BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU

BERBAGI RANJANG DENGAN ADIKKU
Bab 29. KESAL


__ADS_3

Setelah kepergian Dokter Rendra dari ruangan itu Vanesa segera menuju ruang kecil dimana Rendra tadi muncul, dengan cepat Vanesa segera menuangkan segelas Air putih dan meneguknya.


Sikap Vanesa yang selalu serba salah dalam bekerja jika Suaminya juga berada di tempat yang sama membuat dirinya terkadang merasa kesal dan kecewa karena Rendra tidak bisa bersikap adil padanya, bagaimana mungkin dia yang melarang dan mengharuskan kalau di dalam Rumah sakit tempat nya bekerja Vanesa harus bisa bersikap profesional, tidak boleh manja, Ah kapan pernah manja, orang tiap hari di anggap salah terus dan juga tidak boleh memanggil Mas harus Pak Dokter, haiss ngeselin banget kan, masak panggil suami sendiri harus begitu, tapi lagi-lagi Vanesa tidak komplin dia biarkan apa yang di inginkan Suaminya akan tetapi belakangan ini Vanesa merasa kesal dan kecewa pada sikap Rendra.


Sudah beberapa kali Vanesa di buat malu dengan sikapnya, sebagai seorang istri di bentak dan dimarahi di tempat umum, itu adalah sesuatu yang membuat citra dan hatinya down sangat sedih dan kecewa, bukankah seharusnya Rendra juga bisa bersikap profesional terhadap dirinya, tidak perlu marah dan emosi di tempat umum, harus menunggu untuk menyelesaikan semuanya di Rumah,tapi ini tidak Rendra langsung marah dan langsung memberikan ancaman nya seolah olah, dia sedang memarahi sang istri di Rumah padahal pernah terjadi ketika dia marah ada beberapa perawat yang lewat mendengarkan teriakan nya Rendra sangat mudah tersulut emosi.


Padahal Rendra yang Vanesa kenal dulu tidak lah begitu, dia sangat penyayang dan selalu menjaga perasaan bahkan tidak pernah sekalipun bersikap kasar selama lima tahun menjalin hubungan sebelum kemudian Vanesa memutuskan untuk menerima dan menikah dengan Rendra, tapi semua sikap nya berubah dengan cepat di saat usia pernikahan mereka juga belum genap satu tahun, bahkan masih segar dalam ingatan sikap kasar Rendra muncul ketika usia pernikahan dia dan dirinnya memasuki bulan ke tiga.


Tiba-tiba Rendra berubah sangat dingin kasar dan aneh, selalu bersikap sesuka hatinya terlebih urusan Ranjang Rendra tidak pernah merasa puaas dengan pelayanan nya bagaimana bisa puaas jika ketika ******* itu akan datang padanya dengan santai dia jeda dengan berbagai macam alasan, awalnya Vanesa berpikir sudah selesai semua tapi ternyata belum karena selang beberapa menit dia mengulang lagi hal itu yang membuat Vanesa kesal karena merasa di permainkan.


Akan tetapi untuk masalah itu Vanesa juga sudah berusaha memahami dan memaklumi mungkin karena dia seorang Dokter maka dia suka dengan Variasi Ranjang yang selalu berbeda, cuma temponya yang sering membuat Vanesa tidak suka karena sangat lama.


Vanesa yang masih duduk termenung dengan segelas Air putih di tangan sedikit tersentak kaget, ketika pintu dibuka dari luar buru-buru Vanesa bangkit, dia sangat khawatir jika yang datang adalah suaminya dan sudah bisa di pastikan pasti suaminya akan marah-marah lagi kepadanya.


Ketika Vanesa hendak keluar dan ketika melihat siapa yang baru saja membuka pintu ternyata seorang perawat, bukan Dokter Rendra Suaminya, Vanesa menarik napas lega tanpa sadar Vanesa mengelus daada satu gerakan spontan Ketika seseorang terbebas dari rasa terkejutnya.


"Suster Vanesa anda sudah datang."


