Bukan Surga Impian

Bukan Surga Impian
Orang baik


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Hari demi hari berlalu, kini keadaan Chila sudah lebih baik. Selama beberapa hari di rumah sakit, selama itu juga Mike terpaksa tidak masuk ke kantor, karena ingin menemani Chila.


Meskipun, wanita itu masih banyak diam. Namun, setidaknya, kini Chila sudah tidak menolak nya. Apapun yang Mike berikan, tidak lagi di tolak oleh Chila. Seperti hal nya, minum, makan atau sekedar membantu ke kamar mandi, Chila sudah menerima bantuan dari Mike.


Tentu saja, itu semua tak luput dari campur tangan bunda Anna dan ayah Rasya. Mereka sengaja datang sesekali saja ke kamar Chila. Dan selebihnya, mereka akan menuggu di ruangan sebelah.


“Pelan- pelan Sayang!” ujar mami Renata saat membantu Chila untuk turun dari mobil.


“Terimakasih Mi,” ujar Chla ketika sudah mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang berada di dalam kamar nya.

__ADS_1


Mike tidak bisa mengantarkan Chila pulang ke rumah. Jadilah, Chila pulang dari rumah sakit bersama dua ayah dan ibu nya. Bukan karena tidak mau, hanya saja sudah beberapa hari Mike bolos bekerja, dan siang ini ia benar benar harus menghadiri meeting penting dengan klien nya.


Jadilah, laki laki itu tidka bisa ikut mengantarkan Chila pulang ke rumah. Selain itu, lagipula, ayah Rasya juga melarang nya dan menyuruh nya untuk ke kantor. Karena selama beberapa hari ini, ayah Rasya sudah mengalah dan membiarkan Mike yang berada di samping putri nya. Jadilah kini gantian, kata ayah Rasya.


“Sayang, apakah kamu yakin akan menghadiri persidangan itu? Bunda khawatir,” gumam bunda Anna terlihat begitu cemas.


“Iya Sayang, kamu bisa loh menolak untuk hadir. Kesehatan kamu sedang kurang baik,” timpal papi Vino.


“Insyaallah, Chila gapapa Bun, Papi. Lagipula, Chila hanya ingin membantu saja, setidaknya, korban harus mendapatkan imbalan yang pantas, bukan?” kata Chila tersenyum tenang.


Untuk sesaat, Chila terdiam, ia sendiri juga tidak tahu. Namun, ia hanya ingin memberikan kesaksian, entah apa dan bagaimana nanti yang terjadi ke depan nya. Yang penting dirinya sudah berkata dengan jujur, itulah maksud Chila.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu hadir untuk persidangan pertama. Biar Papi selidiki dulu kasus ini, Papi gak mau mengambil resiko, kamu sudah jauh jauh datang ke sana dan ternyata kamu sudah salah membela orang,” kata papi Vino membuat Chila hanya bisa pasrah dan menganggukkan kepala nya.


Memang kalau soal seperti ini, papi nya sangat sigap. Chila benar benar, merasa sangat beruntung, bisa berada di sekeliling orang orang baik dan hebat.


“Sekarang kamu istirahat ya, Bunda siapin makan siang dulu. Kamu mau makan apa hem?” tanya bunda Anna dengan lembut seraya mengusap kepala Chila.


“Gak tahu Bun, Chila mau istirahat aja dulu. Bunda mau masak apa, pasti akan Chila makan kok. Karena masakan Bunda terenak,” jawab Chila memberikan dua jempol nya kepada bunda Anna.


“Kamu ini memang paling bisa memuji Bunda,” kata bunda Anna dengan gemas lalu mengecup kepala Chila, “Ya udah, Bunda keluar dulu ya.”


Sementara itu, dari ambang pintu, mami Renata hanya mampu menatap kedekatan bunda Anna dan Chila dengan rasa sedikit iri. Rasa penyesalan yang hingga kini belum bisa ia lupakan. Andai, dulu ibu nya tida menyakiti Chila. Andai dulu ibu nya tidak membenci Chila, pasti dirinya juga bisa sedekat itu dengan Chila.

__ADS_1


Namun, apalah daya mungkin ini memang sudah takdir nya. Ia tidak bisa menolak permintaan ibunya dan terpaksa harus mengorbankan Chila waktu itu. Ia kini, hanya bisa berharap agar putri nya itu bisa bahagia, dengan siapapun itu, karena dirinya cukup sadar diri bahwa ia tidak bisa membahagiakan Chila.


...~To be continue ......


__ADS_2