
Orion
Enam hari setelah penyerangan, keadaan mulai kondusif. Preman-preman itu telah diamankan polisi beberapa jam setelah kejadian itu. Dan semua proses hukum sudah berjalan.
Rizal sudah pulang dari rumah sakit dan sejak saat itu mereka tinggal di rumahku. Ibunya dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga di rumah kami menggantikan salah satu asisten rumah tangga kami yang keluar karena akan menikah.
"Rizal kerja apa disini, Bu?" Tanyanya pada mami saat mami memberikan pekerjaan pada ibunya.
"Tugas kamu belajar dan sekolah."
"Tapi Rizal gak mau makan gratis disini."
"Kamu boleh bantu mamang siram tanaman pagi dan sore." Ucap mami karena Rizal terus memaksa untuk kebagian pekerjaan.
Masalah Rizal dan rumah baca clear. Rumah baca akan dibuka lagi minggu depan. Karena banyak yang harus diperbaiki lagi.
Dua hari lalu, aku mengadakan acara pembukaan pabrik kaos sablon milikku yang bisa terwujud dalam waktu sekitar satu bulan.
Aku tidak bergerak sendiri. Di belakangku banyak orang-orang yang membantu. Dan aku bersyukur akan hal itu.
Dalam acara itu aku mengundang banyak orang dari berbagai bidang. Aku berharap usahaku ini akan terus berkembang.
Malam harinya aku mendapat kabar dari timku bahwa pesanan masuk sudah lebih dari 2000 potong kaos.
Sebuah awal yang bagus kata papi.
Dan sekarang aku sedang berada di SMA Cahaya Bangsa, hari ini ada acara bazar sekolah. Setelah dua hari diisi dengan acara berbagai perlombaan yang diadakan antar sekolah. Mulai dari cabang olah raga, cerdas cermat, lomba menyanyi, dance dan banyak lagi.
Dan hari ini adalah puncak acaranya. Banyak orang yang datang ke sini. Di sebuah stand aku menyusun banyak kaos di rak gantung dibantu orang-orang dari kantor.
"Susun yang rapi, Ron." Ucapku pada Roni. Dia biasanya yang menerima orderan secara online.
Aku dibantu 1 temanku yang lain. Target kami adalah berhasil menjual kaos dan menggaet reseller sebanyak-banyaknya.
Kami memakai baju kaos hitam dengan tulisan OrBit di punggung dan logo dibagian depan.
OrBit anggap saja kepanjangan Orion- Bintang. Hahaha...
Sejak pagi standku sudah ramai. Ada yang benar-benar membeli dan bertanya bagaimana cara agar bisa menjadi reseller.
Tapi ada juga yang hanya sekedar ingin bertanya kabar. Karena biar bagaimana pun murid kelas XII yang sekarang pasti mengenalku. Karena ketika aku kelas XII mereka duduk di kelas X.
"Kak Rion makin ganteng."
Ah, baru tau ya?
"Jadi gimana? Masih sama bu Bintang?"
Oh My God. Mereka malah bertanya seperti itu.
"Bu Bintangnya mana kak? Kok gak diajak? Udah putus ya?"
Udah lanjut lagi ini.
"Kak Ethan sama Nath mana? Kok gak ikut?"
Eh, bisa gak, cari yang ada aja?
Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan. Dan aku bingung harus jawab apa. Akhirnya hanya ku jawab dengan senyum termanisku.
Sampai sekelompok orang datang dengan kaos yang sama seperti yang ku pakai. Mereka menyita perhatian semua orang termasuk aku.
Oh God! Ini gila! Mereka kesini?
__ADS_1
Yah, di sana ada Nath dan Ethan yang berjalan di depan dengan kaos hitam dan celana jeans panjang berwarna biru dengan denim jaket yang tersampir di pundak mereka. Nair juga memakai pakaian senada tapi tanpa denim jaket.
Kak Bi dan Marisa dibelakang mereka. Dengan tampilan warna yang sama. Kak Bi memakai tambahan hijab hitam dan inner kaos untuk menutup lengannya hingga ke pergelangan tangan serta rok denim.
"Sukses, Yon!" Marisa meninju lenganku.
"Thanks Mar. Gak nyangka kalian bakal datang." Ucapku pada mereka.
"Libur?" Tanyaku pada Marisa.
"Lumayan seminggu." Marisa kuliah di Bandung dan akan pulang saat libur panjang.
