Bercerai Karena Mertua

Bercerai Karena Mertua
Anakku menjalani hari yang berat.


__ADS_3

Setelah mendapat penangan dari dokter demam yang dialami sabrina pun turun dan saat ini sabrina sedang tertidur lelap. Aku sebagai ibunya terus terang saja sangat menghawatirkannya, anakku mengalami hal buruk yang tentu saja itu menimbulkan trauma berat yang sulit untuk dilupakannya.


"Tenanglah sabrina sudah ditangani dokter" okan berusaha menenangkanku.


"Aku takut okan, aku takut terjadi sesuatu dengan anakku" kataku yang sudah tidak bisa menahan air mataku yang menetes deras bagai air terjun di pegunungan.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja" okan pun memelukku.


Seminggu setelah menjalani perawatan di rumah sakit, sabrina merengek minta pulang. Aku mengerti rumah sakit bukan tempat yang nyaman, setelah mendapat ijin dari pihak rumah sakit aku pun membawa pulang anakku. Aku berharap sabrina lebih cepat pemulihannya karena bagaimana pun rumah adalah tempat ternyaman.


Seminggu sekali aku membawa sabrina untuk menjalani terapi untuk menghilangkan trauma yang dialaminya,perudungan yang dialami anakku bukanlah hal sepele. Sabrina bahkan menolak untuk kembali kesekolah walau pun para pelaku sedang ditahan di kantor polisi,aku pun meminta ijin ke pihak sekolah sampai anakku siap kembali ke sekolah dan tentu saja pihak sekolah memakluminya.

__ADS_1


"Sabrina ayo kita sarapan nak" kataku yang berdiri disamping kasur anakku.


"Nanti saja ma, aku belum laper" jawab sabrina yang masih asik memainkan ponselnya.


"Baiklah kalau begitu mama akan sarapan duluan" kataku lalu keluar setelah terlebih dahulu menutup pintu kamar anak gadisku.


Aku senang anak-anak yang menganiaya sabrina dikeluarkan dari sekolah, kabar itu aku dapatkan dari salah satu orang tua anakku. Sabrina menjadi anak yang lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar,aku memberinya waktu untuk mempersiapkan mentalnya untuk kembali kesekolah dan tentu saja aku juga memberinya waktu untuk kembali seperti sabrinaku yang dulu.


"Benarkah? apa syaratnya nak? " kataku yang penasaran.


"Setiap hari mama antar jemput aku, aku masih takut ma karena kejadian itu" jawab sabrina sambil meremas tangannya.

__ADS_1


"Baiklah nak mama akan melakukan apa pun untukmu" jawabku.


"Terima kasih ma, aku kembali ke kamar" tanpa menunggu jawaban dariku sabrina kembali ke kamar. aku hanya bisa menghela nafas melihat perubahannya.


Aku pun berdamai dengan orang tua dari anak yang melakukan perudungan ke anakku, setelah menandatangani surat pernyataan dan mendapat uang ganti rugi anak-anak nakal itu pun bebas.Aku tidak ingin jadi orang jahat yang mengurung remaja-remaja itu, karena bagiku mereka juga memiliki masa depan yang harus diraih. Sementara perlakuan mereka hanya mencari jati diri, seperti anak lainnya yang seumuran dengan mereka diluar sana.


"Ma... bolehkah sabrina ikut kelas karate? " kata sabrina setelah dia duduk disebelahku yang sedang bersiap mengemudikan mobilku.


"Tentu saja nak" kataku sambil tersenyum kearahnya.


"Terima kasih ma, aku ingin melindungi diriku sendiri dengan ilmu bela diri yang aku kuasai nantinya" kata sabrina senang.

__ADS_1


Tepat satu bulan mengikuti kelas karate sabrina melarangku mengantarnya kesekolah karena dia telah siap dilepas kesekolah sendirian. Awalnya aku khawatir tapi sabrina meyakinkanku dengan ilmu bela diri yang dikuasainya,aku pun luluh lalu mengiyakan apa yang di inginkan sabrina.Aku tidak tahu aku harus senang atau tetap. menghawatirkan keselamatan anakku karena jujur sangat berat bagiku melepaskan sabrina kesekolah sendirian.


__ADS_2