
Waktu berjalan cepat,dua tahun menjalin hubungan dengan gerry melamarku dengan berlutu didepanku dengan cincin yang telah dia sediakan.Aku pun mengangguk setuju menerima lamarannya,gerry pun memasangkan cincin di jari manisku lalu kami pun berpelukan.
"Terima kasih sudah menerima lamaranku" gerry pun mengecup keningku.
"Aku yang harus berterima kasih padamu karena sabar menungguku"
Persiapan pernikahan pun telah 100% selesai,hari ini merupakan hari terakhirku menyandang status janda karena keesokan harinya aku akan melangsungkan pernikahan dengan gerry pria yang menjalin hubungan denganku yang tidak lain adalah atasanku di kantor.Sehari sebelum pernikahanku digelar dimana seharusnya aku merasa bahagia berganti dengan kesedihan yang dimana aku mendapat kabar kalau gerry mengalami kecelakaan yang menyebabkannya kehilangan nyawanya.Gerry tidak tertolong,aku yang mendengar kabar itu langsung menuju kerumah sakit untuk memastikannya sendiri,aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau tubuh yang terbujur kaku itu adalah gerry.
"Tidak ini tidak mungkin,sebentar lagi kita menikah,katakan kalau ini tidak nyata" kataku pada mira yang berada diruang tempat jasad gerry berada.
"Gerry telah pergi,gerry pergi untuk selama-lamanya" kata mira yang masih menangis.
"Gerry bangun sayang,besok hari pernikahan kita" aku pun memberanikan diri mendekati gerry yang terbujur kaku.
__ADS_1
"Kamu harus kuat lily ikhlaskan gerry pergi,biarkan dia pergi dengan tenang" mira pun menarikku lalu memeluk tubuhku,kami pun menangis bersama.
"Kenapa ini harus terjadi disaat kami sebenatar lagi akan menikah?" aku pun bertanya ke mira.
"Ini sudah takdir lily kita harus kuat menerima kenyataan ini" kami pun kembali saling berpelukan saling menguatkan satu sama lainnya.
Kami pun mempersiapkan pemakaman gerry,aku terus berada disamping jasad gerry dengan air mata terus mengalir tanpa henti.Begitu juga dengan mira,entah sudah berapa kali sahabat sekaligus calon adik iparku itu pingsan.Aku dan mira pun melepas kepergian gerry di tempat pekamanannya,doa-doa pun aku panjatkan untuknya,aku pun pulang ke apertemen setelah matahari hampir terbenam.dengan berjalan lesu aku masuk ke kamarku lalu mengurung diri disana tanpa memperdulikan kedua orang tuaku yang sedang duduk diruang tamu bersama kedua anakku.
"Mama" sabrina anakku yang menyadari kalau aku sudah sadar.
"Papa panggilkan dokter" papa pun keluar dari ruang tempat aku dirawat dan kembali bersama dokter wanita yang bisa aku taksir berusia diatas 40 tahun.
__ADS_1
"Biar saya periksa" dokter wanita itu pun melakukan tugasnya dengan baik memeriksa tubuhku.
"Pasien depresi sekaligus kekurangan gizi,itu yang menyebabkannya pingsan,untuk sementara pasien akan dirawat sampai keadaannya membaik"
"Baik dokter lakukan yang terbaik untuk anakku" kata papaku yang aku lihat raut wajahnya yang begitu menghawatirkan keadaanku.
"Baiklah kalau begitu kami permisi" aku pun di pindahkan ke ruang rawat inap.
Aku terus memikirkan pesan gerry yang memintaku untuk tidak berlarut dalam kesedihan,ini pertama kalinya gerry mengunjungiku setelah sepekan pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.Aku sangat senang bisa melihatnya lagi walau hanya sebentar dan itu pun hanya di alam mimpi,aku sadar alam kami telah berbeda dan aku berjanji akan bangkit walau pun itu tidak semudah aku mengucapkannya karena walau bagaimana pun aku hanya manusia biasa.
__ADS_1