BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
101 Ganti parfummu!


__ADS_3

Nath


Sore hari, sepulang dari kampus aku langsung mandi dan bersiap. Aku akan menjemput mama di rumah sakit karena malam ini bang Erza akan menjaga kak Zoya sendirian.


Papa tidak bisa menjemput. Papa sedang keluar kota karena urusan minimarket.


Aku menatap bayangan tubuhku di cermin. Ganteng.


Ganteng, tapi masih jomblo. Ck! Bukan tidak mau pacaran, hanya saja malas repot menghadapi makhluk bernama wanita.


Aku mengambil parfum dan menyemprotkan di seluruh tubuhku. Aku melihat botolnya sekilas, lalu kembali meletakkannya. Parfum limited edition itu hadiah dari Kak Bi. Parfum yang membuat si Lampir menyebut nama Reyga.


"Ck! Kenapa mikirin si Lampir sih!"


Aku bergegas turun. Aku akan mengendarai minicooper milik kak Bi. Mobil kak Bi dan kak Zoya ada di sini. Entah mengapa mereka tidak membawanya, mungkin karena belum butuh.


Ting!


Notifikasi.


Bang Ezra


Nath, kalau ke rumah sakit, sekalian bawa Tiara. Jemput dia di rumah baca.


Oh my God! Kenapa harus aku sih bang Ezra. Kenapa Nair tidak pernah dapat tugas negara seperti ini?


Nair! Ideku muncul tanpa ku minta.


"Ayolah... Angkat Nair!" Aku menempelkan ponsel di telinga, mencoba menelpon saudara kembarku.


"Assalamualaikum Nath. Ada apa?"


"Waalaikum sallam. Kamu dimana? Tolong jemput Tiara dong di rumah baca. Bawa dia ke rumah sakit. Perintah bang Ezra loh," ucapku tanpa jeda.


"Kalau kamu yang disuruh, ya dilaksanakan Nath. Udah dulu ya, ceramah udah mau di mulai nih."


Tut... tut....


"Aaaarrrhhh..." Aku meremas ponselku. Ku lihat layar ponsel dan ku ketuk berulang dengan jari telunjukku. "Naiiiir!! Susah banget sih dimintai tolong!"


Aku meletakkan ponselku di dasboard. Aku melaju menuju rumah baca dimana gadis jutek dan menyebalkan itu bersemayam.


Ck! Bersemayam, kayak dedemit. Hahahahah...


Aku tiba di parkiran rumah baca. Aku masuk ke dalam dan mendapati Rizal duduk balik meja yang biasa Tiara duduki.


"Zal, kemana?" tanyaku.


"Di belakang, bang. Lagi sholat."


"Oh." Masih jam 4.15 sih. Masih ada waktu sholat Asar. Aku duduk di depan Rizal.


"Bang. Bang Rion tambahin pegawai baru loh, buat bantu kak Tiara." Pamer Rizal sambil menatap layar komputer.


"Oh, ya?"


"Sejenis gak?"


"Iya, perempuan. Udah nikah sih, anak 1. Orangnya ada di atas." Oh, pantas saja Rizal ada di bawah, biasanya kan dia yang di atas.


"Bang, kita sehati yah."


"Ih, amit-amit." Aku memasang ekspresi jijik. Aku memundurkan tubuhku menjauh dari Rizal.


Rizal tertawa. "Isss! Bukan sehati begitu, bang! Kita bisa nyambung tanpa banyak kata yang kita ucapkan."


Aku mengerutkan kening. Belum faham nih.


"Pertama soal kak Tiara. Abang cuma nanya kemana? Tapi aku langsung jawab di belakang."


"Kita kayak faham betul kalau objeknya itu kak Tiara!" Dia tertawa, entah apa yang lucu.


"Kedua, abang tanya sejenis? Kalau aku gak faham pasti bingung dong sejenis apa?"

__ADS_1


Aku berfikir sejenak. Dia benar juga.


"Kalau bang Nair irit juga sih, tapi aku gak nyambung. Kalau sama abang beda." Ini pujian atau apa, Zal?


"Ck! Kalian beda aliran."


"Aliran apa bang?"


