BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
45 Pajak Jadian


__ADS_3

Zoya


"Kamu makin cantik Zoy, kalau tertawa lepas."


Oh God. Sebaris kalimat yang membuat darahku berdesir. Dan jantungku berdetak tak karuan.


Ezra bilang aku cantik?


Semua orang terdiam. Mungkin terlalu terkejut dengan ungkapan Ezra yang terkesan blak-blakan.


"Percuma aja di puji bang, masih di tolak juga." Ucapa Rion membuatku menoleh pada pria tengil itu.


Rion nyengir, menunjukkan gigi putihnya.


"Bukan ditolak Yon, cuma belum diterima."


"Masih nunggu kok." Ezra mengerling.


Sempurna.


Sosok pria yang tak pernah tampil dengan rambut gondrong. Dia pernah hidup di jalanan tapi percayalah, tak ada tato di tubuhnya.


Maksudku tubuh yang terlihat. Kalau yang di dalam ya aku belum tahu. Kan belum ku unboxing si Ezranya. Hehehehe.


Aku tahunya saat berenang bersama Alina dan Ezra yang hanya memakai boxer di atas lutut itu memiliki tubuh yang mulus tanpa tato.


Hanya beberapa bekas luka goresan di tangan dan punggung. Katanya sih kenangan hidup di jalanan.


Aku tahu sesulit apa hidupnya dulu dari apa yang dia ceritakan. Dia harus menerobos semak belukar demi lari dari kejaran Satpol PP. Atau dia harus menerobos tiap perkampungan demi menghindar dari para preman.


"Bang, masih berharap banget?" Tanya Rion yang menopang dagu.


Ezra mengangguk. "Se-ngarep kamu untuk di terima balik sama Bi." Ucap Ezra membuat Rion salah tingkah.


Aku mengulum senyum. Rion memang selalu berbagi cerita padaku dan Ezra. Itulah sebabnya saat di London kemarin aku pernah menyuruh Bintang untuk menemui Rion.


Karena sedikit banyak aku mengerti perasaan pria itu. Aku merasa Bi beruntung dicintai sedalam itu oleh Rion.


Selepas kecelakaannya, Rion banyak bergaul dengan Ezra, mungkin karena mereka senasip.


Aku dan Ezra sebenarnya tidak benar-benar berpisah. Kami beberapa kali bertemu terlebih saat Rion yang meminta.


Dan kemarin saat tanpa sengaja kami bertemu di mall ini dan Alina yang kurang ajar malah menitipkanku pada Ezra karena berkas yang harusnya ia bawa malah tertinggal di Arumi Resto.


"Nitip bentar, Zra."


"Berkasku tertinggal di kantor Resto."


"Eh, Al..." Teriakanku tak lagi di gubris Alina karena gadis itu sudah melesat jauh di depan.


Akhirnya aku dan Ezra duduk di salah satu kursi di food court.


Kami saling diam karena tidak tahu harus mengobrol apa jika sedang berdua begini.


"Perasaanku masih sama Zoy." Itu yang pertama kali terucap di bibirnya.


"Rion sudah diterima Zoy, lalu aku kapan?"


"Apa aku harus menunggu lebih lama lagi?" Tanyanya padaku.


Aku tersenyum menatapnya.


"Bersiap saja Zra. Karena aku akan memintamu datang disaat yang tepat." Ucapku dan aku pergi meninggalkannya.


"Cie... cie... yang di bilang cantik, ngelamunnya gak kelar-kelar." Ejekan Bintang membuatku tersadar Ezra tak ada lagi di depanku.


"Iiissshh! Ganggu orang lagi nge-halu aja." Aku cemberut.


"Pasti yang jorok-jorok." Ucap Bi sok yakin.


"Eh, enggak ya Bi." Aku membela diri.


"Bilang iya aja kak. Gak kita laporin ke mama kok."


"Iya kak, ngaku aja." Rion malah ikut menyudutkanku.


"Tiara, belain kakak dong." Aku mencari dukungan.


Tiara malah tersenyum, "Tetap kalah kak. Dua lawan tiga."


"Butuh bang Ezra biar seri." Tiara tertawa kecil di ujung kalimatnya.

__ADS_1


Sontak membuat mereka semua tertawa. Ya, aku kurang dukungan.


"Minuman datang!" Ucap Ezra dengan nampan di tangannya.


Oh, thanks God telah mengirimkan pahlawanku.


"Pilih aja sendiri ya." Ucapnya pada kami.


Aku langsung menyambar segelas jus jeruk. Meminumnya sedikit lalu mengernyit. Aseem!


Nath tertawa. "Asem yee?"


"Se-asem hidup bang Ezra gara-gara kakak." Nath terbahak.


Semua orang tertawa termasuk Tiara.


"Ngomong-ngomong, Nair kemana? Kok gak ikut?" Tanya Ezra.


Aku dan Bi mengangkat bahu.


"Nair sedang memantaskan diri, bang!" Perkataan Nath memaksa kami menatapnya.


"Maksudnya?" Tanya Bi.


"Kakak ingat dulu waktu kecil ada yang namanya Naira kan?"


"Yang pernah ku bilang kembaran Nair."


Aku dan Bi mencoba mengingat dan akhirnya kami ingat. Naira, gadis kecil yang selalu Nair bela. Terlebih jika Nath mengganggunya.


