
Ezra
Braaakkk...
Dengan sekali tendang aku berhasil mendobrak pintu itu. Pintu berwarna coklat yang sudah rusak di bagian kuncinya karena ulahku.
Pintu terbuka dan terlihat pria brengs*k bernama Daniel itu tengah membungkam mulut Zoya dengan sebelah tangannya dan satu tangan lagi berada di leher Zoya.
"Berhenti atau ku patahkan lehernya." Teriak Daniel mengancamku. Dia terus mundur seiring langkahku yang terus terarah padanya.
Aku terus maju tanpa menghiraukan perkataannya.
"Sekali lagi. Berhenti atau ku patahkan lehernya!"
"Aku gak pernah main-main dengan ucapanku, Ezra!"
Ah, dia mengingat namaku rupanya, setelah lebih dari setahun tidak bertemu.
Aku terus maju sampai tubuhnya menabrak meja kerja di belakangnya.
Zoya mendongak, dia tercekik dengan lengan Daniel yang ada di lehernya.
Ku pastikan kau akan membayar semuanya, Daniel.
Aku melihat ke bawah, tepatnya ke arah kaki. Kaki Zoya menutupi kaki Daniel. Aku berfikir harus menyerang bagian mana?
Daniel, matanya melihat sekeliling. Mungkin dia mencari sesuatu untuk menyerangku atau Zoya.
Saat matanya tidak fokus kearahku, aku memberi kode pada Zoya untuk menggeser kakinya agar aku bisa menargetkan seranganku di kaki Daniel.
"Sekarang!" Ucapku cepat seraya meraih vas keramik di nakas.
Buuugh...
Praaangg...
Vas itu pecah membentur lantai setelah mengenai tulang kering Daniel. Daniel melepaskan Zoya dan memegang kakinya sendiri. Aku segera menarik Zoya yang sudah bergerak maju kearahku.
"Zraaa!!" Dia memelukku. Aku melihat wajahnya basah karena air mata. Sudut bibirnya pecah dan bekas tamparan di pipinya masih membekas. Hijabnya berantakan dan tamgannya bergetar hebat.
Aku melepas pelukan seiring datangnya beberapa pelayan yang ternyata belum pulang.
"Bu Zoya?"
Aku meminta mereka mengamankan Zoya. Aku juga meminta tali pada mereka.
Dan sekarang urusanku pada pria brengs*k yang masih menahan sakit. Pria yang berani menyentuh milikku. Pria kurang ajar yang menggali kuburannya sendiri.
Apa jadinya jika aku dan Zoya tidak terhubung melalui telepon. Membayangkannya membuat darahku mendidih. Amarahku bahkan sudah terasa di ubun-ubun.
Aku bergerak maju dan menendang perutnya. Belum puas, aku menarik kerah kemejanya dan menghimpitnya ke tembok.
Bught..
Aku memberinya pukulan di perut. "Ini untuk obat yang kau masukkan ke minumannya."
"Zraaa!" Zoya memanggilku dengan suara tangisnya.
Aku tidak akan berhenti Zoya.
Bught..
__ADS_1
Satu pukulan lagi di perut. "Ini untuk rencana busukmu dengan menjebaknya!"
Kletak...
Aku memelintir tangannya. "Ini untuk tamparan pertama."
Aku memelintir tangannya lagi. "Ini untuk tamparan kedua."
"Zra! Udah Zra dia bisa mati!"
"Mati saja tidak pantas untuk binat*g sepertinya, Zoy!"
Aku mencekik lehernya dan semakin menekan tubuhnya ke tembok.
"Kamu juga cuma kucing jalanan yang dipungut pak Akhtar!" Dia menyeringai.
"Ja...ngan bermimpi bersanding dengannya!" Daniel tersenyum remeh.
"Bukan pak Akhtar yang memungutku. Tapi Bintang!" Jeritku.
"Dan kau!" Aku menuding wajahnya dengan tanganku yang lain.
"Bahkan seekor anj*ng tidak pernah menggigit majikannya."
"Kau layak disebut iblis, Daniel."
"Arrhhh." Teriaknya seiring tubuhnya yang terlempar kearah samping. Dan membentur rak berkas yang terbuat dari kayu jati itu.
Aku berjalan maju. Mendekat pada pria yang sudah meringkuk memahan sakit.
"Zra, sudah Zra!" Zoya meraih tanganku.
"Belum Zoy!" Kepalan tanganku kembali mengeras.
"Please, Zra. Stop it!"
