BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
100 Never Leave you!


__ADS_3

Bintang


Sebelum ke kampus aku dan Rion menyempatkan diri untuk menjenguk Zoya di rumah sakit. Subuh tadi mama mengabariku tentang keadaan Zoya. Aku sangat terkejut dan meminta Rion untuk segera bersiap agar sempat mampir melihatnya.


Aku masuk ke dalam dan memeluknya erat. Entahlah, kami sama sama hamil tapi dengan kondisi yang jauh berbeda. Aku termasuk yang tidak terlalu membutuhkan perhatian ekstra. Aku masih bisa makan walau harus pilih-pilih makanan. Sementara Zoya hanya bisa makan jika sudah menjelang siang.


Kandunganku sama sekali tak bermasalah, sementara Zoya sudah entah berapa kali dia mengalami perdarahan.


Mungkin ini yang disebut bawaan bayi. Aku mengelus perutnya. Sehat selalu, baby.


Kami tidak lama disana karena harus segera ke kampus. Aku dan Rion berpamitan pada mama.


"Kami berangkat dulu, ma."


"Hati-hati sayang."


"Da Zoya... Da ponakan onty."


Diperjalanan Rion sesekali melihatku dan tersenyum.


"Kenapa?" Tanyaku jutek. Aku risih melihatnya memandangku seperti itu, aku bukan badut lucu yang mengundang senyum dan tawanya kan?


"Cantik."


"Selalu." Aku menatap ke depan.


"Manis."


"Dari lahir."


"Istri siapa sih?" Tanyanya dengan nada yang terdengar sangat menggemaskan.


"Istri kamulah."


"Cium dong!" Aku meliriknya yang sedang menunjuk sebelah pipinya.


"Nyetir yang bener!" Apa peduliku, di rumah bahkan dia sudah menciumku lebih dari sepuluh kali.


"Bi..."


"Hemm..." Aku bergumam.


"Gak ngidam lagi?" Tanyanya.


"Nanti sore." Jawabku cepat.


"Haaaaa!" Dia terbelalak kaget. "Ngidam pake jadwal, Bi?" Ucapnya penuh tanya.


Aku hampir tergelak melihat ekspresinya. "Ya kamu sih, lucu banget nanyanya."


"Ngidam itu datang tak diundang, tak direncanakan sayang."


"Tapi kayaknya anak kamu kalem nih. Gak neko-neko."


"Kecuali soal bau-bauan. Hahahah." Aku tertawa. "Hidungnya mancung nih pasti, kayak kamu." Aku menunjuk hidung macung suamiku.


"Sok tau kamu, Bi."


"Ya bukannya mau sok tau, tapi feeling aja sayang. Aku sensitif sama aroma dan bau yang tajam, pasti hidungnya mancung, Yon. Kalau hidungnya minimalis pasti gak begitu. Hahaha."


Aku tergelak lagi, aku hanya becanda. Aku senang mengganggunya. Aku bersyukur jika anakku berhidung mancung sepertinya dan jika mewarisi hidung setengah mancungku juga tak masalah.


"Jadi maksud kamu, kalau hidungnya minimalis dia gak buat kamu sensitif sama bau-bau tajam, Bi?"


Aku tertawa. "Begitulah kira-kira pak suami."


"Kamu dapat teori dari mana sayang? Aku sudah baca banyak buku yang mami kasih, dan gak ada yang mengatakan seperti itu."


"Kebanyakan ibu hamil memang sensitif, Bi."


"Iya... iya... yang udah baca buku dari yang tipis sampai yang tebal." Cibirku.


Kami sampai di parkiran kampus. "Selamat belajar ayah." Aku mencium punggung tangan Rion.


"Selamat mengajar sayang." Rion mengecup keningku. Perlahan ia menunduk dan mencium perutku. "Jangan nakal sayang ayah."

__ADS_1


"Jangan buat bunda capek ya sayang." Tangannya mengelus perutku. Terasa nyaman dan menghangatkan hatiku.


Dulu, hal seperti ini begitu jauh dari anganku, bahkan bermimpi pun aku tidak berani. Karena takut kenyataan tak seindah mimpi.


Sekarang, semua kenyataan ini begitu terasa indah. Bahkan aku tak ingin tertidur dan bermimpi. Jika aku boleh berharap lebih, aku ingin kebahagiaan ini akan tetap ada dalam keluarga kecil kami.


