
Dengan perasaan yang masih di penuhi dengan tanda tanya Vanesa segera mengganti sprei lama dengan yang baru, kemudian membawanya keluar, ketika Vanesa hendak keluar kembali Rendra berteriak menghentikan langkah kakinya.
"Mau kemana?
"Membawa sprei ini ke luar , Aku akan mencucinya di mesin cuci."jawab Vanesa memberikan penjelasan pada suaminya.
Terlihat Rendra mendengus kesal sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar
" Sudah, taruh saja di dalam keranjang pakaian yang kotor, biar Nanti Mbok Yem yang kerjakan jika dia pulang Nanti."
"Baik, Mas,"bergegas Vanesa membawa sprei kotor dan menaruhnya di kranjang kamar mandi, setelah semua selesai Vanesa kembali melangkah keluar dan lagi-lagi Rendra memanggilnya.
"Kamu mau kemana lagi ?"tanya Rendra ketiika Vanesa hendak meraih handle pintu untuk yang kedua kalinya, tatapan matanya yang tajam membuat Vanesa meneguk kasar ludahnya.
"Ini Mas, Aku mau ke kamar EVa mau bantu-bantu dia menata barang."
"Tidak perlu, lagi pula Adik kamu itu harus scepatnya kamu suruh pergi dari sini Aku tidak suka melihat nya."
"Mas, kok ngomongnya begitu dia itu Adikku lho Mas, dan dia datang kesini itu karena Rindu dengan Aku, masak tega harus menyuruhnya pergi, Mas biarkan Eva tinggal di sini sebentar paling juga cuma satu Minggu, Aku janji semua kebutuhan Adikku Aku yang akan tanggung, Aku tidak akan meminta sedikitpun uang tambahan dari Mas Rendra."
Rendra memalingkan wajahnya dari tatapan mata sang istri yang terlihat sangat memohon agar Adiknya di ijinkan tinggal di Rumah ini,
"Suruh dia tinggal di hotel atau apartemen biar Aku yang bayarin semuanya, Aku tidak mau dia ada di sini."
"Tapi, Mas. Rumah kita luas kenapa harus ke hotel atau apartemen Mas, cuma satu Minggu biarkan Eva disini dia anak yang penurut kok, Aku janji Eva tidak akan membuat Mas Rendra kesal," pinta Vanesa sambil menggenggam tangan Suaminya agar sang Suami mau dan mengijinkan adik kesayangannya tinggal satu Rumah dengan mereka sebagai pelengkap rayuan Vanesa memberanikan diri memeluk punggung Suami yang berdiri membelakangi nya.
Rendra meneguk ludahnya dengan kasar, pelukan sang istri membuat dirinya kembali bergelora, entah mengapa setiap kali dekat dengan sang istri Rendra sulit sekali untuk menahan diri agar tidak menerkamnya, Vanesa sering sekali membuat dirinya selalu bergaiirah, bahkan untuk bernapas dengan bebas serasa susah apabila Vanesa ada didekatnya terlebih bibir mengemaskan itu sedang terbuka, ingatan itu membuat Rendra mengusap kasar Wajahnya.
"Apa imbalan untuk ku jika Aku mengijinkan adikmu tinggal disini,"ucap Rendra memberikan pertanyaan sambil membalikkan badannya sehingga mereka berdua kini berdiri saling berhadapan, pandangan mata mereka saling bertemu. jantung Vanesa berdegup dengan kencang menatap wajah sang suami yang pandangan matanya seolah olah ingin memangsanya hidup-hidup.
Vanesa meneguk ludahnya, kemudian menggigit bibir bawahnya.
"A-aku...
Vanesa tidak melanjutkan ucapannya dia justru menggigit bibirnya bawah nya hatinya bingung dan tidak tau harus bicara apa.
__ADS_1
Rendra yang melihat istrinya gugup dan malu malu karena wajah putih itu kini mult bersemu merah merona, Rendra menangkup wajah istrinya seolah memahami apa yang akan istri nya katakan.
"Apa kamu yakin akan bisa."kali ini Rendra bertanya dengan suara yang berat bagaimana tidak dirinya sendiri sedang menahan sesuatu yang ingin di lepaskan, sesuatu yang menjadi kebanggaan seorang laki-laki sejati.
Dengan sangat perlahan Vanesa mengagguk.
"Apa kau yakin?"Aku tidak suka di bohongi dan jika Aku sudah melakukan, kamu tau Aku tidak akan bisa berhenti sebelum aku benar-benar terpuaaskan, apa kau mengerti.
"Iya, Aku mengerti."
Rendra melepaskan pelukan istrinya sambil terkekeh berjalan ke arah jendela berdiri membelakangi menghadap keluar jendela.
