
Orion
Aku dengan rasa percaya diri menyentuh langit memasuki rumah yang menjadi rumah kedua bagiku.
Aku berjalan di belakang papi dan mami yang bergandeng tangan seperti truk. Yeah, truk gandeng.
Dan untuk sementara aku harus ikhlas jemari tanganku menjadi sarang laba-laba karena belum ada yang menyisipkan jemarinya di sela-sela jemariku. Belum ada yang menggandeng tanganku. But it's okey Rion, bukankah semua indah pada waktunya.
Kami duduk di ruang tamu dengan sandaran sofa yang menenggelamkan badan kami. Tapi sebelumnya aku menyalami om Akhtar dan tante Lintang.
Dari arah belakang datang tante Bunga dan om Satya, membuat hatiku cenat-cenut. Papi mau ngelamar kak Bi????? Ahh, Papi terbaik!!!
Tante Bunga meletakkan cemilan dan minum untuk kami. Ini sudah mereka persiapkan sebelumnya? Sungguh berhasil membuatku menerbitkan senyum terbaik meski dengan sudut bibir yang sedikit perih.
"Kenapa senyum-senyum?" bisik papi.
"Bersikap cool. Bibir kamu hampir nyentuh telinga kalau kamu senyum begitu." Bisik papi lagi.
Aku langsung memudarkan senyum. Bibirku sampai telinga? Emangnya aku jocker!!!
Kak Bi dan kak Zoy turun dari lantai dua. Keduanya memakai dress sebetis dengan lengan panjang.
Beginikah penampakan bidadari turun dari khayangan?
"Mata kamu Rion!" Bisik papi lagi. Mungkin pria di sampingku itu memperhatikanku yang sama sekali tak berkedip melihat pujaan hatiku.
"Hehehe." Aku tertawa pelan.
"Stay cool kalau mau selamat!"
Ada kode rahasia dibalik ucapan papi. Tapi apa?
Kak Bintang dan kak Zoya ikut bergabung setelah menyalami kedua orang tuaku.
"Baiklah Ray. Kami mengundang kalian karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan." ucap Om Satya.
Jadi, papi diundang?
Dan om Satya menjadi juru bicara. Oh god, ada apa ini?
"Iya bang. Menurutku memang semua yang dimulai anak-anak harus kita selesaikan. Mengingat pekerjaan Bintang dan status Rion yang merupakan muridnya di sekolah. Akan sangat tidak baik untuk kedepannya jika masalah ini di biarkan berlarut-larut."
"Okey, sekarang yang terpenting hanya satu. Yaitu hubungan antara Bintang dan Rion harus di perjelas." Ucap om Satya kemudian.
"Ayah!" Kak Bi menatap om Satya.
"Bi, tenang Nak." Tante Lintang mengelus lengan kak Bintang.
"Lin, kamu saja yang bicara. Karena kamu yang lebih berhak." Ucap om Satya.
Aku dan kedua orang tuaku masih diam mengikuti alur yang mereka buat.
"Baiklah kak."
"Rion, Bintang. Mama gak tau hubungan kalian seperti apa? Dan bagaimana perasaan kalian. Tapi satu hal," tante Lintang menghela nafas.
"Kalian pilih salah satu. Nikah atau pisah."
"Nikah." Ucapku mantap.
"Pisah." Ucap kak Bi bersamaan denganku.
Membuat semua orang menunjukkan ekspresi berbeda. Kak Zoya mengulum senyum menahan tawa. Om Akhtar juga sama.
Tante Bunga dan om Satya diam tanpa ekspresi. Dan kedua orang tuaku menatapku khawatir.
Sementara aku dan kak Bintang sama-sama ternganga mendengar jawaban berbeda dari mulut kami.
"Ehhm." Tante Lintang berdehem. "Jadi mau bagaimana?"
"Beri alasan masing-masing." Pertanyaan tante Lintang seperti seorang guru BK yang mengintrogasi murid bermasalah.
"Kare-"
"Kar-"
Aku dan kak Bi berucap bersamaan. Kami saling pandang, dan gadis disebelah kak Bi semakin menahan tawanya. Siapa lagi kalau bukan kak Zoya.
"Satu-satu. Jangan rebutan." Ucap tante Lintang .
"Karena Rion-"
"Bi mau-"
Ucap kami bersamaan lagi. Kak Zoy meledakkan tawanya. "Hahahahah. Nikahkan aja ma, udah sehati gitu." Semua orang menatapnya dan dia langsung diam tak berkutik.
