
Bintang
Hasil tes yang negatif berhasil membuat moodku hancur berkeping. Berbagai fikiran negatif bermunculan. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku.
Kenapa terlambat haid? Apakah faktor stress dan kelelahan? Atau hamil tapi kadar hCG yang belum terbaca? Atau ada indikasi penyakit lain.
Aku menghela nafas. Menariknya dalam-dalam dan membuang kekuat-kuatnya agar terasa plong hingga ke otak. Tapi bukannya berhasil, malah membuat suami tampanku yang sedang mengemudi tertawa keras.
"Boros oksigen, Bi."
"Untung aja gratis."
"Tau ah, Yon! Moodku berantakan gara-gara tespack itu." Rengekku.
"Kenapa sih? Mami kan udah jelasin, yang! Rileks aja, bawa happy. Sehappy aku yang jadwal tempur tak pernah libur."
"Anggap aja tubuh kamu sedang berbakti pada suami, Bi. Memundurkan jadwal libur pas musim ujan begini. Hahaha."
Plakk! Aku memukul lengan atasnya yang berotot itu. Tanganku sampai terasa sakit.
"Kamu fitnes dimana sih, yang! Keras banget!" Aku menusuk lengannya yang berbalut kemeja itu dengan jari telunjuk.
"Nikah hampir sebulan, baru nanya sekarang?" Tanyanya.
Ya, karena selama sebulan ini aku tidak menemukan jawabannya. Dia tidak pernah pamit gym, atau olah raga kecuali joging selepas subuh. Itupun hanya keliling halaman belakang.
"Ya karena aku gak pernah lihat kamu nge-gym."
"Dulu semingg sekali nge-gym di tempat temen, Bi. Kadang mukul samsak di rumah." Aku tau ada samsak dekat kolam renang. Berarti itu samsak yang dimaksud Rion.
"Sekarang tiap malam olah raga, Bi. Jadi gak perlu lagilah kesana."
"Latihan pernafasan, otot perut, otot lengan, semua dilatih. Praktis, ekonomis dan hemat waktu." Rion tersenyum tengil.
Dia selalu mengedepankan otak mes*mnya.
"Hemat waktu apaan?" Sindirku. Aku menatap kedepan.
"Hemat dong, Bi. Bisa latihan sekalian tiiiiiitttt... disensor! Hahahahahah!" Dia terbahak.
Tawanya seperti penyakit menular, aku ikut tertawa. "Disensor. Gayaan kamu. Ku liburin baru tau rasa!" Ancamku.
"Ya jangan dong, sayang. Kamu harus bisa menyeimbangkan semuanya Bi."
"Kamu kalau liburin olah raga berkedok pertempuran... hahahah.... semalam aja, aku bisa buncit, Bi." Rion mengusap perutnya.
"Keripik kentang kamu, yougurt, wafer, dan semua cemilan yang kamu suapkan ke aku bakalan jadi lemak membandel kalau gak dibakar Bi. Dan cara bakar lemaknya ya... dengan tiiiiiittttt disensor lagi. Hahahaha."
Aku menatapnya dengan menaikkan sebelah alisku. Kenapa suamiku jadi sableng begini?
"Senyum dong sayang." Godanya dengan menoel daguku.
"Rion ih!" Aku mendorong tanganya dan dia terbahak lagi.
Ponselku berbunyi. Aku mencari benda pipih itu di tasku.
"Mama..." Aku menatap Rion.
Wajah Rion jadi serius. Kami pasti punya pemikiran yang sama. Ya, mama ingin bertanya hasil tesku.
"Angkat aja. Aku yang bicara." Rion selalu bisa membuatku tenang. Dia mengerti apa yang ku butuhkan sekarang, yaitu suport darinya.
"Hallo ma..." Aku mengubah menjadi panggilan video.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam, Bi. Kalian di jalan?" tanya mama yang terlihat sedang duduk beesama papa di halaman belakang. Mungkin keduanya sedang berjemur karena cuaca pagi ini lumayan cerah.
"Iya ma. Tuh Rion lagi nyetir." Aku mengarahkan layar ponsel pada Rion.
"Hai ma... Makin cantik aja nih." Goda Rion.
"Ada suaminya, masih berani godain!" Potong papa.
Aku dan Rion terbahak. "Godain kan bukan berarti mau dijadikan istri, pa. Kak Bi aja yang calon istriku, dulu gak pernah aku godain!" Alasan Rion buatku geleng-geleng kepala.
Aku meletakkan kamera di dasboard supaya mama dan papa bisa melihat kami berdua. Rion memang berbicara tapi dia tetap fokus pada jalan raya.
"Yakin kamu, Yon! Papa buka nih buku dosa kamu yang banyak catatan merahnya." Ancam papa.
"Buka aja, pa. Semua orang juga udah tau." Rion mejulurkan lidah sekilas ke kamera.
"Papa pecat jadi mantu!"
"Jangan dong, pa! Bi gimana!" Sambarku.
"Eh, iya... gak jadi deh!"
"Awas mas! kamu terus yang ngomong!" Mama mendorong wajah papa dari depan layar.
"Bi, gimana? Udah."
Aku menatap Rion yang mengangguk. Inilah pertanyaan yang kami tunggu.