Aku berdiri hendak kebelakang. Aku haus dan butuh minum. "Nair aliran air sungai, kamu aliran air di bawah gorong-gorong." Aku tergelak meninggalkannya.


"Ye, kalau gitu abang juga aliran di bawah gorong-gorong dong!" Aku masih mendegar dia bergumam.


Aku membuka pintu yang menghubungkan ruangan depan dengan pantry. Bersebelahan dengan toilet. Rion sudah merenovasi bagian belakang. Hingga pantry, ruang sholat dan toilet tidak berada dalam satu ruangan.


"Astagfirullah."


"Ya Allah." Teriakku dan Tiara bersamaan karena saat ini kami bertabrakan. Tubuhku dan tubuhnya menempel tanpa jarak. Kedua tangannya ada di dadaku dan tanganku melingkar di pinggangnya.


Aku menunduk dan dapat kulihat matanya terpejam. Dia tidak gemetar, tidak terlihat gugup dan sepertinya tak berniat melepaskan diri dariku. Ah, dia menikmati aroma parfumku yang membuatnya bernostalgia dalam kenangan pria bernama Reyga.


"Ehhm..." Dehemanku yang cukup keras membuatnya tersadar dan segera mundur ke belakang.


Aku bisa saja membiarkannya berlama-lama menikmati aroma parfumku, tapi untuk apa? Jika di pikirannya adalah pria lain, bukan aku, pemilik tubuh yang ia nikmati aromanya.


"Ehm... maaf." Dia menunduk. Menyadari kesalahannya?


Tidak tahu sedalam apa lukanya dan semanis apa kenangannya, tapi sekarang aku berniat untuk mencari tahu.


Tangaku meraih handel pintu dan menutupnya. Aku perlahan melangkah maju dan dia berjalan mundur. Begitu terus hingga beberapa langkah tubuhnya membentur tembok.


"Baang!" Dia menatap mataku. Tatapannya sangat dalam. Entah apa yang ia cari dalam mataku.


Apa yang kamu lihat Tiara? Tidak ada nafs* di sana, tidak ada gair*h. Hanya ingin membuka matamu, aku Nath, bukan Reyga. Mengapa sulit bagimu untuk tetap waras hanya karena aroma parfum?


Kedua tanganku terulur ke tembok melewati sisi tubuhnya. Tiara dalam kukunganku sekarang.


"Bang!" Dia berusah mendorong dadaku.


"Lihat baik-baik, Tiara. Lihat!" Bisikku pelan tepat di depan wajahnya.


"Jika hanya karena parfum sialan itu, imajinasimu langsung melambung, membutakan kedua matamu, membuatmu lupa bahwa bukan Reyga di hadapanmu. Maka, mulai detik ini." Aku menjeda kalimatku.


"Buka matamu! Dan lihat siapa pria di hadapanmu!" Aku sedikit penuh penekanan. Hening sejenak.


Kami saling memandang tanpa berkedip. "Maka, ganti parfummu!" Dia juga berkata penuh penekanan. Suaranya bergetar, nafasnya naik turun.


"Kamu gak pernah tau bagaimana sulitnya aku mengubur kenangan kami." Tangannya memukul dadaku berulang.


"Kamu gak pernah tau bagaimana aku setengah mati mengikhlaskannya pergi." Dadanya naik turun.


"Kamu gak pernah tau, Nath!" Dia menutup mulutnya dengan tangan agar isak tangisnya tidak terdengar kedepan.


Dia duduk di lantai. Dia melipat lututnya. "Kamu gak pernah tau bagaimana aku yang setiap hari menghitung mundur, untuk menepati janji yang sekarang aku sesali." Tiara menekuk lutut dan memeluknya.


"Jangan pakai parfum itu lagi, atau aku gak akan bisa membedakan antara pelukanmu dan pelukannya."


"Atau aku akan terus berharap, menganggap kepergiannya hanyalah mimpi."


Aku terpaku, mengapa responnya berlebihan begini. Ku fikir dia akan melawanku dan menatap mataku penuh keberanian. Tapi nyatanya tidak sama sekali.


Aku berjongkok di depannya. "Sedalam apa rasa sakitmu, Tiara?" Entahlah, aku tidak tega melihatnya. Kemana dirinya yang jutek dan menyebalkan itu? Kenapa dia selemah ini? Apakah ada sisi lain dari dirimu, Ra?


