
Aku pun memutuskan untuk membuka hatiku kembali dan menerima okan,aku akan mencoba menjalani hubungan dengannya tapi tidak untuk secepat itu menikah dengannya karena terus terang saja aku masih takut gagal dalam menajalani rumah tangga.
Seperti pasangan lainnya aku dan okan banyak menghabiskan waktu bersama tanpa anak-anak,aku akui okan sangat menyayangi anak-anakku seperti anak kandungnya sendiri.Sedangkan keluargaku terutama mama sangat menyukai okan bahkan mama sangat dekat dengan okan seperti ibu dan anak.
Tanpa terasa hubungan kami telah berjalan selama dua tahun dan setiap tahunnya kami selalu merayakan kebersamaan kami setiap tahunnya.Seperti tahun-tahun sebelumnya kami merayakannya dengan makan malam bersama direstoran dan tahun ini ada yang sedikit berbeda karena pada saat aku makan okan memberikan cicin padaku,ya okan melamarku.
"Maukah kau menikah denganku?" tanya okan dengan sebelah tangannya menggenggam tanganku sedangkan tangan satunya lagi menyerahkan kotak merah berisi cincin.
"Aku belum siap okan,tolong mengerti aku" kataku lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Kau menolakku?" okan terlihat kecewa.
"Bukan begitu,hanya saja aku belum siap" aku berusaha menjelaskan maksudku.
"Baiklah aku mengerti dan aku akan menunggu sampai kau siap" kata okan dengan senyuman khas nya.
"Beri aku sedikit waktu lagi" kataku.
"Baik..aku akan menunggu" kata okan mencium tanganku.
__ADS_1
Setelah merayakan kebersamaan kami aku dan okan pun segera kembali ke rumah masing-masing,aku yang telah berganti pakaian dan duduk di depan meja riasku hanya bisa menatap ke cermin sambil terus memikirkan apakah aku harus menikah dengannya?apakah aku siap?semua pertanyaan itu membuatku frustasi karena bayangan kegagalan pernikahanku sebelumnya kembali hadir dan membuatku merinding membayangkan itu semua.
Setelah membersihkan sisa riasan diwajahku aku pun segera menuju ke tempat tidurku,kuraih ponselku mencari apakah ada pesan yang dikirmkan okan untukku seperti biasanya?ternyata tidak ada satu pun pesan dari okan,aku mulai bertanya pada diriku sendiri apakah okan kecewa karena aku menolak lamarannya?apakah aku salah meminta waktu mempersiapkan diriku?
Hingga jam makan siang okan belum juga menghubugiku apa lagi mengirim pesan singkat seperti biasanya,tidak ada ucapan selamat pagi sepert yang dia lakukan setiap harinya.Aku mulai menerka okan pasti marah dan kecewa atas penolakanku semalam,aku pun kembali ke ruang kerjaku dan tanpa kusadari aku tertidur dan melewatkan jam makan siangku.Hingga sore hari aku yang masih terlelap dalam tidurku dikejutkan dengan kecupan dikeningku yang membuatku terbangun dan okan lah orang yang melakukan itu.
"Kenapa kau tidur disini?" tanya okan.
"Ooh aku semalam tidak bisa tidur" kataku berusaha bangun dari tempatku tertidur namun okan mencegahku.
"Apa yang membuatmu tidak bisa memejamkan mata?" tanya okan lagi.
__ADS_1
"Entahlah..mungkin aku kebanyakan minum kopi" jawabku asal untuk menutupi apa yang mengganggu tidurku.
"Kau bohong..kau pasti memikirkan tentang lamaranku yang kau tolak" jawab okan yang entah dari mana ia mengetahui itu semua.
"Aku tidak berbohong,bahkan aku tidak memikirkan itu semua" jawabku lalu bangun namun perutku berbunyi minta diisi.
"Kau lapar?apa kau melewatkan makan siangmu?" tanya okan kujawab dengan anggukan kepala.
"Maukah kau menemani aku makan?" tanyaku.
"Tentu..ayo kita berangkat sekarang"
Tanpa membuang waktu kami pun berangkat ke cafe tempat biasa kami menghabiskan waktu di sore hari dari awal pertemuan kami,aku makan dengan lahap tanpa tersisa sedikit pun makanan dipiringku.Sedangkan okan sibuk dengan teleponnya yang terus berdering karena relasi bisnisnya terus menghubunginya.Okan pria yang sibuk dan aku sangat senang dan bangga melihat semangat kerjanya dan terus terang saja aku banyak belajar darinya tentang bisnis...
__ADS_1