"Hehehe. Iya... iya... Zoy gak ngomong lagi." Ucapnya pelan.
"Rion! Kamu duluan!" Ucap om Satya. Yes! Kepala rumah tangga memang harus lebih dulu om.
"Karena Rion serius Om, tante."
"Kak, aku serius. Aku gak pernah main-main dengan ucapanku."
__ADS_1
"Aku tulus menyayangi kakak."
"Aku akan tanggung jawab atas hidup kakak setelah menikah nanti."
"Maaf Rion, kakak gak bisa!" Semua orang menatap kak Bintang.
"Kakak sayang sama kamu, itu benar." Aku lebih sayang kakak.
"Tapi kalau cinta," Kak Bi menggeleng. "Mungkin bukan tidak ada, tapi belum." Lanjutnya.
"Setelah pak Vano, kamu datang."
"Tapi aku ada sebelum pak Vano ada dalam hidup kakak." Sahutku cepat.
"Kamu benar, tapi dulu kamu belum begini, Yon!"
"Ini terlalu mendadak untukku."
"Kita tidak akan memulai apapun. Kita akan tetap seperti dulu."
"Benar kata mama. Kita memulai dengan cara yang salah." Kak Bintang melihat kearah tante Lintang. Wanita itu tersenyum.
"Lalu, tidakkah kalian canggung saat bertemu setelah masalah ini?" tanya om Satya.
"Papa gak percaya lagi sama dia, Bi." Om Akhtar menunjukku.
"Kamu bisa jaga dirikan?" tanyanya pada kak Bi.
Aku mengangkat sebelah alisku. Memangnya aku apaan?
Kak Bi tersenyum. "Bi sudah putuskan, Pa."
"Bi akan melanjutkan S2 di luar negeri."
"Apa!"
"Bi!!
"Bintang!"
"Gak boleh!" Itu teriakan kak Zoya.
Kak Bi sampai terkejut kami sama-sama berteriak.
Kak Bi menghela nafas. "Ini harus, Ma."
"Bi ingin menata ulang hidup Bi."
"Begitu juga Rion!"
"Dan Bi yakin itu."
"Tapi gak harus keluar negeri, Bi!" Kak Zoya berdiri. Dia marah dengan keputusan kak Bi.
"Kalau ada yang harus pergi. Itu dia, Bi." Kak Zoya menunjuk kearahku.
"Zoya..." tante Lintang meminta Zoya duduk dengan isyarat tangannya.
"Enggak ma! Sampai kapanpun Zoy gak akan setuju. Nath dan Nair pasti juga sama, mereka gak akan setuju."
"Kamu apa-apaan, Bi! Kamu gak mau ketemu dia." Lagi-lagi kak zoya menunjukku. "Tapi kamu mau kita semua pisah dari kamu."
"Om Ray!" Zoya menatap papi.
"Uang om banyak kan?" Papi mengangguk.
"Kalau gitu, tolong bawa anak om ini pergi jauh. Jangan sampai dia mendekati Bi lagi. Atau aku akan ikut menghajarnya seperti Nath dan Nair." Ucapan kak Zoya membuat semua orang menatapku.
Mereka mungkin baru menyadari hancurnya wajahku karena ulah Nair dan Nath. Karena sebelumnya mereka mengira ini ulah papi.
"Zoy, duduk dulu!" Kak Bi menarik tangannya untuk duduk. "Kamu bikin suasana makin panas, Zoy!"
"Om bisa saja kirim Rion kemanapun, bahkan ke antartika." Mataku membulat. Ah, temanku beruang kutub dong?
"Tapi, om gak bisa jamin perasaannya akan berubah."
"Harus berapa lama om menjauhkan mereka?"
"Sampai Bi menikah atau sampai Rion menikah?"
"Bagaimana jika kalian berjodoh, Bi?" tanya papi pada kak Bi.
"Bukankah kita hanya membuang-buang waktu."
Papi menghela nafas. "Om belajar dari pengalaman, Bi."
"Om dan tante Sania berteman sejak SMA. termasuk papamu, om Josep dan om Dion." Papi menunjuk om Akhtar.
"Kami sama-sama mengulur waktu demi membuktikan perasaan kami hanya perasaan sayang pada sahabat." Papi mengenggam tangan mami.
"Tapi nyatanya kami tak bisa menerima orang lain."
"Kamu tau? Belasan tahun kami menunda dan nyatanya kami berjodoh." Mami mengusap bahu papi.