"Apa sebesar itu cinta kamu pada Adikmu, sehingga kamu rela melakukan apa saja demi dia, sedangkan kamu sendiri tidak pernah bisa menuruti gairaahku yang bisa aktif sepanjang malam, pikirkan lagi dan bayangkan bagaimana kau akan kewalahan dan kelelahan menghadapi ku, jadi sebelum terlanjur pikirkan keputusan mu itu,"cibir Rendra pada sang istri meskipun di dalam hatinya yang paling dalam Rendra tidak mau munafik hatinya mengginginkan agar Vanesa memilih melayaninya.
"Aku sudah pikirkan, Aku tidak mau Adikku tinggal di apartemen sendirian apalagi di hotel tidak Aku tidak mau itu."
"Baiklah, jadi jangan salah kan Aku jika Aku buat remuk seluruh tubuh mu."Mendengar perkataan Rendra Vanesa sedikit bergidik sungguh sebenarya dia sangat takut akan tetapi dia tidak punya pilihan lain semua demi sang Adik.
"Aku mengerti,"
"Baiklah, kita sepakat," ucap Rendra seraya mengulurkan tangannya dengan jari telunjuk diarahkan kedepan.
Melihat sikap suaminya yang aneh Vanesa mengeryitkan dahinya.
"Untuk apa?" bagaimana tidak bingung seorang laki-laki matang bergelar Dokter mengulurkan jari telunjuk bagaikan anak kecil yang mau membuat janji.
"Kita bersepakat Ayo deal," Vanesa melongo mendengar perkataan suami nya yang Aneh.
"Apa harus segitu nya membuat perjanjian, kenapa tidak sekalian cap jempol di atas materai?" cibir Vanesa yang kini mulai hilang rasa tegang dan takutnya, entah mengapa saat ini Vanesa merasakan Rendra kembali seperti Rendra yang dulu dimana dia sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Itu, Nanti saja sekarang ayo kita deal,"
Sedikit geli dengan ajakan sang suami akhinya Vanesa mau menerima dan membalas dengan jari juga, jadilah kesepakatan itu bagaikan anak kecil yang sedang bersepakat untuk mengikar janji.
Awalnya biasa saja tapi sedetik kemudian Rendra menarik hingga tubuh Vanesa jatuh dalam pelukannya dan pada saat itu, Rendra membisikkan sesuatu di telinga Vanesa.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak mengeluh dan merengek minta berhenti karena Nanti Aku tidak akan mengindahkan nya." ucap Rendra yang mana membuat kedua bola mata Vanesa mendelik.
Rendra tersenyum puaas melihat reaksi istri nya yang dianggap sangat menggemaskan dan kesempatan itu di buat Rendra untuk mencium tengkuk leher sang istri, kemudian melepaskan nya.
"Kau boleh pergi," ucap Rendra seraya melepaskan pelukannya," O,ya trimakasih atas hidangan makan malam nya sangat enak Aku menyukainya." seru Rendra ketika Vanesa hendak melangkah keluar pintu.
Mendengar hal itu Vanesa membalikkan badannya dan tersenyum.
"Kau akan mendapatkan masakan enak setiap hari, karena yang memasak makanan itu Eva, jadi Mas Rendra bisa berterimakasih juga kepada nya." jawab Vanesa seraya keluar kamar.
"Apa?" Eva yang masak jadi yang Aku makan masakan Eva dasar istri ngak bisa masak kenapa Aku bodoh dan lupa jika masakan Vanesa tidak pernah enak selain masakan mie rebus itupun karena sudah ada bumbu penyedap nya dia bisa menyajikan enak di tambah telur ceplok, kapan pinter masaknya ya ini istri, huuuuff," Rendra menghempaskan tubuhnya di atas Ranjang.
Dia mencoba untuk memejamkan mata sejenak sebelum sang istri datang untuk melakukan perjanjian yang telah disepakati.
Satu perjanjian yang akan menguntungkan dirinya dimana dirinya tidak perlu meminta akan tetapi langsung di beri senyum kebahagiaan terpancar dari Wajah Rendra. hingga satu suara membuyarkan lamunannya.
"Drrrt.......Drrrrrt ....Drrrrr...
Cepat-cepat Rendra mengambil ponselnya yang bergetar ada satu buah pesan masuk, buru-buru Rendra membuka nya.
"Mas, datang malam ini ke kamarku, Aku menunggu mu." ( EVa )
Wajah ceria Rendra tiba-tiba berubah menjadi pias.
"Anak itu mau apa menyuruh ku, Aku harus bagaimana, lebih baik Aku abaikan saja." gumam Rendra dalam hati.
"Drrrrrt....Drrrt....Drrrrr...
Lagi-lagi ponsel Rendra bergertar dan lagi-lagi ada satu pesan masuk dan kembali Rendra membuka nya.
"Jangan sekali-kali Mas Rendra tidak datang karena Aku bisa Nekad,"(EVa)
"Deg....
"Serasa jantung Rendra tiba-tiba berhenti mendadak.
__ADS_1
"Ah, sial," Rendra melempar ponselnya karena geram ke samping Ranjang.