BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab. 102. MARAH


__ADS_3

Eva menatap tajam pada Robi yang sedang menertawakan dirinya.


"Terus saja tertawa dan meledekku, Aku doakan kamu tidak bisa hidup bahagia dengan kekasihmu."


"Jangan mendoakan hal yang buruk itu tidak baik karena bisa jadi kamu sendiri yang akan mengalami itu, "


"Kau...!


Robby bangkit dari duduknya sambil tersenyum kemudian menyambar satu jaket yang ada di atas kursi setelah berpamitan pada Mbok Yem pak Robi melangkah pergi Tapi ketika berada di depan Eva lebih menghentikan langkah kakinya,


" Kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan karena Rendra sama sekali tidak mencintaimu, "sinis Robi yang mana langsung melangkah keluar Rumah.


mendengar perkataan Robi, Eva mendengus kesal sambil kedua tangannya mengepal dan dihentakkan di atas meja yang mana bunyinya sangat keras membuat Mbok Yem yang kala itu juga berada di tempat itu menolehnya.


Robi tidak menghiraukan sama sekali apa yang dilakukan Eva Robi terus membuka pintu Kemudian keluar dengan cepat tanpa menoleh ke belakang.


Mobil yang biasanya dipakai Robi untuk pergi ternyata digunakan Rendra dan terpaksa Robi memakai mobil Rendra yang lain, yang ada di dalam garasi di mana Di dalam garasi ada 4 mobil yang dimiliki Rendra masing-masing mobil memiliki warna yang berbeda juga bentuk dan merek yang berbeda pula.


Robi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke perusahaan di mana Robin menjadi salah satu kepercayaan dari Rendra untuk mengelola bisnis yang ada di perusahaan.


sementara Rendra melajukan mobil hitamnya menuju ke Rumah sakit dengan kecepatan cukup tinggi sehingga hanya dalam waktu 30 menit Rendra sudah sampai di rumah sakit.


semua staf dan para dokter dan suster yang kebetulan kala itu bertemu dengan Rendra semua memberikan salam.


"Selamat pagi Pagi Dok "


"Selamat Pagi, Oh ya Apakah Suster Yuni sudah datang? "


"Kelihatannya belum Dok, "


"Kalau dia sudah datang suruh datang ke tempat kerjaku. "


"Baik, Dok, "


Rendra segera melangkah pergi ke tempat kerjanya tinggallah beberapa perawat yang tadinya berpapasan dengan Rendra saling bergosip Ria.


"Tumben Dokter Rendra masuk sepagi ini, "


"Iya, tumben banget dan lagi Dokter Rendra mencari Suster Yuni Ada apa ya? "


"Mana Aku tau Suster Vanesa juga sudah hampir satu minggu tidak masuk, Apakah Dokter Rendra melarang suster Nesa bekerja? "


"Aku juga tidak tau bisa jadi Dokter Rendra tidak ingin Suster Nesa bekerja keras, bagaimanapun Suster Nesa itu istri dari Bos Rumah sakit ini. "


"Kamu benar, tapi perlakuan Dokter Rendra ke suster Vanesa dan kita kita kayaknya sama Aku malah pernah dengar Dokter Rendra marah sama Suster Nesa."


"Nah itu dia. "


"Hei... itu Suster Yuni bentar Aku samperin dulu, "


Bergegas salah satu Suster menghampiri Suster Yuni yang sedang berjalan.


"Sus... Suster Yuni, Dokter Rendra meminta Suster untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. "


"Apa, Dokter Rendra meminta Aku masuk ke dalam ruang kerjanya ada apa? "


"Mana Aku tau, "


"Baiklah Aku akan kesana sekarang, "


Suster Yuni berbegas melangkah ke ruang Dokter Rendra.

__ADS_1


"Tok..


" Tok..


"Tok..


" Masuk..!


