
Orion
"Ada bekas lipstick, Sa-yang."
"Aku takut orang-orang pada mikir kamu abis di culik tante-tante."
"Belajar yang benar, cepat lulus. Katanya mau honeymoon di Jeju Island."
"Hati-hati sayang, banyak perempuan haus di sekitar kamu."
Kata-kata kak Bi terus berputar di otakku. Terlebih saat dia memanggilku sayang. Aku bahkan tak bisa bergerak sedikitpun saat kak Bi dengan lembutnya menyapukan tissu basah di pipiku untuk menghapus bekas lipstick yang menempel.
Aku lebih terpukau saat mendengarnya mengatakan honeymoon ke Jeju Island.
Dan kata-kata perempuan haus di sekitarku, aku tahu maksudnya. Mungkin sejenis Clara, perempuan yang menyumbangkan buku sekaligus menciumku secara tiba-tiba. Aku sudah berusaha menghindar tapi terlambat.
Aku duduk di dalam mobilku. Sudah jam 3 sore dan aku menunggu kak Bi yang belum keluar juga.
Saat siang tadi aku mengiriminya pesan, kak Bi membalas akan keluar kelas jam 3.
"Mungkin sebentar lagi." gumamku pelan.
Aku mengisi waktu luang ini dengan melihat laporan dari tim OrBit yang dikirim langsung ke e-mail ku.
"Alhamdulillah." Aku bersyukur saat ku lihat angka penjualan meroket tajam di tab berukuran 12,4 inci hadiah dari papi ini.
Aku beralih ke laporan R cafe. Masih stabil dan tak ada kendala apa pun.
Syukurlah. Semua berjalan lancar.
Aku melihat sekeliling karena sudah jam 3.20 kak Bi belum sampai di parkiran. Tapi pemandangan 30 meter di depan membuatku hatiku terbakar api cemburu.
Kak Bi sedang berjalan bersama pria yang tampak sudah dewasa karena brewok di wajahnya. Aku tidak tahu pria itu dosen atau mahasiswa.
Aku terus melihat kak Bi yang seperti sedang menjelaskan sesuatu karena ia memegang sebuah buku.
Jarak mereka cukup dekat. Dan kak Bi sepertinya kurang nyaman. Karena tampak beberapa kali bergeser.
Aku menelpon kak Bi. Tapi tidak di angkat. Mungkin dalam mode silent.
Aku turun dari mobil dan segera melangkahkan kakiku kearahnya.
"Masih lama?" Tanyaku saat aku berdiri di sebelahnya.
"Siapa Bu?" Tanya pria itu dengan tatapan tak sukanya. Dia menatapku sinis.
Apa aku mengganggu kesenangannya?
Kak Bi tak langsung menjawab.
"Ehm, kenalkan Robi. Ini Rion calon suamiku." Ucap kak Bi agak ragu tapi berhasil meletuskan jutaan kembang api di hatiku.
Kata-kata terindah sepanjang sejarah. Mengalahkan kata sayang pagi tadi.
Aku tersenyum lebar. Dengan percaya diri tingkat dewa aku mengulurkan tanganku dan pria bernama Robi itu menjabatnya. Dengan sedikit rem*san yang lumayan terasa sakit. Tapi bodoh amat. Dia sudah kalah telak.
"Rion."
"Robi."
"Oke Rob. Semoga penjelasan saya barusan cukup jelas, ya." Kak Bi menyodorkan buku itu pada pria yang wajahnya ditekuk berlipat-lipat.
"Terima kasih Bu."
"Sama-sama."
"Rion, bukankah kamu mahasiswa baru di sini?"
Aku tersenyum dan mengangguk.
Pria itu tersenyum sinis. "Bagaimana mungkin Bu Bintang menjadi calon istrinya sementara usia kalian berbeda jauh."
Oh, pengacau.
Aku maju selangkah. "Usia bukan patokan, Rob." Aku melemparkan senyuman kecil kearahnya.
"Jika Tuhan menakdirkan. Manusia bisa apa?" Ucapku lagi.
