BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
79 Cacing


__ADS_3

Nath


Persiapan pernikahan kak Bi-Rion dan Kak Zoy-bang Ezra cukup membuatku kerepotan. Mama dan papa yang harusnya berangkat jam 5 sore mendadak memajukan keberangkatan mereka menjadi jam 3.


"Mama mau siap-siap disana. Ayo kalian ikut." Perintah mama padaku dan Nair yang masih setia menonton tv.


"Iya mama. Tapi ini masih jam 2 ma."


"Jam dua lebih 12 menit Nath." Mama keluar masuk kamar-ruang tamu demi mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa.


"Repot banget!" Sindirku.


"Tau nih si mama. Kayak mau pindahan aja." Nair ikut bicara.


"Koper itu isinya baju kalian berdua." Mama menunjuk satu koper besar.


"Ma, kita bukan bayi yang harus bawa baju ganti plus popoknya ma." Ucapku pada mama.


"Iya Nath, iya. Mama tahu." Mama kembali berjalan masuk kedalam kamar.


"Nah itu apa lagi, ma?" tanya Nair.


"Ini pouch make up."


"Itu?" Tunjukku pada koper yang lain.


"Itu pakaian mama sama ada setrika uap di dalamnya."


"Buat apa mama."


"Ya buat setrika pakaian kalian kalau kusut."


Aku dan Nair menghela nafas. Kenapa harus repot begini. Mengapa tidak sekalian pindahkan rumah ini ke lobby hotel saja.


"Astagfirullah. Lin, kamu mau berapa hari di hotel." Tanya papa yang baru saja masuk dari pintu depan.


"Kamu dari mana aja mas? Ini udah jam 2.17 loh."


"Cepat mandi." Aku tertawa melihat papa yang dimarahi mama.


"Masih lama jam 5 nya sayang."


Aku dan Nair menutup mulut kami menahan tawa. Kami segera berjalan menuju kamar untuk segera mandi.


"Kita berangkat jam 3, mas."


"Maju?"


"Ya Allah, mendadak banget Lin."


Aku masih mendengar mama dan papa berbicara.


Aku masuk ke kamar untuk segera mandi.


Jam 3 tepat kami sekeluarga berangkat. Uti dan kakung ternyata sudah berangkat bersama om Langit.


Kami mendapat 5 kamar untuk keluarga kami dan Rion. Sedangkan keluarga bang Ezra mendapat 2 kamar. Yaitu ayah kandungnya dan keluarga lampir. Ah, maksudku Tiara.


Kami tiba di kamar kami. Huuh! Jam 4 juga belum. Masih ada 3 jam lagi.


Aku mengisi waktu dengan bermain game. Lumayan lama dan aku mulai bosan.


Drrrt... Drrttt...


Ponselku bergetar.


Bang Ezra?


"Hallo bang?"


"Kamu sudah di hotel Nath?"


"Udah bang."


"Bisa minta tolong. Jemput ke bawah dong. Orang tua abang sama keluarga Tiara."


"Bang, kok aku?"


"Iya. Nair gak angkat telpon abang."


Ck! Anak itu molor setelah sholat Asar.


"Hallo. Bisa kan Nath?"


"Tolong ya."


"Iya bang. Iya." Aku segera berjalan keluar kamar.


"Kemana Nath?" tanya papa yang baru masuk kamar. Papa dan mama tadi sedang ke kamar kak Bi dan kak Zoy.


"Ke bawah pa. Jemput keluarga bang Ezra."


"Ya udah hati-hati."


Aku turun ke lobby dan melihat kanan kiri namun tak ku temukan mereka.


Aku menghubungi bang Ezra.


"Bang, kok gak ada?"


"Mereka naik mobil abang Nath. Mungkin turun di parkiran. Coba tunggu dulu." Aku melihat beberapa orang berjalan mendekati lobby hotel.


"Udah bang. Udah kelihatan ini."


Aku mendekat kearah mereka. "Selamat sore om." Aku menyalami ayah bang Ezra dan semua orang kecuali gadis yang memasang wajah datarnya itu.


"Ayo, om. Ikut saya."


"Ezra yang suruh kamu datang?"


"Iya om."


"Anak itu. Dia pikir kami semua anak kecil." Ayah bang Ezra tertawa pelan.


"Saya cuma menjalankan perintah abang ipar, om."

__ADS_1


"Akur-akur ya sama Ezra." Ayah bang Ezra menepuk bahuku. "Ezra suka usil kadang-kadang."


