BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
58 Kapan?


__ADS_3

Bintang


Siang menjelang sore, sekitar jam 3 kami memilih untuk jalan-jalan menikmati keindahan alam di sekitar villa.


Tapi bukan Rion namanya jika tak penasaran mengeksplor berbagai tempat wisata di daerah Lembang ini.


Kami berhenti di sebuah Cafe setelah melewati jalan terjal dan bercabang. Kami hanya bertujuh. Aku, Zoya, Rion, Ezra, Nath dan Nair. Lovely memilih tetap tinggal karena mama papa, bunda dan ayah Satya akan pergi entah kemana menikmati suasana sore hari di sini.


"Keren banget viewnya kak!" Seru Rion padaku. Saat ini kami sedang berada di cafe dengan meja panjang terbuat dari kayu dan duduk di atas sofa bantal beanbag.


Di depan kami tersaji pemandangan yang menyejukkan mata.


"Prewed disini pasti keren. Ya kan kak?" Tanyanya padaku.


"Fotografer free, ada Ethan yang sponsori." Dia tertawa kecil.


"Cetak foto free, om Josep yang sponsori." Kami berenam hanya mendengarkan celotehan Rion tanpa ada yang menyela.


"Villa free, dari kak Zoy." Dia tertawa lagi. Dan kulihat Zoya menyatukan alisnya. Aku tak tahan ingin tertawa.


"Makan free dari bang Ezra." Ezra terbengong mendengar namanya juga disebut.


Rion mengabsen orang-orang yang akan berpartisipasi dalam proses foto prewedding yang dirancangnya sendiri.


Aku terkekeh melihatnya begitu antusias.


"Boleh, malam pertama sampai ke tujuh. Bi milik kami dan keluarga." Ucap Zoya menggoda Rion.


"Ah, nganggur dong aku kak."


"Bisa apa sendirian." Ucapnya pura-pura kesal.


"Biasa juga sendiri, Yon!" Nair ikut bicara. Jarang-jarang nih dia ikut nimbrung.


"Kan pas belum nikah Nair. Kalau udah nikah sendiri di kamar. Isss!" Rion menggaruk pelipisnya. "Bengong doang dong akunya."


"Hahahah." Tawa Nath meledak. Padahal tak ada yang lucu. Ku yakin isi fikirannya yang lucu.


"Terserah kamu, Yon mau apa."


"Garuk-garuk dinding, kek."


"Ngobrol sama guling, kek."


"Atau mau main sabun. Terseraaaaah!" Nath meledakkan tawanya disusul Ezra dan Shaka.


"Dih... bukan levelanku main sabun Nath!" Aku melipat tangan di dada melihat Rion yang kesal. Rion memang duduk di hadapanku bersama Nair, dan Shaka.


Sementara aku dan Zoya duduk di sebelah Nath dan Ezra.


"Yakin?" Nath menggerakkan alisnya naik turun.


"Yakinlah!"


"Jadi keluarinnya gimana?" Tanya Shaka yang berusaha memancing Rion.


"Keluar sendirilah atas kehendaknya."


Obrolan apa ini? Aku gak faham.


***


Zoya


Malam harinya kami mengadakan acara barbeque di halaman belakang villa. Langit bertabur bintang menambah kesan hangat diacara kami ini.


Mama, bunda, aku dan Bintang duduk di sebuah meja makan outdoor yang terbuat dari batu. Sementara para pria sibuk memanggang.


Rion membawa sepiring besar ikan bakar yang sudah matang.


"Chef Rion, datang!" Serunya senang. Rion meletakkan ikan yang siap disantap itu di dekat nasi dan sambal yang memang sudah kami tata di atas meja.


"Harum banget, Yon." Ucapku saat asap yang mengepul di atasnya menusuk indera penciumanku.


"Jelas, the next owner R cafe."


"Coba di rasain kak." Perintahnya. Rion duduk di sebelahku.


Aku menusuk daging ikan dengan garpu. Memasukkan potongan kecil ke mulutku.


"Haah panas, Yon!"

__ADS_1


"Pelan-pelan kak."


Aku mulai mengunyah dan merasakan rasa gurih dan manisnya daging ikan yang masih segar itu berbaur menari-nari di lidahku.


"Ehhhmmmm." Aku mengacugkan jempolku kearahnya. "Mantap." Ucapku setelah menelan makanan di mulutku.


Rion berdiri dan membungkuk berkali-kali. "Terima kasih, chef Zoya."


"Lebay." Ucap Nath yang meletakkan sepiring soziz bakar.


Bintang terkekeh.


"Owner Arumi Resto indra perasanya gak mungkin meleset."


Yang lain tertawa mendengar perkataan Rion.


"Beneran enak kan kak?"


"Beneran, Yon. Enak." Aku meyakinkannya tapi aku tertawa pelan.


Bi tergelak bersama Nath.


"Kak Zoy gak meyakinkan." Ucap Rion sembari duduk kembali.


Kami makan bersama. "Semoga next kita kesini udah ada yang bawa baby ya." Doa ayah membuatku berbatuk.


"Uhuuk... uhuukkk."


"Pelan Zoy." Ezra menyodorkan segelas air putih padaku.


Aku langsung mengambilnya dan meneguk hingga tandas.


Yang lainnya tertawa bahkan Bi juga.


Malam semakin merangkak naik. Ayah, bunda mama dan papa sudah masuk ke dalam kamar. Aku, Lovely dan Bi tidur sekamar. Nair, Nath, Ezra, Shaka dan Rion tidur sekamar dengan kasur tambahan.


