
Zoya
Aku meninggalkan Rion dan Bi di taman. Rencana selanjutnya, kami akan ke lantai dua karena acara lamaran secara resmi akan diadakan di sana.
Keluarga kami dan keluarga Rion sudah di sana. Saat aku masuk ke dalam ruang kerjaku tadi sebenarnya mereka sudah berada di sini. Mereka menunggu di ruangan lain agar Bi tidak melihat mereka dan merasa curiga.
Aku menyapa teman-teman yang mensukseskan acara lamaran Bi. Mereka duduk di beberapa meja.
"Selamat menikmati, ya." Aku meninggalkan mereka dan berjalan ke lantai dua.
Rion dan Bi berjalan di belakangku.
"Kita mau kemana, Yon?" Ku dengar Bi berbicara pada Rion. "Kenapa naik ke lantai dua?"
"Kita perlu lamaran secara resmi kakakku sayang." Suara Rion terdengar manja.
"Hooeeekkk... Pengen muntah adek, baaaang!" Aku berlagak mual mendengar ucapan Rion. Aku berbalik saat masih di tengah anak. Aku melihat Bi tertawa melihat tingkahku.
"Isssh... Kak Zoy mengganggu keromantisan kami, kak." Rion menggerutu tapi dia tertawa. Aneh sekali.
"Lihat tempat dong." Ucapku padanya.
"Sabar ya kak Bi ku sayang. Disini ada orang iri. Nanti kita honeymoon di hotel gombal-gombalan sampai muntah-muntah, ya."
Hiiii... Aku bergidik geli mendengar perkataan Rion yang menurutku sangat, ah susah dijelaskan.
Aku meninggalkan sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.
Aku sampai di lantai dua. Disana sudah ada keluargaku dan Rion serta perwakilan dari tetangga dan pemuka agama.
Keluarga kami duduk berhadapan dengan keluarga Rion.
Bi langsung duduk diantara mama dan aku. Di sebelahku ada bunda Una.
"Bagaimana? Kita mulai acaranya?" Seorang pria berbicara di sisi kanan. Dialah Ezra yang di tunjuk langsung oleh Rion untuk menjadi MC.
Kami membuat panggung kecil di sana. Tepat di depan dekorasi yang di dominasi kain berwarna putih itu.
Papa dan Om Ray setuju untuk memulai acara.
"Assalamaualaikum Warahmatullahi wabarakatuh."
Kami semua menjawab salam darinya.
"Malam ini. Akan kita mulai dengan sebuah kisah." Ucapnya membuat kami terfokus ke arahnya.
Acara lamaran yang aneh?
Aku memang mengetahui skenario Ezra menjadi MC. Tapi aku tak tahu susunan acaranya. Aku hanya bertugas membawa Bi ke taman belakang.
"Kisah antara seorang gadis nyaris sempurna dan pria tak tahu diri." Ezra tertawa. Dan hal itu berhasil memancing tawa kami semua. Termasuk Rion.
"Kisah yang berawal dari diterimanya pria itu menjadi supir pribadi untuk gadis cantik putri kesayangan semua orang."
Ezra menatapku sekilas.
Aku berdebar. Ini kisah siapa? Kenapa seperti kisahnya?
"Nath!" Aku berusaha memanggil Nath yang duduk agak jauh dariku.
"Apa?" Bisiknya.
"Ini gak ada dalam skenario!"
"Ada kak."
"Kok aku gak tau?"
"Kakak gak diajak diskusi soalnya." Dia nyengir.
Adik kurang asem.
__ADS_1
Bunda menyuruhku kembali fokus pada acara ini.
"Pria yang menemani gadis itu bekerja. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kota ke kota lain."
"Pria yang berjanji pada orang tua gadis itu untuk menjaga dan melindungi putrinya dari segala bahaya."
Aku makin berdebar.
"Namun seiring berjalan waktu. Pria tak tahu diri itu jatuh cinta." Ezra tampak tak gugup sedikitpun.
Tangannya memegang mikrofon. Dan tangan satu lagi bergerak bebas. Dan sesekali ia masukkan ke dalam kantong celana.
"Bukankah dia seperti pagar yang berusaha melukai tanaman yang harusnya ia lindungi?" Tawa kecilnya memancing senyum semua orang kecuali aku.
"Pria itu berusah memendam perasaannya."
"Karena mengungkapkan perasaan sama saja membuat tembok pembatas karena sudah dipastikan akan ada penolakan." Ezra kembali tertawa kecil.
"Pria itu memendam perasaan. Berpuas diri menjadi supir hanya demi bisa melihat gadis pujaannya setiap hari. Melindungi gadis itu dengan tangannya sendiri."
"Hingga suatu hari, rasa itu terungkap begitu saja."
"Karena, mau sampai kapan terus bersembunyi dibalik status supir pribadi yang nyatanya tak membuat hatinya tenang."
"Menunggu sampai kapan? Sampai pria lain melamar gadis itu di depan matanya sendiri?"
"Tapi semua diluar dugaan. Diluar kendalinya. Dia ditolak." Ezra menggeleng sambil tertawa. Semua orang ikut tertawa.