"Gak kok om. Kakak saya udah bisa jinakin." Kami tertawa bersama.


"Kesini om." Kami semua masuk kedalam lift. Mereka masuk lebih dulu. Aku dan Tiara masuk paling akhir.


Kami keluar di lantai 6. Dan ballroom dimana resepsi akan berlangsung terletak di lantai 7.


Papa langsung memberikan cardlock untuk membuka pintu kamar untuk dua keluarga ini. Kebetulan Kamar mereka di depan kamar kami.


"Terima kasih, nak."


"Nath om. Panggil Nath aja."


Mereka semua masuk kecuali Tiara yang masih di luar.


"Masuk sana!" Ucapku padanya yang sedari tadi tak mengucapkan satu kata pun.


"Terima kasih." Dia tersenyum lalu masuk kedalam.


Astaga? Dia kenapa sih? Kenapa aneh gitu? Perasaan pas akad nikah kemarin dia biasa aja. Ya walaupun kami tidak saling sapa. Tiara justru lebih banyak berbincang dengan bunda Una dan tante Sora.


Aku menghempaskan tubuhku diatas ranjang. "Caraka belum datang, Nair?"


"Belum."


"Shaka?"


"Udah."


"Udah?" Tanyaku heran karena tidak ada batang hidungnya.


"Kok tahu? Dia kesini?"


"Gak Nath. Cek story-nya deh."


Aku membuka aplikasi warna hijau. Dan terlihat Shaka sedang di rooftop.


"Ngapain dia di sana Nair?"


"Tau!" Nair malah memejamkan matanya.


Drrt... Drrtt...


Ponselku bergetar, Caraka yang menelpon.


"Ya, Cak!"


"Aku langsung ke rooftop sama Shaka."


"Aku nyusul."


Aku keluar kamar.


"Nath?" Suara yang ku kenal.


"Tante Sora." Aku berlari kearahnya. Lalu menyalaminya. Om Abi juga.


"Nenek dimana tan?"


"Loh, aku kok gak tau." Aku memang belum menanyakan pada papa apakah nenek dan kakek sudah tiba.


"Di kamar ini. Nih tante mau masuk. Papa kamu di dalam." Pantesan papa gak ada di kamar tadi.


Pintu terbuka setelah tante Sora menekan bel.


"Mau masuk Nath?" Tanya tante Sora


"Mau nyusul Caraka dulu tan."


"Kakek!" Aku menyapa kakek Rendra dengan mengangkat sebelah tanganku.


"Hei anak muda!" Balasnya dengan juga mengangkat sebelah tangan.


"Pa, jangan dibiasakan kurang ajar begitu."


"Nath yang sopan sedikit." Papa menegurku.


"Papa jangan terlalu lurus, pa. Lihat kakek tuh, awet muda." Aku dan kakek saling melempar senyum.


Kakek sering bercerita bagaimana saat muda dulu, papa suka sekali menggoda kakek. Mereka suka bertengkar soal hal sepele dan ujung-ujungnya tertawa bersama.


"Nek." Aku mengangguk menyapa nenekku yang masih sangat cantik. Dia nenekku! Jadi jangan protes!


Nenek membalasnya dengan tersenyum lebar membuat kerutan di sekitar matanya makin terlihat jelas.


"Kamu bilang papa tua Nath."


"Heheheh... terima kenyataan dong pa." Aku tertawa sambil berlalu pergi.


"Anak kurang asem."


"Kayak kamu dulu, Tar." Aku masih bisa mendengar kakek mengatakan itu.


Ku berjalan menuju lift. Aku masuk kedalamnya dan saat aku akan menekan angka tertinggi. Pintu lift kembali terbuka. Dan seorang gadis dengan jeans dan sweaternya berdiri di depan pintu.


Kami sama sama mematung. Dia sepertinya juga terkejut melihatku yang berada di dalam lift.


"Kenapa melotot. Jadi masuk gak?"


Dengan wajah cemberutnya ia masuk kedalam.


"Mau kemana?"


"Rooftop." Jawabnya acuh.


Tadi, sebelum masuk ke kamar, dia senyum. Sekarang dia jutek. Nih anak kurang sajen atau gimana?


Rooftop?


"Ngapain?"


"Diajak Shaka, tapi dia udah duluan." jawabnya acuh.


"Cewek kok nyamperin cowok." Aku menadarkan tubuhku di dinding belakang lift.