"Udah, ma. Masih garis satu." Ucapku tersenyum ke arah layar ponsel. Walaupun aku tersenyum tapi dalam hatiku ada rasa ngilu. Kenapa hasilnya tidak seperti Zoya. Aku melihat senyum mama tak memudar sedikitpun.
"Gak apa-apa sayang. Jaga kesehatan, ya. Jangan makan sembarangan. Jangan stres. Mama juga dulu hamil kamu di bulan ke 3 setelah menikah. Gak perlu buru-buru sayang."
Aku dan Rion menghembuskan nafas lega.
"Siiip maaaa!"
"Tempurnya dikurang-kurangi!" Itu suara papa yang wujudnya tak terlihat di layar.
"Mas! Kamu nih!" Entah apa yang mama lakukan pada papa. Yang pasti papa mengaduh kesakitan.
"Udah dulu ya sayang. Hati-hati dijalan. Jangan ngebut Rion!"
"Siiip mama."
Panggilan ditutup setelah kami mengucap salam.
"Gimana? Lega?" tanya Rion. Ya, memang cukup melegakan. Pertanyaan yang selalu ku tunggu dan tak tahu harus bagaimana aku menjawabnya.
"Gak seburuk yang ada di fikiran kamu kan, sayang?" Tanyanya lagi.
Aku mengangguk. Rion benar, menghadapinya tak seburuk yang ada di fikiranku.
"Mama pasti mengerti, Bi."
"Mami aja bisa mengerti kita, apa lagi keluarga dan orang tua kamu."
"Kalau belum jadi, ya kita coba lagi. Aku dengan senang hati menumpahkan benih-benih cintaku di dalam..."
Plaaaakkk! Aku kembali memukul lengannya. Bisa-bisanya dia terus berbicara mes*m pagi-pagi begini.
"Hahahaha... kena pukul lagi."
__ADS_1
"Kamu kebanyakan bergaul sama om Langit, Yon."
"Aku kebanyakan bergaul sama kamu, Bi. Makannya otakku isinya cuma..."
Aku menegakkan telunjukku di dekat wajahnya. Sebagai peringatan agar ia berhenti mengoceh yang mengarah pada pertempuran.
"Jangan diteruskan!" Ucapku tegas.
"Iya... Iyaa..." Rion hanya nyengir dan menunjukkan gigi putihnya.
****
Ezra
"Hoeekkk... Hoeekkk!"
Ini adalah kali ketiga Zoya muntah pagi ini. Tak ada apapun yang bisa masuk kedalam perutnya. Bahkan air putih saja harus kembali ia keluarkan.
"Zraaa...!" Aku memegangi tubuh lemasnya yang masih memegang erat wastafel.
"Zoya... udah dong sayang. Kamu belum makan apa-apa loh! Memangnya apa lagi yang mau kamu keluarkan sayang. Itu udah gak ada apa-apa lagi yang keluar."
"Gak tau. Hoeeekk... hoekkkk..."
Zoya kembali membersihkan mulutnya.
Aku membawanya kembali berbaring di kamar. Aku menggosokkan mintak angin di perut ratanya dan juga punggungnya.
"Kita ke dokter lagi, ya."
"Gak mau." Zoya memejamkan matanya. "Kamu mau pergi, Zra?"
"Enggak. Aku akan temani kamu di rumah hari ini."
"Sini..." Matanya tertutup dan tubuhnya bergeser sedikit ke tengah, menyisakan ruang sempit di pinggir ranjang.
"Aku pengen dipeluk." Aku ternganga tak percaya. Zoya yang gila kerja kini memintaku juga ikut bermalas-malasan di atas ranjang.
Out of the box!
"Yang, serius?"
"Iya..."
Aku naik keranjang dan menjadikan lenganku sebagai bantalnya. Satu tanganku mengelus perut ratanya. "Jangan buat mama susah ya nak." Aku berbicara pada bayi kami. Ya walaupun masih belum terlihat.
"Jangan buat mama sakit."
"Aku gak sabar nunggu dua minggu, Sayang!" ucap Zoya lirih.
"Aku mau lihat perkembangan anak kita."
"Aku khawatir. Tapi aku harus tetap positif thingking." Zoya sedang sadar atau tidak sih? Bicaranya seperti orang mabuk. "Aku takut kamu kecewa."
Zoya khawatir? Pasti dia takut kehamilannya ini bermasalah atau dia takut janinnya tidak berkembang. Atau banyak kemungkinan lain yang sempat ku baca di berbagai artikel mengenai kehamilan.
Aku mengelus kepalanya. "Aku juga berharap begitu sayang. Aku berharap kamu dan anak kita selalu sehat." Bisikku pelan dan setelahnya aku hanya mendapati hembusan nafasnya yang teratur. Itu artinya Zoya tertidur.
Aku tau dia sulit tidur saat malam. Kadang mengeluh perutnya begah, mual, kadang juga dia harus bolak-balim kamar mandi.
Semoga sakit dan perjuangan kamu ini gak sia-sia sayang.
Aku mencium keningnya dan perlahan bangun. Aku keluar kamar dan memulai pekerjaan berberes hingga cuci jemur.
__ADS_1
Hal yang biasa ku lakukan sebelum menikah. Bedanya sekarang ada bidadari cantik yang meringkuk di ranjangku dan ada lingerie di jemuranku.
Ngomong-ngomong soal lingerie aku jadi rindu paket komplit. Huuft! Sabar Zra! Demi baby kebab.