BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
104 Dia milikku


__ADS_3

Nath


Aku tiba di rumah setelah mengantarkan Tiara ke rumah baca. Hubunganku dan dia sangat aneh, kadang bertengkar, kadang saling ejek dan kadang juga saling diam.


Entah sejak kapan itu terjadi. Yang pasti di pertemuan pertama kami di rumah baca, dia terlihat anggun, kalem dan smart. Tapi makin kesini, ah kalian tau sendirilah dia seperti apa. Menyebalkan, bukan?


Aku mengucap salam saat masuk ke dalam rumah. Pas sekali, Nair dan mama ada di ruang keluarga. Mama sedang duduk di depan laptop dan Nair sedang tiduran menonton film kartun.


Aku akan bertanya pada Nair. Dia mengambil jurusan kedokteran, jadi pasti taulah jawabannya.


"Nair!" Aku duduk di karpet di sebelah Nair yang tiduran.


"Heem."


"Bantu aku, Nair." Aku menariknya agar ia bangun dan duduk menghadapku.


"Nair, plis! Ini menyangkut masa depanku, Nair!" Aku menatap matanya dan Nair sepertinya belum tertarik mendengarkanku.


"Masa depan apa Nath?" Suara mama membuat aku menatapnya yang masih fokus pada layar laptonya.


"Apa Nath?" Tanya Nair balik dengan mata yang tak bergeser dari layar TV.


"Laki-laki gak bisa hamil kan Nair" tanyaku cepat. "Minum susu ibu hamil, gak akan buat kita hamil kan?" lanjutku.


"Haaaa?" Nair terkejut dengan pertanyaanku.


"Maksudnya?" itu suara mama.


"Iya, aku tadi gak sengaja minum susunya kak Zoy ma."


Sontak mama dan Nair terbahak sementara aku cemberut merasa malu ditertawakan.


"Kok bisa?" tanya mama setelah berhenti tertawa.


"Gak sengaja, ma."


"Nath, kamu laki-laki. Gak akan hamil meski kamu ditiduri 1000 gadis." Nair masih menahan tawanya. Apaan 1000 gadis, emangnya aku milik umum.


"Malah gadis-gadis itu yang bisa saja hamil." Lanjut Nair.


"Yakin, kan Nair?"


Nair mengangguk.


Huuufft! Aku menghembuskan nafas lega. Cih! mana mungkin aku hamil. Akukan lelaki sejati. Lelaki yang tidak belok sedikitpun. Meski tidak pernah pacaran, bukan berarti tidak normal kan?


Yang suka banyak, gak perlu khawatir. Tinggal tunjuk dan gadis itu akan bersorak kegirangan. Hehehe. Percaya diri sekali aku.


***


Bintang


Hari terus berlalu. Hari ini aku berada diluar gerbang kampus menunggu jemputan. Entah siapa yang Rion perintahkan menjemputku. Rion sedang di gedung Orbit sejak 3 jam lalu karena memang jadwalnya yang lebih sedikit dibanding jadwalku.


Sebuah minicooper biru berhenti di depanku, tidak di depan sih, agak kelewatan sedikit. Seorang pria tampan nan rupawan keluar dari dalamnya. Meski dengan celana pendek dan kaos oblong produk unggulan Orbit, dia tetap terlihat tampan.


"Hai sayang." Sapanya, membuat seluruh mahasiswa yang mendengar menoleh kearahnya.


Aku tersenyum lebar, tak peduli orang-orang berfikir apa. Aku wanita bersuami dan di panggil sayang oleh pria lain. Pria yang selalu memelukku dan mengatakan, Thankyou paket datanya kak.


"Hai Nath. Dapat perintah khusus?"

__ADS_1


"Iya dong. Ayo." Nath meraih tanganku dan hendak membawaku masuk ke dalam mobil.


Saat Nath membukakan pintu untukku. Sebuah suara menyebalkan terdengar di indera pendengaranku. "Selingkuhan, Bu."


Aku mencari sumber suara dan dia gadis yang sama. Gadis di parkiran dan di cafe. Gadis yang mendapatkan peringatan keras dari suamiku.


Astagfirullah! Kenapa dia seperti bayanganku Dimana-mana nongol.


"Siapa kak?" bisik Nath.


"Penggemar Rion." balasku dengan berbisik.


Gadis itu mengarahkan kamera kearahku dan Nath, sejak tadi. "Hei, kalian tau gak? Ada dosen yang sedang selingkuh nih."


Oh, dia live? Atau cuma sekedar foto dan rekam?


Ucapannya memancing perhatian orang-orang di sekitar. Aku tersenyum miring. Membalas dengan anggun, itu yang sedang ku fikirkan.


"Kak!" bisik Nath.


"Buka pintu mobilnya Nath." perintahku pelan. Nath membukakan pintu mobil dan aku masuk ke dalam.


"Dia kabur. Ketahuan banget ya, lagi selingkuhnya." Ck! Mentang-mentang backingannya kuat, dia suka-sukanya saja berbicara.


Aku sudah mencari tahu siapa dia. Dialah si trouble maker di kampus ini. Cantik, manarik dan berbody nyaris sempurna, terkenal di kampus, bukannya dimanfaatkan dengan baik. Dia malah sibuk membuat masalah.


Mungkin ada sesuatu dibalik itu semua. Apakah di masa kecilnya, dia kurang didikan, atau mungkin hingga sekarang dia kurang perhatian orang tuanya.


Mobil melaju meninggalkan lokasi itu. Pasti mereka semua penasaran dengan yang terlihat barusan. Ah, apa peduliku. Toh Nath juga bukan selingkuhanku.