" Permisi dong apa dokter memanggil saya, "


" Benar, suster Yuni Silakan duduk, "


" Ada tugas apa Dok sehingga saya Harus dipanggil ke ruangan dokter."


Dokter Rendra melipat buku yang sedang dibacanya kala itu, kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya tangannya meraih sebuah kelambu penutup jendela ruangan yang ada di tempat itu, dokter Rendra sengaja membuka kelambu dan jendela Agar udara bisa masuk.


" begini sus hari ini suster Aku minta ikut saya untuk memeriksa satu pasien, kita akan mendatangi rumahnya dan memeriksa dirinya karena Pasien itu tidak akan mau kalau untuk memeriksakan dirinya di rumah sakit ataupun Puskesmas tterdekat, jadi untuk hari ini suster Yuni saya kosongkan segala kegiatan dan jadwalnya yang ada di rumah sakit, karena hari ini suster Yuni harus ikut saya. "


"Baik, Dok. Apakah kita perginya masih lama jika masih lama saya akan memeriksa satu pasien yang menjadi tugas saya di rumah sakit ini."


" Tidak Sus, Bentar lagi kita akan berangkat Coba Aku kasih info kepada yang lain untuk mengerjakan tugas, Suster Yuni silahkah kasih tahu yang lengkap Suster Yuni bertugas di pasien nomor berapa? "


"Baik, Dok, "


dengan jelas dan sopan suster Juni menjelaskan tentang tugas yang dia miliki pada pasien kamar nomor 102 di mana dokter Rendra langsung melimpahkan tugas Yuni kepada suster yang lain.


" semua sudah beres sus Ayo kita bersiap karena kita harus mendatangi pagi-pagi atau khawatir Pasien itu tidak ada di rumah jika kita datangnya siang hari, "


"Baik, Dok. "


Setelah semua peralatan siap Dokter Rendra dan suster Yuni keluar dari ruang kerja Dr Rendra, mereka berjalan menuju ke tempat parkir mobil di mana dokter Rendra memarkir mobilnya.


Dokter Rendra meminta suster Yuni untuk duduk di depan, karena tidak ada batasan antara atasan dan bawahan bagi dokter Rendra karena dokter Rendra menganggap semuanya adalah sama, meskipun dengan sedikit ragu-ragu akhirnya suster Yuni menerima permintaan dokter Rendra untuk duduk di depan bersebelahan dengan dokter Rendra yang sedang mengemudikan mobil.


" tumben sekali dokter Rendra meminta aku untuk memeriksa pasien langsung pergi ke rumahnya sepertinya pasien ini cukup istimewa Siapakah pasien dari dokter Rendra ini, jangan-jangan dokter Rendra memiliki hubungan dengan wanita lain seperti yang pernah Aku lihat waktu itu dan mungkin wanita itulah pasien yang dimaksud, Kasihan sekali suster Nesa, kabarnya Aku juga tidak tau karena Aku tidak bisa menghubungi teleponnya, sepertinya suster Nesa sudah berganti nomor telepon karena sudah beberapa kali Aku menghubungi tidak bisa, dan anehnya sudah hampir satu minggu juga suster Nessa tidak bekerja dan tidak masuk Rumah sakit Apakah suster Nesa sakit, jika suster Nesa sakit pastilah dokter Rendra akan mengatakannya, Sebenarnya ada apa antara suster Nesa dengan dokter Rendra ya, Kenapa Mereka terlihat aneh Apakah jangan-jangan hubungan antara suster Nesa dan dokter Rendra sedang renggang, barangkali suster Nesa sudah mengetahui jika dokter Rendra pernah membawa seorang wanita, dokter Rendra itu memang ada-ada saja sudah mempunyai istri cantik masih saja cari daun muda kehidupan seorang Bo's itu memang macam-macam. " gumam Suster Yuni dalam hati.


" Sus Nanti kamu tunggu di dalam mobil dulu ya, jangan ikut masuk sebelum Aku memerintahkan suster untuk masuk dan memeriksa. "


suster Yuni semakin terkejut dengan permintaan dari dokter Rendra akan tetapi sebagai seorang bawahan suster Yuni tidak memiliki pilihan lain selain menganggukkan kepala.


