Bukan Surga Impian

Bukan Surga Impian
Rapat dengan Sahabat


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Assalamualaikum,” sapa Chila ketika memasuki sebuah Kafe yang sudah di tentukan oleh para sahabatnya.


Ya, hari ini, Chila tiba tiba di telfon oleh Naura dan di ajak untuk berkumpul. Karena sudah cukup lama, mereka tidak berkumpul bersama lagi. Dan disini lah dia saat ini, sebuah Kafe yang sudah menjadi tempat langganan mereka bila bersama.


“Walaikumsalam, bu ustadzah sudah tiba,” jawab Susan terkekeh ketika melihat kedatangan Chila.


“Terserah deh, oh ya Naura mana?” tanya Chila ketika mendudukkan dirinya di kursi, namun di sana hanya ada Jesika dan Susan, “Shiena juga gak ada?”


“Paling bentar lagi. Kaya gak tahu mereka aja sih,” kata Jesika membuat Chila langsung menganggukkan kepala nya.


“Eh iya Ar pesen minuman aja dulu. Ini suami ku telfon, sebentar ya,” ucap Jesika langsung mengangkat telfon dari suaminya di luar Kafe.


Tak berapa lama, sang pembuat acara yakni Naura pun datang bersama dengan Shiena. Keduanya langsung memesan makanan dan minuman yang akan menemani nya waktu nongki cantik.


“Begini guys, gue ada rencana. Gimana kalau kita buka usaha bareng. Khusus kita kita aja, di luar pengetahuan suami!” usul Naura membuka suara.


“Usaha apaan?” tanya Chila menatap Naura sedikit bingung.


“Usaha apa aja kita berlima. Ar, kan kamu yang udh berpengalaman bangun bisnis, ayolah.” kata Naura menatap Chila.


“Jangan kaya orang bener deh Ra, selain bikin rusuh, kamu bisa apa?” tanya Susan menatap datar pada sahabat nya.

__ADS_1


“Sialan! Gini gini gue jago masak ya!” Cetus Naura dengan begitu kesal.


“Kita itu berbeda keahlian Ra. Gak bisa kalau di tumpuk jadi satu, jadinya random banget gak sih?” imbuh Jesika dengan menghela napas nya berat.


“Nah bener kata Jesika. Naura, Arsy kalian bisa masak. Lah kita disini masak air doang ahlinya.” Sambung Susan.


“Mana ada aku bisa masak, hanya sedikit aja kok. Tidak sepintar Naura,” jawab Chila langsung menggelengkan kepala nya.


“Tapi setidaknya bisa Ar, daripada masak aer kaya kita,” saut Jesika sedikit mendengus, “Apalagi Shiena, ngupas salak aja dia gak bisa.”


“Jes, meskipun aku gak bisa ngupas salak, tapi aku bisa berantem loh. Keluar masukin peluru, dan menembak, bukan hal sulit untuk ku.” Saut Shiena langsung menatap datar pada Jesika.


“Peluru apa? Bukannya lo yang di tembak, kenapa nembak?” tanya Jesika menahan tawa nya.


“Sudah cukup! Pembahasan kalian berdua lama lama kejauhan tau gak!” potong Susan menggelengkan kepala nya, namun justru membuat Shiena dan Jesika tergelak.


Shiena yang dulu begitu lembut dan anggun, kini berubah karena terlalu sering bergaul dengan crazy squad. Bahkan, bila sudah bersama, ia merasa bukan dirinya lagi. Ia benar benar sudah gila, apalagi bila bersama Jesika, maka obrolan nya akan semakin abstruk dan tidak jelas.


“Eh tapi tunggu sebentar deh!” ucap Shiena langsung mencondongkan tubuh nya ke meja dan menatap keempat sahabatnya dengan intens satu per satu.


“Ra, kamu mau coba buka usaha, memang nya kamu siap dengan segala konsekuensi nya? Resiko kerugian yang harus di pikirkan matang matang. Kamu tau gak, dulu alm.Mami ku pernah membuka usaha kecil kecilan, tapi apa? Dua dua nya ancur, bangkrut dan ambyar. Dan juga, selain itu pikirkan juga waktu nya. Kita sudah bukan gadis lagi, kita punya anak dan suami. Yakin suami kalian bisa di tinggal tinggal?” tanya Shiena panjang lebar.


Bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu. Karena ia juga banyak belajar dari pengalaman mami nya dulu saat membuka usaha Florist dan WO. Usaha itu tidak bertahan lama, padahal mami nya cukup menguasai dalam perihal itu, di tambah mami nya saat itu tidak memiliki tanggungan lain, misal seperti anak dan suami.

__ADS_1


Sedangkan para sahabat nya kini, semua nya memiliki suami yang bucin akut parah gak ada obat. Jangankan untuk membuka usaha yang akan memakan banyak waktu, untuk sekedar Quality time satu minggu sekali saja rasanya sulit untuk di dapatkan.Belum lagi anak anak mereka, astaga, Shiena tidka bisa membayangkan kalau harus bekerja juga.


Bukan tidak mau lelah, hanya saja, ia selalu terbayang wajah menyeramkan suaminya bila tahu dirinya hendak membuka usaha. Bisa saja, Clayton menghancurkan nya hanya dalam sekejab karena akan menyita banyak waktu nya.


“Aku sih setuju sama Shiena. Kayaknya, angan angan kamu terlalu tinggi deh Ra. Mengingat, Kenzo juga kayaknya gak bisa terlalu lama kamu tinggal, bisa bisa usaha kita di hancurin sama dia nanti,” imbuh Chila tersenyum lebar.


“Ar, yang harus di khawatirkan bukan Kenzo deh. Kenzo itu, meskipun begitu tidak terlalu kasar orang nya.”saut Jesika dengan cepat, “Suami Shiena tuh, mainan nya pistol dan jangan lupakan kucing gede nya, bisa bisa usaha kita di terkam sama kucing dia karena kita di tuduh nyulik istrinya.”


Naura tidak menjawab, ia langsung mendengus, ketika niat dan usul nya tidak di setujui oleh para sahabat nya. Kesal, kecewa dan marah bercampur jadi satu. Tapi di sisi lain, ia juga menyetujui ucapan para sahabatnya. Kenzo, apakah dia bisa di tinggal bila dirinya membuka usaha? Batin Naura berdecak dalam hati.


“Dan ya, ini lihat aja bentar lagi juga kita bakal dapat ancaman dari suami dia karena sudah berapa jam kita ngobrol disini?” tebak Jesika sekali lagi . Dan benar saja, tidak sampai lima menit, ponsel Shiena langsung berdering dan Clayton sudah menyuruh nya untuk pulang atau laki laki itu akan datang menghampiri istrinya.


“Nah kan hahaha, udah sana balik!” usir Jesika menggelengkan kepala nya.


“Udah sore juga, kayaknya kita udahan dulu deh. Lain kali, jangan ngobrol di luar, kalian aja datang ke rumah ku, ajak anak anak juga ya, plis,” pinta Chila langsung menatap penuh harap kepada para sahabat nya.


“Baiklah, rapat kali ini selesai. Next time pertemuan selanjutnya ada di kediaman bu ustadzah,” kata Naura ikut berdiri dan beranjak dari kursi nya.


“Rapat! Kaya orang bener aja lo, Ra!” decak Susan hingga membuat wanita itu terkekeh.


...~To be continue .......


Biar gak tegang, kita nostalgia dulu aja ya sama alumni kamar laen 🙈🙈🤭💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2