
Orion
Bel pelajaran kedua berbunyi, dan semua murid diperintahkan untuk berbaris di halaman sekolah. Matahari yang belum terlalu terik menjadi alasan mengapa mereka dikumpulkan pagi ini.
"Ada apa sih?"
"Kenapa kita dikumpulkan pada jam segini?"
"Ada pengumuman kah?"
"Katanya sih iya."
"Mungkin mau ada rapat guru soal berita yang beredar belakangan ini."
"Asik juga kalau waktu pulang dipercepat."
"Nonton kuy."
"Boleh, ada film baru, nih."
"Eh, ada pak Arrayan, pemilik sekolah. Ada hal serius apa sih?"
"Pasti soal anaknya."
"Malu lah pasti, anaknya kelakuannya begitu."
"Begitu gimana?"
"Ya, begitu. Soal fee untuk Bu Bintang."
"Bener gak sih gosip itu?"
"Tau."
"Heem, penasaran."
[Othor keinget pas zaman sekolah dulu 😂 Kalau udah dikumpulin di lapangan, harapannya pulang cepat 😆]
Aku mendengar murid-murid saling berbisik. Tapi tak urung mereka tetap merapikan barisan.
Murid-murid sudah berbaris rapi berdasarkan kelas masing-masing. Bapak kepala sekolah menaiki podium.
"Selamat pagi semuanya."
"Selamat pagi paaaaaak." Ucap kami semangat.
Dalam hati aku geli sendiri. Mereka begitu semangatnya, mungkin mereka fikir jam pulang akan dipercepat.
Bapak kepala sekolah menyampaikan beberapa patah kata yang intinya papi datang untuk menyampaikan sesuatu yang penting.
"Kepada bapak Arrayan Danadyaksa, waktu dan tempat kami persilahkan." Ucap Pak Haris di akhir pidatonya.
Papi naik ke podium. Aku melihat dari barisanku. Papi, pria yang usianya empat puluh sembilan tahun itu tampak sangat berwibawa. Hanya karena ia menampilkan wajah seriusnya. Padahal aslinya, yaaa kalian tahu sendirilah.
Dari sini aku bisa melihat kak Bintang berbaris diantara guru-guru yang lain. Wanita yang ku cintai itu sedang memasang ekspresi datar dan menatap kearah papi. Aku tau dia tegang, khawatir sekaligus gelisah.
__ADS_1
Papi menyapa semua murid lalu beliau berbicara langsung keintinya agar murid-murid tak terlalu lama menunggu.
"Kalian sengaja kami kumpulkan disini karena ada hal-hal penting yang harus di sampaikan dan diluruskan."
"Sehubungan dengan musibah pingsannya Bu Bintang, guru matematika di kelas XII IIS. Dan aksi Orion yang menggendongnya hingga ke parkiran. Serta keputusan mereka yang langsung membawanya ke klinik, bukan ke UKS menyebabkan beredarnya berita miring di lingkungan sekolah."
"Berita yang menyatakan adanya hubungan spesial antara Orion dan Bu Bintang. Hingga berita tak bertanggung jawab yang menyatakan bahwa Bu Bintang adalah wanita yang dibayar, dalam tanda kutip."
Ucapan papi membuat semua murid saling pandang. Aku melihat Carletta yang mulai menegang, tapi masih berlagak santai.
Murid-murid dibarisan belakang bahkan tanpa ragu saling berbisik.
"Saya mohon perhatiannya sebentar." Papi menegaskan pada murid-murid yang mulai tidak fokus.
"Saya akan menegaskan bahwa semua berita itu tidaklah benar."
"Tidak ada hubungan spesial antara Orion dan Bu Bintang."
Papi gak tau tentang perasaanku yang sesungguhnya. Seandainya papi tau, mungkin papi gak akan semudah ini berbicara di depan guru dan murid.
"Dan soal gosip fee yang dirasa tidak sanggup dibayar oleh pak Vano..." Papi berhenti karena tak sanggup menahan tawa. Akhirnya papi tertawa dan semua murid juga ikut tertawa.
"Kalian pasti mulai mendengar kabar itu kan?"
"Iyaaa pak." Murid-murid berteriak.
"Kabar yang menjatuhkan harga diri pak Vano, ya pak?" Papi menahan senyum bertanya pada pak Vano.
Pak Vano mengacungkan satu ibu jarinya.
Semua guru tergelak. Ma'am Ida adalah guru bahasa Inggris yang baru saja kembali mengajar setelah cuti melahirkan.
