
Setelah menenangkan mamanya rai pun mengajakku ke kamar berunding tentang keputusan mamanya yang ingin bercerai dan tinggal terpisah.
"Bagaimana ini sayang? " tanya rai yang duduk dihadapanku.
"Mana aku tahu" jawabku singkat.
"Bantu aku menyelesaikan masalah ini"
"Aku tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga kedua orang tuamu"
"Maksudku bagaimana menurutmu kalau kita pindah dari sini lalu mama ikut bersama kita? "
"Aku tidak masalah kalau harus pindah dari sini"
"Baiklah kalau kamu setuju kita cari rumah, kamu yang bayar ya sayang? "
"Kok aku sih, harusnya kamu dong yang bayar" jawabku yang tidak percaya atas apa yang rai ucapkan.
__ADS_1
"Tapi kan kamu ada kerja apa salahnya kamu keluar uang toh kamu juga ikut tinggal disana? masa iya kamu mau tinggal gratis terus menerus sih? " kata rai yang tanpa memikirkan perasaanku.
"Kamu itu suamiku sekaligus kepala keluarga seharusnya kamu dong yang menanggung ini semua kenapa malah kamu limpahkan ke aku sih? "
"Masalahnya kamu wanita karir dan sudah pasti ada penghasilan,sudah sewajarnnya kamu ikut membantu kebutuhan rumah tangga" kata rai terus membela diri.
"Apa aku kurang membantumu hah? dari sabrina masih didalam perutku semua aku yang membelinya sampai dia sekolah pun aku yang membiayainya masa sekarang harus aku lagi yang menanggung semuanya, yang benat aja kamu" kataku mulai kesal dengan ketidak adilan yang aku alami.
"Ya kalau begini apa gunanya aku berunding denganmu? "
"Baiklah sudah tidak ada solusinya, kita tetap tinggal disini" rai pun keluar dari kamar.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya,semua harus dilimpahkan ke aku. Aku yang bekerja mati-matian bahkan aku saja berhemat agar gaji bulananku cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan, kalau aku juga yang harus dibebani dengan urusan rumah yang akan dikontrak lalu dari mana uang untuk membayarnya? pikiranku pun semakin kacau dengan semua masalah ini.
Aku pun membersihkan diriku setelah menenteng handuk bersih ditanganku lalu segera menuju ke kamar mandi,siraman air ditubuhku sangat ampun membuatku merasa lebih baik dan tenang sesaat tanpa kekacauan yang dibuat oleh suami dan keluarganya. Aku yang baru saja selesai mandi dan ingin merebahkan tubuhku sejenak dikejutkan dengan suara ribut-ribut dibawah, aku pun keluar dari kamar berdiri di dekat tangga mendengarkan keributan yang dibuat oleh kedua mertuaku.
"Mau kemana kamu hah? "
__ADS_1
"Aku akan tinggal bersama pacarku, aku sudah muak tinggal bersamamu wanita tua"
"Silahkan kemasi semua pakaianmu, jangan kembali lagi kerumah ini"
"Aku tidak akan kembali, secepatnya aku akan mengurus surat cerai kita"
"Aku tunggu" balas mama rai.
"Setelah kita resmi bercerai aku akan membawa pacarku untuk tinggal disini kamu dan rai tidak akan mendapat harta gono-gini karena aku tidak sudi mewariskan hartaku untuk kalian"
"Ooh jadi itu sebabnya kamu mau bercerai karena ingin membawa wanita itu tinggal dirumah ini?baik kami juga tidak butuh hartamu"
"Sombong sekali kamu" papa rai pun pergi dengan 2 koper ditangannya. sementara rai hanya berdiri menonton pertengkaran kedua orang tuanya.
"Pergi sana, semoga hidupmu bahagia"
"Pa-ma apa tidak bisa dibicarakan baik-baik? malu sama tetangga" kata rai melerai kedua orang tuanya.
__ADS_1