
Satu bulan berlalu dengan cepat,aku dan bimo bekerja seperti biasanya dan tante rina tidak pernah menghubungi bimo seperti putus kontak antara ibu dan anak. Hari ini saat kami baru selesai rapat ponsel bimo berdering,aku melihat kalau tante rinalah yang menghubunginya. Bimo mengabaikan panggilan pertama mamanya lalu ponsel itu kembali berdering aku pun memintanya untuk mengangkat panggilan mamanya.
"Angkat saja bim"
"Malas aah ujung-ujungnya duit" bimo pun melempar ponselnya ke meja.
"Jangan seperti itu, walau bagaimana pun dia mamamu siapa tahu penting"
"Halo ada apa? "
"Bim tolongin mama nak, mama jatuh"
"Apa!! baik ma aku segera kesana"
"Ada apa? "
"Mama jatuh sepertinya stroke,aku harus kerumah mama"
"Aku ikut"
"Ayo sayang"
Kami pun bergegas berangkat ke rumah tante rina. Selama diperjalanan wajah bimo terlihat tegang,aku yang berada disampingnya pun memberi kekuatan agar dia tenang.
__ADS_1
"Tenanglah semua akan baik-baik saja" bimo pun mengangguk.
"Ayo sayang kita sudah sampai" kami pun turun dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Mama!! "
"Bi-bimo... "
"Tega-teganya mama membohongiku"
"Mama terpaksa melakukan ini nak, mama mau kamu menikah dengan wanita pilihan mama"
"Mama benar-benar keterlaluan" bimo pun menarik tanganku untuk meninggalkan kediaman mamanya dan langkah kaki kami pun terhenti karena suara tante rina yang mengancam.
"Aduh bagaimana ini tante? "
"Berhenti bimo atau mama akan bunuh diri"
"Lakukanlah karena aku tidak perduli" kata bimo tanpa melihat ke arah mamanya.
"Kau telah dibutakan oleh wanita penyihir itu"
Kami pun segera masuk ke mobil lalu pergi,dengan wajah menahan amarah bimo mengemudikan mobilnya menuju ke kantor. Aku hanya diam tidak bisa berkata -apa karena aku tidak menyangka tante rina bisa berbuat sekotor itu. Setibanya kami di kantor aku dan bimo masuk keruang kerja aku pun mengunci pintu agar tidak ada yang bisa masuk apa lagi mendengar percakapan kami,bimo hanya berdiri menghadap ke jendela dengan pemandangan kota jakarta. Aku pun mendekatinya kupeluk tubuh bimo dari belakang untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Jangan marah lagi, aku takut melihatmu seperti ini"
"Aku tidak menyangka mama bisa berbuat seperti itu"
"Dia hanya ingin yang terbaik untuk anak satu-satunya"
"Aku tahu mana yang terbaik untukku" kata bimo yang telah berdiri berhadapan denganku.
"Aku tahu" aku pun melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan merebahkan kepalaku didada bidangnya.
"Kau lah yang terbaik untukku" bimo pun menciumku dan kami berciuman cukup lama. kami pun melanjutkan kemesraan kami di sofa dengan masih saling menyatukan bibir kami.
"Bim ini di kantor"
"Tenang saja tidak akan ada yang tahu dan aku akan melakukannya dengan cepat"
"Tapi bim"
Tidak ada gunanya menolak apa lagi melawan karena bimo tetap akan melakukan aksinya. Setelah merapikan diri aku pun duduk disamping bimo sambil mengistirahatkan tubuhku.
"Aku lapar bim"
"Kita pesan makanan saja ya"
__ADS_1
"Terserah kamu saja aku juga lelah"
Bimo pun memesan makanan dan kami pun makan dikantor,aku pun makan dengan lahap dan setelah merasa kenyang aku merasakan ngantuk yang luar biasa. Aku pun tertidur diruang kerja bimo, akhir-akhir ini aku sering merasakan kelelahan dan aku sangat mudah tertidur. Hingga menjelang malam aku terbangun dan melihat bimo masih duduk mengerjakan pekerjaannya.