Esoknya...


"Kenapa mereka, kak?"


Kami terus melangkah, "gak tau. Mungkin masalah kemarin, kali." Aku memang menceritakan padanya, dan dia hanya terbahak. "Gadis itu selalu gegabah, kak. Berkata tanpa mencari tau kebenarannya. Kemarin menuduh Chia selingkuhanku, dan sekarang Nath."


"Istri lo selingkuh, Bro!" Ucapan pria yang baru saja kami lewati berhasil membuat Rion berbalik kebelakang.


"Apa lo lihat-lihat!" bentak salah satu dari beberapa mahasiswa itu. Rion tersenyum miring.


"Gak terima istri lo dibilang selingkuh?"


"Terima kenyataan, Bro." Dan mereka tertawa keras.


Bisik-bisik terus terdengar ditelingaku. Aku meraih tangannya, menggeleng pelan dan kami kembali melangkah.


Hingga siangnya, aku di panggil keruangan pimpinan tertinggi di kampus ini. Meminta keteranga valid dari mulutku sendiri.


"Kabar ini sudah menyebar, dan nama baik kampus akan ikut terbawa, Bu."


Aku akhirnya menjelaskan, Rion dan Nath juga di minta untuk menghadap sebagai bukti bahwa ucapanku adalah benar.


Hari berikutnya...


Di lapangan luas ini, aku dengan mikrofan di tanganku mau tak mau mengkonfirmasi bahwa berita itu tidak benar.


Nath tidak ingin hadir, tapi ku paksa. Alasannya tidak masuk akal. Dia takut terkenal di kampus ini. Hahaha... Dia fikir dia siapa?


"Disini saya akan meluruskan isu yang beredar. Benar adanya saya sudah menikah, dengan salah satu mahasiswa di kampus ini." Itu penjelasan pertama yang keluar dari mulutku. Perjalanan cinta kami tentu tidak ku jelaskan, bagaimana kami bertemu dan akhirnya menikah. Itu tidak penting dan bukan konsumsi publik.


"Kami menikah 3 bulan lalu. Dengan cinta dan juga restu." lanjutku.

__ADS_1


"Dan pria yang kalian tuduhkan sebagai selingkuhanku, pria yang sekarang ada di sebelah kananku. Dia adalah salah satu adikku."


"Kami lahir dari rahim yang sama, dan tumbuh bersama."


"Saya rasa ini sudah cukup untuk mematahkan isu yang beredar. Demi menjaga nama baik universitas, nama baik saya dan keluarga, saya mohon hal ini tidak lagi diperpanjang."


Setelah bubar, aku menemui si trouble maker. Kami berbicara di bawah pohon, di taman kampus.


"Berhenti mengejar, Rion." Ucapku saat kami berdiri berhadapan. Wajah cantiknya masih menatapku tanpa ekspresi. Sesekali ia membenahi, menyelipkan helaian rambut yang di terpa angin ke belakang telinganya.


Aku bukan tidak tahu, seisi kampus menatapnya tajam, tadi. Mungkin kedepannya dia akan di juluki sebagai penyebar berita hoax atau mungkin ratu gosip. Entahlah.


"Dia suamiku dan akan tetap begitu."


Aku menghela nafas. "Kamu cantik, menarik, terkenal, kaya dan punya segalanya."


"Terlalu berharga dan terlalu mahal jika harus disandingkan dengan image pelakor."


Gadis itu menatapku dengan mata membulat. Kenapa? Hatimu tertohok?


"Rion, dia tidak sesempurna yang kamu lihat. Dia penuh kekurangan. Aku saja yang sudah hampir 20 tahun ada dalam hidupnya, terkadang sulit menebak dan memahami tingkahnya."


"Du... dua puluh tahun?" tanyanya tergagap.


Aku mengangguk. "Anggap saja kami sudah di jodohkan sejak lahir."


"Percayalah, jika kamu terus maju, hanya kesakitan yang kamu rasa."


"Bahkan saat kamu benar-benar berhasil merebutnya, seluruh keluarga, teman dan saudaranya akan membencimu, memakimu dan mengucilkan kalian."


"Jangan melangkah maju jika itu hanya akan membawamu terjun ke jurang."


"Berhenti sampai disini, dan fikirkan ucapanku barusan."


Aku berbalik dan meninggalkannya yang tak berkutik sedikitpun.


"Kak, tunggu." Aku berhenti saat mendengar suaranya.


"Maaf telah mengganggu hidup kalian." ucapnya dengan suara bergetar


Aku melihat kebelakang. Aku tersenyum dan mengangguk. "Sudah ku maafkan."


Aku kembali melangkah. "Terima kasih kak." Aku masih mendengar suaranya meski sangat pelan.


Ini lah hidup, saat kita merasa pasangan kita tidak sempurna, justru ada pihak lain yang melihatnya sebagai sosok paling sempurna.


Saat kita mengeluh karena perlakuannya, justru orang lain ingin diperlakukan seperti itu.


Semoga masalah ini selesai sampai disini.


"Sudah sayang." Ucap Rion mengulurkan tangan untuk ku genggam.


Aku mengangguk, dan tak ku duga Nath menggenggam tanganku yang satu lagi. "Ayo, little star."


"Heii, dia milikku Nath." protes Rion.


"Baru tiga bulan, Yon. Aku hampir 20 tahun memilikinya. Kamu lupa?" Sahut Nath langsung membungkam mulut suamiku.


****


Jejak kalian, kak 😊 harap di tinggal. Biar semangat 😘

__ADS_1


__ADS_2