"Baik, Dok, "


tidak lama kemudian mobil pun berhenti di depan sebuah rumah bercat biru suasana sedikit sepi di mana tidak terlihat satu orang pun keluar dari rumah, cuaca cukup cerah dan terik matahari cukup panas akan tetapi Rendra tidak melihat orang orang kampung didn't sekitar tempat itu berlalu lalang mungkin karena cuaca panas mereka memilih berdiam diri didn't Rumah.


Rendra turun dari mobil setelah memarkirkan Mobilnya di depan halaman pintu rumah bercat biru.


"Ingat Sus jangan turn sebelum Aku meminta Suster untuk turun."


"Baik, Dok. "


setelah dokter Rendra melangkah masuk mendekati pintu rumah bercat biru suster Yuni menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan.


" Kenapa dokter Rendra begitu melarang Aku turun bersamanya, sebenarnya siapa wanita yang ada di dalam rumah itu, Apakah dia simpanan dokter Rendra yang kemarin itu. "gumam Suster Yuni yang diam diam merasa sangat penasaran.


sementara dokter Rendra yang sudah berada di depan pintu segera membuka pintu rumah yang kebetulan tidak dikunci dari dalam.


mendengar suara pintu dibuka dari luar Salah satu penghuni yang ada di rumah itu segera berjalan mendekati ruang tamu dia ingin melihat Siapa tamu yang datang tanpa mengetuk pintu ataupun memberi salam.


Alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui Siapa yang datang.


"Mas, Rendra! mau apa kau kesini lagi, "

__ADS_1


Rendra tidak segera menjawab pertanyaan dari wanita yang ada di depannya yang mana wanita yang ada di depannya adalah Vanessa istrinya.


Rendra justru meraih handle pintu Kemudian menutupnya kembali.


Apa yang dilakukan dokter Rendra membuat kesal suster Yuni yang kala itu mengamati dengan seksama pintu yang sudah terbuka, di mana suster Yuni merasa ingin tahu siapa wanita yang ada di dalam rumah itu, Karena pintu segera ditutup dokter Rendra maka harapan suster Yuni untuk bisa mengetahui Siapa wanita yang ada di dalam rumah itu menjadi hilang.


"Sial, cerdik sekali Dokter Rendra ini, Aku ingin mengintipnya sedikit saja sepertinya dokter Rendra tidak mengizinkan terbukti dia langsung menutup pintu lalu apa gunanya Aku dibawa ke sini, " keluh suster Yuni dalam hati yang akhirnya memilih untuk merebahkan kepalanya di atas kursi duduk.


sementara Vanessa yang tidak mendapatkan jawaban dari Rendra mendengus kesal dan berniat hendak meninggalkan Rendra dengan masuk ke dalam kamar, akan tetapi dengan cepat tangan Rendra menarik tangan Vanessa yang hendak pergi meninggalkannya.


bahkan tarikan tangan Rendra yang sedikit kuat membuat tubuh Vanessa jatuh dan masuk ke dalam pelukannya.


"Lepaskan, Aku, mau apa lagi sih, " sinis Vanesa sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Dokter Rendra, rasanya sudah sangat muak dan ingin segera pergi menjauh, rasa sakit itu masih Ada dimana orang yang sangat dicintainya sudah berani mengkhianatinya Dan yang lebih menyakitkan yang menjadi Wanita madunya adalah Adiknya sendiri.


Rendra berusaha tenang dan sabar menghadapi Vanessa yyang kala tu memberontak, bahkan menginjak kakinya, rasanya sedikit sakit akan tetapi Rendra berusaha menahan rasa itu dan tetap menggenggam dan memeluk Vanessa dental erat ke dalam pelukannya, karena merasa tidak bisa lepas dengan mudah akhirnya Vanessa menggigit tangan Rendra yang mana membuat Rendra mau tidak mau Akhirnya pelukannya pun terlepas.


