BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
38 Kak Bi disini?


__ADS_3

Orion


Aku masuk ke dalam Rumah Baca setelah kenyang menyantap bakso bersama anak-anak.


"Tiara..." Panggilku pada Tiara, gadis yang ku kerjakan untuk menjaga Rumah Baca ini.


"Ya, bang?" gadis itu mendongak kearahku, padahal dia sedang fokus membaca buku.


"Itu apa?" Tunjukku pada plastik besar bertuliskan Indo-april di bagian depannya.


"Ini makanan bang. Tadi ada kakak cantik yang datang ke sini. Terus daftar jadi member."


"Nanya-nanya juga sih. Terus keluar, gak lama balik lagi bawa semua ini." Tunjuknya pada plastik-plastik itu.


Kakak cantik?


"Kakak itu nitip ke Tia, supaya di bagikan sama anak-anak ini bang."


Aku mengangguk. Siapa ya?


"Kamu mau pulang?" Tanyaku.


"Masih jam 2 bang." Ucapnya.


Ya, jam kerjanya memang belum berakhir. Biasanya Tiara pulang jam 5 sore. Dan datang lagi besok pagi jam 9 pagi.


"Pulang aja, Ra. Biar abang yang jaga."


"Yang bener bang?" tanyanya memastikan.


"Iyaaa!" Ucapku.


"Oke. Thanks bang."


"Tia bawa 3 susu sama beberapa keripik bang. Buat adik Tia." Ucapnya sambil mengambil beberapa kotak susu dan snack dari dalam plastik lalu ia masukkan kedalam tas ranselnya.


"Pulang dulu, bang. Tia udah bawa kunci cadangannya. Jadi besok pagi gak usah datang kesini."


"Iya... iya..." ucapku padanya.


"Daaaa..." Dia melambaikan tangan keluar dari tempat ini.


Tiara adalah seorang gadis sederhana yang baru saja lulus SMA. Sayangnya dia tak lulus seleksi ke Universitas negeri. Jadi dia memutuskan untuk mencobanya lagi tahun depan.


Tiara, dia gadis baik yang juga sangat prihatin dengan keadaan anak-anak kurang mampu. Karena kurangnya buku pelajaran, sehingga mereka kesulitan saat belajar.


Tiara langsung setuju saat bang Ezra mengajaknya untuk bergabung dan mendukung usahaku untuk membuat Rumah Baca ini.


Tiara juga dijanjikan gaji yang lumayan, karena secara tak langsung Bang Ezra dan aku ingin membantu perekonomian keluarga Tiara.


Ayahnya seorang tukang ojek sedangkan ibunya hanya buruh cuci. Dan Tiara punya seorang adik yang usianya 9 tahun.


"Kalian, dari jam berapa di sini?" tanyaku pada anak-anak yang jumlahnya lebih dari 10 orang. Mereka saling berbagi buku, tapi tidak berbisik. Mereka teryawa tapi tak terlalu keras.


"Dari pulang sekolah, bang." Jawab seorang anak.

__ADS_1


"Sudah makan siang?"


"Sudah, dong!"


"Awas kalau belum makan, entar mama kalian pada nyari-nyari kalian di sini terus abang yang di marah-marahin." ucapku dengan nada seperti orang merajuk.


"Hahah..." mereka tertawa.


"Tenang aja, bang. Gak bakalan." Ucap seorang anak.


"Kamu nulis apa, Zal." Tanya bocah SMP bernama Rizal yang masih pakai seragam sekolah itu.


"Ada tugas sekolah, bang." jawabnya.


"Kenapa gak pulang dulu, ganti baju."


"Ngirit ongkos bang. Kalau jalan kaki dari rumah untuk balik lagi kesini kejauhan bang. Capek." Anak bernama Rizal itu kembali menulis.


Rizal biasanya bekerja mencari barang bekas. Namun dia tetap mengutamakan sekolahnya.


Aku bersyukur, Rumah Baca ini disambut baik oleh banyak orang. Keluarga dan orang di sekitar sini juga mendukungku.


"Gak apa-apa. Dari pada di warnet main game. Mendingan tuh bocah pada kesini aja." Ucap salah satu ibu yang anaknya sering kesini.


"Iya, dari pada main lari-larian di jalan. Bahaya. Mending disini adem pakai AC. Gratis kan, tong?"


"Insya allah gratis bu." Ucapku saat ibu ibu menanyakan biaya yang harus di bayar oleh anak-anak mereka.


Mami papi adalah pendukung utamaku. Perlu banyak biaya tapi tujuannya baik.


"Dengan membangun tempat ini, mudah-mudahan kamu bisa mengepakkan sayap dan melihat bahwa dunia ini luas."


