
Bintang
Aku menarik telinga Rion yang mengetuk pintu kamar Zoya dimana Zoya dan Ezra sedang di dalam. Keduanya memang sedang tertawa bersama.
Bagaimana mungkin mereka tidak canggung? Tapi Ezra dan Zoya kan sudah saling mengenal sejak dulu.
Pikirkan saja nasibmu, Bi!
"Kak, kita mau ngapain?" Ucap Rion yang langsung mengambil posisi duduk di jendela besar di kamarku.
Sementara aku yang sedang duduk di kursi kerjaku hanya menatapnya yang terlihat santai. Aku sudah membuka hijabku karena kata mama, dia boleh melihatku tanpa hijab.
"Terserah, Yon." Ucapku asal. Aku membuka laptop dan mengecek e-mailku. Siapa tahu ada hal penting dari kampus atau dosen lain.
Dia berjalan mendekat, terlihat dari ekor mataku.
Rion berdiri di belakangku. Lalu memutar kursi yang ku duduki. "Terserahku kan kak?"
Aku diam mematung. Instingku mengatakan ini tidak akan aman untukku. Untuk fisik dan kesehatan jantungku. Dia tersenyum dengan tatapan yang terfokus pada mataku.
Dia menunduk dan kedua tangannya bertumpu di bahu kursi. Ah, aku sesak nafas. Melihat wajahnya semakin mendekat, dan dada bidang yang ototnya tercetak jelas dibalik kaos putih yang ia kenakan membuat darahku berdesir keseluruh tubuh.
Wajahnya ada di depan wajahku. Dia tersenyum jahil melihat wajahku dan seluaruh tubuhku yang menegang.
Ini bukan kali pertama jarak kalian sedekat ini, Bi. Terbiasalah karena brondong manismu ini suka bertindak secara tiba-tiba.
Rion menjauh dan berbalik.
Huuh! Aku aman kali ini.
Tapi... "Ahhh!" Aku menjerit terkejut karena Rion tiba-tiba kembali berbalik dan mengangkatku dari kursi.
"Diam kak! Kita belum ngapa-ngapain." Bisiknya pelan.
Aku langsung menutup mulutku.
Rion mendudukkanku di atas ranjang. Aku duduk bersila menghadapnya yang sedang berdiri.
Rion pelahan mendekat dan mencium pucuk kepalaku. Sangat lama. Rion mengelus rambutku yang ku ikat poni tail.
"Setelah setahun lebih, aku kembali bisa melihat rambut hitam ini kak."
Rion berdiri dengan bertumpu pada lututnya di hadapanku. Saat ini tingginya sebatas perutku.
"Dan perjuangan untuk sampai dititik ini sangat berat kak."
Aku mengangguk.
"Dan aku berjanji kesempatan ini akan ku gunakan dengan sebaik-baiknya."
"Kak, kita akan mulai semuanya dari awal." Rion mengecup kedua tanganku yang ia genggam.
Rion berdiri dan kedua lengannya bertumpu pada pinggiran ranjang. Rion mengurungku dengan kedua tangannya.
Wajahnya perlahan mendekat. Hembusan nafas dan aroma parfumnya membuatku bernostalgia pada kesalahan yang pernah kami lakukan dulu.
Aku menampik pikiran konyol itu. Karena kali ini jelas berbeda. Aku dan dia adalah pasangan halal yang bahkan melanjutkannya menjadi hal yang lebih int*m merupakan hal yang medatangkan pahala. Karena aku menyenangkannya sebagai suami.
"Kak, boleh ya." Bisiknya saat bibir itu berada tepat di depan bibirku.
Hembusan hangat nafasnya saja berhasil membuat seluruh tubuhku terbakar.
Aku mengangguk kaku.
Rion menautkan kami. Menyentuh tanpa ragu dan tak terburu buru. Rion sesekali menjeda tanpa melepaskan diri. Dia membiarkanku mengambil nafas.
Aku suka caranya yang tak tergesa dan penuh kelembutan. Mengimbangiku yang masih pemula.
Aku pemula, Dia?
__ADS_1
Aku melepaskan diri. Mengapa sekelebat pikiran itu membuatku hatiku terbakar amarah. Aku cemburu hanya karena pikiran yang melintas dalam sedetik.
"Kenapa kak?" Dia terkejut karena tiba-tiba aku melepaskan diri. Dia terlihat takut dan kecewa.
Astagfirullah. Kenapa aku begini? Kenapa aku peduli pada masalalu yang bukan menjadi urusanku? Kenapa aku khawatir? Kenapa aku mempertanyakan masalalunya? Padahal aku sudah menerimanya, menjadikannya suamiku.
"Rion?" Ucapku sedikit merasa bersalah.
Aku mengecup bibirnya. "Sorry."