"Auuw..! Ringis Rendra merasakan sakit karena Vanesa menggingitnya dengan cukup keras Dan ketika Rendra kembali hendak menyentuh tangan istrinya, Vanessa berteriak dengan keras.


" Jangan macam macam Dan jangan sentuh Aku, keluar kamu dari Rumahku, "


"Tidak bisa kita harus bicara. "


"Tidak Ada yang perlu kita bicarakan lagi, keluar atau Aku Akan berteriak agar orang orang kampung mengusirmu, "


"Nesa..! Aku ini Suamimu. "


"Suami... Suami macam apa hah, Apa Ada Suami yang main selingkuh dengan Adik istrinya sendiri, sejahat jahatnya seorang Suami dia tidak Akan makan bermain api dengan Adik istrinya sendiri, pergilah, Aku benci kamu....Aku muak bertemu dengan mu pergilah... pergiiiiiii....!


" Nesa, diamlah. Apa kamu pikir aku kesini hanya untuk meminta maaf padamu tidak aku tidak minta maaf padamu tapi aku ingin penjelasan darimu Katakan padaku Apakah alat tes kehamilan ini milikmu, "


"Deg....! wajah Vanessa yang tadinya sangat merah padam kini berubah menjadi pucat Dan panik Ada rasa ketakutan tanpa sadar Vanessa menggigit salivanya sambil melangkah mundur dengan gerakan spontan menggelengkan kepalanya.


" Tidak... tidak, itu bukan milikku, " ucap Nesa yang tiba-tiba berdiri membelakangi Rendra karena dia tidak mau menatap wajah dokter Rendra yang ada di depannya, Vanessa takut ketahuan Dan wajahnya terbaca jika dia sebenarnya sedang berbohong.


"Benarkah, "


Melihat Vanessa berdiri membelakangi Rendra semakin yakin jika Vanessa menyembunyikan sesuatu di belakangnya diam-diam Rendra mengulum senyum.


"Tentu saja benar, pergilah jangan buat kepalaku pusing. "


Vanessa yang tadinya garang dan galak tiba-tiba ucapannya tidak lagi sekeras dan sesengit tadi.


"Kalau begitu Mari kita tes. "


mendengar perkataan Rendra kedua bola mata Vanessa membulat seketika dengan gerakan refleks Vanessa segera membalikkan badan menatap tajam kepada laki-laki yang ada di depannya.


"Apa tes, .. tidak perlu pergilah, "


"Kenapa? Apa kamu takut. " ucap Rendra sambil mengulum senyum.


melihat Rendra yang bicara sambil tersenyum membuat Vanessa semakin geram dan kesal dengan cepat membalikkan badan kemudian bicara dengan sangat keras dan kasar.


"Aku tidak takut untuk melakukan Tes tapi Aku tidak sudih di Tes oleh kamu, dengar, Aku benci Dan muak padamu, pergilah sekarang Dan jangan mengagguku."


"Baiklah itu Artinya kamu Akan mau Dan menerima jika yang melakukan Tes itu bukan Aku, benar begitu kan? "


"Ya.. Pergilah. "


"Baiklah, Aku pergi. "


Hendra segera melangkah keluar pintu akan tetapi dengan gerakan cepat Rendra meraih kunci yang ada di belakang pintu hal itu digunakan agar jika Vanessa Mengunci pintu dari dalam Rendra bisa membukanya dari luar.

__ADS_1


Melihat Rendra yang sudah keluar dari rumahnya Vanessa menarik nafas lega dahi dan wajahnya yang berkeringat segera dihapusnya.


sementara Rendra keluar dari rumah Vanessa bersiul senang karena apa yang ada di dalam pemikiran Vanessa sudah terpikirkan oleh Rendra Untuk itulah Rendra mengajak suster Yuni.


__ADS_2