
Akhtar
Semenjak mengetahui perasaan Bi terhadap Rion, Lintang menjadi uring-uringan. Bahkan setiap malam dia selalu bersembunyi di balik ketiakku sambil berkata, "apa kita keterlaluan memisahkan mereka, mas?"
Seperti malam-malam sebelumnya aku selalu menenangkan Lintang dengan mengelus kepalanya. "Sebagai orang tua kita ingin yang terbaik untuk Bintang, sayang."
"Bahkan Nath saja pasang badan demi melindungi Bi." Lanjutku.
"Tapi, kita terlalu ikut campur mas."
"Bagaimana jika mereka memang berjodoh? Bukankah kita cuma jadi penghalang untuk mereka, mas?" Lintang menatapku.
Aku teringat pembicaraan Lintang malam tadi. Hingga siang ini aku meminta Ray datang ke rumah.
"Ada apa Tar? Penting banget sampai nyuruh-nyuruh bos besar datang." Ucapnya saat baru mendaratkan tubuhnya di sofa.
Ray memang seperti itu. Bicara tanpa beban.
"Minum dulu, biar santai." Tak berselang lama, Lintang datang membawa dua cangkir teh.
"Duduk di sini sayang." Aku menepuk sofa di sebelahku. Lintang pun duduk di tempat yang ku tunjuk.
"Cih, disini cuma disuruh lihat kamu mesra-mesraan, Tar?" cibirnya.
"Kalau mau, sekalian ku tunjukin gaya produksi anak kembar. Mau?" tawarku padanya.
Ray memajukan bibirnya. "Udah tua Tar, jangan banyak tingkah. Tulang udah pada keropos juga." Dia senyum.
"Sebenarnya ada apa?" Dia mulai serius. Aku sudah hafal ekspresi wajahnya.
"Gini, Ray. Semenjak Bi pulang ke Jakarta, sepertinya dia dan Rion belum pernah bertemu." Ucapku.
Karena memang selama dua minggu ini Bi tak pernah keluar kemanapun sendirian. Dan Rion yang biasanya muncul minimal sekali seminggu, kali ini juga tak kelihatan batang hidungnya.
Semenjak kecelakaan Rion, hubungan kami mulai membaik. Nath dan Nair juga sudah mulai melembut. Tapi karena jadwal kuliah dan kondisi Rion yang kurang bebas bergerak, acara kumpul-kumpul mereka jadi tak seintens dulu.
Ray mengangguk, "memang belum, Tar."
"Rion mungkin belum siap."
"Lagi pula Rion sedang ada plan besar. Jadi mungkin dia mau fokus kesana dulu, karena biar bagaimana pun setiap hal yang berhubungan dengan Bi pasti akan lebih dominan di otaknya."
"Jadi, dia belum mau Bi mengambil alih semua isi kepalanya." Lanjut Ray.
Aku setuju, Ray benar. Rion memang pria seperti itu. Karena sudah terbukti dari kecelakaan yang terjadi setahun lalu.
Kecelakaan yang terjadi tepat di hari yang sama dengan perginya Bintang ke London. Kecelakaan yang terjadi karena Rion tak menemukan kami semua di rumah.
__ADS_1
Pasti Rion berfikir kami membawa Bintang untuk menjauh dari hidupnya. Kekanankan memang, tapi Rion yang sekarang jauh lebih dewasa.
"Kapan opening clothing linenya, Ray?" Tanyaku.
Ray mengangkat bahu. "Mesin sablonnya belum datang."
"Lagi pula, gedungnya masih harus direnovasi. Karyawan yang dibutuhkan juga masih belum cukup."
"Kalau sample kaos sudah deal sama Rara."
"Udah mulai produksi sih. Untuk sementara numpang di butik Rara."
"Sekalian training karyawan Rion."
Aku manggut-manggut. "Babak belur kantong kamu, Ray." Ejekku.
