasil dari pesan suara yang dia kirimkan pada nomor asing yang telah menghubungi Rendra kalahl itu, hampir 15 menit tidak ada perkembangan apapun dari ponsel hp dan pesan suara yang dia kirim bahkan Robi sendiri hampir merasa putus asa dan pada saat Robi sudah putus asa dan hendak mengembalikan ponsel hp milik Rendra tiba-tiba Robi melihat Google Map yang dia pasang pada posisi menyala untuk melacak keberadaan ponsel hp dari sang penelpon asing tiba-tiba Google Map itu bergerak yang mana Robi memang sengaja setelah memberikan pesan suara Robi membuka Google Map dengan layar ponsel hp hidup sehingga memudahkan nomor milik telepon asing, jika sewaktu waktu menyala bisa dengan cepat melacak keberadaan orang itu artinya apabila sewaktu-waktu ponsel hp-nya dibuka dan benar saja Google Maps sudah menunjukkan sebuah rute dan lokasi tempat di mana Vanessa berada Yang mana Hal itu membuat hati Robby girang dan tanpa sadar memeluk Rendra yang kala itu juga sedang melamun karena tidak tahu harus berjalan ke mana selalu mengemudikan mobil terus dental melamun.
"Berhasil..! Teriak Robi sambil memeluk Rendra.
Rendra yang terkejut dengan ulah Robi yang tiba-tiba membuat render dengan cepat menginjak rem mobilnya karena Rendra berpikir ada sesuatu yang menakutkan atau sesuatu yang ada di depannya sehingga Robi memeluk dirinya dengan sangat erat.
" Ciiiiitttt....! "
"Ada apa? " apa Ada kucing di depan kita kenapa tadi Aku tidak melihatnya, "
Robi terkekeh sambil melepaskan pelukannya, kemudian menggelengkan kepalannya.
__ADS_1
"Tidak Ada,
" Lalu kenapa memelukku, apa kamu melihat hantu ya karna ini memang sudah masuk waktu malam."
"Iih, Dokter kok parrnoo begitu mana ada hantuu, Aku Ada kabar bagus buat mu, nih lihat ini rute tempat dimana Vanesa di Rawat."
"Apa, bagaimana bisa berhasil begini, "
"Aku kan cerdas, " seru Robi bangga.
Wajah Rendra tampak begitu berseri dan bahagia.
"Tapi ini alamatnya cukup jauh dari sini, '
" Benar, Ren, kita harus bisa sampai disana sebelum Siang kamu kan bilang katanya Istrimu mau di bawah pergipergi besok pagi."
"Iya, terus kita harus bagaimana? "
"Sini kita tukar tempat biar Aku yang stir kita harus menempuh jarak yang seharusnya 6 jam kita harus bisa 4 jam, kita ngebuut, Nanti kita gantian yang pegang kemudi,"
"Baiklah, Ayo...!
Dengan kecepatan tinggi Robi mengemudikan mobilnya menembus gelapnya malam yang mana kala itu malam mulai merangkak naik udara dingin pun mulai menusuk tulang sumsum.
Tidak tidur dan tidak beristirahat sepanjang malam mereka berdua melakukan perjalanan dengan kecepatan yang tinggi di mana tempat Vanessa dirawat cukup jauh dari perkotaan yang ada, demi ingin segera bertemu dan demi tidak terlambat Rendra bersama dengan Robi bergantian dalam mengemudikan mobilnya.
Di tempat yang berbeda dimana hembusan udara dingin dan sinar mentari yang menerobos masuk melalui jendela dimana suara jangkrik yang bersahut sahutan kini berganti dengan kokok Ayam dan kicauan burung di pagi hari.
Vanessa mengerjapkan media bola matanya ketika kelambu yang Ada di dalam Ruangannya di buka.
"Selamat Pagi, bagaimana keadaanmu hari ini Nona? "
Bara terkekeh mendengar cicitan Vanessa.
Sambil Jalan mendekati rancang Vanessa barang mengulurkan kedua tangannya.
"Hari ini mau mandi apa cuma mau cuci muka kalau mau mandi sudah Ada Air hangat tadi Aku sudah nyalakan air panasnya.
" Kamu yang mengerjapkan? "
"Tentu," ucap Bara sambil tersenyun entah apa yang Ada di dalam pikirannya Bara hari ini terlihat sangat bahagia dan bersemangat.
"Aku mau mandi saja, "
"Baik, ayo Aku bantu turun dan pergi ke Kamar mandi, "
"Tidak perlu Aku bisa sendiri, "
"Ok, Aku antar sampai pintu saja. "
Tanpa menolak Vanessa mengagguk, Bara membantu Vanessa masuk ke dalam kamar mandi meskipun kala itu Bara membawa Vanessa ke sebuah rumah sakit terdekat akan tetapi Bara yang memiliki banyak uang meminta kepada pihak Rumah sakit menyediakan satu Ruangan kamar yang lengkap dimana di dalam nya juga memiliki kamar mandi.
