
Selama tiga bulan ini aku bisa bernafas lega karena kondisi sabrina semakin membaik, selain tidak perlu lagi mengantarnya ke psikolog aku juga tidak perlu mengantar jemputnya setelah anakku itu mengikuti kelas karate. Baru saja rasanya aku bisa bernafas lega karena kondisi mental anakku membaik hari ini aku dibuat terkejut dengan panggilan telepon dari kantor polisi yang mengabarkanku kalau sabrina ada disana.
"Baik saya segera kesana pak" aku pun menutup sambungan teleponku lalu bergegas ke kantor polisi.
"Mama" sabrina pun terlihat ketakutan,takut aku akan memarahinya.
"Ada apa nak? apa yang terjadi? apakah ada yang luka? " tanyaku laku memeriksa tubuh anakku.
"Anak ibu baik-baik saja tapi pria disana babak belur dihajar putri ibu ini" jawab pihak kepolisian sambil menahan tawanya.
"Apa maksud anda pak? bagaimana ini bisa terjadi? " tanyaku yang melihat ke arah polisi dan pemuda yang duduk sambil meringis kesakitan.
"Silahkan anda tanyakan sendiri ke putri ibu" jawab polisi berkumis tebal itu.
"Sabrina jelaskan ke mama" kataku dengan melihat ke sabrina yang sedang menunduk tidak berani melihat kearahku.
"Aku tidak sengaja ma.. aku pikir dia pria cabul" kata sabrina sambil meremas tangannya.
"Aku sudah bilang aku bukan pria cabul, aku hanya ingin berkenalan denganmu tapi kau memukulku dengan membabi buta" jawab pemuda itu.
__ADS_1
"Ya maaf aku terlalu panik karena kau terus mengikutiku" jawab sabrina yang membuatku tersenyum menahan tawa.
"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, aku minta maaf atas perbuatan anakku dan aku akan menangung biaya perobatanmu" kataku menengahi.
"Bagaimana apakah kau akan mencabut tuntutanmu? " tanya pihak kepolisian.
"Baiklah dengan satu syarat" jawab pemuda itu.
"Apa syaratnya? " tanya sabrina.
"Kau harus menjagaku dan merawatku selama berada dirumah sakit karena aku mengalami patah tulang di hidungku ini" jawab pemuda itu lalu kembali meringgis kesakitan.
"Tidak bisa karena anakku harus sekolah" jawabku.
"Dia bisa datang setelah pulang sekolah, kalau tidak aku tidak akan mencabut laporanku"
"Baik aku setuju" jawab sabrina.
"Kita sepakat" pemuda itu pun menjabat paksa tangan sabrina.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan pemuda itu aku pun bisa merasakan kalau dia bukan orang jahat, pemuda itu menaruh hati ke anakku. Setelah aku selidiki ternyata dia bukan orang sembarangan yang dimana dia adalah anak dari pengusaha sukses.
Setiap harinya aku mengikuti sabrina kerumah sakit, aku lega karena pemuda itu memperlakukan sabrina dengan baik. Dia melakukan itu hanya untuk memberi pelajaran ke sabrina agar tidak sembarangan menggunakan ilmu bela diri yang dikuasainya. Setelah sabrina pergi aku pun masuk keruangan tempat dimana pemuda itu dirawat.
"Kau senang sekarang setelah mengerjai anakku? " tanyaku.
"Tante.. aku tidak bermaksud jahat" jawab pemuda itu.
"Lalu?" tanyaku dengan melipat kedua tanganku didada.
"Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat lagi karena aku menyukainya" jawab pemuda itu dengan malu-malu.
"Tante lihat kau sudah baikan, lalu mau sampai kapan kau berada dirumah sakit ini? "tanyaku lagi yang membuat pemuda itu takut.
"Tante tidak perku menanggung biaya rumah sakit karena aku sudah melunasinya, aku masih disini karena aku ingin terus bersama sabrina" jawabnya dengan terus terang.
"Pulanglah..kalau kau menyukai anakku tunjukkan dengan cara jantan bukan dengan membohonginya seperti ini" kataku lalu pergi meninggalkan kamar rawat inapnya.
"Terima kasih tante" teriak pemuda itu yang suaranya masih bisa terdengar olehku.
__ADS_1