
Zoya
Jam dinding menunjukkan angka 10. Dan malam ini aku masih di kantor salah satu cabang Arumi Resto.
Restoran ini tak sebesar cabang yang lain tapi entah mengapa manager menelponku dan aku harus segera datang. Ada masalah dengan laporan keuangan.
Di mejaku sudah tersedia segelas minuman bersoda yang dibawa pelayan restoran. Aku belum menyentuhnya sama sekali karena terus memeriksa berkas yang menurutku tak ada masalah sama sekali.
Aku juga sedang menunggu laporan keuangan beberapa bulan lalu. Padahal Resto sudah akan tutup sebentar lagi.
Ini hari minggu tapi aku tetap bekerja. Huuh! Miris emang. Tapi aku akan lakukan jika menyangkut Arumi Resto. Apalagi ini ada masalah penting. Manager langsung menelponku jam 8 tadi dan memintaku datang.
"Sebentar lagi, Zra. Pak Daniel lagi cari berkasnya." Ucapku pada Ezra yang sedang menelponku.
Aku memakai headset buetooth dan meletakkan ponselku di atas meja.
"Udah malam loh Zoy! Alina sama kamu gak?"
"Enggak Zra. Aku jalan kesini jam 8 tadi. Alina juga masih dijalan pulang dari rumah orang tuanya, Zra."
"Kamu hati-hati Zoy. Perasaan aku gak enak. Aku susul kamu ya."
Taaak!
Aku tanpa sengaja menyenggol minuman di gelas itu. Hingga tumpah di meja dan lantai. Untung saja tidak mengenai berkas di atas meja.
"Suara apa itu Zoy?"
"Aku numpahin minum Zra." Aku membersihkan dengan tissu, air yang ada menggenang di meja.
Yang dilantai nanti saja. Minta tolong pelayan untuk beresin. Batinku.
Ceklek.
Pak Daniel masuk dan sudah duduk di depanku Pria berusia 35 tahun itu tersenyum menatapku. Tapi senyumnya terlihat berbeda. Seperti terlalu senang. Padahal kami sedang berusaha mengatasi masalah.
"Sudah habis di minum rupanya." Dia menyeringai dan duduk bersandar pada kursi di depanku.
"Sudah ada reaksi Bu Zoya?" tanyanya.
"Reaksi?"
"Detak jantung berpacu lebih cepat, tubuh memanas, dan ada perasaan ingin disent*h?"
Pertanyaan macam apa itu? Dia kenapa kurang ajar begini?
"Dimana yang ingin disent*h? Aku akan dengan senang hati melakukannya."
"Zoy! Keluar Zoy! Kenapa Daniel ngomongnya kurang ajar begitu?"
"Reaksi apa yang dia maksud."
Aku mendengar suara Ezra yang mulai panik.
Aku berusaha tenang melirik gelasku. Dia memasukkan sesuatu ke minumanku?
"Sekarang kita bahas masalah saja pak. Ini sudah terlalu malam, saya harus segera pulang." Ucapku tegas meminta berkas di tangannya.
Daniel membuka kancing kemejanya dan bergerak mendekatiku. Wajahnya tersenyum licik.
Ini gak beres.
"Zoya!" Ezra memanggilku.
"Kita kerjakan yang lebih seru, Zoya."
Dia hanya memanggil nama.
Aku mundur dan berusaha berlari kearah pintu. Tapi Daniel berhasil menangkap pergelangan tanganku.
Aku berusah berontak dan melepaskan tangaku. Tapi tenanganya terlalu kuat.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Aku menatapnya tajam.
"Kita senang-senang!"
"Zoya! Lari Zoy!"
"Zoya!"
"Brengs*k!!"
"Tin... tin... tin...!"
Zra, hati-hati Zra. Jangan ngebut, bahaya. Aku berbicara dalam hatiku seolah Ezra bisa mendengarnya.
Ezra terus memanggilku.
"Kurang ajar." Makiku.
"Tubuhmu yang kurang ajar, Bos cantik." Dia berusaha mendekat dan menyentuh wajahku. Tapi aku sempat berpaling muka. Hingga dia hanya berhasil menyentuh hijabku.
"Dulu tanpa hijab, kamu terlihat menggoda." Tatapan mesumnya, Aku benci!
"Dan sekarang, tertutup begini. Kamu bikin penasaran."
Kenapa aku tak pernah menaruh curiga padanya? Tapi dia memang sama sekali tidak mencurigakan. Ini kali pertama dia kurang ajar begini.
