BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
41 Mudah-mudahan aku sanggup


__ADS_3

Bintang


Aku berjalan masuk setelah meninggalkan Rion yang memasang wajah terkejutnya. Dia terkejut karena kesempatan yang ku beri.


Aku melangkah dengan perasaan tenang dan lega.


Ternyata semua ini yang mengikatku erat, mencekik leherku dan membuatku hidup tapi terasa mati.


Semua bebanku kini menguap begitu saja, entah kemana.


Rion? Biarlah waktu yang menjawab. Jika dia benar-benar mencintaiku, maka membuktikannya tidak akan sulit.


Kenapa setahun? Aku tidak ingin egois. Dia baru memulai bisnis dan kuliah. Dia menjalaninya bersamaan.


Dan aku berharap, setahun cukup untuknya beradaptasi menjalani keduanya sebelum akhirnya dia memikul tanggung jawab sebagai suami. Itupun jika dia mampu memenuhi apa yang ku minta.


"Kok masuk, Bi?" tanya mama saat aku masih menaiki dua anak tangga.


Semua orang menatapku, tak terkecuali Om Ray dan tante Sania.


"Bi mau tidur, Ma." Aku pura-pura menguap.


"Kamu lihat Rion, Bi?" tanya om Ray.


Basa-basi kalian. Ck... ck...


Aku mengangkat bahu. "Di belakang om, gak tau sedang apa."


"Bi, ke atas dulu, Ma, Pa, semuanya." Ucapku lalu naik ke atas.


"Chia, kak Bi masuk dulu ya." Pamitku pada Chia. Gadis yang sudah berusia 14 tahun itu.


"Iya kak." Chia mengangguk. "Selamat istirahat."


Aku masuk ke kamarku dan langsung merebahkan tubuh di kasur dengan memeluk bantal kecil berbentuk love.


Mudah-mudahan keputusanku ini benar. Batinku.


Jika perasaan Rion memang benar-benar tulus, dia akan membuktikan apa yang ku minta.


"Terima Rion kembali, Bi." Kata tante Rara sore tadi saat aku duduk termangu di sofa ruang kerjanya.


Tante Rara baru saja masuk ke ruangannya karena sedari tadi ia sedang mengawasi pegawainya di lantai satu.


Aku menatap tante Rara. Mengapa tante Rara bicara seperti itu?


"Dia banyak berubah, kamu tahu itu."


"Dia mengalami banyak hal tanpa kamu di sini." Tante Rara duduk di sampingku.


Aku diam. Apakah kecelakaan itu?


"Coba tanya hatimu, Bi."


"Sejauh mana perasaanmu padanya." Tante Rara diam cukup lama.


"Bi..." Aku bingung harus bicara apa.


"Kamu inginnya bagaimana?"


Hening. Aku diam memikirkan apa mauku. Apa keinginan hatiku. Apa hal yang ku impikan di masa depan.


Aku menutup mataku dengan bersandar pada sofa. Tapi bayangan Rion yang muncul. Ku buka mata dan ku tutup lagi. Masih Rion?


Aku menegakkan dudukku. Tante Rara yang duduk di sebelahku tak mengalihkan pandangannya di wajahku. Senyumnya perlahan terbit.


"Sudah tahu jawabannya?"


Aku mengangguk lemah.


"Bi, sejauh apa pun kamu lari. Jika Allah sudah menulis nama Rion sebagai jodohmu. Maka dia akan tetap menjadi jodohmu."


"Sekarang tinggal bagaimana kalian bersatu, dengan cara yang baik atau dengan cara yang salah. Perbedaanya terletak pada keberkahan yang kalian dapat saat bersama nanti." Aku menatap tante Rara yang berbicara penuh kelembutan.


"Percayalah Bi, menemani seseorang dari nol akan sangat membanggakan jika kalian tiba di puncak dengan tangan yang masih saling menggenggam."

__ADS_1


"Seperti Om Langit yang menunggu tante menjemput kesuksesan."


"Seperti tante yang menemani om Langit sejak ia belum menjadi siapa-siapa."


Ceklekk...


Suara handle pintu yang membuat anganku buyar seketika. Zoya mengintip dari luar dengan membuka pintu sedikit.


"Masuk Zoy." Perintahku dengan nada lembut.


"Rasa penasaran akan membun*hmu malam ini juga."


"Hahahah..." Dia masuk sambil tertawa.


"Tau aja. Bisa-bisa aku gak tidur semalaman, Bi." Ucapnya sebelum menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


Bibirku maju lima inci mencibirnya.


"Gimana Bi." Zoy tidur tengkurap, menopang dagu dengan siku yang bertumpu di bantal.


Aku menatapnya sekilas. "Apanya?"


"Rionlah, masa anu-nya." Ucap Zoy sebal.


