BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
92 Negatif


__ADS_3

Orion


Setelah kabar bang Ezra tentang kehamilan kak Zoy diketahui seluruh keluarga, kami semua menyerbu rumah mereka besok malamnya.


Semua orang berkumpul di sana, mengucap selamat dan memberi nasehat pada kak Zoy yang butuh istirahat total.


Bang Ezra menjelaskan bahwa kantung janin belum terlihat, dan mami membenarkan bahwa hal seperti itu biasa terjadi. Bahkan ada yang baru terlihat hingga usia 7 minggu.


"Kamu belum datang bulan kan, Bi?" tanya mami saat kami masih di rumah bang Ezra.


"Belum, mi. Harusnya 3 atau 4 hari yang lalu." Jawab kak Bi yang masih memandangi foto usg kak Zoya.


"Kamu coba tes Bi, supaya bisa dijaga sedini mungkin." Mama menasehati kak Bi. Aku dan dia saling pandang.


Apa yang ada dalam fikiranmu, Bi? Kamu ingin atau tidak sebenarnya?


"Iya ma. Tapi Bi gak yakin, ma. Semua yang dirasakan Zoy sebagai tanda kehamilan sama sekali gak Bi rasakan."


"Tapi di coba gak salah kan, San?" Tanya mama pada mami yang duduk di sebelahnya.


"Gak masalah sih, Lin. Tapi biasanya hasil tes lebih akurat kalau sudah terlambat 1-2 minggu. Walaupun ada yang terlambat 2-3 hari sudah bisa terlihat garis duanya."


"Ya, kalian bisa beli alat tesnya di apotik nanti. Jadi besok pagi bisa langsung di tes."


"Mama setuju." Mama Lintang semangat sekali.


Dan akhirnya subuh ini aku menunggu kak Bi yang masuk dengan dua alat tes kehamilan dengan merek berbeda.


"Bi... apa harus selama ini?" Aku tak sabar dan terus mondar mandir di luar kamar mandi. Dia sebanarnya sedang apa di dalam. Apakah harus menunggu selama itu untuk bisa mengetahui hasilnya atau sudah ada hasilnya tapi dia takut untuk keluar?


"Sabar Rion! Aku gak ngerti cara pakainya yang satu lagi. Aku baca dulu." Teriaknya dari dalam kamar mandi.


Astaga! Jadi dia gak tau cara pakainya?


"Bi.... aku panggil mami, ya."


"Jangan! Udah bisa, kok."


Cepet banget, tadi gak bisa. Lima detik kemudian langsung bisa. Kenapa istriku ajaib sekali ya Allah.


Aku duduk di pinggir ranjang saking lelahnya berdiri. Sebenarnya apa yang istriku lakukan di dalam sana.


Pintu kamar mandi terbuka. Istriku yang masih memakai piyama tidur itu menyodorkan dua testpack di tangannya.


"Hasilnya apa?" tanyaku.


"Lihat sendiri, Rion!" Ucapnya langsung duduk di kursi rias.


Aku melihat dua benda tipis itu. Deg!


Keduanya bergaris satu. Dan itu artinya negatif. Aku langsung melihat istriku yang menunduk dengan jemari yang saling bertautan. Bahunya bergetar. Dan ku yakin dia menangis.


"Sayang..." Aku berdiri dan memeluknya.


Kak Bi memeluk perutku. Dia tergugu. "Udah ku bilang aku gak hamil, aku cuma terlambat, Yon!"

__ADS_1


"Kenapa semua orang pada gak faham sih. Kalau udah gini yang ada aku kecewa, kamu kecewa dan semua orang yang menunggu kabar dari kita juga kecewa."


Aku mengelus rambutnya. "Sayang, aku gak kecewa. Aku sih santai, dikasih kita jaga, belum juga gak apa-apa."


"Bener?" tanyanya disela isak tangis.


"Beneran. Aku gak kecewa sama sekali, Bi." Aku menuduk dan dia mendongak menatap wajahku.


"Kamu gak bohong?" Aku menghapus air matanya. Matanya dan hidungnya semerah tomat.


"Enggak. Kita nikmati dulu masa-masa kita berdua sayang. Jangan terburu-buru. Kita juga masih muda, Bi."


"Pernikahan kita juga belum genap sebulan."


"Soal ini, nanti aku bantu ngomong sama mami. Kalau sama yang lain jangan ngomong apa-apa. Tunggu mereka tanya, baru dijawab ya."


"Kita gak punya kewajiban untuk menjelaskan hal ini ke mereka. Tapi kalau di tanya jawab aja senyaman kamu."


"Udah ya... kita mandi terus sholat subuh di bawah. Nanti aku coba bicara sama mami, papi supaya mereka gak terlalu menggebu dan ujung-ujungnya bikin kamu down." Kami masuk ke kamar mandi bersama. Karena waktu subuh tinggal 5 menit lagi.