"Banyak orang yang melakukan kebaikan tanpa menunjuk-nunjukkanya didepan banyak orang."


Benar saja, dalam hitugan hari ada ratusan member dan hampir seperempatnya adalah penyumbang buku-buku baik yang masih baru ataupun yang sudah lama tapi masih layak untuk di baca.


Om Dion bahkan menyumbangkan dua buah rak berukuran besar yang bisa ku gunakan untuk menyusun buku buku.


Om Langit, dia tahu dari tante Rara soal rencanaku ini saat aku sharing masalah bisnis kaos yang akan ku jalankan. Dia mendonasikan dana untuk pengecatan ulang Ruko yang papi beli dengan sekali nego ini.


Nath, Nair, Ethan, Shaka, Caraka dan yang lain menyumbang buku-buku mereka. Bahkan ada juga yang menyumbang buku-buku baru.


Om Josep menghadiahi aku plakat besar yang ku pasang di depan bangunan ini.


Om Akhtar, sederet angka yang ia transfer ke rekeningku menjadi bukti dukungannya.


Gunakan dengan sebaik mungkin. Itu isi pesannya tiga hari lalu.


Entahlah, aku tidak tahu kenapa jalanku begitu mulus. Mungkin ini yang di sebut sesuatu yang tujuannya baik, maka akan di mudahkan jalannya.


Aku membuka buku dimana ada catatan nama-nama member yang sudah terdaftar. Mataku membulat sempurna saat ku lihat di data terakhir di urutan 260 ada nama Bintang Alkhaleena.


Jadi yang di maksud Tiara, kakak cantik itu kak Bintang?


Kamu tidak salah menilai Tiara. Dia memang cantik.

__ADS_1


Jadi kak Bi kesini? Aku menghela nafas berat. Berati aku tak salah lihat tadi, aku melihat mobilnya ada di pelataran masjid.


Mungkin kak Bi tak sengaja singgah ke sini. Atau keluarganya sudah memberi tahu tempat ini. Atau kak Bi kesini untuk mencariku?


Hatiku mencelos. Mana mungkin Rion. Siapa dirimu?


Aku sampai di rumah saat azan magrib berkumandang. Aku dan keluargaku sholat berjamaah. Dan selesai sholat aku langsung mengaji.


"Bang, ikut gak?"


Chiara mendatangiku yang sedang mengaji di ruang sholat di rumah kami.


Ku lihat Chia tampak rapi dengan dress selututnya. "Mau kemana, Chi."


"Makan malam. Om Akhtar undang kita semua ke rumahnya." Ucap Chia meninggalkanku.


Aku menutup Al-Qur'an dan berjalan mengejar Chia. Tapi papi membuatku berhenti. "Kamu belum siap-siap Yon?"


"Pada mau kemana, Pi?" tanyaku.


"Ke rumah om Akhtar. Om Akhtar undang kita ke rumahnya untuk makan malam."


Aku menatap papi yang sudah rapi dengan kaosnya.


"Mungkin Rion gak termasuk, pi." ucapku lemas. Aku langsung berjalan meninggalkan papi menuju kamar.


"Karena ada Bintang?"


Aku menoleh kearah papi. Papi tau isi kepalaku.


Aku mengangguk lemah.


"Justru ini kesempatan untuk memperbaiki keadaan, Yon."


"Om Akhtar juga gak memasukkanmu dalam daftar pengecualian."


"Ayo bersiap! Papi tunggu di mobil. Lambat 10 menit. Papi tinggal." Papi berjalan keluar.


Aku masuk ke kamar. Menimbang apakah akan ikut atau gak.


Aku melihat anak tangga. Aku ingin bertaruh disini. Aku menaiki satu anak tangga lalu berkata, "ikut." Dan naik lagi dan berkata, "enggak."


"Ikut, enggak, ikut, enggak." Sampai di ujung anak tangga. "Ikut."


"Aiiissshh." Ucapku geram.


"Oke ikut." Aku berdiri tegak merapihkan baju koko ku. "Hadapi dengan Bismillah, Rion!"


Aku masuk ke kamar, memakai jeans panjang dan sweater berwarna krim. Bodoh amat, aku mau bergaya santai. Toh, cuma makan malam di rumah om Akhtar.


Aku segera turun setelah memastikan rambut dan wajahku layak dilihat. Sebelum masuk ke mobil, aku menghembuskan nafas berat. "Oke Rion. Hadapi. Anak laki harus gantle." Gumamku pelan.


****


Hai semuanya..

__ADS_1


Aku gak tau nih Nt ada masalah apa. Tapi untuk lolos review lama banget. 😭


__ADS_2