"Bu, jangan menghindari pria lain dengan mengatakan kebohongan dan berpura-pura pacaran dengan adik sendiri." Ucapan pria itu membuatku tersulut emosi.
"Rion. Ayo kita pulang." Ajak kak Bi.
"Sebentar kak." Aku geram pada pria ini.
"Rion!" Paksa kak Bi mengajakku pergi dari sini. Kak Bi juga mendorong punggungku agar aku terus berjalan kearah mobil. Tapi sempat ku lihat pria itu tersenyum lebar.
__ADS_1
"Menghindar menandakan ucapanku itu benar." Dia semakin banyak bicara. Aku berbalik, begitu juga kak Bi. Tanganku sudah mengepal dan ingin ku lontarkan pukulan ke wajahnya.
Kak Bi maju beberapa langkah. "Robi, dengar!" Saya menghindar bukan berarti membenarkan ucapan kamu."
"Untuk apa membuktikan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kamu."
"Perbedaan kami urusan kami."
"Dan status kami bukan pacaran, catat itu. Dan hal itu juga bukan urusan kamu." Kak Bi berkata pelan tapi tegas.
"Kalau begitu, kesempatan untuk siapapun masih terbuka lebar selama janur kuning belum melengkung."
Keras kepala.
Aku maju beberapa langkah. Aku meraih pergelangan tangan kak Bi. Tidak langsung bersentuhan kulit karena blouse lengan panjang yang dipakainya.
Kak Bi menatapku. Aku tersenyum padanya. Lalu aku menatap tajam pada pria di depan kami. "Coba saja rebut dia dariku jika kamu bisa."
"Karena milikku akan tetap menjadi milikku."
"Ayo kak!"
Aku membawa kak Bi pergi dari sini. Melihat pria itu lebih lama sama saja seperti melihat samsak yang membuat ku bernafs* untuk membogemnya.
Kak Bi terus menatapku yang melangkah sambil mengenggam pergelangan tangannya.
Aku membukakan pintu mobil untuk kak Bi. Setelah kak Bi masuk aku berjalan dan membuka pintu mobil agar aku bisa masuk dan duduk di kursi kemudi.
Mobil melaju meninggalkan area kampus.
"Rion..." Ucap kak Bi pelan.
"Maaf memanfaatkanmu." Ucapnya penuh sesal.
"Aku bingung harus bagaimana lagi menghindarinya."
"Dia mahasiswa di kelas kakak?" Tanyaku.
Kak Bi mengangguk. "Umurnya seusiaku. Dia terlambat masuk karena membuka usaha yang entah apa. Aku gak terlalu mendengarkannya."
"Kakak harusnya bilang ke aku kalau ada yang mengganggu dan buat kakak gak nyaman."
"Karena kakak milikku. Dan aku gak suka milikku di ganggu orang lain, kak."
"Hehehe... iya, aku kan masih jemuran." Aku menertawakan diriku sendiri.
"Minggir ke taman depan, Yon. Kita harus bicara. Gak aman kalau sambil jalan."
Aku menepikan mobilku ke sebuah taman. Kami tidak turun. Kami tetap berada di dalam mobil. Entah apa yang akan kak Bi bicarakan.
"Kakak mau bicara apa?" tanyaku sambil membalikkan tubuh, duduk menghadap kak Bi.
"Rion, setahun kamu sudah berkurang hampir 2 bulan."
Aku mengangguk. "Iya kak."
"Kamu tahu setahun itu untuk apa?"
"Untuk membuktikan perasaanku ke kakak, kan? Kakak mau bukti kalau aku benar-benar serius dan gak cuma main-main kan?"
Kak Bi tersenyum. "Kamu benar, tapi ada hal lain, Yon."
"Setahun ini aku juga berharap kamu bisa menyesuaikan diri antara kuliah, R cafe dan keluarga. Malah sekarang tambah usaha baru kamu."
"Membagi waktu, menabung untuk masa depan, membuka usaha dan mengembangkannya, belajar dan meraih gelar. Semua itu memang tidak mungkin selesai dalam setahun, Yon."
"Tapi setidaknya kamu sudah terbiasa menjalani semua itu."