Aku memukulnya dengan bantal kecil berbentuk love yang sedang ku peluk. "Akibat kelamaan jomblo."


"Hahaha... Aku jomblo seumur hidup, Bi. Sesuai KTP." Ucapnya terbahak.


Aku langsung duduk. "Kamu benar. Jangan-jangan selama ini kita jomblo gara-gara KTP Zoy."


"Emang iya. Status belum kawin. Berlaku seumur hidup pula." Zoya cemberut. "Derita banget, Bi."


"Hahahah." Aku terbahak.


"Kamu mah segampang mendial nomor Ezra dan bilang. Lamar aku sekarang Zra." Aku menempelkan taganku di telinga seolah-olah sedang menelpon.


"Dia langsung cuzzz... datang bak pahlawan bertopeng."


"Ngaco!" Dia melempar kembali bantal berbentuk love itu.


"Ezra gak pernah menyakitimu, Ezra juga gak pernah berhenti mencintaimu. Kamu nunggu apa Zoy?"


"Nunggu kamu!" Zoya tersenyum simpul.


"Kita double honeymoon." Lanjutnya.


Aku menatapnya tak percaya. "Are you seriously?"


"Serius, Bi!"


****


Orion


Aku masuk ke dalam rumah dengan wajah datar. Aku ingin membuat mereka menebak-nebak apa yang terjadi. Karena aku tak yakin kak Bi sudah mengatakan yang sebenarnya.


"Rip Rion!" Ucap Nath lemas.


"Turut berduka cita, Yon!" Ucap Nair kemudian.


Papi menepuk pundakku. "Hidup harus tetap lanjut, Yon."


Aku hampir terbahak, mereka bicara apa?


"Sudah bicara dengan Bi kan, Yon?" Tanya tante Lintang padaku. Wajahnya terlihat khawatir seperti mami.


Aku mengangguk, "sudah tante."


Tante Lintang menghela nafas. "Bagaimana?"


Aku menggeleng.


"Semoga ini yang terbaik."


"Semoga tante, semoga saja." Ucapku penuh harap.

__ADS_1


Jelas aku berharap ini yang terbaik. Diberi kesempatan, diberi waktu untuk membuktikan.


Hampir semua yang diminta kak Bi sebenarnya sudah aku penuhi.


Mencintainya tanpa batas. Sudah.


Memberinya kebebasan dan kenyamanan. Kalau kebebasan, sudah. Kalau kenyamanan aku rasa belum.


Menjadikannya istimewa dan satu-satunya. Sudah sejak dulu. Karena dia satu-satunya wanita yang bertahta di hatiku.


"Ayo pulang." Ajak papi. "Chia besok harus sekolah."


Mami menyetujui. Mungkin mereka ingin segera menghiburku.


Aku menyalami om Akhtar. "Pulang dulu calon papa mertua." Ucapku sambil tersenyum.


Semua orang tercengang menatapku. Bahkan om Akhtar tak melepaskan tanganku.


Aku ingin terbahak melihat wajah mereka.


Nath langsung menarikku hingga aku terguling di karpet. Nair membantunya dan kini posisiku seperti maling ayam yang tertangkap warga.


Nath duduk di atas tubuhku yang tengkurap dengan tangan di samping kepala yang di pegang Nair.


"Penyiksaan ini, woy!" Teriakku sambil menggoyangkan tubuh mencoba melepaskan diri.


"Kamu bilang apa?"


"Kak Bi bilang apa?" teriak Nath.


"Lepaskan dulu!" teriakku.


"Ogaah!!" teriak mereka.


"Mau kurang ajar sama abang ipar, heh?" Ucapku pada mereka.


Keduanya melepaskanku. Aku langsung mengambil posisi duduk.


Lalu nyengir kuda menghadap mereka berdua.


"Jelaskan, Yon! Apa maksudmu!"


"Kak Bi terima aku."


Wajah mereka mulai ceria.


"Tapi setahun lagi dengan bukti."


"Bukti?" tanya Om Akhtar.


Aku mengangguk.


"Bukti apa?" tanya papi ikut penasaran.


"Rahasia." Aku memasang wajah tengilku.


"Rion..." Peringatan pertama dari mami. Terdengar dari nada bicaranya.


"Bukan materi atau apapun." Ucapku.


"Mudah-mudahan aku sanggup, Mi."


"Congrat's calon abang ipar." Nath meninju lenganku.


"Nair, perlu diplonco gak kira-kira." Tanya Nath pada Nair.


"Haruslah!" Ucap Nair dengan aura gelapnya.


Oke. Selamat datang di hari-hari penuh penyiksaan, Rion! Batinku


****


Satu bab dulu, Kagak sanggup ngetik😭 Mata tinggal 5 watt. 😴😴


Kalau dapat hidayah siang/sore up lagi kak 😁

__ADS_1


Jejak harap di tinggal kak 😊


__ADS_2