"Kita keluar sekarang, sayang? Masih mau mengelus rambutku atau ku elus perut kamu?" Aku menunduk, melihat tanganku yang sudah berada di kepalanya. Dan entah sejak kapan tanganya sudah melingkar di pinggangku.


"Kita keluar."


"Ayo." Ajakku. Rion membantuku membuka seatbelt dan suami berondongku masih sempat mencuri kecupan singkat di bibirku.


"Gemesin banget sih, bumil cantik." Dia nyengir di depan wajahku.


"Gak usah ngerayu." Bisikku pelan, tapi aku


membalas kecupannya. Aku tau itu yang dia ingin.


"Ah!" Rion mengacak rambutnya frustasi. "Ayo keluar! Lama-lama aku bisa perk*sa kamu, Bi!" Rion keluar dan berjalan setengah memutari mobil, membukakan pintu untukku.


"Mana ada suami perk*sa istri sendiri!" Gumamku pelan. Dan dia cuma nyengir menunjukkan gigi putihnya.


"Aku antar ke ruangan kamu!" Kami berjalan beriringan. Sekarang hampir semua orang tau hubunganku dan Rion. Tapi tatapan tak rela masih mereka tunjukkan.


Diawal-awal pernikahan, aku kerap kali mendengar pujian, bahkan sindiran halus. Dan sekarang, aku tak peduli lagi. Palingan, jomblowati pada gigit jari dan jomblowan cuma ngelirik doang.


Sesekali masih ku temukan tatapan memuja yang diberikan mahasiswi kepada suamiku. Sesekali chat masuk mengajak selingkuh juga pernah ku baca.


Cemburu? Sering. Tapi aku harus tetap positif thinking demi dede bayi dalam rahimku. Inilah resiko punya suami tampan. Dan tugasku hanyalah percaya padanya.


Jika dia ingin, bukankah sudah ia lakukan dari dulu. Mencari penggantiku saat aku di Luar negeri?


Aku menatap Rion yang terus meleparkan senyum. Kami berjalan beriringan tanpa bergandeng tangan.


Bukan tak ingin, tapi aku hanya ingin profesional di sini. Aku dosen dan dia mahasiswa. Kami tidak boleh bertingkah berlebihan di depan orang banyak. Di mobil, termasuk pengecualian. Hehehehe.


Siangnya....


Aku menunggu Rion di parkiran. Rion harusnya sudah keluar 10 menit yang lalu. Mungkin sedang ke toilet atau berbicara dengan temannya.


Seorang gadis duduk di sebelahku. Kebetulan aku duduk di bangku yang terbuat dari batu.


"Suami Ibu ganteng." Bisiknya pelan. Aku tau maksudnya. Dia ingin menyindirku bahwa aku tak pantas untuk suamiku.


"Terima kasih. Semua orang yang punya mata juga tau itu." Aku menatapnya sekilas. No kesempatan untuk masuk dalam rumah tangga kami.


Dia mungkin terlalu berkelas, hingga julukan pelakor tak pantas baginya. Tapi harus ku sebut apa wanita yang mencari perhatian suami orang lain dan justru cenderung menginginkannya.


"Gak takut, Bu. Suaminya tergoda dengan gadis lain?" Gadis itu memperbaiki cara duduknya Kini ia menyilangkan kakinya. Menumpukan satu kaki di kaki yang lain.


Lama-lama dia kurang ajar. Aku bukan tak tahu dia siapa. Dia masih ada hubungan kerabat dengan pemilik Universitas ini.


Aku menghela nafas. Gak boleh terpancing, apa lagi sampai nge-gas. Bisa-bisa aku pekerjaanku terancam.


"Saya juga dulunya seorang gadis dan dia yang membuat saya tak gadis lagi." Aku menatapnya dengan senyum simpul.


"So, dia udah pernah mencoba yang gadis. Jadi gak akan penasaran lagi."


Wajahnya berubah masam, tapi perlahan senyumnya kembali terbit.


Mau ngomong apa lagi nih cewek.


"Kalau saya, atau ada gadis lain yang bisa merebutnya bagaimana, Bu?"


"Oops!" Dia menutup mulutnya dengan anggun. "Kakak aja deh. Jam belajar juga udah berakhir kan?"