Mendengar perkataan dari seorang perawat yang tak lain Suster Yuni, Vanesa mengagguk dan tersenyum.


"Pantas Dokter Rendra sudah tidak marah-marah lagi"


"Mas Rendra marah-marah memangnya ada apa?'


"Kami juga tidak tau Suster Nesa, yang kami tau setelah Dokter Rendra masuk dia langsung meminta pada salah satu penjaga untuk memutarkan CCTV dari pasien No 107 bukankah itu pasien kamu Minggu lalu dan setelah itu Dokter marah-marah bahkan membentak siapapun yang lewat, Dokter Rendra yang sekarang suka marah marah sebenernya kamu ngelakuin apa sih Suster Nesa, kok suami kamu Dokter Rendra bersikap begitu."tanya Suster Yuni yang juga teman Vanesa sebelumnya.


Vanesa mengeryitkan dahi sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak melakukan apa-apa."


"Kalau begitu mungkin kamu ngak ngasi jatah sama Dokter Rendra sehingga dia suka marah Begitu." crocos Suster Yuni.


"Husst... Suster Yuni, ngomong apa kamu itu, ngawur saja kalau ngomong justru jatahnya dia itu...


Vanesa tidak melanjutkan ucapannya, mana mungkin dia bisa bilang jika jatahnya untuk Rendra sudah over dosis, bahkan bisa di bilang tiap hari di tambah waktu durasinya gila-gilaan bisa sampai menjelang pagi sampai pukul tiga, tapi inikan Rahasia dalam Rumah tangga dan tidak patut Jika orang luar tau untuk itu Vanesa tidak lagi melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Jatahnya Dokter Rendra kenapa Suster Nesa?"


"Tidak apa-apa, intinya ngak kurang gitu aja mungkin Dokter Rendra lagi memiliki masalah lain,"


"Oh iya bisa jadi itu,"


"Nah Aku pergi kerja dulu dari pada kena marah juga, bukankah Aku disini juga bisa kena marah sama seperti kalian kan Dokter Rendra orang nya sangat adil dan bijak tidak pernah membedakan istri maupun pegawai kedudukan mereka di Rumah sakit ini sama.


"Suster Vanesa benar, baiklah pergilah Sus dari pada Nanti juga kena marah."


Vanesa tersenyum kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang perawat menuju salah satu tempat yang mana sudah di jadwalkan untuk dirinya membantu Dokter Bambang dalam menangani pasien yang baru semalam masuk.


Sementara Dokter Rendra yang sibuk dengan segala tumpukan laporan yang ada di meja kerja nya tiba-tiba melihat satu catatan jadwal kerja para perawat hari ini dan yang membuat Dokter Rendra syok nama Suster Vanesa istrinya hari ini akan bekerja membantu Dokter Bambang.


Rendra mengusap kasar wajahnya ketika Nama Dokter Bambang yang akan menjadi partner kerja istri nya.


"Celaka, kenapa mesti harus dengan Dokter Bambang, Tidak, mereka tidak boleh bekerja dalam satu ruangan yang sama Aku harus mencegahnya."desis Rendra dalam hati." Suster Rita hari ini kamu bekerja di tempat Dokter Bambang bantu dia dan suruh Suster Vanesa bekerja di sini, jadi kalian bertukar tempat."


"Tapi Dokter, kan jadwalnya benar.'


"Apa? istri jadi Suster Vanesa itu...


"Sudah diam kerjakan saja apa yang Aku perintahkan."


"Tapi saya tidak berani saya masih pegawai baru disini Dok untuk itu saya.....


"Sudah diam ikut Aku sekarang."seru Dokter Rendra yang kemudian dengan sangat tergesa-gesa berjalan menuju Ruang di mana Dokter Rendra dan Suster Vanesa istrinya berada.


"Dok, jalannya pelan-pelan saja kenapa Dokter seperti orang yang sedang di kejar hantu saja."protes suster Rita tidak mengerti, sungguh dia sangat heran dengan Dokter Tampan yang ada di depannya, apa sebegitu cinta nya sama sang istri hingga istti satu Ruangan dengan Dokter lain tidak boleh dan jika memang tidak boleh kenapa tidak menjadi kan Istrinya Suster pendamping pribadinya dari pada tiba-tiba meminta istrinya bekerja satu Ruangan dengan nya," gumam Suster Rita dalam hati.