__ADS_1
"Kami menikah di umur 30 tahun itupun karena almarhum opa-nya Om yang meminta dengan sakitnya yang beliau jadikan alasan."
"Seandainya kami tidak mengulur waktu. Kami mungkin menikah di umur 23 atau 25. Jika itu terjadi, Bukankah harusnya Rion seusia denganmu?"
"Tapi ini takdir manusia Bi. Allah sudah siapkan semuanya."
"Kamu ingat Lin, dulu Akhtar selalu memakiku dan ogah-ogahan berbesanan denganku, saat aku berniat menjodohkan Rion dengan Bi atau Zoya, tapi lihat sekarang."
"Anak-anak yang membuat jalannya sendiri." Papi menatap tante Lintang.
"Om, jika jodoh memang sudah di gariskan takdir, untuk merasa ragu?" ucap kak Bi lembut.
"Jika kami di takdirkan bersama suatu saat nanti, setidaknya saat itu kami menjadi pribadi yang lebih baik."
"Rion, untuk tiga bulan kedepan. Bisa tidak bersikap seperti biasa?" tanya kak Bi padaku.
"Demi nilai ujianmu, demi kelulusanmu."
Aku mengangguk. Turuti saja Rion!
"Bisa lupakan sejenak masalah ini, Rion?"
"Bisa kak." Sahutku mantap.
"Kak, bisakah kak jangan menjauh?" Pintaku.
"Bisa. Asal kamu tidak mendekat." Ucapnya padaku.
"Aku tidak mau kita mengulang lagi kesalahan itu, Rion." Ucap kak Bi dengan menunduk.
"Dan yang terpenting. Jangan berduaan. Setan di belakang Rion banyak, Bi." Ucap om Akhtar.
"Oke. Masalah ini kita anggap clear!" Ucap om Satya.
"Rion,"
"Ya tante." Aku menatap tante Lintang.
"Jangan pandang Bi dengan *naf*s*."
Aku terkesiap. "Iya tante."
"Perbaiki diri kalian. Jika kalian berjodoh. Jika Bi memiliki perasaan yang sama."
"Tante akan nikahkan kalian detik itu juga demi menghindari zina."
"Meskipun Rion masih kuliah tante?" tanyaku.
"Iya." Anggukan tante Lintang membuatku semangat. Tapi semua orang menatapnya.
"Kami tidak akan membiarkan kalian kelaparan. Tenang saja. Orang tua kamu pasti menjamin kehidupan putriku sampai kamu bekerja."
"Tentu Lin, aku bisa saja memberikan R cafe untuknya." Sahut mami.
"Aku tahu itu San."
"Bukan harta yang ku permasalahkan. Aku hanya ingin mereka memutuskan untuk bersama tanpa campur tangan kita sebagai orang tua."
"Aku ingin seperti pernikahanku dan mas Akhtar, dimana aku sendiri yang putuskan. Dengan meminta restu dan bimbingan orang tuaku."
Semua mengangguk faham atas keinginan tante Lintang. Hal yang wajar menurutku.
"Masalah ini selesai. Janjilah untuk berubah."
"Semoga kedepannya akan lebih baik lagi." ucap Om Akhtar.
"Maaf atas keributan dan ketegangan kemarin, Tar." Ucap papi.
Kami saling bersalaman dan meminta maaf. Dan saat aku bersalaman dengan kak Bi. Semua gerakan seperti melambat. Aku melihat wajahnya yang tampak lega.
"Plaaakk!!" Kak Bi menampar lenganku. Membuatku tersadar seketika. "Apa lihat-lihat!" ucapnya dengan mata membulat.
Ini dia kak Bintangku.
***
Up ke 2 hari ini.
Jejak pliss π€ Hadiah juga boleh π Apa lagi Vote π
Kenapa cuma begitu penyelesaiannya sih Thor?
Ya karena semua masalah bisa dibicarakan baik-baik.
Kalau ku Buat Bi langsung ke London, tidak semudah itu sayang, dia seorang wali kelas yang setidaknya harus menunggu kenaikan kelas atau kelulusan untuk bisa pindah. Bener apa betul?
πUdah tegang-tegangannya.
Hubungan mereka kita mulai dari nol π kek di SPBU.
Part ini 1400an kata. Gak termasuk pengumuman. Part terpanjang kayaknya nih π€π€
Up lagi besok ya sayang π
__ADS_1
Komen kalian tolong di tinggal πBiar ada kerjaan dgn balasin komen kalian ππ