BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
53 Aku Cemburu?


__ADS_3

Bintang


Karena bentuk tanggung jawabku, akhirnya aku terdampar di mobil Rion. Pria yang sedari tadi hanya diam di kursi kemudi dengan wajah datarnya.


Awalnya aku akan pergi bersama Ezra karena aku yang minta dia datang. Tapi Zoya menolak. Dia cemburu atau dia takut aku bicara macam-macam pada Ezra?


Tapi alasannya cukup masuk akal. "Rion akan terlambat kalau mengantarku lebih dulu, Bi. Kalau sama kamu kan satu tujuan."


"Iya... iya..." Ucapku pasrah.


Dan saat mobil Ezra bergerak, kalian tahu apa yang dia ucapkan. "Hati-hati sampai plaminan."


Dasar Zoya.


"Sorry." Ucapku membelah kesunyian.


Rion menatapku sekilas lalu kembali melihat jalan di depan.


"Marah ya?" tanyaku hati-hati.


"Sedikit kak."


"Harusnya aku sadar diri sih. Kakak gak akan mungkin mengirim pesan begitu."


Dia kecewa karena bukan aku yang kirim. Itu artinya dia suka kalau aku yang kirim. Artinya dia suka isi pesan itu?


"Kamu suka isi pesannya?" Tanyaku ragu. Aku takut melihat wajah tanpa senyumnya itu. Ibarat cuaca. Wajah Rion seperti awan mendung dengan guntur menggelegar dan kilat yang saling menyambar. Ah, berlebihan Bi.


Dia tak menjawab.


"Rion...!" rengekku.


"Udah dong. Jangan gitu muka kamu. Jelek tau!" Aku kesal dan menatap lurus ke depan.


Hening sedetik, dua detik, ti-


"Buaha... hahaha... haha." Tawa Rion membuatku terperanjat kaget.


"Hahahah." Dia makin tertawa.


Aku memukul bahunya. Keras.


"Bikin kaget aja!" Aku berusaha memukulnya lagi tapi dia menghindar.


"Ih...!" Aku mencubit pinggangnya.


"Aku aneh aja kak baca pesannya."


"Nah.. illfeel kan kamunya?" Potongku.


"Gak illfeel kak. Cuma kaya mubazir aja emotnya terbuang sia-sia. Gak bisa langsung aja kak." Ucapnya menahan tawa.


Aku kembali mencubit perutnya. Dan dia malah tertawa keras.


"Udah... kak. Udah.... Bahaya aku lagi nyetir ini." Ucapnya dengan nafas memburu karena dia sedari tadi tertawa.


Aku berhenti karena ternyata lelah juga mencubitnya berulang kali.


Aku dan Rion saling mengatur nafas.

__ADS_1


Rion tertawa pelahan. "Nafasnya, kaya abis ngapain aja."


Aku meliriknya. "Tuh fikiran jorok dibuang jauh-jauh, Yon!" Ucapku datar.


"Dih, siapa yang mikir jorok kak. Aku kan belum siap ngomong."


"Aku mau bilang kaya abis bantu tetangga pindahan rumah, yeee." Dia mengejekku.


"Atau fikiran kakak tuh yang jorok." Tunjuknya padaku dengan ekspresinya yang menurutku lucu.


Eh,


Kami sampai di parkiran. Tapi kami tak ada yang berniat turun. "Kelas jam berapa kak?"


"Jam 9, Yon."


"Samaan dong." Jawabnya.


Suasana hening seketika.


"Sorry ya atas ulahku dan Zoya."


Dia tersenyum menatapku. Tangannya bertumpu di setir kemudi.


"Setiap hari jemput kakak juga gak apa-apa kak. Aku gak keberatan kok. Senang malah."


Sayangnya itu gak baik untuk kesehatan jantung dan otakku, Yon.


"Gak deh. Kamu entar kerepotan."


Tok... tok...


Seorang gadis mengetuk kaca mobil Rion.


Rion membuka kaca mobilnya. Gadis itu menunduk dan belahan dadanya terlihat jelas di balik kemeja yang 2 kancingnya terbuka.


"Rion, aku kemarin ke rumah baca tapi masih tutup." Gadis itu berucap manja.


"Aku mau sumbangin 100 buku loh. Papa aku dukung banget pas aku bilang mau sumbangin buku ke rumah baca kamu dan papa langsung transfer uangnya ke rekening aku."


Oh, nih tipe cewek yang suka pamerin harta orang tuanya.


Mulutku bergerak dibalik masker. Mengikuti kata-kata yang keluar dari bibir merah milik gadis itu.