Dokter Rendra yang berjalan dengan cepat langsung membuka pintu tanpa menunggu Suster Rita yang jauh tertinggal di belakang.


Melihat pintu tiba-tiba terbuka Vanesa yang kala itu sedang membantu menyiapkan segala peralatan untuk mengecek keadaan pasien yang akan di tangani sedikit terkejut terlebih mengetahui siapa yang datang.


"Mas Rendra ngapain kesini," gumam Vanesa dalam hati yang langsung menundukan kepala pura-pura tidak melihat kehadiran dari Dokter Rendra Suaminya.

__ADS_1


"Nes, cepat pergi ke ruangan ku, kamu membantu bekerja disana dan disini akan digantikan oleh Suster Rita cepat pergi."


"Tapi jadwal ku kan benar Aku harus membantu Dokter Bambang dan ini Aku akan menyerahkan semua peralatan ke ruang Dokter Bambang."


"Tidak usah, itu biar Suster Rita yang urus kamu pergi sekarang."


"Tapi....


"Cepatlah pergi? teriak Dokter Rendra pada Vanesa.


"Pergilah Suster Vanesa Aku tidak apa-apa.'


Tiba-tiba sebuah suara keluar dari dalam ruangan menggema, sontak saja Dokter Rendra dan Suster Vanesa menoleh ke arah sumber Suara yang tak lain suara itu adalah suara dari Dokter Bambang.


"Tapi Dok,"


"Pergilah dan kau Dokter Rendra mari kita bicara di dalam.'


Akhirnya Vanesa menggikuti apa yang di perintahkan kepada nya, sementara Dokter Rendra menggikuti langkah kaki dari Dokter Bambang yang berdiri dengan bersilang dada .


"Hebat....! kamu benar-benar Dokter Hebat Dokter Rendra, Aku tau Niatmu melarang Suster Vanesa berada disini,kamu takut Aku membocorkan rahasia mu itu kan, kamu takut ketahuan jika Kamu di Bali sudah melakukan pernikahan siri dengan adiknya betul begitu kan? kamu takut Aku menceritakan semuanya.'


Dokter Rendra meneguk ludahnya.


"Apa yang kamu katakan memang benar, Aku takut Vanesa tau perselingkuhan ku."


"Kamu benar-benar Dokter egois, ada kurangnya Suster Vanesa sehingga kamu tega menikahi adikknya juga Lo bener bener Dokter ngak waraas dan benar Aku berniat menceritakan semua nya Aku kasian sama Suster Vanesa dia sudah baik tapi kamu tetap menyakiti nya."


"Sudahlah itu urusan Rumah tangga gue Lo jangan ikut campur, Aku pergi dulu.'' Dokter Rendra segera melangkah pergi tapi belum dua langkah Dokter Bambang sudah berteriak menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu, cepat atau lambat Vanesa akan mengetahui kebusukan mu dan jika saat itu tiba Aku pastikan kamu akan menyesalinya seumur hidup mu, Aku sangat mengenal Vanesa dia tidak akan pernah memaafkan penghianatan dan dia akan meninggalkan mu, ingat itu Dokter Rendra,kamu sudah bermain-main api dan cepat atau lambat api itu akan menghancurkan mu, bukankah Aku sudah menasehati mu dan melarang tapi kamu tidak dengarkan semua itu, ini baru Suster Vanesa disini, belum pergi, kamu sudah kebingungan Begitu lalu bayangkan Nanti, jika dia sedang pergi."


"Diam kau, sampai kapan pun Vanesa tidak akan tau jangan ikut campur urusan keluarga ku."sunggut Rendra kesal yang kemudian pergi dengan cepat meninggalkan ruangan Dokter Bambang.


Dokter Rendra berjalan kembali ke Ruangannya dengan perasaan gusar berkali-kali mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2