Nath, Nair dan Ethan langsung duduk di bangku plastik yang memang ku sediakan.
"Udah terjual berapa, Yon?" tanya kak Bi.
"Baru 30 potong kak."
"Reseller?"
"Baru 2 orang."
"Marisa, mau langsung aja?" Tanya kak Bi.,
"Boleh kak."
Langsung apa?
"Minta brosurnya, Yon!" Kak Bi menyodorkan telapak tangannya.
Aku memberinya selembar.
Kak Bi tersenyum tipis. "Banyak, Yon. Iya kali cuma satu." Aku heran untuk apa brosur sebanyak itu.
Kak Bi membaca brosur itu sekilas. "Harga potong 20% kan, Yon?" tanyanya kemudian.
Marisa mengambil beberapa kaos yang masih terlipat rapi dan berbungkus plastik. Lalu mereka berdua pergi meninggalkan stand.
Aku bingung apa yang akan mereka lakukan.
"Mau apa mereka Than?" tanyaku penasaran.
"Tenang aja, Yon. Kamu lihat aksinya Blossom sama Bubble." Ethan malah menyebut karakter kartun Powerpuff Girl.
"Itu Powerpuff Girl Than." Sambar Nath.
"Hahahah. Iya. Kalau yang ini The Power of beautifull girl."
"Nah, itu baru bener." Sambar Nath lagi.
"Kak, pada reuni di sini ya?" Beberapa orang murid perempuan datang ke stand.
Reuni apaan? Lagi jualan ini?
"Kak Nath foto dong! Makin ganteng aja." Ucap salah satu murid perempuan.
Nath menaikan alisnya dan aku tertawa.
"Boleh, asal beli satu kaosnya." Ucap Nath pada gadis itu. "Dan syarat, fotonya no kontak fisik ya. Soalnya bukan mukhrim." Lanjut Nath.
Aku menggeleng pelan. Ada-ada saja strategi marketingnya.
"Bukan mukhrim atau karena ada hati yang harus di jaga." Gumaman Nair membuatku mengulum senyum. Tiara kah itu?
__ADS_1
"Oke." Beberapa orang murid mengambil kaos di rak gantung. Mereka memilih asal.
"Sizenya gak dilihat dulu?" Tanyaku.
"Gak masalah kak. Over size juga keren kok buat ekspose bahu." Ucapnya centil dan aku bergidik geli.
Untung kak Bi gak satu spesies sama mereka. Huuft.
Nath berdiri tegak. "Kak, jangan kaya foto ijazah dong." Komen salah satu dari mereka.
Ethan yang menjadi fotografer tergelak. "Nath, jangan kaya mau ketemu mertua dong mukanya, biasa aja."
"Kalau senyum harusnya beli dua kaos." Ethan terbahak.
Apa-apaan Nath? Ini aku jual fotonya lalu dapat bonus kaos. Atau jual kaos bonus fotonya?
Tapi aku tak peduli karena mataku tertuju pada dua gadis yang berjalan kearah murid-murid yang duduk berkelompok sambil menunggu acara dimulai.
Dua gadis yang sepertinya menawarkan kaos dan memberikan brosur pada mereka.
Ponselku berdering.
Kak Bi?
Dia menelpon padahal jarak kami tak lebih dari 100 meter. Manis sekali.
"Ya, hallo kak." Sapaku pada kak Bintang.
"Rion, bawa sekitar sepuluh potong kesini dong. Kamu lihat kita kan?"
"Lihat kak."
Lihatlah, dari tadi aku terus lihatin kakak kok. Gak lihat gadis lain.
"Cepat ya, Yon."
"Oke kak. Aku kesana."
Aku mengambil beberapa kaos yang masih dibungkus plastik.
"Aku kesana dulu, Nair. Mau kasih ini ke kak Bi sama Marisa."
Nair mengangguk.
"Ron, titip stand ya." Ucapku pada salah satu temanku.
"Sip." Roni mengacungkan jempolnya.
Aku berjalan menuju tempat dimana kak Bi dan Marisa berada.
Sepanjang jalan banyak yang menyapaku meaki hanya sekedar melempar senyum.
"Kak."
"Mau kemana kak Rion?"
"Waah, mau nyamperin pacarnya ya."
Ah, seandainya bisa ku bilang dia pacarku.
Tapi aku bersyukur, karena berada satu level diatas pacar, yaitu calon suami. Hahaha.
****
__ADS_1
Selamat membaca sayang 😍
Jejak di tinggal ya 😊