
...~Happy Reading~...
“Enggak, bukan begitu mas, Chila hanya—“
“Kamu tahu kan, kalau mas di sana kerja. Dan pekerjaan mas masih sangat banyak, kenapa kamu tiba tiba seperti itu?” tanya Mike langsung bangun dan menatap wajah Chila dengan intens.
“A—aku tahu Mas. Tapi—apa salah kalau Chila bicara begitu?” kata Chila pelan dan menundukkan kepala nya.
“Salah! Kamu salah berbicara begitu. Itu sama saja kamu tidak mempercayai ku!” jawab Mike dengan suara yang sudah sedikit meninggi, hingga membuat Chila begitu terkejut.
Hampir satu tahun lebih mereka menikah, dan baru kali ini Mike berbicara dengan nada tinggi padanya. Hanya karena masalah yang menurut Chla sangat sepeleh.
“M—Mas, pasti masih capek kan? Mas istirahat saja ya? Maaf, maafin Chila kalau lancang dan buat mas marah. Maaf,” kata Chila sedikit terbata, lalu ia segera beranjak dari tempat tidur nya, menyaut sedikit kasar hijab instan yang tadi sudah ia lepas dan sampirkan di kursi lalu pergi keluar.
Sementara itu, Mike yang melihat kepergian Chila langsung mengusap wajah nya dengan cukup kasar. Ia memejamkan matanya, dan merasa bersalah karena sudah berbicara cukup kasar pada Chila.
__ADS_1
‘Astagfirullah,’ gumam nya pelan dan mengusap wajah dengan kasar.
Entah mengapa, tiba tiba Mike tidak menyukai perkataan Chila barusan. Selain itu, memang akhir akhir ini Mike juga merasa bahwa perasaan nya jauh lebih sensitif, ia mudah tersinggung dan mudah marah marah. Tidak hanya kepada istrinya, melainkan saat di tempat kerja, akhir akhir ini ia sering sekali memecat karyawan karena sudah menyinggung nya.
Tapi seharusnya ia ingat, bahwa istrinya adalah wanita yang begitu lembut, dan tidak bisa mendapatkan kata kata kasar apalagi nada tinggi. Menghela napas kasar, akhirnya Mike ikut bangkit dan mencari keberadaan Chila.
“Sayang! Chila ... Sayang kamu dimana?” teriak Mike mencari keberadaan istrinya di lantai dua, namun tidak menemukan nya.
Ia pun segera menuruni tangga dan mencari ke setiap sudut ruangan, hingga tiba tiba langkah nya terhenti ketika ia melihat bahwa istrinya tengah sholat di mushola yang berada di samping ruang keluarga.
Setelah beberapa saat, Chila berjalan menuju dapur dan menghampiri Mike, “Mas ngapain? Kok gak istirahat?” tanya nya dengan ekspresi seperti biasa. Meskipun matanya masih sedikit memerah, namun Chila begitu cepat bisa menyembunyikan rasa sakit nya.
“Mau susu hangat?” tanya Mike menunjukkan gelas di tangan nya yang sudah berisi coklat panas.
“Mas cuma buat satu?” tanya Chila mengerutkan dahi nya.
__ADS_1
“Hem, bukankah akan lebih nikmat bila kita minum satu berdua,” jawab Mike dengan senyum menggoda.
Chila hanya tersenyum dan menganggukkan kepala nya, lalu Mike menghampiri Chila dan mengajak nya untuk duduk di sofa ruang keluarga.
“Maaf ya, tadi Mas, sudah kasar sama kamu,” ucap Mike menggenggam tangan Chia dengan lembut.
“Gak kok, memang Chila yang salah. Dan Chila cukup mengerti, bahwa mas masih capek karena perjalanan jauh, maafin Chila,” balas wanita itu menundukkan kepala nya, namun dengan cepat Mike mengangkat dagu Chila agar menatap ke arah nya.
“Jangan meminta maaf, karena kamu tidak salah. Akulah yang bersalah disini, dan sudah seharusnya aku yang meminta maaf, jangan sedih lagi apalagi menangis. Janji,” ucap Mike terlihat begitu tulus dari sorot mata nya.
Cup.
Mike langsung mengecup kening Chila, membuat hati Chila semakin lega dan kembali tenang. Memang begitu mudah untuk memperbaiki hubungan keduanya. Apakah Chila termasuk gampangan? Tidak, ia bukan wanita gampangan, namun ia wanita yang penuh maaf. Ia begitu mudah mengatakan maaf dan begitu mudah juga untuk meminta maaf, walaupun ia tidak bersalah.
Chila selalu menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Sejak kecil, setiap kali ia merasa sedih, resah, dan memiliki masalah, maka ia hanya akan mengadu kepada Sang Maha Kuasa. Chila pasti akan mengurung dirinya di dalam kamar, barulah setelah tenang ia akan keluar dan bersikap seperti biasa. Dan kebiasaan itu masih sama sampai sekarang.
__ADS_1
...~To be continue ......