"Setahun lebih berhubungan dengan status entah apa. Supir pribadi tak lagi. Sahabat tapi tak dekat."
"Hingga suatu hari pria itu memberanikan diri kembali mengungkapkan perasaannya. Dan jalan perlahan terbuka."
"Dan pria tak tahu diri itu ada di hadapan kalian." Ezra menunjuk dirinya sendiri.
"Pria yang berani mencintai gadis luar biasa."
"Seorang Zoya Khairumi Bramantyo." Ezra menunjukku.
"Dia yang selalu ada di hatiku bahkan setelah berpisah."
"Bukannya lupa, aku malah terus mencinta."
"Memajukan usaha demi bisa meraihnya. Demi layak bersanding dengannya. Terasa sulit memang. Namun tetap ku lakukan."
Ezra berjalan kearahku. Ezra mengulurkan tangan kanannya.
Aku melihat bunda dan mama bergantian. Keduanya mengangguk. Aku berjalan di belakangnya menuju panggung.
Kini kami saling berhadapan.
"Segala kesulitan itu tak masalah bagiku asal itu tentangmu." Ezra tersenyum menatapku yang kini sedang berdebar tak karuan.
"Bukankah cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting dari pada kebahagiaan diri sendiri?"
"Dan kamu adalah satu-satunya perempuan yang membuatku mempertaruhkan segalanya demi masa depan berharga."
Air mataku sudah menetes deras.
"Sekarang aku tahu mengapa Tuhan menghadirkanmu ke dunia. Yaitu untuk aku cintai."
Aku menggigit bibir bawahku menahan tangis.
"Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, Zoy. Seseorang pria yang mendukungmu tanpa batas, yang memperjuangkanmu tanpa ragu, dan yang mencintaimu hingga akhir."
"Zoya, izinkan aku menjadi pria itu."
"Menghabiskan sisa hidup bersamaku." Ezra masih berbicara.
"Menjadi sosok yang pertama kali ku lihat saat membuka mata di pagi hari."
"Menjadi sosok yang ku cari saat lelah bekerja."
__ADS_1
Ezra berlutut di depanku dengan kotak kecil di tangan kanannya.
"Menikahlah denganku."
Sreeet... Nath menarik kain yang menutup dinding di panggung itu. Aku melihat sekilas. Disana tertulis. Zoya, menikahlah denganku.
Aku menyeka air mataku. Aku menghela nafas. Terasa sesak. Aku harusnya bersiap dengan hal semacam ini. Tapi aku tidak menyangka akan ia lakukan sekarang, bahkan di depan seluruh keluarga.
Aku mengangguk.
"Aku menerimamu, dengan segala kelebihan dan kekuranganku."
"Tetaplah di sampingku hingga akhir, Zra."
"Alhamdulillah." Ucapnya senang.
Ezra berdiri dan memasangkan cincin itu di jari manisku.
Semua orang bertepuk tangan terlebih Bintang yang langsung berlari ke arahku. Memelukku dengan sangat erat.
"Semoga bahagia, Zoyaku tersayang."
"Terima kasih, Bi."
Acara dilanjutkan. Keluarga Rion melamar Bi secara resmi. Dan papa menerima lamaran itu. Seserahan di hadapan kami nyatanya adalah milikku dan Bi.
Box dengan pita warna soft blue adalah milik Bi. Dan berwarna soft pink adalah milikku.
Ezra diwakili oleh pemuka agama dan keluarga Tiara hadir sebagai perwakilan keluarganya. Ayahnya tidak dapat hadir karena menetap di Semarang.
"Minggu depan kita ke Semarang untuk minta restu ayah." Ajak Ezra saat kami menikmati secangkir kopi.
Aku mengangguk. "Aku atur jadwal, ya."
"Ciee... yang one step closer. Romantis banget." Rion dan Bi berjalan mendekat.
"Emang kalian aja yang bisa romantis-romantisan!" Aku menjulurkan lidah kearahnya.
"Bang, battle romantis-romantisan, yuk."
Aku memutar bola mataku. Ini anak idenya ada-ada aja.
"Gak. Kami masih menikmati nih." Tunjukku pada cangkir kopi ku dan Ezra yang terletak di atas meja.
"Apaan?" tanya Bi.
"Kopi."
"Enak tuh kayaknya." Ucap Rion yang menatap isi cangkir kami.
"Enak dong. Gratis." Ucap Ezra menambah rasa penasaran Rion.
"Gratis? Ngambil di mana, Bang?" Rion melihat sekeliling.
"Gift dari readers." Sahutku cepat.
Rion mencebikkan bibir. "Kirain dari resto."
Rion dan Bi pergi kembali ke meja mereka. Menyisakan aku dan Ezra yang tertawa puas.
****
Kopi kalian sudah sampai pada Ezra dan Zoy yah 😚
Sebagai apresiasi keberanian bang Ezra ngelamar di depan keluarga 😊
Rion cukup mawar ya. Gak boleh maruk 😂😂
Entar kalau mau begadang MP. Boleh deh dede Rion minum kopi. 😁
Jejak kalian sangat berarti sayang 😍😍😍
__ADS_1