
Zoya
"Masak apa nyonya." Peluk Ezra di perutku. Padahal saat ini aku tengah berkutat di dapur rumahnya. "Wanginya sampai ke kamar loh." Bisiknya di telingaku.
Pagi pertama aku di rumahnya. Sangat berbeda dengan rumah mama yang lumayan luas. Rumah ini hanya satu lantai dengan dua kamar tidur, ruang tamu, dapur dan kamar mandi yag terletak di dekat dapur.
Pagi ini aku sudah menyiapkan udang goreng tepung, telur dadar dan sosis sebagai topping nasi goreng yang akan kami santap untuk sarapan nanti.
Aku mencebikkan bibir. "Masa sih?" Aku mulai menumis bumbu untuk nasi goreng.
"Iya dong! Sempat mikir. Ini siapa yang di dapur yaa?" Ezra-Ezra, mau ngerayu aja kakunya minta ampun.
"Terus yang kamu lihat siapa?" tanyaku.
"Istri cantik bidadarinya Ezra Ganendra jelmaan putri raja yang mulia Zoya Khairumi Ganendra ibu bos cantik ahli cullinary art (tata boga) from Arumi Resto, restoran fenomenal membahasa seantero pulau jawa." Ucapnya dalam sekali tarikan nafas.
"Hahahaahah." Aku tergelak.
"Masih bisa nafas, sayang?" tanyaku sambil mengaduk sayur di wajan yang belum juga matang.
"Butuh nafas buatan kayaknya nih." Ezra menyandarkan pipinya di bahuku.
"Zra, coba duduk dulu." Aku memasukkan sepiring penuh nasi putih kedalam wajan.
"Gak mau." Ucapnya cepat.
"Aku mau aduk nasinya loh Zra." Aku menggerakkan bahuku beberapa kali agar Ezra menyingkirkan pipinya dari bahuku.
"Aku bantu."
"Gimana mau bantu kalau tangan kamu dua-duanya di perutku, Zra...!" Aku jengah melihat tingkahnya.
"Loh, ini caraku bantu kamu sayang."
Aku mengerutkan kening. Tapi tanganku terus bergerak mengaduk nasi di depanku.
"Kecapnya sayang." Perintahku. Ezra langsung menyambar sebotol kecap dan menuangnya di dalam wajan.
"Cukup!" Ucapku saat ku rasa kecap yang Ezra tuangkan sudah cukup.
"Aku berguna kan disini?"
"Banget sayang. Apa lagi kalau sambil pijet bahuku." Aku mengerakkan kedua bahu dan leherku. "Pegel nih."
Ezra menuruti keinginanku, kedua tanganya berada di bahuku dan bergerak memijat.
"Enak banget." Ucapku senang.
"Enak mana sama yang sebelum subuh tadi." Ck! Enakan yang tadi. Hahahah tapi aku masih waras untuk tidak mengakuinya secara terang terangan.
Aku mematikan kompor. Ezra mengambilkan satu piring saji. Aku mengambilnya dan langsung menuangkan nasi goreng ke atas piring.
"Segini cukup?"
"Buat untuk berdua, Zoy." Ezra sudah memegang satu sendok dan satu garpu di tangannya.
"Sepiring berdua?" tanyaku.
"Iya. Biar romantis." Ezra mencium pipiku sekilas lalu berjalan beberapa langkah untuk duduk di meja makan.
Aku menata topping di atasnya. Aku juga menambahkan potongan timun dan tomat.
Aku duduk di samping Ezra. Ezra bahkan sudah menuangkan dua gelas air putih hangat dan meletakkannya di atas meja. Kebiasaanku saat makan, yaitu lebih suka minum air putih, hangat atau dingin tidak masalah. Dan uniknya, Ezra juga menyukai hal yang sama.
Jika sarapannya roti, mau dibakar atau dimakan langsung, aku lebih suka susu atau jus buah. Itupun dengan susu soya, karena aku alergi susu sapi sejak bayi. Walaupun saat ini alergiku tak separah dulu, tapi aku tetap enggan mengkonsumsi susu sapi.
"Eehhhmmm..." Ezra sangat menikmati suapan pertama dariku. Dia mengunyah dengan sangat pelan dan penuh penghayatan. Padahal ini bukan pertama kalinya dia memakan masakanku.