Dia menatapku dengan mata yang memerah. Lalu dia menunduk lagi. Aku tak tahan, aku memeluknya. Membuat kepalanya bersandar di dadaku.


"Maafkan aku." Ucapku penuh sesal.


Setelah sepuluh menit, Tiara kembali tenang. Aku mengambil dua gelas air putih, untukku dan dia.


"Kamu mau ke rumah sakit?" tanyaku sambil mencuci gelas dan meletakkannya di rak. Dia mengangguk. Aku mengeringkan tanganku dengan kain yang menggantung di dinding dekat wastafel.


"Kalau begitu, ayo." Aku meraih tangannya tapi dia bergeming. Aku menatapnya dan matanya melihat tangaku yang menggenggam tangannya.


Ya Allah, Nath! Aku melepaskan tangannya.

__ADS_1


Kami langsung menuju mobil. "Beli makanan dulu bang, buat kak Zoy."


"Gak usah. Disana banyak banget makanan."


Hanya keheningan yang ada, Tiara bahkan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun. Jalanan macet lebih menarik baginya dibanding ponsel ataupun mobil ini, apa lagi aku? Huuh! Jauh dari daftar.


Kami tiba di ruangan kak Zoya. Tiara langsung duduk di sebelah kakakku. "Kak, bagaimana kabar kakak?" tanyanya. Aku langsung berbaring di sofa, tidur di pangkuan mama sepertinya menyenangkan.


"Nath!" Mama terkejut saat kepalaku mendarat di pangkuannya.


"Mumpung gak ada papa sama Nair, ma."


Aku memejamkan mataku, "ma, elusin rambutku dong."


Mama mengusap rambutku, ini sangat menenangkan.


"Papa dulu juga suka begini sama nenek, Nath."


"Oh, ya?" Aku baru tahu. Aku membuka mataku.


"Nath kan duplikatnya papa, ma." Sambung kak Zoya. Kakakku itu tertawa kecil.


"Bang Ezra mana, kak?" tanyaku karena batang hidungnya tidak terlihat.


"Masih di mall, ada masalah sedikit. Makanya kamu disuruh jemput Tiara, Ezra udah janji tadi, mau jemput dia. Tapi malah ada halangan."


"Sorry ya, kamu jadi harus bareng, Nath."


"Gak apa-apa kak."


"Keponakan tante, sehat ya sayang." Tiara mengelus perut kakakku. Aku bisa melihatnya dari posisiku saat ini.


"Iya tante, minta doanya ya." Kak Zoy menirukan suara anak kecil.


"Pasti sayang, tante selalu doain buat kamu." Keduanya tertawa.


Ck! Kelakuan wanita sulit dimengerti. Aku kembali memejamkan mataku.


"Oh, ya Ra."


"Tadi, ibu sama Naura kesini." Aku masih bisa mendengar kak Zoya.


"Kakak minta izin sama ibu, kakak minta kamu tinggal di rumah kakak." Aku gak salah dengar nih?


"Terus ibu bilang terserah sama kamu."


"Kamu mau kan, Ra?"


"Temani kakak kalau bang Ezra belum pulang sampai malam."


"Asisten rumah tangga kami gak bisa menginap, Ra."


"Kamu mau kan? Kebetulan di rumah masih ada satu kamar lagi, kok. Bisa kamu pakai."


"Tiara izin ayah dulu, ya kak." Suaranya lembut. Aku heran, dia bisa selembut itu.


"Ma, kita pulang jam berapa?" tanyaku pada mama


"Tunggu bang Ezra datang, Nath."


"Sekalian bawa Tiara ya, ma!" Pinta kak Zoya.


"A... aku naik ojek aja kak." Tiara berusaha menolak.


"Gak boleh Tiara!" Kak Zoy marah.


"Kami akan mengantarkanmu, Tiara." Suara lembut mama membuat Tiara tak bisa lagi menolak.


****


Hari ini aku munculin Nath 😊


Jejak kalian plisss 😚

__ADS_1


Kira-kira udah ke tebak belum kisah Nath-Tiara akan seperti apa?


🤔🤔🤔


__ADS_2