
Rendra yang tidur membelakangi Eva sebenarnya tidak bisa memejamkan mata sama sekali pikirannya sedang berkelana memikirkan bagaimana dengan istri pertamanya, ada perasaan bersalah tapi juga ada perasaan senang karena pada akhirnya Rendra bisa membalas dendam pada sang istri.
Malam semakin larut dan Eva pun akhirnya sudah tertidur dengan pulas ketika Rendra bangkit dari Ranjang dan melihat Eva Sudah terlelap dengan perlahan-lahan Rendra turun dari Ranjang kemudian membuka pintu.
Seperti maling Rendra berjalan mengendap mengendap menuju ke kamarnya dan dengan perlahan-lahan membuka pintu Rendra tersenyum senang Ketika sang istri Vanesa masih tidur dengan posisi membelakangi dengan perlahan-lahan Rendra menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Rendra menatik nafas lega pasalnya sang istri tidak mengetahui jika dirinya baru masuk ke dalam kamar, dengan perlahan-lahan Rendra naik ke atas ranjang untuk tidur di samping Vanesa.
Dengan perasaan lega Rendra memejamkan kedua bola matanya tapi belum sampai kedua bola mata Rendra terpejam sebuah suara mengejutkannya hingga membuat dirinya terbatuk.
"Mas Rendra dari mana Kenapa baru datang."
"Deg...! serasa mau lepas detak jantung Rendra karena dia tidak menyangka Jika ternyata Vanesa belum tidur.
"A-aku...... A-aku....
"Mas Rendra baru dari dapur untuk ambil minum ya,kalau begitu sudah tidurlah Mas ini sudah malam," ucap Vanesa pada akhirnya yang mana membuat hati Rendra bernafas dengan lega.
"Iya, kenapa kamu belum tidur,'
"aku sudah tidur kok mas cuma baru saja terjaga karena aku melihat Mas Rendra tidak ada di sampingku," ucap Vanesa dengan polos.
"ya sudah ayo kita tidur sekarang ajak Rendra pada sang istri, yang mana kini tangan Rendra melingkar pada pinggang ramping istrinya dan memeluknya dari belakang.
Malam berlalu dengan cepat hingga pagi pun menjelang Rendra yang sudah bangun dari pagi juga Vanesa sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja keduanya sudah sama-sama bersiap yang mana kini keduanya berjalan menuju ke dapur, seperti biasa Vanesa akan membuatkan sarapan pagi untuk sang suami akan tetapi alangkah terkejutnya Vanesa dan Rendra ketika mereka mengetahui di ruang makan sudah tersaji sebuah makanan yang mana sudah berdiri dengan cantik dan senyum tersunging di bibir dari Eva.
"Kalian sudah bangun mari kita sarapan pagi bersama, Aku sudah memasak untuk kalian" ajak Eva kepada Rendra dan Vanesa , sementara Vanesa tersenyum senang melihat adiknya sangat rajin dan membantu.
__ADS_1
"Ayo Mas kita makan, Eva sudah membuatkan masakan untuk kita." ajak Vanesa pada Rendra
di dalam ruang makan suasana hening tidak ada yang bicara terlebih Rendra yang tiba-tiba seperti seorang anak yang sangat penurut, wajahnya menunduk tak berani menatap wajah wanita di depannya.
Eva tersenyum senang melihat sikap Rendra yang begitu pendiam karena hal itu menunjukkan jika dirinya bisa mengendalikan Rendra.
merasa jengah dan tidak nyaman Rendra tidak menghabiskan makanya dia bangkit dari tempat duduknya kemudian mengajak Vanesa untuk berangkat kerja.
"Nes, ayo berangkat ini sudah siang,"
"Tapi aku belum selesai makan Mas,"
"Sudah Nanti makan lagi di kantor cepat sekarang berangkat, karena aku sudah terlambat ucap Rendra sambil menarik tangan Vanesa untuk keluar dari meja makan yang mana hal itu membuat Eva sedikit kesal karena Rendra terkesan buru-buru pergi menjauh darinya.
setelah kepergian Rendra dan Vanessa Eva mendung dengan sangat kesal tangannya mengepal hingga menggebrak meja.
Sementara di dalam mobil Vanesa sedikit kebingungan karena baru pertama kali ini Rendra mau mengajaknya pergi satu mobil dengan nya setelah beberapa bulan yang lalu Rendra begitu sangat anti dan tidak pernah mau jika dirinya ingin berangkat bareng bersamanya.
"Mas serius mau berangkat denganku,"
"Sudah jangan banyak tanya cepat Naik," seru Rendra sambil membuka pintu mobil untuk Vanesa.
Tanpa bicara lagi Vanesa akhirnya duduk di samping Rendra setelah Vanesa masuk dan duduk di sampingnya Rendra melajukan mobil dengan kecepatan sedikit kencang, karena Rendra ingin segera meninggalkan rumahnya.