__ADS_1


Aku bisa melihat bayangan gadis itu dari dinding lift sebelah kanan. Dia menatap lurus kedepan.


"Gengsi dong!"


Dia berbalik dan menatapku. Pintu lift terbuka dan serombongan orang masuk kedalam. Membuat tubuhnya perlahan terdorong kearahku.


Dan lift ini sangat penuh. Aku hanya takut kapasitasnya berlebihan lalu macet ditengah jalan. Ah, semoga jangan. Tidak ku bayangkan aku harus berlama-lama bersama gadis di depanku.


Akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami.


"Hai... berdua?" Tanya Caraka pada kami.


"Kebetulan bang." Sahut Tiara tanpa ku duga.


Abang? Dia seakrab apa sama Caraka?


"Kebetulan yang manis ya, Nath." Sindir Shaka.


"Ck!" Aku berdecak. Aku duduk di sofa dipinggir dinding kaca yang menjadi pembatas.


Tiara ikut bergabung. Dia duduk di sebelah Caraka.


"Mau pesan apa, Ra?"


"Ngopi boleh Ka."


"Kamu Nath?"


"Samain aja." Mataku harus tetap jreng demi resepsi kedua kakakku.


"Lagi, Ra? Ku traktir nih." Ucap Caraka pada Tiara.


"Jangan sekarang bang. Lain kali aja. Aku punya tempat makan yang sudah lama ku incar loh."


"Jadi ini aku doang yang traktir?" Tanya Shaka.


Tiara mengangguk.


Aku bingung tentang topik pembicaraan mereka. Dan sejak kapan mereka seakrab ini?


"Kenapa Nath? Heran kami seakrab ini?" tanya Caraka yang seolah tau isi kepalaku.


"Tiara jago banget nge-game. Kita berdua sampai kalah."


"Jadi kalian traktir dia karena kalah nge-game?" Tanyaku.


Dia jago nge-game. Sebenarnya dia ini gadis seperti apa? Kadang tampak lugu, kadang pendiam, kadang tampak manis, kadang cerewet, kadang terlihat bod*h dan lebih sering dia menjengkelkan.


Tiara tersenyum miring di depanku.


Dih, sombong banget tuh muka.


"Lawan aku!" Biar gak songong nih anak. Aku harus menang dari dia.


"Ck! Gak minat bang!" Ucapnya malas. Tiara malah menyandarkan kepalanya di sofa.


"Kalau kamu menang, bebas minta apa aja?"


Tiara nampak berfikir. Sulit sekali dia mengatakan iya. Apa dia mulai berfikir aku lawan yang berat?


"Ayo Ra. Lawan dia!" Bagus Ka, Cak. Komporin terus.


"Apa aja?" tanyanya.


"Iya." Aku optimis menang.


"Game apa?" lanjutku.


"Cacing." Sahutnya cepat.


"Astaga!" Aku kaget. Itu game anak kecil, Ra. Caraka dan Shaka tertawa melihat reaksiku.


Kopi datang dan kami segera memulai. Karena waktu kami tidak banyak. Game ini hanya berlangsung setengah jam. Dan yang selamat dengan skor tertinggi adalah pemenangnya.


"Ready?"


"Go!" Aba-aba Caraka seperti lomba balapan motor saja.


Menit pertama, suara Caraka dan Shaka lebih mendominasi.


"Itu, Ra."


"Nah itu cacing mati. Makan. Makan."


Ck! Aku gak punya pendukung. But its okey. Rusuhin saja dia. Dan jangan pedulikan aku.


"Lima menit lagi."


Huuh! Tanganku sudah pegal dari tadi.


"Dua menit." Aku tersenyum karena skorku lebih besar darinya.


"Relaks Tiara. Menang kalah biasa." Shaka menyemangatinya.


"Satu menit." Ucap Caraka.


"Kalau kalah tetap bisa daftar jadi mantunya tante Bunga kan Ka?" Aku melihat Tiara menatap Shaka sekilas.


"Bisa dong!" Jawab Shaka semangat.


"Uhukkk.... Uhukkk.." Aku sampai tersedak salivaku sendiri. Efek kelamaan diam atau terlalu mengagetkan obrolan keduanya.


Aku meraih gelas dan...


"Aaagghhhh!" Teriakku keras.


"Yeaaaayyy!" Teriak mereka bertiga.


Cacingku menabrak cacing lain. Fix kalah.


****


Habis ini kita keresepsi ya.


Aku munculin part ini karena kangen Nath 😊

__ADS_1


__ADS_2