Kami turun ke bawah, mami, papi, Chia dan Rizal sudah menunggu. Sholat juga sudah segera dimulai dengan papi yang menjadi imamnya.


Selesai sholat, Chia dan papi berolah raga di halaman belakang, sedangkan Rizal juga kebelakang untuk membantu yang lain bekerja.


Aku, mami dan kak Bi masih duduk di ruang sholat karena aku meminta mami untuk tidak pergi.


"Mi..."


"Hasilnya negatif."


"Mi... jangan gitu dong lihatinnya."


"Mami lagi nerawang, Yon!" Aku dan kak Bi saling tatap. Mami seperti paranormal. Apa itu profesi sampingnnya selain sebagai dokter?


"Kalian yakin?"


Kami mengangguk.


"Kamu pakai berapa alat, Bi?"


"Dua mi."


"Dua-duanya negatif?" Tanya mami.


"Iya, mi."


Mami menghela nafas berat. "Ya udah, negatif bukan berarti tidak hamil."


Kami menatap mami serius. "Maksud mami gimana, mi? Sebenarnya Kak Bi hamil atau gak?" Tanyaku sedikit kesal karena subuh ini mami sempat-sempatnya bermain teka teki.


"Rion. Itu bisa saja negatif palsu dan penyebabnya adalah hCG di urin Bintang belum muncul sepenuhnya karena pengecekan yang terlalu dini."


Kami mendengarkan tanpa menyela. Padahal aku tidak tahu hCG itu apa.


"Atau, Bintang terlalu banyak minum air putih hingga kadar hCG dalam urin mengencer dan sulit dideteksi oleh alat tes kehamilan itu."

__ADS_1


Istriku memang banyak minum air putih tiap malam karena dia selalu mengemil keripik kentang atau wafer coklat tiap malam yang memicu tenggorokannya kering dan cepat haus.


"Kepekaan alat tes, alat tes yang kadaluwarsa, urin yang terlalu sedikit juga bisa memicu hasil tes yang negatif sementara kamu sudah terlambat haid, Bi."


Mami berusaha menjelaskan pada kami. Untung di rumah, kalau di rumah sakit pasti bayar. Hahahah.


"Jadi, sebaiknya jangan stres dan terlalu memikirkan ini. Selagi belum haid, tes masih bisa diulang minggu depan."


"Jaga pola makan dan makan makanan yang mengandung vitamin, Bi. Keripik kentang kamu bisa diganti salad buah atau jus. Kalian mengerti kan?"


Aku dan kak Bi mengangguk.


"Mami gak kecewa?" tanya kak Bi.


Mami mengelus bahunya. "Gak sama sekali, Bi."


"Kamu beruntung menikah di usia 24 tahun, Bi. Kamu masih muda dan kesempatan masih terbentang lebar."


"Jangan terburu-buru. Pastikan saja diri kalian siap menerima amanah yang suatu saat Allah titipkan."


"Jangan ingin karena melihat kebahagiaan orang lain."


"Jangan ingin karena orang sekitar yang ingin."


"Kalian yang akan jadi orang tua. Bertanggung jawab sepenuhnya. Dari materi, lahir dan batin anak kalian kelak."


"Bukan kami, dan bukan orang tua kamu, Bi."


"Jadi, lebih baik persiapkan saja mental kalian, diri kalian, terutama kondisi finansial kamu yang masih harus diperbaiki, Yon."


"Tanggung jawab kamu akan semakin berat jika hadir seorang anak diantara kalian."


"Membagi waktu antara kuliah, kerja, Bintang, dan anak. Itu sulit. Mami saja belum bisa membayangkannya."


"Terima kasih, Mi."


Kami memeluk mami. "Jangan dengarkan apa kata orang. Jangan bandingkan hidup kalian dengan orang lain, apa lagi Zoya dan Ezra."


"Kalian sendiri yang tahu, porsi kebahagaian kalian."


"Karena setiap pasangan punya porsi yang berbeda-beda."


Mami benar, saat bang Ezra bahagia dengan kehamilan kak Zoya. Aku malah sudah sangat bahagia meski hanya berdua dengan istriku.


Anak? Bukankan mereka adalah rezeki. Dan rezeki sudah diatur dengan ukurannya masing-masing. Mengapa khawatir atas apa yang sudah Allah atur?


***


Rion belum berhasil gaes ✌✌


Apa yang terjadi 2 minggu lagi? Apakah Bi hamil atau Dede EnZoy udah kelihatan dilayar USG?


Kita tunggu 2 minggu lagi ya...


Jadi untuk sementara othor nulis apa?

__ADS_1


πŸ˜‰Othor mau libur. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


__ADS_2