"Kakak? Boleh, terdengar lebih akrab." Aku menganggukkan kepala.


"Kamu bilang, kalau ada yang bisa merebutnya bagaimana?"


Aku mengelus perutku. Bunda gak akan biarkan siapapun merebut ayah kalian, nak.


"Ya, itu terserah dia. Kalau dia tergoda, berarti dia bajing*n. Kalau dia tak tergoda dan penggoda tetap berusaha. Itu tidak tahu diri namanya." Skak! Dia cemberut. Belum tau dia the power of emak-emak nge-gas. Itu masih gak tipis-tipis, belum di gas abis. Ah, bicara apa aku ini.


Dia kembali tersenyum. "Hahaha!" Dia menepuk bahuku pelan. "Kakak asik banget sih."

__ADS_1


Aku menautkan alisku. Asik? Aku yang gil* atau dia yang beg*. Aku barusan marah loh, marah santai.


"Sayang... asik banget ngobrolnya sampai ketawa begitu." Suara Rion! Aku menoleh ke kiri. Rion berjalan ke arah kami.


Oh, jadi ini yang membuatnya bicara gak nyambung seperti itu?


Aku gak ketawa. Cuma dia. Begitulah arti tatapanku padanya.


"Cerita apa, sayang?" Tanyanya mengelus kepalaku yang terbungkus hijab.


Ku manfaatkan kesempatan dengan baik. Aku bersandar di perut ratanya.


"Eng, anu. Cerita bajing sama ikan teri." Maksudku bajing*an dan tak tahu diri. Keren banget plesetanku. Hahahah.


"Emang ada dongeng kayak gitu?"


"Ada." Sahutku cepat. "Dia yang cerita." Tunjukku pada gadis di sebelahku.


Rion menatap sekilas. Dia tak bereaksi apapun. Dia pasti mengingat siapa gadis ini. Gadis yang pernah mencium pipinya tanpa izin.


"Pulang, yuk." Ajaknya meraih tangaku.


"Duluan, ya." Ucapku pada gadis itu.


Mobil keluar parkiran. Dan aku sempat melihat gadis itu tersenyum miring. Senyuman khas orang jahat. Ah, sok tau kamu, Bi.


Semoga dia tak bertindak nekat.


"Kamu ngobrol sama dia?" Tanya Rion padaku saat mobil melesat membelah jalanan.


"Ya begitulah."


"Kamu ingat dia?"


"Yang nyumbang 3 dus buku?" Aku menatap Rion.


"Iya."


"Heem..." gumamku.


"Dia gak aneh-aneh kan?" Tanyanya lagi.


Aneh banget, sampai terang-terangan mau rebut kamu.


"Enggak kok."


"Aku tau Bi, siapa yang melihatku dan melihat kamu dengan tatapan berbeda. Tatapan memuja."


Aku menghela nafas. "Jadi kamu merasa banyak yang suka sama kamu?"


"Ya gak gitu. Aku gak masalah mereka melihatku seperti apa. Yang jadi masalah adalah laki-laki yang juga menatap kamu, Bi."


"Kalau mengajar boleh pakai helm. Kamu aku pakein helm full face, Bi."


Aku tergelak. "Kalau aku gak geli, Yang. Aku udah botakin kepala kamu, terus aku kasih tompel disini." Aku menunjuk pipinya. "Juga ku pakein kacamata tebal. Cupu-cupu deh suamiku."


Rion ikut tertawa. "Jangan ah, entar kamu berpaling."


Kami saling diam. Rion menatap lurus ke depan dan aku menatapnya. "Never."


"Never leave you!"


"Terlebih saat dia hadir diantara kita." Aku mengelus perutku. "Dia pengikat kedua diantara kita setelah pernikahan itu sendiri."


"So, i will always beside you now and forever."


"Thank you so much, Bi."


****


Nah, kalian ingat kan cewek itu? kalau belum, cek lagi deh di bab 53 😊


BunBin sudah menunjukkan taringnya 😂 Hempaskan pelakor mak Orbit 😃 Jangan kasih cela.


Ayah Rion, gantengnya dikurangin dong 😂

__ADS_1


Jejak di tinggal ya...


Ada yang mau request pov siapa? Silahkan coret di bawah 😊


__ADS_2