Ray mengangguk. "Demi anak Tar. Aku lihat semangatnya, sama kerja kerasnya ke sana ke sini demi membangun usahanya sendiri tuh kayak ingat perjuanganku buka R cafe dulu."
Usaha Ray membuka R Cafe mamang seperti bayi merangkak, butuh perjuangan. Karena dia yatim piatu. Sementara opanya yang kaya raya itu tak mau mendukung karena Ray menolak memimpin perusahaan opanya.
"Dia buka Rumah Baca aja Sania langsung melihat dia kayak lihat malaikat, Tar." Ucap Ray menggebu. "Sania gak percaya anaknya langsung punya plan A-Z sehari setelah kakinya bisa berjalan tanpa bantuan tongkat."
"Jadi Sania minta aku untuk dukung dia kemana pun arahnya asal itu hal positif."
Aku mengangguk. "Ray, malam nanti datang ke sini, bawa semua keluarga termasuk Rion."
Ray mengangguk. "Aku inginnya dari dulu, Tar."
"Kalau dari dulu masalah ini diselesaikan oleh mereka. Mungkin kecelakaan itu-" Rion tak melanjutkan ucapannya. Mungkin dia takut kami merasa tak enak hati.
"Sebenarnya salah Rion juga. Wajar Nath dan Nair pasang benteng setinggi itu." Lanjut Ray.
"Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Rion, Ray." Lintang ikut bicara.
"Seandainya tidak ada pihak-pihak yang membuat keadaan memanas, semua ini tidak akan terjadi, Ray." Ucap Lintang menenangkan Ray.
Lintang benar. Jika tidak ada pihak-pihak yang membuat keadaan semakin memanas, emosi Nath dan Nair tak akan tersulut.
"Belakangan ini aku sadar, kita terlalu ikut campur."
"Terutama kita, Mas." Lintang menatapku.
"Kita tidak ingin ikut campur saat mereka ingin bersama. Tapi kita terlalu ikut campur saat mereka ada masalah, hingga kita memisahkan mereka."
"Aku rasa ini gak adil mas."
Kamu benar Lin.
__ADS_1
"Dua minggu ini aku melihat Bi seperti tak menemukan kenyamanan di rumah kita, Mas."
"Itu yang ku rasa Ray. Karena Bi selalu ingin ikut siapa pun. Kadang denganku, kadang dengan papanya. Kadang juga dia ikut Zoya."
"Ini bukan semata-mata karena Bi belum bekerja."
"Tapi ada sesuatu yang hilang dari hidupnya."
"Dan menurutku itu adalah Rion."
Ray menatapku. Aku mengangguk. "Bawa Rion ke sini Ray."
"Beri kesempatan mereka bicara."
"Mau bersama atau tidak. Aku tidak akan ikut campur." Ucapku pada Ray.
"Selama Rion tidak menyentuhnya. Selama Rion tidak menyakitinya."
"Bi sudah dewasa, dia pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah, Mas." Ucap Lintang padaku.
Ray tertawa. "Ku rasa Rion gak akan berani lagi, Tar."
"Aku gak yakin, Ray."
"Dia putramu." Ucapku.
"Like father like son?" Tanyanya pura-pura bodoh.
"Iya, peranakan buaya!"
***
Ray
Aku setuju dengan ide mereka mempertemukan Rion dan Bi. Setahun menunda masalah, bukan membuat keadaan tenang. Malah membuat masalah kian menumpuk.
Bagaimana tidak? Jika Bi tidak pernah tahu Rion kecelakaan karena putus asa terhadapnya.
Jika Bi tidak tahu bahwa Rion tidak bisa berjalan selama setahun.
Sore ini saat aku pulang dan tak mendapati Rion di rumah, aku langsung mengatakan niat Akhtar pada Sania.
Sania langsung setuju. "Akhirnya, Ray."
"Semoga masalah mereka segera selesai." Lanjut Sania.
"Amin."
__ADS_1