BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
73 Rumah mertua


__ADS_3

Perhatian! Ada banyak pov disini 😊


Semoga gak bingung ya 😊


Ezra


Setelah Rion melewati proses paling menegangkan itu. Kini giliranku.


Aku menjabat tangan seorang wali hakim. Karena Zoya dinasabkan pada almarhumah mamanya.


Aku tahu semua masa lalunya dan aku dengan bangga menerimanya. Zoya yang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, menikah dan melahirkan keturunan dengan cara yang baik.


Aku berdoa dalam hatiku. Semoga dilancarkan dan dimudahkan dalam mengucap kalimat qabul nanti.


"... tunai."


Aku langsung menyambung setelah wali hakim selesai dengan kalimat ijabnya.


"Saya terima nikahnya Zoya Khairumi Bramantyo binti Khairumi Bramantyao dengan mahar tiga ratus delapan puluh satu juta empat ratus tiga puluh sembilan ribu delapan ratus rupiah tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Alhamdulillah." Doa pernikahan dilantunkan. Segala penantian, keraguan, kegugupan runtuh seketika. Seolah Allat telah mengangkat sekat pembatas antara aku dan Zoya.


Sekarang, memeluknya tak lagi dosa. Menghapus air matanya adalah kewajibanku. Mengukir senyumnya adalah keharusan bagiku.


Dan saat gadis itu turun dari lantai dua. Aku terpaku melihatnya secantik itu.


Ya Allah, jika bidadari surga secantik dirinya. Maka bimbing aku dan dia menuju surgaMu. Aku ingin menghabiskan sisa umurku, dunia dan akhiratku bersama dirinya.


Zoya ada di sebelahku. Semua proses yang kami lakukan bersamaan dengan Rion dan Bi.


Mulai dari penandatanganan buku nikah, penyerahan mahar, hingga pemasangan cincin.


Cium tangan dan cium kening.


Aku sempat membacakan doa di ubun -ubunnya. Ini adalah saran dari seorang ustadz yang dengan sengaja di undang Rion beberapa hari lalu untuk memberiku dan Rion nasehat mengenai pernikahan.


"Ayah..." Aku menangis dalam pelukan ayah. Kami berpisah sepuluh tahunan. Dan ayah sekarang sudah punya keluarga barunya.


"Bahagia selalu, Zra. Maaf tak pernah ada di sampingmu."


"Kehadiran ayah saat ini sudah sangat berarti untuk Ezra."


Aku menyalami ibu tiriku. Dia baik padaku, karena mungkin dia tidak punya anak.


"Selamat Ezra, jadilah kepala keluarga yang bertanggung jawab, nak."


"Insya Allah, bu."


"Zra, Mama titip Zoya kami. Kasayangan kami." Mama Lintang sudah tidak sanggup meneruskan perkataannya.


Mungkin mama Lintang khawatir karena mereka tidak begitu mengenal aku dan keluargaku.


Tapi kalau Bintang, dia percaya pada Rion dan keluarganya yang notabene adalah sahabat mereka berpuluh tahun lalu.


****


Lintang


Bahuku bergetar naik turun menyaksikan papa Darma menikahkan putri kandungku, Bintang.

__ADS_1


Gadis yang hadir dalam ikatan pernikahan, hadir dalam hubungan yang halal. Tapi dia tidak beruntung karena kehilangan sosok ayah yang seharusnya saat ini menjabat tangan calon suaminya. Memindahkan tanggung jawab dari orang tua ke pria pilihannya.


Mama Citra terus menerus menyeka air matanya dengan Bunga yang setia merangkulnya. Mama pasti sangat sedih dan semja pasti sangat sedih.


Dan dunia terasa runtuh menimpaku saat Ezra harus berbesar hati menjabat tangan wali hakim dengan menyebut nama Zoya dengan binti Kharumi Bramantyo.


Inilah jika kita tidak berhati-hati dalam menjalin hubungan. Kesalahan dan dosa Zina yang menghadirkan anak justru berdampak pada anak itu sendiri.


Ya, Tidak dinasabkan pada ayahnya. Dan itu artinya tidak bisa menikah dengan ayah kandungnya sebagai wali nikah meskipun sang ayah masih hidup dan telah menikah dengan ibunya.


Dan saat seperti ini, sebuah kesalahan masa lalu kembali terbongkar. Tapi Zoya sangat kuat. Dia gadis kesayangan kami.


Saat kami semua sepakat tidak menyebutkan binti setelah nama Zoya demi membuatnya tak berkecil hati. Justru Zoya yang maju dan ingin tetap menyebut nama Arum dalam kalimat Ijab qabulnya.


"Zoya ingin nama mama tetap disebut. Zoya ingin semua orang tahu bahwa Zoya gak pernah menyesal telah dilahirkan dari rahim mama Arum."


"Dan Zoya ingin semua orang tahu, bahwa Zoya punya mama dan papa hebat. Yang menerima Zoya meski Zoya adalah luka." Aku dan mas Akhtar memeluknya.