"Dan disini saya akan menegaskan satu hal. Tentang siapa Bu Bintang yang selama ini kalian kenal."
Semua murid saling pandang. "Menurut saya, memang tindakan Orion yang menggendong Bu Bintang merupakan hal mengejutkan jika dilihat di lingkungan sekolah."
"Tapi sebenarnya hubungan mereka sangat dekat, hingga saya merasa itu adalah hal wajar dimana Orion, dan Nath merasa khawatir berlebihan saat Bu Bintang pingsan."
"Bu Bintang adalah putri sahabat saya. Dia mengenal Orion bahkan saat putra saya itu belum dilahirkan." Dan kalimat panjang itu berhasil mengejutkan semua orang.
"Dan satu hal yang paling penting disini."
"Si kembar Nath dan Nair," Papi menunjuk mereka berdua membuat wajah murid dan guru semakin penasaran. "Mereka adalah adik dari Bu Bintang."
Semua murid ternganga tak percaya. Termasuk Carletta. Kamu salah memilih mangsa, Letta.
"Selama ini sengaja disembunyikan karena tak ingin ada yang menganggap saya menganak emaskan Bu Bintang karena dia anak sahabat saya. Padahal tidak ada yang berbeda mengenai sikap saya pada guru yang lain."
"Dan agar kalian tidak berfikir Bu Bintang akan pilih kasih pada putra saya, Ethan dan kedua adik-adiknya."
"Nah, ini sudah cukup bukan, untuk menjawab rasa penasaran kalian soal foto mereka semua yang beredar di grup chat."
"Diluar sekolah, mereka sangat akrab. Datanglah di hari libur ke rumah saya, rumah bu Bintang, atau rumah Ethan. Mereka pasti ada disana."
"Dan dengan kebenaran ini, berita mengenai fee itu jelas terpatahkan."
__ADS_1
"Lagi pula siapa Orion yang bisa punya uang lebih banyak dari pak Vano?" Semua murid tertawa. Aku hanya menggaruk tengkukku.
"Uang jajannya masih saya batasi. Sama seperti kalian."
"Demikian hal penting yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat di pahami dengan baik. Dan semoga berita yang terlanjur beredar bisa menghilang dengan sendirinya."
"Jika ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan. Akan dijawab sebisa saya."
Seorang murid laki-laki mengangkat tangan. "Ya," papa mempersilahkan.
"Pak, kenapa Orion membawa Bu Bintang langsung ke klinik. Bukan ke UKS?" tanya murid itu.
"Orion, tolong kesini, jawab pertanyaan teman kamu!" Papi memanggilku. Aku segera berjalan ke podium.
"Pertanyaan itu hanya Orion yang bisa jawab."
"Alasan saya membawa kak -eh," murid-murid tertawa menyadari aku salah memanggil kak Bintang.
"Maksud saya Bu Bintang langsung ke Klinik. Karena selama ini kami belum pernah melihat Bu Bintang sakit sampai pingsan. Jadi, karena panik saya berfikir bahwa rumah sakit atau klinik adalah pilihan tepat."
"Udah, pi." bisikku pada papi.
"Semoga jawabannya bisa kalian fahami. Intinya mereka khawatir berlebihan. Ada yang mau tanya lagi?"
"Seorang murid perempuan mengangkat tangan." Dayang Carletta.
Papi mempersilahkannya bertanya. "Pak, soal penyebar berita miring itu, apakah akan dicari pelakunya atau tidak."
"Rion yang jawab, pi." Bisikku lagi.
"Saya yang akan menjawab."
Aku menatap Carletta. "Saya tidak tahu tujuannya apa? Manfaatnya apa untuk si pembuat berita. Tapi saya akan cari orangnya." Carletta mulai memucat. Aku yakin dia biangnya. Tapi aku tak tahu apa tujuannya.
"Orion, saran saya, maafkan saja. Jangan menambah masalah."
"Saya usahakan pak. Saya boleh turun, pak?" Aneh sekali menyebut papi seperti itu.
Papi mengangguk. "Masih ada pertanyaan lagi?"
Hening. Tandanya tak ada yang ingin bertanya lagi.
"Sekian dari saya, semoga masalah seperti ini tidak terulang lagi."
"Atas perhatian kalian, saya ucapka terima kasih. Dan selamat pagi."
"Selamat pagi, pak."
****
Maaf kalau gak sesuai ekspektasi kalian. 😊
Aku minta jejak sama coretan indah kalian di kolom komentar.
Diusahakan up sore atau malam 😚
__ADS_1