
Baru saja aku mendapat kabar baik dari ranti mantan maduku yang dimana dia adalah sepupu dari okan pria yang menjalin hubungan denganku dan selang beberapa hari kemudian ranti kembali memberi kabar yang sangat mengejutkan bagiku,bukan kabar bahagia melainkan kabar duka bagiku.Bak disambar petir aku mendengar kabar yang telah disampaikan oleh ranti yang dimana kabar itu sulit aku terima,yah... okan meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak.
"Mbak..okan..." kata ranti lewat sambungan telepon.
"Ada apa dengan okan?kenapa kau menangis?" tanyaku mulai panik.
"Okan meninggal dunia mbak,okan telah pergi untuk selama-lamanya" tangis ranti pun pecah.
"Apa!!" aku mendadak limbung tidak percaya dengan apa yang baru saja ranti sampaikan.
"Okan meninggal mbak,dugaan sementara serangan jantung mendadak dan pada saat ditemukan okan sudah tidak bernyawa" begitulah penjelasan ranti disela-sela tangisnya.
__ADS_1
"Tidak..itu tidak mungkin terjadi,kau pasti membohongi mbak" kataku menolak kebenaran.
"Ini sungguhan mbak,aku harap mbak secepatnya datang untuk membantuku mengurus pemakaman okan sekaligus mbak melihatnya untuk terakhir kalinya" kata ranti yang menyadarkanku.
"Baik mbak segera kesana" jawabku lalu mematikan sambungan telepon dan bergegas berkemas.
Dengan air mata berlinang aku mengemasi pakaianku dikoper,selama perjalanan kebandara air mataku terus mengalir membasahi pipiku.Kenanganku bersama okan pun terus hadir,rasa bersalah dan penyesalan pun terus menghantuiku.Andai saja aku menerima ajakan menikah okan tentu saja okan masih ada didunia ini,aku terus menyalahkan kebodohanku,andai saja aku ada bersama saat itu okan tentu akan tertolong.
"Bangun okan,aku sudah datang buka matamu" kataku.
"Mbak jangan seperti ini,biarkan okan pergi dengan tenang" kata ranti yang berusaha membuatku kuat padahal aku tahu dia pun menangisi kepergian okan.
__ADS_1
"Ini semua salahku,andai saja aku menerima ajakannya menikah tentu hal ini tidak akakn terjadi dan tentunya okan akan tertolong" aku pun menyalahkan diriku sendiri menyalahkan kebodohanku yang dimana aku sudah kedua kalinya kehilangan pria yang mencintaiku dengan tulus.
"Tidak mbak... ini sudah takdir jangan menyalahkan dirimu seperti ini dan aku yakin okan juga tidak setuju dengan yang mbak katakan" kata ranti.
Aku dan ranti pun berpelukan,kami harus segera melepas kepergian okan dan secepatnya kami harus pemakamannya.Untuk kedua kalinya aku harus menghadiri pemakaman kekasihku,aku yang masih berada dimakam okan dengan air mata yang masih mengalir penyesalan pun terus menghantuiku.Aku berkali-kali mengutuk diriku yang dimana aku terlalu lama berlarut dalam ketakutanku,takut akan gagal dan disakiti pasanganku kelak.
"Mbak ayo kita pulang,jangan seperti ini" ranti pun mengajakku untuk pulang.
"Ini semua salah mbak,maafkan aku okan" kataku lagi.
"Sudahlah mbak berhenti menyalahkan diri sendiri,biarkan okan beristirahat dengan tenang disana" ranti pun mengajakku pulang dengan menarik tanganku agar mengikuti langkahnya.
__ADS_1