BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
8 Syarat


__ADS_3

Bintang


"Ma..." Aku menangis tersedu saat mama memelukku.


"Bi, ada apa nak?" Aku memeluk erat tubuh mama. Menyembunyikan wajahku di dadanya. Wanita yang mejadi pahlawanku sejak kecil.


"Masuk dulu, sayang. Rion, ayo masuk, Nak!" perintah mama.


Aku melupakan Rion. Remaja itu ternyata masih berdiri di teras.


Kami masuk kedalam, papa dan yang lain sudah berdiri menyambutku yang pulang sambil menangis.


"Bi, kenapa Nak?"


"Bi..." Aku menatap Zoya dengan wajah khawatirnya.


"Kak..." Nair dan Nath kompak.


Aku memeluk papa. "Maafkan Bintang pa. Karena gak mendengarkan omongan papa."


"Hei, sayang!" Papa mengelus kepalaku. "Kenapa nak?"


"Biar kak Bintang tenang dulu, om!" Rion membuat semua orang diam dan tak bertanya lagi.


Aku diam beberapa saat.


"Minum dulu, Bi." Mama memberikanku secangkir teh yang baru di bawa Bi Imah.


"Rion, minum juga Nak."


Setelah menyesap teh, aku menatap semua orang. Air mataku kembali menetes.


"Bi..." Aku memeluk erat tubuh mama. Tak sanggup bercerita bahwa aku hampir diperko*sa atau mungkin dibun*h.


"Om, tante. Kak Bintang dirampok saat menunggu jemputan Nair sama Nath." Itu, itu suara Rion. Aku menatap pemuda itu sekilas.


Terima kasih Rion. Terima kasih.


"Ya Allah, Bi!" Mama memelukku.


"Bi..!"


"Kak...!"


Semua orang terkejut.


"Kamu gak apa-apa sayang? Ada yang luka?" Mama membuka jaket Rion yang ku pakai. Dan terlihatlah kulit bahuku yang terluka karena kuku pria tadi. Kemejaku yang sobek mungkin hingga ke punggung. Dan memperlihatkan tali tanktop ku yang berwarna putih.


"Astagfirullah, Mas!" Jeritan mama membuat papa bergeser di sebelahku.


"Kurang ajar!" Maki papa begitu melihat pakaianku yang sudah tak berbentuk.


"Kamu diapain, Bi! Kamu belum di..." Mama menangis, tak sanggup meneruskan ucapannya.


Aku memeluk mama. Aku menggeleng. "Kalau Rion gak datang, mungkin... mungkin Bi." Air mataku kembali menetes saat menunjuk Rion dengan tanganku yang terasa lemas.


"Ya Allah, Bi."


"Rion! Bisa ceritakan bagaimana kamu ada disana!" Pinta papa.


Ya, aku pun penasaran Rion bisa disana. Apa mungkin dia mengikutiku seperti biasanya.


***


Orion


"Aku melihat kak Bintang ada di cafe bersama Bu Alya, Om. Mereka baru keluar dari cafe dan menuju tempat parkir." Aku mulai bercerita.


"Mereka berboncengan dengan motor sementara cuaca sedang mendung."


"Aku mengikuti mereka, khawatir hujan tiba-tiba turun." Kali ini aku jujur. Dan selain takut hujan turin. Aku juga ingin memastikan Bintangku sampai dengan selamat.


"Sampai kak Bi berhenti dan tiga pria mendatanginya."

__ADS_1


"Sayaaang." Aku mendengar tante Lintang bergumam sambil memeluk tubuh kak Bintang.


"Aku segera turun, tapi bodohnya aku parkir terlalu jauh. Dan keburu kak Bintang lari ke taman yang banyak pepohonan."


Aku sedikit berbohong disini. Aku parkir terlalu jauh karena tak ingin kak Bintang tahu jika aku membuntutinya.


"Aku berhasil menemukan kak Bintang yang masih berusaha lari."


"Lalu kami bersembunyi di balik pohon."


"Kenapa gak kamu hajar, Yon. Kamu jago bela diri. Tapi ngelawan tiga orang masa gak sanggup." Nath yang sedari tadi anteng. Kini angkat bicara.


"Aku sanggup, Nath!" Ucapku penuh penekanan.


"Aku cuma gak mau ambil resiko. Gimana kalau saat aku melawan 2 orang dan satu orang yang lain berkesempatan melukai kak Bintang!" Ucapanku membuatnya terdiam.


"Kita lapor polisi om! Hp kak Bi juga mereka ambil. Dan aku takut mereka menyalahgunakannya."


"Iya, pa! Mudah-mudahan Hp Bintang masih terlacak." Ucap kak Zoya.


Aku dan Om Akhtar pergi ke kantor polisi. Kami membuat laporan dan aku adalah saksi.


Kak Bintang tidak bisa ikut. Mungkin pihak kepolisian akan meminta keterangannya lain hari.


Aku mengatar om Akhtar pulang. Suasana di mobil hening. Om Akhtar hanya memandang lurus kedepan.


"Rion, om boleh tanya sesuatu?"


Aku terkejut, apa yang akan ditanyakan om Akhtar padaku.