Kami masih duduk menonton tv hanya saja Lovely sudah masuk ke dalam kamar.


Aku mengajak Ezra duduk di balkon. Aku harus bicara dengannya.


"Ada apa Zoy?"


"Diluar dingin banget loh ini."


"Kita perlu bicara, Zra."


"Tentang apa Zoy?"


"Yang kemarin Zra."


"Aku siap kamu bawa kemanapun."


Ezra terpaku menatapku. Apa aku salah bicara? Atau keputusanku salah? Atau dia sudah berubah fikiran untuk tinggal di rumahku?


"Kamu serius, Zoy?" Ezra menegakkan duduknya.


"Aku serius, Zra." Aku mengingat nasehat mama untuk menuruti dan ikut kemanapun suamiku tinggal.


Mama dan papa tidak mungkin membiarkanku tinggal di tempat yang tak layak.


Dan ku yakin Ezra akan mengupayakan yang terbaik untukku.


Aku pernah ke rumahnya. Rumah yang ia sewa di sebuah perumahan. Dan menurutku tak terlalu kecil untuk kami tinggali berdua.


Bukankah kami hanya butuh satu kamar tidur. Satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu yang bisa di gabung menjadi ruang keluarga?


Ezra tersenyum. Tangannya menyentuh kepalaku yang tertutup hijab.


"Aku gak bisa menjanjikan apapun untukmu Zoy."


"Tapi aku berusaha mengupayakan yang terbaik untukmu."


"Aku tahu kamu dengan segala kehidupanmu. Insya Allah tak ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah."


"Mungkin hanya saja kamu berpisah rumah dari orang tuamu."


Aku terpesona melihatnya yang begitu serius. Wajahnya tampak bahagia tapi aku tahu ucapannya tak main-main.


"Semoga kelak kita bisa menyelesaikan setiap masalah dan perdebatan dengan kepala dingin." Ucapku penuh harap.


"Amin. Makanya kamu jangan keras kepala ya. Ngalah sama suami." Ezra menarik tangannya yang ia letakkan di atas kepalaku.

__ADS_1


"Tergantung ngalahnya dalam hal apa dulu." Ucapku menghadap ke depan. Membiarkannya yang terus menatapku di arah samping.


"Nah kan. Keluar lagi keras kepalanya."


"Hahahah." Kami tertawa bersama.


"Zra, setelah menikah. Aku masih boleh pegang Arumi Resto?" Tanyaku padanya. Bagaimana pun hal ini juga harus dibicarakan.


Ezra mengangguk.


"Yakin?" Aku memiringkan kepalaku. Aku tersenyum melihatnya.


"Yakin, sayang."


Blush.


Aku langsung menegakkan dudukku. Ku pastikan wajahku merona dibuatnya.


"Dari tadi ngomongin setelah pernikahan."


"Memangnya kapan kita mau nikah Zoy."


Aku kembali melihatnya.


"Kamu maunya kapan?" Tanyanya padaku.


"Kenapa kita selalu bicara mengenai kehidupan setelah pernikahan. Tapi pernikahannya gak pernah kita bahas?"


"Zra..."


"Hem..."


"Aku sebenarnya ingin menikah bareng Bintang."


Ku lihat Ezra mengerutkan keningnya.


"Iya Zra, aku menginginkan hal itu."


"Kami lahir di hari yang sama. Kami luka yang sama."


"Kami hidup dari ASI yang sama."


"Kami menjalani hidup 20 tahun bersama." Ya, saat ini usiaku 24 tahun dan aku mulai tinggal dengan mereka saat usiaku 4 tahun.


"Apa aku berlebihan jika menginginkan melepas masa lajang di hari yang sama dengannya."


"Gak masalah, Zoy."


Aku diam cukup lama.


"Lalu, apa masalahnya?"


"Aku tidak ingin ada resepsi Zra."


Ezra terus menatapku. "Kenapa, Zoy? Bukankah resepsi bagian dari pernikahan impian setiap gadis?"


Air mataku menetes. "Apa aku layak memimpikan hal itu, Zra?"


"Aku hanya takut mendengar tamu undangan berbisik mengenaiku. Anak yang lahir tanpa pernikahan."


Karena hanya segelintir orang yang tahu bahwa almarhum papa Rezki adalah papa kandungku. Sebagian orang hanya tahu aku anak mama Arum. Yang hamil tanpa suami. Bahkan beberapa orang juga mengira aku anak papa Akhtar.


Ezra tersenyum padaku. "Kita tidak akan melakukan resepsi."


"Kamu mau gak kalau setelah pernikahan kita umroh?"


"Berdoa di tanah suci untuk pernikahan kita. Untuk kedua orang tua kamu dan untuk ibuku?"


Aku menatap Ezra dengan air mata yang menetes di pipiku. Aku mengangguk.


"Terima kasih Zra sudah menerimaku. Dengan segala kekuranganku."


"Kamu anugrah, Zoy. Allah pasti punya alasan menghadirkanmu ke dunia ini."


"Dan alasannya adalah aku. Aku yang menunggumu sebagai tulang rusukku."


"Terima kasih sudah menerima Ezra yang tidak sempurna ini."


Aku menghapus air mataku dengan ujung sweaterku.


"Ayo masuk Zoy. Diluar dingin."

__ADS_1


"Mau peluk kamu tapi belum boleh." Ucapnya menarikku masuk.


Kamu menahan diri, Zra?


__ADS_2