"Sambil membca sebuah koran harian pagi, Bara menunggu Vanessa keluar dari dalam kamar mandi, tak lama kemudian Bara menerima Panggilan telpon.
" Halo..!
"Bara.. ingat penerbangan pukul 7.00 kamu harus segera ke bandara.
" Baik, Daddy tidak perlu khawatir ini sudah bersiap, '
__ADS_1
"Baguslah, " setelah mengatakan itu Ayah baras segera mematikan sambungan telepon sementara Bara segera menghampiri suster perawat yang ada di tempat itu meminta untuk mengemasi semua barang yang ada.
Karena penasaran Suster itu pun bertanya.
"Kenapa buru buru Bapak bisa pulang Nanti Siang jadi Bapak masih boleh untuk bersantai tidak perlu buru buru. '
" Maaf, Sus Aku akan terbang ke London hari ini penerbangan pukul 7.00 jadi kami harus cepat cepat pergi, "
"Oh, pergi keluar Negeri ya, pasti untuk bulan madu, "
Bara tersenyun mendengar perkataan dari Suster perawat, sementara Vanessa yang baru saja keluar dari kamar mandi Sedikit terkejut dan mengeryitkan dahinya ketika mendengar percakapan antara suster perawat dan Bara.
"Kamu mau pergi keluar Negeri? "
cara mengangguk sambil mengulum senyum sementara Vanessa menundukkan kepala kemudian berjalan mendekati Bara.
"Trimakasih sudah banyak membantu Aku, hati hati di jalan ya? "
Bara mengeryitkan dahinya sebelun kemudian berdiri tepat di hadapan Vanessa.
"Kita akan pergi bersama jadi Aku tidak pergi sendiri, "
"Apa maksudmu, Bara? "
"Kau juga akan pergi denganku, "
"Tapi, I-itu tidak mungkin A-aku, __
Sebelum Vanessa menyelesaikan ucapannya Bara sudah memotong pembicaraan.
" Kali ini Aku tidak memberimu pilihan, Aku tidak perduli kamu mau dengan suka rela ataupun terpaksa, karena Aku tidak akan lagi membiarkan kamu di sini sendirian, jangan membela Rendra bisa bertanggung jawab padamu, dia tidak pernah Ada ketika kamu membutuhkannya, ingat karena keteledorannya kamu hampir keguguran bahkan nyawamu pun bisa terancam saat itu, jadi stop menginggat dan memikirkan Rendra, Menikahlah denganku, "
"Ta-tapi, _____
" Sudah kubilang Aku tidak memberikan pilihan, masalah kamu dan Rendra Nanti pengacaraku yang Akan mengurus surat perceraian kalian, sekarang cepat bersiaplah penerbangan kita pukul 7.00."
Vanessa meneguk ludahnya tidak bisa bicara apapun, Bara yang sudah keluar dari dalam Ruangan dengan membawa koper dan segala milik Vanessa masuk ke dalam mobilnya.
Vanessa berjalan dengan gontai mendekati mobil yang di parkir di halaman Rumah sakit, sementara Bara sudah berada di dalam mobil.
"Non, biar saya bawakan,"
"Trimakasih Pak,
"Non, kenapa terlihat sedih, Non Vanessa tidak tau kan, sebenarnya Den Bara sudah harus di luar Negeri kemarin tapi karena Den Bara sangat sayang pada Non Vanessa, Den Bara membatalkan penerbangan hanya untuk menemani dan memastikan Non Vanessa baik baik saja, Den Bara sangat sedih dan panik ketika membawa Non Vanessa dalam keadaan pingsan dan berdarah, Den Bara sangat mencintai Non Vanessa tidak Ada wanita lain di hatinnya bahkan Nyonya Besar yang selalu mendatangkan jodho dari orang orang kaya dan cantik tidak pernah Den Bara trima, Den Bara mencintai Nona sudah lama cuma Non Vanessa saja yang tidak mau melihat nya, tolong jika Non Vanessa punya hati sedikit saja Buat Den Bara bahagia karena hanya Non Vanessa yang bisa membuat Den Bara bahagia. "ucap pak sopir prbadi Bara yang kemudian buru buru melangkah pergi memasukkan semua barang ke bagasi.
Vanessa tertegun melangkah perlahan menedakti mobil yang mana ketika Vanessa sudah berada di dekat pintu mobil Bara langsung turun dan membukakan pintu untuknya.
" Mau duduk di depan apa di belakang, "
"Disini, saja tidak apa apa, "
"Hmmm, Baiklah silahkan masuk, apa Aku boleh duduk disini, "
Vanessa mengaggukkan kepala sungguh hatinya masih sangat syok dengan apa yang dikatakan Sopir Pribadi Bara, Vanessa tidak menyangka Jika ternyata bara sudah lama menyimpan rasa kepadanya.
"Sudah pak Mari berangkat, Nes kamu kalau merasa mual atau tidak enak bilang ya? "
Dengan tersenyum kecut Vanessa menganggukkan kepala sementara Bara hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1