Bukan Surga Impian

Bukan Surga Impian
Perdebatan dua ibu


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Plaakkk!


Sebuah tamparan yang begitu keras berhasil mendarat di wajah mulus seorang Michele Pranata. Seorang wanita yang sudah menjadi sahabat Michele sejak sekian lama, kini tengah menatap nya dengan begitu tajam dan tatapan terluka.


Ia begitu kecewa kepada sahabat nya, karena sudah tega menyakiti putri nya. Ya, dialah Renata. Ibu kandung dari Arshyla Savina. Air mata nya sejak tadi sudah menetes membasahi wajah nya, saat menuju ke rumah sakit. Ia mendapatkan kabar dari Vito bahwa Rasya sedang di rawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung.


Dan setelah Renata datang, ia baru tahu permasalahan apa yang menyebab kan ayah dari putri nya itu sampai terkena serangan jantung.


“Benarkah kamu seorang Ibu Chel?” tanya Renata dengan suara bergetar menahan tangis, "Bukankah kamu pernah bilang, bukan hanya padaku tapi kepada semua orang. Kalau Chila adalah anak kamu? Bukankah kamu bilang menyayangi nya, lantas ini apa Chel, apa!” pekik Renata histeris menatap sahabat nya.


Tak bisa di pungkiri, Michele pun sangat merasa bersalah. Meskipun ia tidak berniat sampai sejauh itu. Namun, ia tetap bersalah dan ikut andil dalam kepergian Chila.


Menyesal, tentu saja Michele sangat menyesal. Seharusnya, sejak awal ia bisa menjaga kepercayaan itu. Seharusnya ia bisa menjaga hati putri nya. Namun, ia justru malah ikut menyembunyikan fakta yang ada.

__ADS_1


“Ren, a—aku ... “ gumam Michele bergetar menahan tangis.


“Kamu tahu Chel? Kamu dan aku, mana yang lebih di sayang sama dia? Kamu Chel, kamu!” pekik Renata semakin merasa sakit saat mengingat bagaimana sayang nya, Chila kepada Michele di banding dirinya. Walaupun ia yang melahirkan Chila, namun gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan Michele.


“Ren, aku sama sekali gak ada niat kaya gitu. Aku hanya ingin membantu Els saja, tidak lebih. Aku kasihan padanya, karena sakit yang dia deritam Umur nya tidak akan lama lagi, dan sekarang dia sudah meninggal. Aku hanya ingin membantu nya saja, tidak lebih. Dan aku juga gak tahu kalau ternyata Chila sampai nekat menyusul ke Jerman untuk memata-matai Mike, hingga terjadi pertengkaran seperti ini,” jelas Michele yang juga menangis, menyesali perbuatan nya.


“Basi kamu Chel, basi! Munafik kamu!” pekik Renata semakin emosi mendengar penjelasan dari Michele.


"Bagaimana kalau semisal Aldi juga lebih mementingkan wanita lain di banding kamu Cel? Apa yang akan kamu rasakan hah? Apakah kamu akan menerima nya? Apakah kamu yakin, kamu bisa membiarkan Aldi menghabiskan waktu bersama wanita lain di banding kamu?" tanya Renata menatap intens pada sahabat nya.


“Kamu buta? Atau hilang ingatan! Bukankah kamu juga seorang istri Chel? Bahkan saat kamu masih berpacaran sama Aldi, bagaimana kamu mengekor di belakang dia? Bagaiman cara kamu ngejaga pacar kamu . Kamu begitu posesif dan ingin menang sendiri. Dan sekarang, apa menurut kamu Chila salah melaku kan itu kepada suami nya sendiri? Pikir dong Chel, pikir!”


“Seharusnya, kamu mikir, cepat atau lambat kebohongan pasti akan terungkap. Dan seharusnya, sebelum kamu ikut berbohong, kamu bisa nasehatin adik kamu agar jujur sama Chila. Apakah Chila sebegitu buruk atau jahat dia sampai akan melarang suami nya berbuat kebaikan. Kecuali memang niat awal kalian tidak benar. Niat kalian memang ingin membodohi Chila dan menyakiti nya, i don't now!”


“Ren, jaga mulut kamu ! Aku sama sekali gak ada maksud buat nyakitin Chila. Aku juga gak nyangka semua akan terjadi kaya gini!” balas Michele tak terima.

__ADS_1


“Gak ada niat kata kamu? Gak ada niat kamu bilang hah! Tapi nyatanya kamu udah terlalu lama bohongin dia. Kamu udah nyakitin dia sebegitu dalam Chel, mikir gak kamu hah!”


"Seharusnya kalian bisa berkata jujur dan apa adanya sama dia. Dan mungkin jika sejak awal kalian jujur, aku yakin dia tidak akan se kecewa ini. Dia dari kecil sudah banyak menyimpan masalah nya sendiri. Dan sekarang, dia kalian sakiti sampai seperti ini." imbuh Renata semakin terisak.


“Mi, udah Mi jangan kaya gini. Ini rumah sakit,” ujar Vito berusaha menenangkan sang mama.


“Diem kamu Vit. Kakak kamu pergi! Kakak kamu pergi gara gara dia!” pekik nya marah seraya menunjuk Michele.


“Vito tahu, tapi apa dengan Mami marah marah begini, kakak bakal datang? Enggak Mi, ayo duduk dulu.” Akhirnya Vito berhasil menenangkan ibunya dan mengajak nya untuk duduk di ruang tunggu bersama dengan yang lain nya.


Sementara itu, Michele hanya mampu menangis di ujung lorong itu dengan terisak. Ia tidak berani untuk menemui Rasya maupun Anna. Ia sangat menyesal, namun ia juga tidak bisa berbuat apapun.


“Lebih baik mama pulang. Biar Faaz yang menunggu om Mike. Dan nanti Faaz akan memberi kabar sama Mama, bagaimana perkembangan om Rasya,” ujar Faaz dengan raut wajah datar nya menghampiri sang ibu.


Meskipun ia juga marah dan semakin kecewa dengan mama nya, namun ia juga tidak tega melihat ibu nya yang terpuruk seperti itu. Dan tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Faaz kembali pergi meninggalkan Michele yang semakin menangis saat melihat kepergian putra nya.

__ADS_1


...~To be continue .......


__ADS_2