"Enak banget." Dia mengacungkan dua jempolnya.
Aku menyuapkan kemulutku. Memang iya, benar-benar enak. Aku kembali menyuapi Ezra.
__ADS_1
"Udangnya sayang."
"Iya... iya..."
Suapan demi suapan bergantian masuk ke mulut kami. Dan kini piring itu bersih berkilau tanpa sebutir nasi pun.
Padahal hanya sepiring nasi goreng, tapi entah mengapa terasa nikmat. Kini aku tahu, bukan tentang makanannya, tapi dengan siapa kita menikmatinya.
Ezra membawa piring dan gelas ke wastafel. "Biar ku cuci Zra..."
"Aku aja Zoy. Udah biasa kok."
Baiklah, aku mulai membersihkan kompor dan meja yang terkena percikan minyak. Aku memberikan wajan untuk Ezra cuci.
Setelah selesai, aku mencuci pakaianku dengan mesin cuci yang Ezra punya.
"Detergennya di rak atas Zoy."
Aku melihat keatas dan letaknya lumayan tinggi.
"Zra, raknya bisa gak kalau dipendekin sedikit."
"Bisa. Nanti ya..." Dia langsung faham karena melihatku yang agak kesulitan mengambil botol detergen cair di rak.
Kami saling bahu membahu membereskan rumah. Aku mengepel, Ezra membilas dan menjemur pakaian. Ada ruang jemur di halaman belakang yang ukurannya tak terlalu luas. Aku duduk di kursi plastik di dekat ruang jemur. Melihat Ezra yang dengan cekatan menjemur pakaian.
"Ini dibuang aja Zoy." Ucapnya sambil tertawa saat menjemur C*D ku yang entah mengapa dirobeknya malam tadi.
Aku malu tapi aku sedikit kesal. "Mahal itu Zra..." keluhku.
"Berapaan sih?" tanyanya sambil melanjutkan menjemur.
Aku menggangkat bahu dan mencebikkan bibir. "Hadiah bunda Una."
"Selesai." Ucapnya dengan kembali membawa ember ke ruang cuci.
"Ayo sayang." Ajaknya.
Kamu duduk di ruang tv. Ezra meletakkan kepalanya di pangkuanku.
Bukan tidak ingin, tapi aku tidak bisa menginggalkan pekerjaanku terlalu lama, begitu juga Ezra.
"Kamu mau ya?"
"Kita harusnya bisa berangkat loh."
Aku menggeleng.
"Sayang, kenapa sih?"
"Gak apa-apa Zra."
Ezra diam dan menatap wajahku yang terlihat bimbang.
"Kita ke villa kamu. Mau?" tanyanya. "Disana dingin, kita bisa bergelung dalam selimut seharian. Malamnya kita bisa jalan-jalan."
"Zra, kalau cuma mau begitu, di rumah ini juga bisa."
"Kalau begitu, ayo!" Ezra bangun dari pangkuanku. Dan mematikan tv. Ezra langsung mengangkatku ke kamar.
"Zra, masih jam 9 pagi."
"Apa yang salah, Zoy."
Ezra menurunkan suhu Ac hingga kamar ini terasa sangat dingin.
"Kayak di villa ya, Zoy."
Aku tergelak. "Naikin suhunya Zra! Ini terlalu dingin." Aku menarik selimut hingga ke dadaku.
Ezra berbaring di sebelahku saat sudah mengatur suhu ruangan ini sesuai kebutuhan.
__ADS_1
"Zra, kita perlu belanja keperluan dapur loh." Ucapku padanya karena saat memasak tadi hampir semua bahan pangan habis. Di kulkas hanya ada udang, beberapa bitir telur, sosis dan daging beku.
"Siang nanti ya. Kita makan siang di luar, sekalian ke gerai yang di mall. Aku mau kontrol kesana. Gak apa-apa kan, Zoy?"
"Gak apa-apa."
"Minggu depan aku harus ke Surabaya, Zra." Ucapku agak ragu. Memang ada jadwal kesana setiap dua bulan dan akan lebih sering jika diperlukan.
Ezra duduk bersandar di headboard. Lalu ia meraih tubuhku dan membuatku bersandar di tubuhnya.