"Aku takut Zra!" Zoya terisak.
"I need you more, than his death."
*Aku lebih membutuhkanmu dari pada kematiannya.
Aku membalik tubuhku dan memeluknya. Membawanya keluar dari ruangan itu. Dua orang pelayan sudah berhasil mengikatnya dan aku segera menelpon polisi.
Terlalu merepotkan jika mengurusnya sendiri. Aku butuh bantuan polisi dan pengacara. Karena aku akan lebih mementingkan urusan pernikahanku yang ku harapkan bisa segera dipercepat.
"Zoya, are you okay?" Tanyaku saat aku mendudukkan Zoya di kursi. Aku sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi kami.
Zoya mengangguk. "Jangan pergi Zra."
Zoya memegang erat ujung kaos polo yang ku pakai. Zoya tak membiarkanku menjauh sedikitpun.
"Jangan pukul dia lagi, Zra. Aku takut kamu yang di penjara." Dia terisak.
Aku hampir tertawa. Kamu disini korban dan aku berusaha menolongmu, Zoy. Mengapa harus takut kita yang dilaporkan?
Tak butuh waktu lama, petugas kepolisian datang dan membawa Daniel ke kantor polisi.
"Kalian boleh pulang. Jangan sampai kejadian ini menyebar dan menjadi isu yang simapang siur di masyarakat! Karena hanya kalian yang melihat kejadian ini."
"Biar Zoya yang menjelaskan pada orang-orang! Mungkin akan melalui wartawan atau sejenisnya."
__ADS_1
"Tolong ini di keep untuk kalian dulu. Supaya orang-orang tidak menarik kesimpulan mereka sendiri."
Aku memperingati beberapa orang karyawan yang melihat kejadian ini. Biar bagaimanapun ini menyangkut nama baik Zoya dan restoran.
"Kita akan tutup selama beberapa hari kedepan." Aku melihat Zoya yang mengambil keputusan itu.
"Informasikan pada yang lain, katakan sedang ada perbaikan."
"Baik Bu."
"Zoya?" Aku butuh penjelasannya.
"Tempat ini pasti masih akan diperiksa polisi Zra." Aku memgangguk membenarkan.
"Dan aku juga akan merenovasi bagian depan. Aku akan minta om Langit mempercepat prosesnya."
Baiklah, ini keputusan Zoya.
Aku dan Zoya juga segera pergi ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Aku sempat menelpon om Akhatar dan mengatakan kejadiannya meski tak terlalu detail.
"Om kesana, Zra!"
"Titip Zoya."
"Pasti, Om." Aku menutup panggilan dan segera melajukan mobil ke kantor polisi.
"Gak seharusnya hubungi papa, Zra." Zoya menatapku. Tangannya tak lagi gemetaran.
Bekas tamparan juga mulai memudar. Hanya sudut bibir yang tampak membiru.
"Zoya, ini sudah terlalu malam. Kamu gak mikirin keluarga kamu yang khawatir?"
Air mata Zoya menetes. "Tadi Nath menawarkan dirinya untuk menemaniku, Zra."
"Tapi aku nolak." Dia menatapku dengan air mata yang menggenang di matanya.
"Sudah ya Zoy. Semua sudah terjadi, yang terpenting kita hadapi yang di depan. Menoleh ke belakang tidak begitu penting untuk saat ini."
Aku menepuk kepalanya dengan penuh kelembutan.
"Aku sudah memperbaiki dari dan penampilanku, tapi hal ini masih tetap terjadi Zra."
"Zoya, bahkan jika kamu dibalut baju besi sekalipun, pria bajing*n itu dia akan tetap berusaha melakukan semua ini, Zoy."
"Percayalah. Kamu sudah berusah menjaga diri."
"Hingga Allah masih melindungimu."
Zoya tersenyum mengangguk padaku.
Di kantor polisi om Akhtar, tante Lintang, Bintang dan Rion sudah menunggu. Bahkan pengacara yang merupakan teman kuliahku juga sudah tiba.
Zoya langsung disambut pelukan dan tangis oleh Bi dan mamanya.
Aku menyalami om Akhtar, calon mertuaku.
"Kamu ikut, Yon?" tanyaku pada Rion.
"Iya bang. Aku tadi masih di rumah om Akhtar."
Kami langsung masuk kedalam. Petugas langsung meminta keterangan Zoya sebagai korban.
__ADS_1
Aku juga di mintai keterangan. "Hukum seberat-beratnya, pak." Pintaku pada petugas kepolisian itu.