"Karena untuk menikah bukan hanya butuh cinta. Melainkan butuh semua yang sedang kamu jalani sekarang."
"Jadi selama ini kakak udah nerima aku kak?" Ucapku senang.
"Gak juga, Yon." Kak Bi membuatku kembali lesu.
"Lalu?" Tanyaku sejurus kemudian.
"Awalnya aku belum yakin kamu gak akan berpaling. Dan hal seperti pagi tadi akan sering terjadi, Yon. Dan suatu saat perasaanmu akan hilang dan berpindah ke orang lain."
"Itu gak akan terjadi kak." Aku berkata dengan yakin. Karena memang hal itu tak akan terjadi. Hatiku sudah mentok. Gak bisa bergeser lagi.
Kak Bi mengangguk. "Kakak tahu, karena kamu berusaha menghindar pagi tadi, kan."
"Dan tadi, aku tahu kamu bersusah payah mengendalikan amarahmu." Yang dimaksud kak Bi adalah saat aku menghadapi Robi.
"Iya kak."
__ADS_1
"Sekarang, berjuanglah membuat semua berjalan seimbang."
Kak Bi benar, aku harus bisa membagi waktu dan fikiranku untuk pekerjaan, pendidikan dan keluarga.
"Dan yang kamu hadapi sekarang bukan lagi perjuangan untuk mendapatkan cinta. Tapi berusaha untuk tetap setia."
Itu berarti aku sudah mendapatkan cintanya. Aaaaaaa!!!!! Aku ingin menjerit di tengah jalan dan berkata terima kasih kaaaaaak.
"Dan suatu saat nanti, aku berharap kamu bisa menjadi kepala keluarga yang tidak lagi bergantung pada om Ray."
Oke kak. Oke.
"Jadi kita masih menggantung?"
"Mau kamu gimana?" Tanyanya menantangku.
"Maunya nikah." Ucapku mantap.
Kak Bi menggeleng.
"Kan menghindari zina kak?"
"Nah, kalau takut zina, ya jangan ketemu lagi."
"Gak, aku gak mau. Kita tunangan aja ya kak." Ucapku. Kak Bi sepertinya berfikir.
"Sudah lancar mengaji?"
Kenapa pertanyaan kak Bi keluar dari pembahasan kami.
"Insya Allah kak."
"Kalau uang kamu sudah cukup untuk biaya pernikahan dan ke Jeju Island." Kak Bi mengulum senyum
"Minta aku pada mama dan papa."
"Kak...?" Kak Bi mengizinkanku melamarnya?
Kak Bi mengangguk.
Aku bergerak maju dan merentangkan tanganku berusaha memeluknya. Tapi keningku di dorong oleh jari telunjuk mungil itu.
"Rion!"
"Heheheheh... Iya kak.. Iya..."
"Makasih kak."
"Aku pengen nagis ini. Akhirnya aku diterima juga. Ya Allah. Gak sia-sia aku berdoa setiap sholat."
Aku menarik selembar tissu di dashboard.
"Cengeng!" Godanya padaku.
"Terharu kak." Aku masih berusaha menghapus air mata yang entah mengapa terus merembes di sudut mataku.
"Mas supir. Ayo pulang!" Ucap kak Bi karena jengah aku terus menghapus air mataku.
Aku terbahak.
"Siap nyonya Orion." Aku melajukan mobil dengan perasaan bahagia.
Kalau ini mimpi. Please. Jangan bangunkan aku.
***
Plisss jangan bangunkan Rion 😁
Terlalu cepat ya?
Aku mau buat novel ini sampai ke kehidupan setelah pernikahan mereka.
Karena ini sudah bab 50an jadi udah deh. Kasian Rion berjuang terus.
kasian Ezra di gantung terus. 😊
Semoga ini gak gantung ya 😊
Kenapa tiba-tiba Bi menerima Rion?
Bagaimana Rion melamar Bi?
Bagaimana dengan Zoya dan Ezra yang masih berbeda pendapat.
Tunggu bab selanjutnya ya 😘😘
__ADS_1