"Minggu depan jadwal kamu datang bulan gak?" Tanyanya sambil mengelus perutku. Ezra memasukkan tangannya dengan menyibak bajuku. Kebetulan aku memakai stelan celana dan baju.
Aku menatap wajahnya. Otakku berfikir, aku datang bulan, sekitar 10 atau 11 hari sebelum akad. Hampir bersamaan dengan Bi. Berarti sekitar 2 minggu lagi jadwalku.
"Gak sih kayaknya. Karena jadwalku harusnya sekitar 2 minggu lagi Zra."
"Masih bisa sih."
"Maksudnya?" tanyaku.
"Aku ikut ya. Kita ke Bali." Ezra memelukku erat. "Kita buat dede di sana walaupun sudah lewat masa subur." Dia tertawa.
Masa subur? Aku coba menghitung. Siklus haidku biasanya 28 hari. Dan masa suburku ada di antara hari ke 12-14 setelah haid pertama.
Itu artinya, kemarin-kemarin kami melakukannya pada masa suburku.
Entah mengapa ada perasaan hangat di hatiku. Dan harapan itu muncul. Semoga Allah hadirkan buah cinta di dalam sini. Aku meletakkan telapak tanganku di punggung tangan Ezra yang masih terus mengelus perutku.
"Sayang? Kamu ngelamun." Ezra membuatku tersadar.
Aku menggeleng pelan. "Kamu mau kan kalau aku ikut?" tanyanya.
"Tentu sayang. Alina bisa kita suruh pulang lebih dulu." Ucapku kemudian.
"Zra, ayah kamu gak balik lagi ke rumah ini setelah dari hotel?"
"Enggak Zoy, ayah sama ibu langsung pulang ke Semarang setelah check out kemarin pagi." Jawabnya dengan raut wajah berubah sendu.
Dia sedih? Ya, aku memang melihat ada jarak yang sepertinya terbentang luas antara Ezra dan ayahnya. Apa karena mereka lama berpisah hingga hubungan mereka, cinta dan kekeluargaan tergerus oleh waktu?
"Kamu sedih, sayang?" tanyaku.
"Enggak. Aku cuma menyayangkan, ayah terus-terusan merasa bersalah karena pernah meninggalkanku. Sampai-sampai ayah tidak ingin tinggal disini. Dia malu melihatku tumbuh dan berdiri sendiri tanpa bantuannya."
"Zra..." Aku mengusap lengannya.
Ezra punya orang tua, tapi tidak berlimpah kasih sayang. Sedangkan aku tidak punya orang tua, tapi kasih sayang orang-orang di sekitarku sangat luar biasa.
"Berjanjilah..." Aku menggenggam kedua tangan Ezra.
"Kita akan ciptakan keluarga yang penuh kehangatan untuk anak-anak kita kelak." Mataku berembun.
"Kamu hidup dengan kekurangan dan aku hidup tanpa kesempurnaan. Aku tidak punya sayap untuk ku kepakan. Dan kamu punya sayap tapi patah."
"Tuhan mengatur hidup kita sedemikian rupa, kita sama-sama tak berdaya tapi dengan cara berbeda."
"Aku bersyukur hidup di antara mama dan papa. Dan kamu beruntung punya kekuatan yang luar biasa."
"Tangan ini, bahu ini, dan seluruh tubuh ini memang sudah di tempah untuk layak membawaku, Zra."
"Aku adalah beban yang harus turut kamu pikul, dengan segala kisah di belakangku."
"Aku memilihmu karena itu."
Ezra menyeka air mataku. "Percayalah sayang, dua orang lemah bisa bersama untuk saling menguatkan." Aku memeluknya.
"Selalu bahagia di sampingku, Zra. Tebus semua penderitaanmu dengan ikut tersenyum bersamaku."
"Aku ingin melihat baby EnZoy yang beruntung bisa disayangi kedua orang tuanya."
"Iya Zoy. Aku janji. Kita akan wujudkan semuanya. Aku ingin melihat binar cinta di mata anak-anak kita."
__ADS_1
"Cinta yang tidak kita dapatkan dulu."
Harus Zra, kita harus bangkit dan saling menguatkan agar anak-anak tak bernasip sama dengan kita.