Bercerai Karena Mertua

Bercerai Karena Mertua
Kembali menjadi janda.


__ADS_3

Hari ini aku pun telah berada diruang persidangan yang dimana akan menentukan statusku dan hak asuh anak-anakku. Aku senang karena hak asuh anak jatuh ditanganku dan diakhir pekan anak-anak akan tinggal bersama papanya, aku juga tidak ingin anak-anak kehilangan sosok papanya tapi aku juga sudah tidak mau hidup bersama bimo lagi. Baru sebulan bercerai bimo datang dengan membawa undangan pernikahannya ke butikku.


"Ini undangan pernikahanku, aku harap kau mau datang bersama anak-anak" bimo pun meletakkan undangannya diatas meja kerjaku.


"Aku tidak bisa berjanji akan datang tapi aku akan mengirim anak-anak bersama pengasuhnya kepesta pernikahanmu"jawabku.


"Baiklah aku pamit karena aku masih banyak urusan, kau lihat ini masih banyak undangan yang harus aku bagikan" bimo pun keluar dari ruang kerjaku.


"Mau apa dia kemari? " tanya okan.


"Mengantar undangan" kataku sambil memegang undangan yang ada dimeja kerjaku.


"Begitu cepatnya dia akan menikah? "


"Ya seperti yang kau lihat" jawabku.


Setelah sidang perceraianku mama pun harus kembali kekota kelahiranku karena kasihan meninggalkan papa terlalu lama dirumah. Aku dan okan pun mengantarkan mama kebandara lalu kami pun segera kembali ke butik karena pekerjaanku sudah menumpuk.


Hari ini tepatnya pagi ini aku yang baru saja bangun dan melihat ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi dikejutkan dengan suara ponselku,ranti menghubungiku karena saat ini dia bersama okan sedang berada dirumah sakit untuk bersalin. Setelah menganti pakaian tidurku dan memoleskan sedikit bedak dan lipstik dibibirku aku pun segera berangkat kerumah sakit.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali? " kata okan yang terus berjalan kesana kemari karena merasa cemas.


"Duduklah okan kau membuatku pusing dengan berjalan kesana kemari, tenanglah melahirkan memang seperti itu" kataku.


"Apa kau dulu seperti itu? " tanya okan.


"Ya.." jawabku singkat.


Setelah menunggu selama 1 jam dokter pun keluar dari ruang operasi. Dengan wajah tersenyum dokter tampan itu pun segera menghampiri kami yang sedang menunggu didepan ruang operasi.


"Dokter.. bagaimana keadaan ibu dan bayinya?" tanya okan.


"Maaf dokter dia bukan istriku,dia sepupu saya dokter" kata okan yang menutupi rasa malunya dengsn menggaruk kepalanya.


"Ooh maaf saya tidak tahu, lalu apakah nyonya ini istri anda? kalian tampak serasi" kata dokter itu dengan melihat kearahku.


"Bukan juga dokter..kami hanya berteman,saya sedang berusaha mendapatkan cintanya" kata okan lagi yang membuatku malu.


"Okan... apa-apaan sih kamu" kataku yang seketika pipiku merona.

__ADS_1


"Benarkah? kalau begitu selamat berjuang, saya permisi dulu" kata dokter itu dengan senyum diwajahnya.


"Silahkan dokter" kataku.


Setelah ranti keluar dari ruang operasi aku dan okan terus menemaninya. Ranti tampak murung,aku pun mendekatinya untuk memberinya dukungan.


"Apa kau sudah memberi kabar bimo? " tanyaku.


"Belum.. aku rasa dia tidak perlu tahu"Jawab ranti.


"Kau mau aku menghubunginya? " tanya okan.


"Tidak perlu okan,toh dia tidak akan datang karena dia sibuk dengan istri barunya" jawab ranti.


"Tapi bagaimana pun bimo berhak tahu karena ini anaknya" jawabku.


"Kalian benar, bantu aku menghubunginya dan memberi kabar kalau anak kami sudah lahir" kata ranti dengan menatap wajahku.


"Biar aku saja yang menghubunginya" jawab okan lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu keluar dari ruang rawat ranti untuk menghubungi bimo.

__ADS_1


__ADS_2