Kami mengangguk. "Dulu pas SD kami satu sekolah. Pas SMP kami pisah, karena Naira masuk pesantren dan sekarang keduanya satu universitas."


Aku dan Bi menatap Nath tak percaya.


"Naira sekarang makin cantik dengan hijab syar'inya, kak."


"Akhlak dan ilmu agamanya juga gak diragukan lagi."


"Nair sudah berusaha mendekat dan mereka kembali berteman."


"Tapi Nair mundur selangkah. Dia berusaha memperdalam ilmu agamanya. Demi bisa maju selangkah berjalan di samping gadis itu kak."


"Itu alasannya kenapa dia lebih sering sholat magrib di masjid?" Tanya Bi.


Aku dan Bi mengangguk. Nair, semoga jalanmu mulus.


***


Malam ini kami berkeliling kota. Formasi tetap. Hanya ada tambahan Ezra di kursi paling belakang.


"Nath, udah gak jomblo lagi kan?" Tanyaku pada Nath. Adalah ide Rion membawa Ezra bersama kami.


"Ck..." Nath berdecak. "Mending jomblo seumur hidup kak. Dari pada dapat pasangan tapi pedang juga." Ucapnya kesal.


"Rion menang banyak nih. Nempel terus sama Bi." Giliran Ezra menyerang Rion.


"Gimana mau nempel bang. Cctvnya banyak." Ucapan Rion membuat Bi tertawa di kursi depan.


"Tapi lumayanlah bisa lirik-lirik."


"Abang lebih lumayan bang. Lihat kedepan langsung kelihatan masa depan." Rion kembali berkelakar.


"Masa depan, tapi cuma hijabnya Yon." Balas Ezra.


"Tapi lumayan, kan?"


"Iya deh dari pada gak." Kami semua tertawa mendengar jawaban pasrah Ezra.


"Nath, kamu lihat masa depan juga gak?" Aku kembali menggoda Nath. Aku masih ingin membalasnya.


"Tau ah." Ucapnya acuh. Kulihat ke belakang Nath malah memilih memejamkan mata.


"Belum berani menatap masa depan dia Zoy."


"Perjalanannya masih panjang." Lanjut Bi.


"Baguslah Bi."


"Seenggaknya kita duluan, Bi." Ucapku serius.


"Jiiiaaahh, kita dikodein bang." Teriak Rion pada Ezra.

__ADS_1


"Siapa duluan, Yon?" Tanya Ezra.


"Barengan!" Aku dan Bi menjawab kompak.


Seisi mobil terbahak.


"Bang, unboxingnya sekalian barengan gak?" Celetuk Rion.


"Rion?" Peringatan pertama dari Bi.


"Eheheheh..." Rion menunjukkan gigi rapinya.


"Nyetir yang bener!" Perintah Bi.


"Oke bu bos!" Rion memberi hormat.


Seru sekali melihat sepasang manusia di depan kami ini. Keduanya seperti teman akrab. Ah, ya jelas. 19 tahun kurang akrab apa lagi coba?


"Tiara, kok diem aja?" Tanya Ezra.


"Jangan canggung, kami memang rada' gila kalau lagi gabung begini." Ucap Rion di kursi depan.


"Ya kan Nath?"


"Heeem." Hanya terdengar suara itu dari arah belakang.


"Nath kenapa diem aja?" Tanyaku sedikit heran. Biasanya dia akan sangat ramai.


"Kekenyangan Nath?" Tanya Ezra.


"Heeem..." Lagi-lagi Nath menyahut begitu.


"Nath jaim karena ada Tiara ya?" Tanyaku.


Rion dan Bi terbahak. Ada apa ini?


"Nath kesambet cinta penunggu rumah baca." Rion dan Bi kembali tertawa.


"Bacot, Yon!" Nath menyahut.


Ah, aku tahu. Penunggu rumah baca kan si Tiara ini?


Mataku membulat.


"Pajak jadian Nath!" Teriakku.


"Kak, enggak." Ucap Tiara gugup.


"Enggak apanya Tia?" Tanyaku tapi gadis itu tak menjawab.


"Pajak jadian, Bi. Pilih kemana Bi? Martabak? Nath yang bayar!" Ucapku semangat.


"Belum kak!" Teriak Nath.


Kami semua saling pandang.


"Belum berati akan?" Bintang langsung menoleh ke belakang melihat wajah Nath.


"Terserah!" Nath pasrah.


"Kalau kamus cewek, terserah berarti iya!" Ucapku.


"Yeee... " Teriak kami semua menyisakan Tiara yang geleng-geleng kepala melihat ke absurd-an kami.


****


Hai semua 😊


Ini bukan edisi khilaf yah 😊


Aku niatnya memang mau up dua. Ditengah jalan pas lagi ngetik kuota abis 😂😂


Terpaksa lanjut pagi ini 😅


Thank buat yang udah nungguin.


Aku usahakan up 2 bab perharinya. Kecuali jumat sama minggu. Mungkin gak bisa di nego lagi 😅


BTW, Ada yg masih ingat Naira gak? Ya, namanya di sebut di bab-bab akhir Aku dan Bintang.


Kalau ingat, mudah2an hilal jodohnya udah kelihatan semua yak 😅

__ADS_1


Jejak di tinggal sayang 😙


__ADS_2