"Oh, ya. Memang belum buka. Masih dalam perbaikan." Jawab Rion ramah.


"Bisa kamu ambil bukunya di mobil aku?" Gadis itu menunjuk mobilnya yang terparkir di depan mobil Rion. Mobil berwarna merah keluaran terbaru.


"Kamu bawa? Bolehlah. Sekalianku data nanti di rumah." Ucap Rion membuka pintu mobilnya dan gadis itu berjalan di depan Rion dengan meliuk-liukkan tubuh s*xynya.


Rok mini diatas lutut itu memperlihatkan betis putihnya. Huuh.... Menikmati pemandangan indah, Yon?


Rion melihatku dari kaca mobilnya yang terbuka. "Sebentar ya kak."


Aku mengangguk. Memangnya aku bisa apa?


Rion membuka pintu belakang mobilnya dan tampak 3 dus yang terpacking rapi.


Rion mengangkat dua dus sekaligus. Gadis itu duduk di belakang mobilnya sambil melihat Rion dengan tatapan memuja.

__ADS_1


Rion berjalan kebelakang mobil. Aku bergegas turun dari mobil dan membantu membukakan pintu belakang mobilnya.


"Bisa kak?"


"Bisa dong."


Rion meletakkan 2 dus itu. "Bisa nih Yon kalau ditutup?"


"Bisa kak. Sebentar aku ambil satu lagi kak."


Aku mengangguk.


Ku lihat dia berjalan kembali ke mobil gadis itu. Mereka sempat berbicara beberapa kali dan apa yang ku lihat ini? Gadia itu mencium pipi Rion?


Gerakannya tiba-tiba. Rion sempat menghindar dengan memundurkan wajahnya, tapi terlambat. Bibir gadis itu terlanjur menempel. Tak lama. Hanya sekilas tapi berhasil membakar hatiku.


Aku cemburu?


Rion menatap gadis itu dengan wajah datarnya. Dia marah. Rion langsung mengambil dus terakhir dan segera pergi tapi sebelumnya dia sempat mengucapkan beberapa kata yang tak dapat ku dengar dengan jelas.


Mungkin ucapan terima kasih, atau kata-kata peringatan. Entahlah.


Rion meletakkan dus terakhir dan menutup pintu belakang mobilnya.


Gadis itu masih di sana, Bersandar di mobil dengan pose memukau, menatap Rion dengan senyum mengembang.


Aku mengambil tas di mobil, begitu juga Rion. Aku menahan Rion untuk tetap bersandar di mobilnya. "Sebentar, Yon."


Aku mencari sesuatu di tasku. Ku lirik gadis yang sepertinya sangat mendambakan seorang Orion.


Aku berhasil menarik selembar tissu basah di tasku. Ku arahkan pada pipi Rion. Pipi yang di kecup dengan bekas lipstick yang masih menempel.


"Kenapa kak?" Bisiknya.


"Ada bekas lipstick, Sa-yang." Aku menekan kan kata sayang agar gadis itu mendengarnya.


"Aku takut orang-orang pada mikir kamu abis di culik tante-tante." Aku melihat pipi yang sudah bersih itu.


"Belajar yang benar, cepat lulus. Katanya mau honeymoon di Jeju Island." Aku berbalik meninggalkan Rion yang masih terkejut dengan aksiku.


Aku kembali menoleh ke arah Rion. "Hati-hati sayang, banyak perempuan haus di sekitar kamu." Aku kembali berjalan kearah gedung kampus.


Menunggu waktu berlalu di kantin dengan minuman dingin sepertinya lebih baik dari pada melihat Rion di serbu tatapan seperti tadi.


Rion memang tampan, mempesona dan goodlooking. Wajar dia mencuri perhatian semua orang.


Tampilannya from head to toe juga bukan dengan barang murah. Seorang tante Sania tak mungkin membiarkan putranya tampil dengan style yang berantakan. Karena pria seusia om Ray saja bisa menjadi sekeren itu di tangan istrinya.


Aku duduk termangu di kantin. Aksiku tadi sepertinya berlebihan. Tapi biarlah. Biar Rion tahu kalau aku tak suka dia di dekati gadis lain.


Biar Rion tahu kalau tak seharusnya dia memberi kesempatan pada gadis lain. Aku ingin dia terfokus padaku yang masih menginginkan bukti cintanya.


Egois? Ah entahlah.


*Apa kami menikah saja? Dan membatalkan kesempatan setahun itu?


***


Hai semuanya..

__ADS_1


Menurut kalian Bi berlebihan gak sih? 😊


Kalau berlebihan ntar ku revisi lagi 😂*


__ADS_2