Bukan Surga Impian

Bukan Surga Impian
Extra part


__ADS_3

...~Happy Reading~...


"Aku tuh heran yah, yang punya cita cita anak banyak itu Shiena. Kenapa kamu duluan yang hamil lagi, Ar?" gumam Naura menggelengkan kepala nya saat melihat perut sang sahabat sudah terlihat buncit di balik gamis kebesaran nya.


Saat ini, Naura dan Arsy sedang bertemu di sebuah Kafe yang berada di depan sekolah anak mereka.


"Ya mau gimana lagi, masa di kasih rejeki gak mau sih," kata Chila terkekeh. Ia juga membenarkan apa yang di katakan oleh Naura.


Pasal nya, sejak awal Shiena yang ingin memiliki banyak anak, namun nyatanya kini wanita itu sudah tidak mau hamil lagi. Setelah kelahiran anak kedua nya, Shiena sempat di nyatakan hamil lagi oleh Dokter. Namun, ternyata itu tidak bertahan lama, karena Shiena mengalami keguguran. Dan oleh sebab itu, Clayton sudah melarang Shiena untuk hamil lagi.


Dan entah masalah apa yang sedang di hadapi oleh Clayton, saat itu ia langsung membawa Shiena dan dua anak nya untuk menetap di Italia. Itulah sebab nya, kini Chila hanya tinggal berdua dengan Naura.


Susan dan Jesika juga memutuskan untuk meninggalkan Jakarta. Suami Jesika di pindah tugaskan keluar negri. Sementara Susan dan Hary memilih untuk tinggal di luar kota.


"Iya juga sih, tapi ahhh sudahlah. Oh ya, kamu sudah menghubungi yang lain belum? Tentang rencana kita kemarin?" tanya Naura seraya menyeruput minuman nya.


"Belum, aku masih sibuk jadi lupa hehee," balas Chila menyengir kuda, "Kamu aja deh Ra yang hubungi."


Chila dan Naura berencana ingin mengadakan reuni setelah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu dan berkumpul. Maka dari itu, mereka ingin menghubungi ketiga sahabat nya agar kembali ke Jakarta dan ikut merayakan hari ulang tahun Crazy Boutique.


"Tapi semuanya sudah siap kan?" tanya Naura memastikan.

__ADS_1


"Insyaallah, semua sudah siap. Hanya tinggal catering saja yang belum," jawab Chila membuat Naura menganggukkan kepala nya.


"Umaaa!" Teriak seorang anak kecil yang segera berlari memasuki Kafe tempat Chila dan Naura berada.


"Loh, Maira kok sendirian? Arga mana?" tanya Naura mengerutkan dahi nya saat melihat gadis kecil itu hanya sendirian.


"Tak tau!" jawab gadis kecil itu seraya mengangkat kedua bahu nya.


Belum sempat Naura melayangkan pertanyaan kembali, tiba tiba ia sudah melihat putra nya sedang berjalan bersama pengasuh di belakang nya.


"Mama!" teriak anak kecil laki laki itu juga langsung berlari menghampiri mama nya, "Ma, masa tadi Maira nangis di kelas!" adu nya seraya melirik ke arah Maira.


"Ih Alga tukang adu!" seru anak kecil itu langsung menatap kesal pada teman nya.


"Maira gak berani bilang sama Miss kalau mau pipis, Uma!" Bukan Maira yang menjawab, melainkan Arga yang langsung menjawab, hingga membuat mata Maira langsung mendelik.


"Alga tukang adu! Maila gak suka sama Alga!" katanya dengan mata berkaca kaca menahan tangis.


"Nama ku Arga, bukan Alga. Ih dasar cadel!" cibir Arga mengejek.


"Uma, ayo pulang!" kata Maira dengan napas memburu ingin menangis.

__ADS_1


"Arga, Mama gak suka kamu kalau kaya gitu!" ucap Naura menatap tegas pada putra nya.


"Orang kata kakak, gapapa kok!" jawab Arga santai, dan matanya masih menatap pada Maira.


"Astaghfirullah, sudahlah Ra. Kayaknya aku pulang dulu aja deh. Arga sama Raka kayaknya bakal sama saja. Dan sebelum Maira jadi kaya Ryana, lebih baik ku jauhkan saja," ucap Chila bercanda menahan tawa nya.


"Aku bingung Ar, sumpah!" keluh Naura pusing, "Arga, minta maaf sama Maira!"


"Gak mau! Kan Arga gak salah, orang Arga bicara fakta kok. Tadi Maira nangis karena mau pipis,"


"Alga nakal! Jangan temenan sama Maila lagi!" seru gadis kecil itu lalu dengan tiba tiba ia memberanikan diri untuk menginjak kaki Arga, hingga membuat anak laki laki itu menjerit.


"Mairaaaaa!" pekik nya marah dan ingin membalas, namun dengan cepat Naura menahan badan putra nya dan segera menyuruh Chila untuk membawa Maira pergi.


"Wleee emang enak!" kata Maira masih sempat menjulurkan lidah nya untuk mengejek Arga, sebelum akhirnya ia benar benar di bawa pergi oleh sang Ibu.


"Uma, Maila gak cengeng kan. Yang cengeng Alga, kan Alga yang nais," ucap Maira terkekeh saat sudah berada di dalam. mobil.


"Sayang, Uma gak suka kalau Maira seperti itu. Maira gak boleh gitu lagi ya Sayang. Kejahatan tidak boleh di balas dengan kejahatan. Kalau Arga nakal, terus Maira juga nakal, nanti gak akan ada habis nya. Maira anak baik kan? Besok, Uma mau Maira minta maaf sama Arga ya," tutur Chila begitu lembut seraya menggenggam tangan putri nya.


"Gak mau, Uma. Kan Alga yang nakal duluan!" tolak Maira memanyunkan bibir dengan kesal.

__ADS_1


Chila menghela napas nya berat, ia tidak bisa memaksa Maira dalam keadaan marah.


Chila hanya bisa membiarkan putri nya tenang lebih dulu. Dan ia akan mencoba nya lagi nanti, saat hati Maira sudah tidak merasa kesal lagi.


__ADS_2