Di dalam mobil Vanesa tidak banyak bertanya karena venesa tahu Rendra tidak pernah suka bahkan setelah sampai di tempat parkiran pun Vanesa tetap diam, hal itu sedikit membuat Rendra kesal karena Vanesa sama sekali tidak mengajaknya bicara.
"Kenapa diam saja Aku seperti berangkat bersama patung saja," ucap Rendra sinis karena hatinya kesal, dia tidak habis pikir kenapa Vanesa tidak banyak bicara bahkan terkesan sengaja mendiamkan nya.
__ADS_1
Vanessa tersenyum simpul menanggapi ucapan Rendra.
"Kenapa Mas Rendra bicara seperti itu Bukankah Mas Rendra sendiri yang bilang jika aku tidak boleh banyak bicara, bahkan apabila di kantor Aku tidak boleh memanggil Mas dan jujur Aku sangat terkejut jika tiba-tiba Mas Rendra mengajakku satu mobil berangkat bersama sedangkan selama ini Mas Rendra tidak suka aku berangkat bersama dengan mas Rendra, jadi daripada aku kena marah dan Mas Rendra marah-marah aku memilih diam,"ucap Vanesa menjelaskan.
Rendra menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar dia tidak bisa menyalahkan istrinya karena apa yang dikatakan Vanesa memang semuanya benar dialah yang tidak menginginkan Vanesa untuk memanggilnya Mas dan dia juga yang tidak menginginkan Istrinya selalu berangkat bersama, jadi wajar jika saat ini Vanesa tiba-tiba diam dan takut jika membuat dirinya marah Rendra tersenyum kecut mengingat semua itu betapa dirinya sangat berlaku tidak baik pada istri yang sejujurnya sangat dia cintai.
"Ayo turun ajak Rendra pada sang istri,"
ketika Rendra hendak membukakan pintu untuk Vanesa, dari dalam Vanesa sudah berseru.
"Tidak perlu aku bisa membukanya sendiri."lagi-lagi Rendra meneguk ludahnya karena sikap Vanesa benar-benar sangat jauh, seolah olah dirinya adalah orang Asing.
melihat Rendra Masih berdiri di samping mobil Vanessa mengerjitkan dahinya
"Mas cepat masuk kenapa kamu masih di sini," seru Vanesa mengingatkan.
"Apa kamu nggak sadar aku menunggumu lah ayo kita masuk bersama," ajak Rendra pada sang istri.
Vanesa yang mendengar ajakan sang Suami sedikit mendelik pasalnya dia tidak pernah menyangka jika Rendra ternyata menunggu dirinya, sungguh sesuatu yang aneh yang belum pernah Rendra lakukan padanya bukankah selama ini Rendra sangat anti jika dekat dengannya di dalam Rumah sakit, karena Vanesa harus bersikap profesional Rendra adalah pemilik dari Rumah sakit serta pimpinan Rumah sakit sedangkan Vanesa hanya seorang perawat, dia memang sangat bodoh demi mencintai seorang Rendra rela meninggalkan semua cita-citanya terlebih Di saat dia juga sudah mendapat gelar seorang dokter baru, demi sang suami Vanesa rela bekerja menjadi seorang perawat, kala itu Rendra berkata jika Vanesa menjadi perawat di Rumah sakit nya maka mereka tidak perlu berjauhan dan berbeda tempat, rayuan yang manis akan tetapi faktanya sungguh menyakitkan dimana Vanesa ternyata tidak lebih dari seorang perawat biasa, meskipun gaji yang dia dapat lebih banyak dari perawat lainnya.
"Maaf Mas apa Mas lupa jika Mas Rendra meminta aku untuk bersikap profesional jadi Mas Rendra berangkat dulu Aku akan menyusul di belakang," ucap Vanesa kemudian yang mana ucapan itu membuat Rendra geram yang akhirnya tanpa izin Rendra langsung menarik tangan Vanesa untuk mengikuti langkah kakinya berjalan dan terpaksa Vanesa mengikuti langkah kaki sang suami.
"Mas, apa Mas ngak malu dilihat orang, Mas aku kan cuma perawat Mas Rendra jangan lupa kita harus bisa bersikap profesional dan...
"Diamlah Nesa, sudah ikutii saja dan jangan pedulikan orang lain bukankah kamu itu istriku,"seru Rendra kesal karena Vanesa banyak bicara.
Mendengar perkataan dari suaminya akhinya Vanesa memilih diam meskipun sebenarnya dirinya sedikit malu karena ada beberapa pasang mata yang menatap aneh pada mereka, karena sesungguhnya hanya beberapa teman dekat saja yang mengetahui hubungan mereka selebihnya mereka tidak ada yang tau, meskipun jika harus jujur hatinya sangat senang jika suaminya sudah mulai menganggapnya ada.
__ADS_1