*Terbuat dari apa hatimu, nak. Mama tahu hatimu pernah remuk berkali-kali. Tapi kamu tetap tegak berdiri.


Semoga Ezra bisa menjadi pendamping dan melindungmu, nak. Doa mama selalu mengiringi langkah kaki Zoya*.


***


Bintang


"Zoy, aku gugup."


"Sama, Bi." Bisik Zoya saat aku memilih menunggu di kamar yang sama dengan Zoya. Kami masih didampingi oleh uti dan nenek Riana.


"Gimana Rion ya, Zoy." Aku menautkan jemariku sangking gugupnya. "Semoga Rion gak pipis di celana, Zoy."


Zoya tertawa pelan. "Yang ku takutkan Rion malah ngelawak, Bi."


"Aku lebih takut Ezra teriak Enzoy your kebab guys. Selamat menikmati."


"Gak gitu juga, Bi."


"Kalian berdoa nak."


"Tenangkan hati dan hilangkan kegugupan dengan berdoa. Bukan saling bercanda begini." Uti dan nenek menatap kami.


"Berdoa semoga calon suami kalian lancar saat mengucap kalimat qabul. Dan pernikahan kalian sah."


"Kalian mau disini terus? Gak pengen kebawah tanda tangan buku nikah sama terima mahar?"


"Ya mau nek."


"Makanya berdoa."


Dan suara seorang pria mulai terdengar dari pengeras suara. "Acara sudah mau di mulai."


Aku dan Zoya menegang.


Dan semua berlalu dengan cepat. Satu tarikan nafas Rion kini menjadikan ku sah sebagai istrinya. Begitu juga Zoya.


Kami turun ke bawah.


Suamiku. Ganteng banget. Sekilas aku melihat wajah Rion yang tampak fresh seperti baru saja didaulat sebagai pemenang undian 1M.


Semua proses kami lewati. Terasa menyenangkan. Seperti beban terangkat begitu saja.


Mencium tangan Rion untuk pertama kalinya. Aiisshh... ini baru tangan Bi. Sudah halal tapi masih saja mendebarkan.

__ADS_1


Bersalaman pada semua hadirin, sesi foto, makan makan, semua terlewati begitu saja. Hingga sebelum sholat Dzuhur aku dan Zoya akan kembali ke kamar untuk membersihkan riasan. Karena hanya tinggal keluarga inti saja yang tersisa di rumah.


Rion dan Ezra bahkan sudah melepas jas mereka sejak tadi.


Apalagi aku dan Zoya yang harus menahan gerah karena hijab berlayer-layer yang di pasang di kepala kami.


"Ezra sama Rion gak ikut naik?" tanya papi Ray. Saat aku dan Zoya menaiki anak tangga. Papi? terasa kelu dilidahku.


Nah, mulai nih sesi goda menggoda. Aku dan Zoya berhenti di anak tangga ke empat.


Rion dan Ezra membuang muka menahan malu.


"Nanti aja pi. Disini masih rame."


"Iya om. Mereka juga mau ganti baju dulu."


"Laah. Memangnya kalian mau apa ke atas?" Tanya papa.


"Pake alasan masih rame sama masih mau ganti baju." lanjut papa.


"Ya, ya... gak tau." Rion gugup. Aku menahan senyumku.


"Kedua anak papa harus tetap utuh sampai resepsi. Kalau sampai mereka kelelahan dan gak bisa jalan. Habis kalian dua."


"Hahahah." Ayah Satya dan papi Ray tertawa. "Dasar papa posesif."


"Tau, kayak gak pernah muda aja."


Papa diam saja sambil menahan tawanya. Aku tahu dia hanya becanda.


"Rion, Ezra." Ayah Satya menatap keduanya.


Aku dan Zoya sampai menunggu kelanjutan ucapan ayah Satya karena terlihat sepertinya ia akan menyampaikan hal penting.


"Kalian boleh naik nanti setelah mereka bersih-bersih kok. Istirahat. Kalian pasti lelah dan malam tadi pasti deg-degan dan sulit tidur."


Keduanya mengangguk.


"Tapi janji ya."


"Di atas nanti, jangan battle skidipapap."


"Rumah mertua kalian bisa roboh."


Gelak tawa semua orang membuat wajah Rion dan Ezra memerah karena malu.


Aku dan Zoya jengah. Akhirnya kami kembali menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar.


"Bi, kenapa keluarga kita isinya wiro sableng semua sih?"


"Tau Zoy. Itu om Langit belum ngomong loh."


"Nah iya. Kalau dia ngomong. Ah... taulah Bi."


Kami berpisah dan masuk ke kamar masing masing.


***


Note :


Akad nikah bisa dengan menyebut atau tidak menyebut binti. Nikahnya tetap sah. Karena yang terpenting adalah adanya pengantin pria, pengantin wanita, wali, ijab dan qabul serta dua saksi laki-laki yang memenuhi syarat seperti beragama islam, baligh dan sebagainya.


****

__ADS_1


Kalau Langit ngomong, apa yang akan ia ucapkan?


jejak plis 😁


__ADS_2