Apa dia mabuk?
"Brengs*k! Bajinga*n!"
Ezra terus memaki.
"Lindungi Zoya Ya Allah! Calon istriku!"
Aku menendang sela pahanya. Untung saja aku memakai celana. Tapi sepertinya kurang tepat sasaran hingga dia tak terlalu kesakitan.
"Berani-beraninya."
Plaaak!! Tamparannya berhasil membuat tubuhku terhempas menabrak nakas.
"Anak har*m aja belagu!"
Aku menatapnya tajam. "Kenapa kaget? Semua orang sudah tau. Pak Akhtar bukan orang tua kamu!"
Aku tak menyangka karyawanku sudah tahu. Tapi aku sama sekali tak pernah mendengar mereka membicarakanku.
Tentu saja, karena mereka pasti membicarakan aku saat aku tidak ada. Karena takut di pecat.
Dia mendekat dan menarik hijabku hingga kepalaku mendongak. "Sampah akan tetap jadi sampah!"
"Pengec*t! Aku akan segera kesana Zoy!"
"Bertahan Zoya! Aku akan membun*hnya dengan tangaku sendiri."
Aku tahu Ezra panik. Dia terus memaki, mengumpat tapi sesekali berdoa untuk keselamatanku.
Aku tak boleh panik. Aku harus mengulur waktu sampai Ezra tiba disini. Dan menyelamatkanku.
Untung saja headsetnya ku selipkan di dalam inner jilbab. Dan tak terlihat oleh Daniel.
Aku sengaja tak menjawabnya. Karena jika Daniel tahu Ezra mengetahui ini, aku pasti akan segera dieksekusi.
Aku harus bertahan meski seluruh tubuhku penuh luka. Yang terpenting dia tak mengambil milikku yang paling berharga. Hak untuk suamiku kelak.
"Jangan... kurang ajar Daniel! Aku ata...sanmu!" Ucapku sedikit susah karena tali hijab di bawah daguku terasa mencekik leherku. Kebetulan aku memakai pashmina yang terdapat tali di bagian dagu.
"Tapi aku menyukaimu!"
"Ka-mu punya istri."
"Lepas Daniel!"
__ADS_1
"Layani aku dan kamu akan bebas!"
"Lapor polisi dan saudarimu akan mati!"
Bi?
"Dia menjadi dosen kan? Dilamar juga kemarin malam?"
"Apa jadinya jika aku juga mencicipinya sebelum suaminya?"
"Hahahah. Pasti seru."
Dia gila.
"Bertahanlah Zoya. Aku hampir sampai*."
Aku sedikit lega, Ezra sudah hampir sampai.
"Kamu sentuh dia, maka se-mua jemarimu a-kan habis!"
Plaaak...
Lagi-lagi tamparan keras yang ku terima. Aku menatapnya tajam. "Aku bersumpah, setiap tamparan ini akan terbalas!" Teriakku.
"Sudah terdesak, masih berani melawan!"
"Menjerit sesukamu. Karyawan kita tidak akan ada yang bisa dengar. Mereka sudah pulang."
"Buka pintunya! Aku mau masuk."
"Bang Ezra? Belun dikunci bang. Bu Zoya masih di dalam kok."
"Tap... tap... tap..."
Aku bisa mendengar semuanya Zra. Cepat Zra!
Aku mencoba berlari kearah pintu. Aku mencoba membuka dan dikunci.
"Cari ini, Zoya?" Daniel mengayunkan kunci di tangannya.
Aku menatapnya tajam.
Ceklek... ceklekk... Handle pintu bergerak.
Ezra!
Daniel langsung panik dan berlari ke arahku.
Aku menggedor pintu.
"Zoya!!"
"Zraaa!!"
"Mmmmmmppp." Daniel membekap mulutku.
"Diam, atau mati!" Bisiknya. Tapi aku beruntung, Daniel tak membawa senjata tajam sama sekali. Mungkin hal ini diluar dugaannya. Mungkin dia sudah yakin obat yang dia masukkan ke minumanku sudah cukup untuk menjebakku.
Aku berusaha berontak. Dan Daniel berusaha membawaku menjauh dari pintu. Dia takut Ezra semakin mendengar suaraku.
"Braaakkkkk!!!" Dalam sekali dobrak pintu itu terbuka.
****
Lanjut lagi siang ya 😚
Kenapa ada scene ini thor?
Biar seru aja 😂
Jejak ya kak 😊
__ADS_1