"Boleh, Om." Aku mengangguk dan kembali menatap kedepan.


Entah mengapa kami menjadi kaku begini. Padahal biasanya kami sering melempar candaan. Seperti yang sering om Akhtar lakukan dengan papiku.


Alasannya mungkin karena situasi dan peristiwa yang membuat mereka semua terpukul.


Mutiara yang mereka jaga bertahun tahun lamanya, nyaris di sentuh oleh orang kurang ajar.


"Sejauh apa perasaanmu pada Bintang!"


Sejauh apa perasaanmu pada Bintang?


Sejauh apa?


Sejauh apa?


Suara om Akhtar seolah menggema di dalam mobil ini.


Apa aku ketahuan? Apa sikapku pada kak Bintang terlalu kentara hingga om Akhtar dengan mudah menebaknya?


Atau kak Bintang sudah memberi tahu om Akhtar?


"Maksudnya, om!" ucapku gugup. Rion bodoh! Pertanyaan macam apa itu, Rion!


"Mau gentle mengakui atau restu om gantung setinggi langit!" Ucapnya penuh penekanan.


Apa ini yang disebut, jalanmu terbuka lebar?


"Aku cinta sama kak Bintang, Om!" Aku memandang om Akhtar sekilas.


"Sejak kapan?" Pertanyaan lagi?


"Sejak..." Aku bingung sejak kapan.


"Kamu tidak tau sejak kapan?" Sial, tatapan itu. Tatapan meremehkan.


Aku mengangkat bahu. "Yang ku tahu, sejak SMP aku mulai merasa aneh pada diriku, Om."


"Semua temanku, termasuk Ethan dan Nath mengaku menyukai murid perempuan. Entah itu yang sekelas dengan kami atau murid dari kelas lain."


"Nath?" Tanyanya?


Oh my god! Mamp*s!!

__ADS_1


"Heheh. Kita fokus ke ceritaku ya, Om!"


"Hem!" Hanya Hem? Habislah aku dijadikan samsak oleh Nath.


"Tapi aku mulai menyadari sesuatu om. Saat kak Bintang diperkenalkan sebagai guru baru."


"Disitu aku menyadarinya. Aku jatuh cinta."


"Disitu aku bisa melihat kak Bi dari sudut pandang berbeda."


"Sebagai orang lain."


"Bukan sebagai adik-kakak."


"Bukan sebagai kakak dari temanku."


"Bukan sebagai anak teman papiku."


Aku menatap om Akhtar. Entah apa yang membuatku seberani ini. Dan aku merasa lega. Dugaanku salah. Ku fikir om Akhtar akan menghajarku habis-habisan.


Tidak atau mungkin belum? Aku akan tetap bersiap, Om. Menerima bogem mentah terbaik darimu.


"Lalu mau kamu bagaimana?" Ini dia, pertanyaan pancingan.


"Ya, aku ingin menikahinya setelah lulus. Jika om memberi restu." Oh lidahku bak jalan tol yang lancar mengucapkannya.


Mudah-mudahan ijab-kabul juga selancar ini. Eh...


"Lalu, Bintang mau kamu kasih makan apa? Cinta gak akan buat anak om kenyang, Rion!"


To the point yang mengoyak harga diriku. Aku tidak miskin om! Aku pewaris Danadyaksa.


Ingin aku menjerit di depannya. Tapi tidak akan kulakukan. Jika papi tahu dan dia marah karena aku kurang ajar pada temannya, maka aku akan jadi gembel tampan dalam sekedipan mata.


Karena papi dengan lantangnya akan berkata Kamu di coret dari KK.


"Coba berdiri diatas kakimu sendiri."


"Itu syarat pertama."


Dan ucapan om Akhtar berhasil membuatku menatapnya.


"Lihat kedepan, Rion!" Perintahnya. Iya-iya. Aku juga belum mau mati, om. Masa iya kak Bi jadi janda sebelum menikah!


"Syarat kedua, tunjukkan bahwa Bintang istimewa bagimu!"


Dia selalu istimewa om!


"Om merestui?" Aku menjerit sangking senangnya. Ada syarat, berarti ada restu yang menanti.


"Belum, Rion!" Ucapnya kesal. Dan aku terkekeh pelan.


"Syarat ke tiga. Buat Bintang menerimamu. Jika Bintang datang pada om dan meminta restu. Maka detik itu juga, datanglah. Minta putriku dengan cara baik-baik!"


"Terima kasih. Terima kasih om!" Aku menjabat tangan om Akhtar.


"Setir yang bener! Belum apa-apa udah kurang ajar. Mau bunuh mertua." Inilah kami sebenarnya. Bercanda tanpa tedeng aling-aling.


"Ada syarat utama."


"Apa om?" tanyaku semangat.


"Jangan sentuh putriku!"


"Dan dengar! Obrolan ini hanya untuk kita berdua!"


"Bocor sedikit. Restu om simpan balik." Om Akhtar berlagak memasukkan sesuatu ke saku bajunya.


"Siap, Om."


"Cium dikit boleh kali, om!" candaku.


"Bibir kamu, om Jahit!"

__ADS_1


Kejam!


__ADS_2