"Ada apa kak? Apa yang melintas di pikiran kakak?"
Aku diam dan menunduk. Dia bisa mengerti apa yang ku rasakan. Dia mengerti apa yang ku pikirkan.
"Kak, bisa bukan berarti terbiasa."
"Kakak mempertanyakan soal yang baru kita lakukan kan?"
"Kenapa aku bisa?"
Aku menatapnya dan mengangguk ragu. Kenapa jadi aku yang seperti bocah begini?
Rion tersenyum. "Itu naluri kak."
"Aku hanya mengikuti apa yang ku ingin."
"Aku ingin menikm*ti tanpa menyakiti."
"Percayalah, You're the one." Rion kembali menyatukan kami.
Kali ini lebih menuntut karena satu tangannya sudah berada di tengkukku dan kedua tangannku sudah bertumpu di dada bidangnya.
Aku sudah tak sanggup menahan tubuhku yang mulai lemas. Semua tulang-tulangku terasa lepas semua.
"Rion?" Bisikku saat dia menjeda kegiatannya.
"Ya?" Dia mengusap bibirku dengan tangannya.
Aku masih memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah ini saatnya? Apakah harus sekarang? Di sore yang lumayan terik ini?
Tapi dalam sedetik tubuhku sudah berpindah di tengah ranjang dengan Rion yang berbaring di sebelahku.
Oke, Bi. Saat pelepasan segel sudah tiba. Rilekskan dirimu. Karena sepertinya ini akan sakit.
"Kak..."
"Heem." Aku melihat arah samping, dan tampak dia yang sedang menatap langit-lngit kamar.
"Ini kayak mimpi."
Aku mengerutkan kening. "Mimpi?"
Rion menoleh kearaku. Dan kami saling menatap. Rion mendekat dan menopang kepala dengan tangannya.
Dia menatapku dalam. Lalu mengecup keningku sangat lama.
Rion membawaku dalam dekapannya. "Kak, sudah ajukan cuti untuk ke Jeju?"
"Sudah."
"Seminggu kan?"
"Iya Rion. Iya. Mandi sana." Perintahku.
"Tidur sebentar kak. Tadi malam aku gak bisa tidur soalnya."
Dia memejamkan mata dengan masih memelukku.
Selepas sholat magrib kami langsung mengisi meja makan.
__ADS_1
"Sehat, Yon?" Tanya papa pada Rion yang duduk di sebelahku saat kami sudah selesai menyantap hidangan yang dimasak mama dan Bi Imah.
"Sehat, pa." Jawabnya mantap.
"Hebat, udah biasa lidahnya manggil papa."
"Aman, Zra?" Papa beralih pada Ezra.
"Aman, pa." Jawabnya tegas.
"Sip. Mantu papa harus tegas. Mau muda atau dewasa. Umur bukan kendala."
"Nair, tolong yang tadi." Ucap papa pada Nair.
"Iya pa."
Nair datang dengan dua koper yang ia tarik.
"Koper siapa pa?" Tanya Zoya.
"Isi koper itu, pakaian Bi sama Rion dan segala perlengkapan." Tunjuk papa pada koper berwarna dongker.
"Yang satu lagi isinya milik Zoya dan Ezra." Papa menunjuk koper berwarna hitam.
Aku dan Zoya saling tatap. Masih bingung. Kami diusir atau bagaimana?
Papa menyerahkan sesuatu di atas meja. Aku dan Zoya mengambilnya.
"Voucher hotel?"
"Hadiah ayah Satya." Sambung papa.
"Malam ini sampai malam resepsi, kalian menginap di sana."
Itu artinya tiga malam? Malam ini malam Sabtu, malam Minggu dan malam Senin
"Minggu pagi, tunggu tim MUA dan tim tante Rara yang akan mengatar gaun kalian kesana."
Aku dan Rion saling tatap. Zoya dan Ezra juga.
"Besok aja deh pa." Ucap Zoya.
"Sekarang, Zoya."
"Pergilah nak. Habiskan waktu kalian." Ucap mama lembut.
Aku dan Zoya mengangguk.
"Alhamdulillah." Teriak Nath.
Kami semua menatapnya. "Akhirnya kita penguasa di rumah ini Nair." Keduanya bertos ria.
"Alhamdulillah."
"Rumah kita juga aman dari guncangan gempa." Lanjut Nath.
"Alhamdulillah, pa."
"Ayah Satya memang the best."
Aku dan Zoya berdiri. Bersedekap di sisi kanan dan kiri Nath.
"Heheheh. Ampuuun!" Teriaknya saat tangan kami sudah menempel ditelinganya.
****
Rion kok lebih pro ya? 😅😅
Karena yg usianya segitu biasanya masih penasaran-penasarannya 😂
__ADS_1
Udah tau lah ya, Unboxingnya di mana?